
"Terima kasih sayang, aku gak tahu harus bilang apa lagi," ucap Alan dan tak henti-hentinya mengecup wajah Rea.
"Apa sih, aku geli tahu," ucap Rea dan berusaha membalikkan tubuhnya, tapi sayang hal itu dapat di cegah oleh Rea.
"Baby baik-baik ya di sana," ucap Alan dan mengusap lembut perut Rea.
"Ya, Alan sudah tahu jika Rea tengah hamil karena yang Alan lihat tadi adalah hasil usg milik Rea serta surat yang menyatakan Rea tengah hamil. Rea sengaja menaruh hasil usg di cermin agar Alan lihat saat masuk ke dalam kamar mandi dan karena itu juga Rea sejak tadi mendesak Alan untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Ka-kamu udah lihat?" tanya Rea dan diangguki Alan.
"Kenapa kamu gak langsung bilang sih?" tanya Alan, yang masih setia mengusap lembut perut Rea.
"Kan mau kasih surprise gitu, tapi kamunya gak bisa diajak kerjasama jadi gagal deh," ucap Rea.
"Gak kok, kamu berhasil. Aku bahagia banget sampe gak tahu harus gimana lagi, aku bakal jaga kalian berdua," ucap Alan.
"Tapi kapan kamu tahu kalau kamu hamil?" tanya Alan.
"Aku baru tahu tadi pagi, soalnya setelah operasi tadi tiba-tiba aku pingsan dan aku kaget banget saat Qilla dan nian bilang kalau aku hamil terus mereka ngasih suratnya dan pas mau pulang aku juga mutusin buat USG lagi buat matiin kalau aku hamil dan ternyata aku emang hamil," ucap Rea.
"Aku bahagia banget sayang," ucap Alan.
"Tapi, Qilla marah sama aku," ucap Rea, dengan nada sedih.
"Marah? dia marah kenapa?" tanya Alan.
"Huh, Qilla udah tahu kalau aku hamil dan aku juga udah bilang kalau aku udah nikah, dia marah karena ku gak masih tahu semuanya ke dia, dia bilang kalau aku gak anggap dia sebagai sahabat. Padahal dia itu sahabat yang aku punya," ucap Rea.
Alan lun memeluk Rea berusaha untuk menguatkan Rea, inilah yang Alan takutkan karena Rea tidak mengatakan yang sebenarnya pada sahabat-sahabatnya karena menurut Alan emosi persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu berbeda-beda. Contohnya saja saat sahabat Alan tahu jika ia telah menikah, mereka ya marah tapi tidak sampai ngambek tidak jelas seperti sahabat-sahabat Rea. Tapi, Alan juga tidak bisa menyalahkan Qilla karena perempuan memang lebih sensitif akan hal apapun.
"Berarti dia udah tahu kalau kamu itu istriku?" tanya Alan.
"Belum, dia cuma tahu aku udah nikah, tapi dia gak tahu siapa suamiku. Aku tadi mau bilang siapa suamiku, tapi Qilla keburu marah akhirnya gak jadi deh," ucap Rea.
"Gapapa, nanti kamu jelasin lagi ke dia. Kalian itu udah lama kenal pasti dia bakal maafin kamu kok, kalau kamu butuh bantuan kamu bilang ya dengan senang hati aku akan bantu kamu," ucap Alan dan diangguki Rea.
__ADS_1
"Tidur yuk," ajak Alan.
"Kamu orangnya disiplin dan tepat waktu ya," ucap Rea.
"Maksudnya?" tanya Alan.
"Gak kok lupain aja," ucap Rea.
"Kalau ada sikap aku yang buat kamu gak nyaman kamu bilang ya soalnya kan aku gak tahu gimana cara memperlakukan perempuan pada umumnya, kamu juga tahu aku setiap harinya harus berhadapan sama anggotaku, jadi aku gak tahu gimana bersikap lembut dan romantis. Pokoknya kamu harus ngasih tahu aku apa aja yang gak kamu sukai dari aku," ucap Alan.
"Iya, nanti aku bakal kasih tahu ke kamu," ucap Rea.
Alan dan Rea pun mulai memejamkan matanya dan terlelap. Namun, hanya Rea karena sejak tadi Alan setia mengusap perut Rea. Setelah Rea benar-benar terlelap barulah Alan juga memejamkan matanya dan memeluk erat Rea.
"Makasih sayang, aku bahagia. Aku gak akan pernah bosan bilang terimakasih dan aku bahagia," bisik Alan dan mengecup kening Rea.
Pagi harinya Alan membuka matanya dan menatap perempuan cantik yang masih terlelap di pelukannya, "Sayang, bangun yuk," ucap Alan dan mengusap pipi Rea.
"Eungh," lenguh Rea.
"Masih ngantuk," ucap Rea.
"Yaudah kalau gitu 5 menit lagi ya," ucap Alan.
Belum sampai 5 menit Rea sudah membuka matanya dengan sempurna dan mengubah posisinya menjadi duduk, "Kok udah bangun, belum juga 5 menit," ucap Alan.
"Nanti telat akunya," ucap Rea dan beranjak menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Rea pun keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya yang duduk di sofa yang ada di kamar, "Kamu mandi gih," ucap Rea dan setelah itu Alan lun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Sedangkan, Rea lebih memilih untuk menyiapkan sarapan.
"Sayang, nanti kita beli susu hamil ya buat kamu," ucap Alan, yang sudah tampan menggunakan seragamnya.
"Tapi, kamu gak sibuk?" tanya Rea.
"Gak kok, aku bisa kalau nemenin kamu belum susu hamil," ucap Alan.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri kok," ucap Rea.
"Gak sayang, nanti aku temenin. Sekalian nanti kita ke rumah Papa sama Ayah buat ngasih tahu kalau mereka bakal jadi Kakek," ucap Alan.
"Tapi, ayah udah jadi Kakek loh," ucap Rea.
"Iya, maksudnya jadi Kakek dari 2 cucu," ucap Alan dan membuat Rea tersenyum mendengarnya.
"Yaudah, kalau gitu nanti aku bakal pulang lebih cepet deh hair bisa ke rumah Papa sama Ayahnya lama," ucap Rea dan diangguki Alan.
Selesai sarapan Rea pun menuju rumah sakit, tapi ada yang berbeda dari hari-hari biasanya ya karena hari ini ia diantar oleh sang suami dan nanti Alan juga yang akan menjemput Rea untuk menuju rumah Papa Aldi dan Ayah Argi.
"Aku nanti mau berusaha minta maaf sama Qilla semoga aja dia mau maafin aku ya," ucap Rea.
"Iya, aku bakal ngedukung apapun yang mau kamu lakukan selama itu baik," ucap Alan.
Beberapa saat kemudian, mobil yang Alan kendarai sudah sampai di depan rumah sakit, "Aku duluan ya dah," ucap Rea.
Baru saja re akan membuka pintu tiba-tiba tangannya ditahan oleh Alan, "Kenapa?" tanya Rea dan menatap Alan.
Alan tidak merespon pertanyaan Rea ia justru mendekat dan mengecup singkat bibir Rea yang saya ini mulai menjadi candu baginya, "Tadi hampir kelupaan, kalau gitu hati-hati ya sayang kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin dan juga baby sehat-sehat ya jangan buat bunda kamu kelelahan," ucap Alan, tepat berada di depan perut Rea.
Setelah drama pagi yang membuat jantung Rea tidak aman akhirnya Rea pun keluar dari mobil dan Alan pun mengendarai mobilnya pergi meninggalkan Rea, bertepatan dengan itu ia berpapasan dengan Qilla yang menatapnya. Rea yakin pasti Qilla tadi melihat mobil yang mengantarkan Rea, dengan cepat Rea menghampiri Qilla. Namun, sebelum Rea sampai di hadapan Qilla lagi-lagi Qilla menghindarinya.
"La, lo masih marah sama gue. Tolonglah La maafin gue, gue emang salah, tapi gue terpaksa sembunyiin semuanya. Gue dijodohin, gue bahan baru tahu suami gue beberapa Minggu yang lalu," ucap Rea.
Qilla tetap bungkam dan berjalan menjauh dari Rea, padahal Qilla sudah sangat penasaran dengan suami Rea bahkan cerita dibalik perjodohan Rea dan sang suami, tapi apa boleh buat karena gengsinya yang terlalu tinggi. Disisi lain, Rea yang tiba-tiba merasa lelah pun diam menyaksikan punggung Qilla yang semakin jauh dari jangkauannya, "Maaf, La," gumam Rea.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1