
"Karena saya mau dokter Qilla dan saya juga nyaman dengan dokter Qilla," ucap Ryan.
"Bukan karena merasa kasihan dengan saya?" tanya Qilla.
"Untuk apa saya kasihan dengan dokter Qilla, kalau saya merasa kasihan dengan dokter Qilla harusnya saya membantu dokter Qilla dengan cara lain dan bukan memilih dokter Qilla menjadi istri saya," ucap Ryan.
"Tapi, saya rasa kita selama ini tidak cocok satu sama lain," ucap Qilla.
"Tidak cocok bukan berarti tidak berjodoh bukan," ucap Ryan.
Qilla bungkam tidak bisa merespon perkataan Ryan, "Jangan diem gitu dok, nanti kesambet loh," ucap Ryan.
"Jeffry hari ini biar ikut saya, oh iya dokter Qilla tinggal di rumah dokter Qilla?" tanya Ryan dan Qilla menggelengkan kepalanya.
"Gak, saya tinggal sama Nina karena setelah di restoran itu saya sudah tidak bertemu lagi dengan mama saya," ucap Qilla.
"Yasudah kalau begitu saya akan secepatnya bertemu dengan Mama dari dokter Qilla," ucap Ryan.
"Tapi, saya masih takut. Mama saya itu bukan tipe orang baik dan mudah dihadapi," ucap Qilla.
"Semua orang itu baik dan saya juga yakin mamanya dokter Qilla itu baik, tapi hanya keadaan yang membuat mama dokter iqlla berubah menjadi sekarang ini," ucap Ryan.
"Kita berjuang bersama-sama ya," ucap Ryan dan diangguki Qilla.
"Saya senang banget," ucap Ryan.
"Senang kenapa?" tanya Qilla.
"Akhirnya bentar lagi malam pertama," ucap Ryan dan lagi-lagi ia mendapatkan pukulan dari Qilla. Namun, kali ini bukan di lengan, tapi di kepala.
"Sakit sayang," ucap Ryan.
"Sayang-sayang palamu udah sana pergi awas aja kalau Jeffry kenapa-napa, sersan bakal tau akibatnya," ucap Qilla, dengan menggerakkan tangannya ke leher sebagaimana peringatan bagi Ryan.
"Siap cantik, oh iya mulai sekarang pake aku kamu yuk terus manggilnya pake nama aja jangan pake embel-embel lain," ucap Ryan.
"Maksudnya, sekarang manggilnya Ryan gitu?" tanya Qilla dan diangguki Ryan.
"Iya, Qilla," ucap Ryan.
"Bang Ryan, kak Qilla masih lama ya pacarannya!" teriak Jeffry.
"Ternyata adik kamu itu bibit calon pengganggu ya," ucap Ryan dan Qilla pun tersenyum mendengarnya.
"Udah sana katanya mau pergi sama Jeffry," ucap Qilla.
Ryan pun akhirnya mengajar Jeffry menaiki mobilnya dan pergi ke rumah Ryan, tak lupa sebelum itu ia sudah berpamitan pada Qilla.
***
Alan sudah berada di lapangan untuk melaksanakan upacara, hari ini sangat spesial bagi Alan karena sang istri datang, meskipun ia tidak menjadi anggota pelaksana upacara, tapi tetap bahagia karena Rea datang bahkan kecantikan sang istri sangat terlihat dari lapangan. Alan tak henti-hentinya menatap istri cantiknya, Alan merasa selama hamil Rea lebih cantik bahkan Alan sampai berkali-kali mengucapkan rasa syukur karena mendapat pasangan seperti Rea.
Beberapa saat kemudian, upacara pun selesai dan Alan segera menghampiri Rea di kursi yang ada di pinggir lapangan, "Capek gak?" tanya Alan.
"Gak kok, kalau kayak gini mah masih sanggup aku, tapi panas sih," ucap Rea.
"Mau aku bawain payung?" tanya Alan.
"Ish, gak perlu," ucap Rea.
Alan dan Rea menghampiri anggota tim Alan lainnya yang juga tengah bersama dengan keluarganya, "Hai Rea," sapa Sivia.
"Hai Sivia, gimana nih kabarnya?" tanya Rea.
__ADS_1
"Baik, dong," ucap Rea.
"Semua orang bawa pasangan, tinggal lo nih yang belum, mana pasangan lo?" tanya Alvin.
"Sabar napa, pasangan gue lagi dijalan nih daritadi dia kejebak macet soalnya," ucap Ryan.
"Lo beneran punya pacar?" tanya Alan.
"Bukan pacar juga sih, tapi yang jelas gue sama dia udah sepakat buat komitmen," ucap Ryan.
"Gue jadi penasaran siapa pacarnya Ryan," ucap Gara.
"Adalah pokoknya, oh iya dokter Rea hari ini izin gak masuk ya?" tanya Ryan.
"Enak aja gak ya, hari ini itu saya emang gak ada jadwal," ucap Rea.
"Hehehe, maaflah dokter Rea masa gitu aja marah," ucap Ryan.
"Sayang, duduk ya kamu pasti capek berdiri terus," ucap Alan dan diangguki Rea.
Baru saja Alan dan Rea akan pergi untuk duduk di kursi yang disediakan tiba-tiba seorang perempuan datang yang membuat Alan dan Rea menatap perempuan tersebut dan betapa terkejutnya Rea saat melihat perempuan tersebut datang, "Qilla! kok lo ada di sini?" tanya Rea.
"Lo hari ini gak ke rumah sakit?" tanya Qilla, yang tak kalah terkejutnya dari Rea.
"Hari ini kan gue emang gak ada jadwal, tapi lo kok bisa ada di sini?" tanya Rea.
"Dokter Qilla ke sini karena saya dokter Rea," ucap Ryan.
"Hah!" pekik Rea dan anggota Alan lainnya.
"Maksudnya apa Yan? jangan bercanda deh," tanya Gara.
"Gue gak bercanda," ucap Ryan.
"Hehehe, gue lupa gak cerita soalnya banyak pasien sih gue nya," ucap Qilla.
"Lo pacaran sama sersan Ryan?" tanya Rea.
"Gak pacaran juga sih," ucap Qilla.
"Terus?" tanya Rea.
"Gini deh saya bakal jelaskan semuanya biar dokter Rea gak salah paham ke Qilla," ucap Ryan.
Ryan pun mulai menjelaskan semuanya pada Rea dan juga anggota tim lainnya tanpa ada yang ditambah dan dikurangi, "Kenapa lo gak cerita ke gue?" tanya Alvin.
"Gue udah cerita ke kalian ya soal rencana gue," ucap Ryan.
"Ya, tapi lo gak bilang kalau ceweknya itu dokter Qilla," ucap Alvin.
"Kan gue lengan kasih surprise sama kalian sekarang," ucap Ryan.
"Hiks ... hiks ...," tangis Rea.
"Loh sayang kok nangis ada apa?" tanya Alan, yang khawatir data melihat Rea menangis.
"Re, po marah karena gue gak bilang ke lo ya, maaf ya udah dong jangan nangis lagi guevkn jadi ngerasa bersalah banget," ucap Qilla.
"Gue gak marah kok, gue malah seneng banget dan ini gue cuma sedih aja karena sahabat gue udah ada yang punya, hiks ... hiks," ucap Rea.
"Lo mah nakut-nakutin gue," ucap Qilla.
"Berarti diantara kita yang belum cuma Nina doang dong," ucap Rea.
__ADS_1
"Iya deh kayaknya, tapi dia yang sama dokter Nando gak jadi ya?" tanya Qilla.
"Gak jadi, semesta gak menghendaki mereka berdua berjodoh," ucap Rea.
"Nando sama Nina?" tanya Alvin, yang diangguki Rea dan Qilla.
"Mereka beneran pacaran?" tanya Ryan.
"Mereka gak pacaran, tapi pernah deket aja terus karena mereka beda agama, jadi ya gitu deh mereka gak bisa bersama," ucap Rea.
"Kasihannya Nando," ucap Raka.
"Tapi, tadi kayaknya saya lihat dokter Nando sama dokter nian deh, kalau gak salah ya," ucap Kino.
"Dimana?" tanya Rea.
"Tadi sih di dekat kursi atas," ucap Kino.
"Bentar lagi mereka ke sini," ucap Alan, saat melihat Rea dan Qilla akan pergi dari tempat tersebut.
"Masa?" tanya Rea dan diangguki Alan.
Benar saja, beberapa saat kemudian dokter Nando dan Nina datang, "Nina!" pekik Rea dan Qilla.
"Biasa aja dong suaranya," ucap Nina.
"Hehehehe, jadi ini ya alasan lo tadi gak masuk," ucap Qilla.
"Gue masuk ya tadi, cuma sebentar terus izin. Lo juga kan," ucap Nina.
"Iya sih, tapi kok lo bisa sama dokter Nando?" tanya Qilla.
"Ya, karena gue di ajak sama dokter Nando makanya gue bisa di sini," ucap Nina.
"Sebagai?" tanya Rea.
"Sebagai maksudnya?" tanya Nina.
"Lo diajak ke sini sebagai apa? status kalian?" tanya Rea.
"Lo gak perlu khawatir, gue di sini cuma sebagai temen doang kok gak lebih, guevamsih waras kali," ucap Nina.
"Bagus, tapi lo gak baper kan?" tanya Rea.
"Kalaupun gue baper juga, gue gak bisa berbuat apa-apa kali," ucap Nina.
"Papa ini ada kapten Alan," ucap dokter Sandra, yang entah datang darimana karena tiba-tiba saja dia sudah berada di samping Alan.
"Wah, siluman buaya putih udah datang nih," gumam Ryan.
"Kok siluman buaya putih harusnya kan siluman kadal sekalian," ucap Qilla.
"Emang ya kalian berdua itu pasangan yang cocok, sama-sama julit," ucap Raka.
"Iya dong kita gitu loh," ucap Ryan.
"Kapten Alan, senang bertemu dengan kapten Alan," ucap seorang pria, dengan tersenyum ke arah Alan dan pria itu tak lain adalah ayah dari dokter Sandra.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.