Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Perlu Menenangkan Diri


__ADS_3

Setelah melihat Alan yang berada di dalam ruangan tersebut, Rea pun meletakkan kedua foto tersebut dan menghampiri Alan, saat berhadapan dengan Alan, Rea pun menarik kalung yang Alan kenakan dan Rea akhirnya melihat dengan jelas bentuk kalung tersebut dan juga cincin yang ada di sana. Rea juga melihat ukiran namanya dan juga nama suaminya di sana persisi seperti cincin miliknya hanya ukurannya saja yang berbeda.


"Dokter Rea saya bisa jelaskan semuanya ...," ucapan Alan terhenti lantaran Rea menyelanya.


"Jadi kapten Alan suami saya?" tanya Rea.


Alan pun memeluk erat Rea, "Maafkan saya karena tidak memberitahu yang sebenarnya," ucap Alan.


"Kenapa kapten Alan tidak bilang secara langsung? kenapa saya seperti orang bodoh yang menunggu suami saya pulang padahal saya sendiri sudah bertemu dengan suami saya?" tanya Rea dan menangis di pelukan Alan.


"Maaf, saya tidak memberitahukan semuanya padamu. Saya ingin memberitahukan semuanya setelah tugas saya selesai, tapi justru kamu tahu dengan sendirinya," ucap Alan.


Rea menghapus kasar air matanya dan melepaskan pelukan tersebut, "Ini data dari dokter Gabby, dokter Gabby meminta izin pada kapten Alan menggunakan kendaraan militer untuk mengambil persediaan obat. Untuk lebih lanjut kapten Alan bisa membicarakan semuanya pada dokter Gabby, nanti akan saya bilang juga pada dokter Gabby," ucap Rea dan beranjak pergi dari ruangan tersebut.


Namun, belum sempat Rea pergi, Alan terlebih dahulu menahan lengan Rea dan memeluk Rea dari belakang. Alan juga tidak henti-hentinya mengatakan maaf pada Rea, jujur saja Alan takut Rea akan membencinya.


"Maaf, saya salah. Saya bodoh karena tidak memberitahukan yang sebenarnya dari dulu," ucap Alan.


"Maaf, kapten Alan yang terhormat, saya harus pergi karena saya ada urusan," ucap Rea dan melepaskan pelukan tersebut.


Namun, langkah kembali terhenti saat Alan membalikkan tubuh Rea hingga saat ini posisi Rea berhadapan dengan Alan, "Maafkan saya, tolong jangan benci saya bagaimanapun saya adalah suami kamu," ucap Alan.


Rea hanya diam karena ia memang sedang tidak ingin membahas hal ini dengan Alan, Rea masih sakit hati karena di bohongi oleh suaminya sendiri.


Alan yang melihat diamnya Rea kembali memeluk istrinya itu dengan erat, Alan benar-benar takut kehilangan perempuan yang berhasil membuatnya gila padahal ia belum pernah bertemu dengannya secara langsung dulu, tapi entah apa dia justru mengiyakan perkataan orangtuanya yang akan menjodohkannya dengan Rea. Dari dulu Papa Aldi dan Mama Dira selalu menjodohkan Alan, tapi tidak pernah ada yang berhasil dan hanya Rea yang berhasil bahkan sampai mereka berdua menikah.


"Lepaskan saya kapten Alan," ucap Rea, dengan memberontak dalam pelukan Alan.


Saat Rea tengah berusaha untuk melepaskan pelukan Alan, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan Alvin yang tengah membawa setumpuk kertas yang entahlah Rea pun tak tahu.

__ADS_1


"Eh, saya ganggu ya. Kalau gitu silahkan dilanjut," ucap Alvin dan menutup pintu ruangan tersebut.


Rea benar-benar malu karena Alvin melihatnya tengah berpelukan dengan Alan, Rea takut gosip tentangnya dan Alan semakin menyebar. Apalagi saat ini Rea tahu jika Alan adalah suaminya, Rea pasti akan sangat sulit untuk menjawab jika ia tidak memiliki hubungan dengan Alan.


"Saya salah, tolong jangan benci saya," ucap Alan.


"Saya tidak akan benci pada kapten Alan karena bagaimanapun saya adalah seorang istri dan saya harus taat pada suami saya bukan, tapi dengan tidak jujurnya kapten Alan buat saya kecewa. Saya ingin untu sementara waktu kita bersikap seperti tidak saling kenal saja. Ah tidak, maksud saya selama di sini kita anggap kita hanya rekan kerja saya dokter dan kapten Alan tentara," ucap Rea.


"Maafkan saya, saya benar-benar tidak memiliki niat untuk membohongi kamu. Saya berpikir akan lebih baik jika saya memberitahukan semuanya setelah tugas saya selesai dan saya di pindah tugaskan ke pangkalan pusat," ucap Alan.


"Kita lupakan itu, saya sedang tidak butuh penjelasan apa-apa. Saya perlu menenangkan diri saya, kalau begitu saya permisi," ucap Rea, lalu pergi meninggalkan Alan sendirian di ruangan tersebut.


Rea keluar dari ruangan Alan dan melihat anggota Alan yang tengah menatapnya, Rea tidak peduli dan tetap keluar dari bangunan tersebut dengan perasaan sedih, kecewa, kesal dan juga marah.


Rea menuju tempat pengungsian dan melihat dokter Gabby yang menghampirinya, "Bagaimana? kapten Alan setuju?" tanya dokter Gabby.


"Saya tidak tahu, dok. Nanti dokter bisa tanyakan langsung pada kapten Alan dan tolong untuk sekarang jangan alihkan tugas dokter Gabby dan dokter Danu pada saya, kalau begitu saya permisi," ucap Rea dan menuju pasiennya.


"Saya juga kurang tahu dok, mungkin Rea sedang kedatangan tamu bulanan atau hal lain, saya juga kurang tahu nanti coba saya tanyakan pada Rea," ucap Qilla dan diangguki dokter Gabby.


Qilla pun menghampiri Rea yang saat ini tengah memeriksa pasiennya yang baru saja menjalani prosedur bedah kemarin, "Re, lo gapapa?" tanya Qilla.


"Gue gapapa kok, pasiennya udah mulai membaik dan tinggal di kasih vitamin aja kok nanti biar gue suruh Fafi yang ngasih. Sekarang gue mau ke pasien yang lain aja," ucap Rea.


"Re, lo jangan paksain diri lo, lo kelihatan banget tahu gak kalau lo itu gak baik-baik aja. Lebih baik sekarang lo duduk aja tenangin diri lo setelah itu baru lo boleh ngelakuin tugas lo lagi," ucap Qilla.


Rea pun menuruti apa yang dikatakan Qilla, Rea memilih duduk di kursi yang di sediakan di sana. Selain itu, Rea juga menatap anak kecil yang sedang bermain di sana, Rea dapat melihat canda tawa mereka yang belum mengenal apa itu beban dalam hidup


Rea terhibur melihat area mereka bahkan Rea lun sampai tersenyum melihatnya, saat ia tengah menatap anak kecil tersebut Rea pun melihat kedatangan Alan dan beberapa Anggita lainnya. Dapat Rea lihat Alan pun menatapnya dan dengan cepat Rea mengalihkan pandangannya dan kembali menatap anak-anak yang tengah bermain tersebut.

__ADS_1


"Dokter Rea," panggil Ryan.


"Ada apa sersan Ryan?" tanya Rea.


"Tadi kapten Alan lihatin dokter Rea loh, tapi dokter Rea malah lihat anak-anak lagi main," ucap Ryan dan Rea hanya tersenyum.


"Dokter Rea jangan senyum ya," ucap Ryan.


"Kenapa emangnya?" tanya Rea.


"Soalnya senyumnya dokter Rea bikin candu," ucap Ryan.


"Sersan Ryan lagi gombal ke saya ya?" tanya Rea.


"Hehehe, iya dok. Gagal lagi ya?" tanya Ryan dan diangguki Rea.


"Sersan Ryan," panggil Alan dengan lantang dan membuat Ryan maupun Rea pun menatap Alan.


"Cepat, kita harus ke memperbaiki fasilitas warga," ucap Alan.


"Siap kapten Alan," ucap Ryan yang tak kalah lantang.


"Dokter Rea saya pergi dulu ya dah dokter Rea," pamit Ryan.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2