
"Tidak ada masalah kan di daerah perbatasan? kamu sudah di pindah tugaskan ke pusat kan?" tanya Ayah Argi.
"Iya, Yah," ucap Alan.
"Kapan kamu pindahnya?" tamat Ayah Argi.
"Sebenarnya Alan mendapatkan surat pemindahannya kemarin dan untuk masuknya masih 3 hari lagi," ucap Alan dan diangguki Ayah Argi.
"Ayah nih kan Alan udah ngasih tahu waktu itu," ucap Bunda Nara.
"Iya Bunda, Ayah cuma nanya," ucap Ayah Argi.
"Kamu udah makan belum?" tanya Bunda Nara.
"Udah kok Bunda, tadi sebelum ke sini Alan sama Rea sarapan dulu di rumah," ucap Alan.
"Oh iya, kamu rencananya mau tinggal dimana?" tanya Ayah Argi.
"Kalau rencananya akan sih pengennya tinggal di asrama, tapi Alan tanya dulu ke Rea takutnya Rea gak setuju kalau seandainya Rea gak setuju ya Alan pengennya tinggal di rumah Mama," ucap Alan.
"Lo kan punya apartemen kenapa gak tinggal di sana aja?" tanya kak Ray.
"Pengennya gitu, tapi apartemennya lagi di renovasi dan semoga aja tahun depan atau gak akhir tahun ini udah selesai biar cepet di tinggalin," ucap Alan.
"Bunda sih sebenarnya terserah sih, tapi kalau saran Bunda kamu sama Rea tinggal di rumah Mama kamu dulu aja sekalian buat Rea belajar jadi istri dan setelah Rea udah terbiasa baru kamu ajak dia tinggal di asrama," ucap Bunda Nara.
"Bukannya kalau masih tinggal sama orangtua malah buat Rea jadi manja Bun," ucap kak Ray.
"Gak akan, Rea itu orangnya gak enak-an dan Bunda yakin Rea pasti bakal berusaha buat bantuin Mama Dira," ucap Bunda Nara.
"Inez setuju sama Bunda, nanti lama kelamaan Rea bakal terbiasa saat di asrama karena ia biasanya bantuin Mama Dira," ucap kak Inez.
"Tapi, itu hanya saran Mama. Kalaupun Rea langsung setuju tinggal di asrama juga gapapa nanti kalian bisa belajar bersama," ucap Bunda Nara dan diangguki Alan.
"Kamu mau kemana Ray?" tanya Bunda Nara, saat melihat kak Ray berdiri dan berjalan keluar dari ruang tamu.
"Ray mau ke halaman Bun, takut anaknya Ray di apa-apain sama dua perempuan di luar," ucap kak Ray dan keluar dari rumah menuju halaman.
Benar saja saat kak Ray keluar rumah dan menuju halaman, ia melihat Kaif yang tengah di dandani oleh dua perempuan yang tak lain adalah adik-adiknya, "Astaga, anak kakak kalian apain ini," ucap kak Ray.
Kak Ray segera mengambil Kaif dari pangkuan Rea. Sedangkan, Rea dan Gia sendiri yang menjadi pelakunya hanya tertawa. Mereka berdua benar-benar puas melihat Kaif yang saat ini memakai bunga yang di rangkai oleh Rea dan Gia.
"Kalian ini yaampun, aduh anak Ayah pasti malu ya punya aunty kayak dua aunty ini," ucap kak Ray dan melepaskan bunga-bunga yang menempati pada tubuh Kaif.
__ADS_1
"Kenapa di buang kak? padahal Kaif itu makin keren kalau pake bunga-bunga itu, Gia yakin pasti Kaif bakal jadi cowok keren deh nantinya. Lihat ini kak tadi Gia sempet foto Kaif pas pake bunga rangkaian kak Rea sama Gia," ucap Gia dan menunjukkan foto Kaif yang ada di ponselnya.
"Astaga, kalian berdua ini Kaif kayak cewek kalau kayak gitu," ucap kak Ray.
"Masa sih kak, padahal Kaif ganteng banget loh," ucap Gia dan diangguki Rea.
"Udah ah anak kakak mau kakak bawa kalau di sini bisa-bisa makin gak karuan anak kakak," ucap kak Ray dan membawa Kaif masuk ke dalam rumah.
"Loh, Kaif kenapa di bawah masuk Ray?" tanya Bunda Nara.
"Kalau Kaif di luar nanti yang ada dua perempuan di luar bikin Kaif jadi cewek Bun, mana pake ngasih Kaif bunga segala sampe tubuh Kaif penuh bunga gitu," ucap kak Ray.
"Rea kayaknya pengen anak cewek deh," ucap kak Inez.
"Oh, lucu juga ya kalau Bunda punya cucu cewek," ucap Bunda Nara.
"Muka Kaif merah banget," ucap Ayah Argi.
"Iya Yah, makanya Ray bawa masuk aja," ucap kak Ray.
"Tuh mereka pelakunya," ucap kak Ray, saat melihat Rea dan Gia masuk ke dalam.
"Tumben kalian akur biasanya aja kayak musuhan gitu," ucap Bunda Nara.
"Bunda nih masa kakak adik harus musuhan terus sih ya gaklah iya kan kak," ucap Gia dan diangguki Rea.
"Tapi kakak lihat Kaif loh malah ketawa itu artinya dia itu suka," ucap Gia.
"Jawab aja kamu tuh," ucap kak Ray.
"Wah, ada keripik nih kebetulan banget Rea udah lama gak makan ini," ucap Rea dan mengambil cemilan yang ada di atas meja.
"Suami kamu tadi juga suka sama keripik itu," ucap Bunda Nara.
"Oh iya, Alan suka juga sama keripik ini," ucap Rea.
"Aw, sakit Bunda," rintih Rea, karena tiba-tiba Bunda Nara memukul lengannya.
"Kamu itu ya kalau sama suami jangan nyebut nama gitu," ucap Bunda Nara.
"Lah terus aku harus manggil apa kalau gak manggil nama?" tanya Rea.
"Maksud Bunda itu kamu kalau mau manggil suami kamu itu pake mas atau Abang atau apa gitu jangan langsung manggil pake nama gak sopan tahu," ucap Bunda Nara.
__ADS_1
Bukannya Rea langsung mengiyakan, tapi Rea melihat ke arah kak Inez karena ia tidak terima dengan perkataan Bunda Nara, tapi kak Inez justru menganggukkan kepalanya seolah-olah menyetujui apa yang di katakan Bunda Nara tadi.
"Iya Bunda, tapi Rea bingung mau manggil apa," ucap Rea.
"Pake mas aja biar kayak kak Inez sama kak Ray," ucap Gia.
"Kamu nih nyaut aja, anak kecil gak boleh di sini udah sana," ucap Rea.
"Gak mau, wleeee," ucap Gia.
Setelah perbincangan yang cukup panjang di ruang tamu tadi, Alan dan Rea saat ini berada di kamar Rea. "Kamar kamu bersih juga," ucap Alan.
"Iya dong, kalau gak bersih bisa-bisa Bunda marah ke aku," ucap Rea.
Alan merebahkan tubuhnya di kasur milik Rea, meskipun kasur tersebut tidak terlalu empuk seperti kasur miliknya. Tapi, Alan merasa nyaman karena kamar Rea sangat wangi dan hal itu membuat Alan tenang bahkan Alan memejamkan matanya.
Sedangkan, Rea saat ini bingung harus bagaimana karena ia ingin menyuruh Alan untuk segera berdiri dan membersihkan diri terlebih dahulu, tapi Rea merasa gugup dan canggung di saat yang bersamaan.
"Mas Alan," panggil Rea.
Panggilan Rea tentu saja membuat Alan yang tengah memejamkan matanya terkejut dan segera membuka matanya lalu mengubah posisinya menjadi duduk di samping Rea yang ada di kasur, "Kamu tadi manggil aku apa?" tanya Alan.
"Mas Alan," ucap Rea lagi.
Alan tersenyum karena saran dari Bunda Nara di ikuti oleh Rea padahal Alan sudah berpikir jika Rea tidak mau memanggilnya dengan sebutan itu, "Kenapa kok tiba-tiba manggil pake mas?" tanya Alan.
"Tadi akta Bunda kan harus pake mas atau Abang biar sopan sama suami makanya aku milih pake mas aja kalau pake Abang nanti malah kayak Abang aku," ucap Rea.
"Kalau lebih indah lagi pake sayang," ucap Alan.
"Ish, itu mah mau kamu," ucap Rea dan membuat Alan tertawa garing.
"Kamu bikin gemes tahu gak," ucap Alan dan mencubit pipi Rea.
"Sakit," cicit Rea dan dengan cepat Alan mengecup kedua pipi Rea.
"Itu tadi obat biar pipi kamu sembuh," ucap Alan.
Runtuh sudah pertahanan Rea, Rea benar-benar terpikat dengan gombalan mau Alan kali ini karena Rea tiba-tiba menunduk untuk menyembunyikan rona pipinya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.