Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Temani Saya


__ADS_3

Saat tengah berjaga tiba-tiba Rea merasa ingin buang air kecil, "Aduh kok gue pengen ke kamar mandi sih, tapi gue takut kalau sendirian," gumam Rea.


Rea pun melihat ke sekelilingnya dan ternyata hanya ada dokter Panji di sana, "Dokter Panji tahu gak dokter Qilla dimana?" tanya Rea.


"Oh, tadi saya lihat dokter Qilla sedang ke tempat pasien sama dokter Gabby," ucap dokter Panji.


"Baru atau udah dari tadi dok?" tanya Rea.


"Kayaknya baru deh, kenapa emangnya dokter Rea?" tamat dokter Panji.


"Oh, gak kenapa-napa kok dok. Saya cuma penasaran aja kemana Qilla kok saya gak ngelihat dia dari tadi," ucap Rea.


Rea pun beranjak dari tempat tersebut, "Apa gue ke kamar mandinya sendiri aja ya, tapi gue takut kalau ada hantu gimana mana sekarang jam 10 malam lagi," gumam Rea.


Rea benar-benar tersiksa dengan keadaannya sekarang, akhirnya mau tidak mau Rea pun berjalan sendiri menuju kamar mandi dengan bantuan ponselnya tentunya. Walaupun jalan menuju kamar mandi sudah ada lampu penerangan, tapi tetap saja suasananya sangat mencekam bagi Rea. Karena takutnya bahkan Rea sampai beberapa kali melihat ke samping dan belakangnya.


"Kok gue ngerasa ada yang ngikutin gue ya," gumam Rea.


Akhirnya Rea pun berjalan cepat dan tetap melihat ke samping dan belakangnya takut ada sesuatu yang menakutkan datang tiba-tiba. Tanpa Rea sadari cara jalan cepatnya membuat Rea bertabrakan dengan sesuatu yang cukup keras di depannya dan hampir terjatuh jika tidak ada yang menahan tubuhnya. Rea yang merasakan sakit pada kepalanya hanya mampu menutup matanya dan berdoa agar hidupnya selamat bahkan Rea masih belum menyadari jika saat ini ia berada di dekapan seseorang.


Karena penasaran akhirnya Rea pun membuka matanya dan minat dengan jelas apa yang membuat kepalanya sakit dan beberapa saat kemudian, Rea pun menyadari jika ia berada di dekapan orang yang berada di hadapannya, "Kamu gapapa?" tanya Alan.


Ya, Alan lah yang Rea tabrak dan Alan juga yang menahan Rea sehingga Rea berada di dekapannya.


"Saya baik-baik saja, terima kasih," ucap Rea dan berniat untuk pergi dari tempat tersebut.


"Mau ke kamar mandi?" tanya Alan.


"Iya," jawab Rea.


"Mau saya temani?" tanya Alan.

__ADS_1


"Tidak perlu, saya bisa sendiri. Kapten Alan jangan mencari kesempatan ya," ucap Rea ketus.


"Saya hanya ingin menemani saja, nanti saya menunggu di luar kamar mandi kok. Saya dengar dari Bunda Nara kamu itu orangnya takut gelap dan juga takut hantu," ucap Alan.


"Jangan sebut-sebut hantu, saya berani kok, saya tidak perlu bantuan dari kapten Alan. Kalau begitu saya permisi," ucap Rea.


Baru saja Rea melangkah pergi tiba-tiba ia mendengar suara benda jatuh dan hal itu sontak membuat Rea terkejut dan dengan cepat Rea berbalik arah dan berlari menuju Alan lalu memeluk pria tampan itu. Rea seolah tidak peduli dengan ucapannya tadi karena saat ini ia benar-benar memeluk Alan dengan cukup erat.


Alan sendiri yang melihat sikap Rea hanya tersenyum, ia memang tahu jika Rea seorang penakut dari Bunda Nara. Sebenarnya Alan tadi berniat untuk kembali ke kamp, tapi ia melihat Rea yang berjalan sendirian dengan wajah yang kentara sekali jika ia ketakutan dan akhirnya Alan memilih untuk menghampiri Rea berniat untuk menemaninya, tapi Rea justru menolak. Tapi, sekarang Rea justru memeluknya dengan erat, jujur saja Alan gemas sekali dengan istrinya ini.


Setelah beberapa saat kemudian, Rea pun sadar jika ia saat ini tengah memeluk Alan dan dengan cepat Rea melepaskan pelukan tersebut. "Maaf, tadi saya cuma kaget," ucap Rea.


"Yakin mau pergi sendiri tidak perlu saya temani?" tanya Alan.


"Tidak perlu saya bisa sendiri," ucap Rea.


Rea pun membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Namun, lagi-lagi ia berhenti saat mendengar suara langkah kaki Alan menjauh.


Alan sebenarnya hanya menggerakkan kakinya saja agar ia terdengar seperti akan pergi dari tempat tersebut. Benar saja rencananya berhasil, Rea mau ia temani. Alan tidak membuang waktu lagi dengan cepat ia menggenggam tangan Rea.


"Gak usah pegang-pegang," ucap Rea dan berusaha melepaskan genggaman tangannya tersebut, tapi apalah dayanya kejutannya terlalu jauh dengan kekuatan Alan.


Akhirnya mereka berdua pun menuju kamar mandi dengan Alan menggenggam tangan Rea, selama perjalanan menuju kamar mandi Rea benar-benar merasa takut karena mendengar suara hewan-hewan yang salinan bersahutan dan untung saja ada Alan yang menenangkannya dan membuat Rea sedikit lebih rileks. Perjalanan yang panjang bagi Rea pun selsai, saat ini ia sudah berada di kamar mandi dan melakukan apa yang sejak tadi ingin ia lakukan.


Rea mendengar suara dari luar dan hal itu membuat ia kembali takut, "Kapten Alan," panggil Rea.


"Iya, saya masih di sini kok. Kamu tidak perlu takut," ucap Alan, yang membuat Rea bernapas lega.


Beberapa saat kemudian, Rea pun keluar dari kamar mandi dan ia di suguhi dengan Alan yang saya ini duduk di salah satu batu yang dekat dengan kamar mandi. Padahal lampu di sana tidak terlalu terang, tapi mampu membuat ketampanan Alan terlihat dengan jelas


"Kenapa?" tanya Alan dan menghampiri Rea.

__ADS_1


"Gapapa kok, sekali lagi terima kasih untuk kapten Alan. Sekarang saya bisa kembali sendiri, kalau begitu permisi," ucap Rea.


Alan hanya menghela napas pelan saat melihat sikap Rea yang masih cuek padanya, "Apa kamu masih marah?" tanya Alan.


"Kenapa saya harus marah?" tanya Rea.


"Soal semuanya yang tidak saya katakan padamu," ucap Alan.


"Saya tidak amarah pada kapten Alan, ya walaupun kecewa. Tapi, ya mau bagaimana lagi semua sudah terjadi, saya hanya menganggap jika kapten Alan memiliki alasan untuk menyembunyikannya bukan," ucap Rea.


"Lalu kenapa sikapmu seperti menghindar dariku?" tanya Alan.


"Saya bukan menghindar, saya hanya berisikan profesional saja, kalau begitu saya permisi," ucap Rea dan berlari meninggalkan Alan.


"Saya tidak tahu kalau kamu akan semarah ini, kalau tahu begitu sudah dari dulu saya beritahu kamu semuanya, tapi saya memang merasa akan lebih baik jika kamu tahu setelah semua tugas saya selesai dan bukan di saat seperti ini," gumam Alan.


Alan pun akhirnya memilih pergi dari tempat tersebut dan mengikuti Rea, Alan benar-benar harus berusaha untuk membuat Rea tidak marah padanya. Meskipun Rea mengatakan jika ia tidak marah atau menghindar darinya, tapi semuanya terlihat sangat jelas dari sikap Rea padanya.


Disisi lain, Rea yang saat ini sudah berjalan menuju tempat pengungsian pun dikejutkan dengan putih-putih yang ada di depannya, bagaimana tidak putih-putih itu mendekati Rea dan dengan cepat Rea membalikkan tubuhnya dan berlari menuju Alan. Untungnya Alan berada tidak jauh di belakang Rea sehingga Rea bisa bersembunyi di balik tubuh tegap suaminya itu.


"Kenapa?" tanya Alan, karena Rea memeluk Alan dari belakang dengan erat.


"Takut, ada putih-putih," gumam Rea dan untungnya Alan masih dapat mendengarnya.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2