
Mendengar perkataan Alan tentunya membuat tubuh Rea panas dingin, bagaimana tidak tubuh akan menempel dengan tubuhnya. Rea yang sejak tadi terkejut karena saat membuka pintu melihat Alan yang keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya, sedangkan atasnya Alan tidak menggunakan pakaian apapun sehingga memperlihatkan tubuh atletisnya. Namun, Rea juga harus terkejut saat Alan menariknya ke dalam kamar dan menempelkan tubuhnya pada Rea.
Saat ini Rea salah tingkah karena Alan terus menatap lekat padanya, "Kenapa lihat ke samping terus gitu? apa ada hal yang lebih menarik di samping daripada di depanmu?" tanya Alan dan semakin mendekat pada Rea.
Alan mendekatkan wajahnya pada wajah Rea bahkan saat ini baik Alan atau Rea mampu merasakan hembusan keduanya, Alan memejamkan matanya lalu menarik tengkuk Rea dan mencium Rea. Ciuman yang awalnya hanya menempel kini menjadi ******* yang cukup kasar bukan hanya itu akan tangan kiri Alan yang diam pun menjelajahi punggung Rea.
Alan yang tidak mendapati respon dari Rea pun membuka matanya dan melihat Rea yang melotot, Alan pun tersenyum smirk dan Alan menutup mata Rea menggunakan tangan kirinya yang tadi ia gunakan untuk menjelajahi punggung Rea. Setelah Rea menutup matanya Alan pun kembali ******* bibir tersebut. Namun, karena tidak mendapatkan balasan dari Rea, Alan pun kembali membuka matanya dan menyuruh Rea untuk membalasnya.
"Balas sayang," bisik Alan di telinga Rea dan mencium telinga Rea.
"Gi-gimana balasnya?" tanya Rea.
"Buka mulut kamu," ucap Alan dan diikuti Rea.
Rea membuka mulutnya dan Alan kembali mencicipi setiap sudut bibir bahkan mulut manis istrinya itu. Perlahan Alan berpindah ke leher Rea dan hal itu membuat Rea terkejut bagaimana tidak, Alan yang tadi hanya mencium bibirnya kini ia mencium bahkan menjilati lehernya dan Rea tentunya merasakan suatu yang berbeda bahkan saat Alan menggigit lehernya meskipun perih, tapi Rea merasa sensasi yang luar biasa. Tangan Rea yang tadinya diam kini menekan punggung kokoh suaminya itu yang tidak tertutup oleh apapun. Rea sendiri berusaha untuk tidak mengeluarkan suara aneh dari mulutnya karena tindakan Alan ini, Rea hanya diam dan menggigit bibirnya sendiri supaya Alan tidak mendengar suara anehnya.
"Kapten Alan," panggil Rea ,yang berusaha menghentikan tindakan gila Alan.
Alan tidak menanggapinya dan tetap meluncurkan aksinya, Alan semakin brutal karena Alan kembali mencium dan ******* bibir Rea. Namun, meskipun begitu tangan kirinya tetap setiap mengusap lembut punggung Rea dari balik baju dan begitupun Rea yang menaruh kedua tangannya di pinggang Alan karena Rea benar-benar merasa lemas saat ini bahkan Rea rasanya ingin pingsan saja.
Rea benar-benar kesulitan dalam bernapas terutama saat Alan mencium bibirnya bukan hanya ciuman saja Alan justru ******* bibir Rea kembali bahkan saat ini ciuman tersebut sedikit kasar. Rea yang kesulitan bernapas pun memeluk dada bidang suaminya itu berharap Alan segera melepaskan pelukan tersebut kalua tidak Rea pastikan ia akan kehabisan napas. Alan yang paham pun melepaskan pelukan tersebut dan menatap lekat wajah merah istrinya itu, Alan menatap Rea dan mencium Rea kembali. Namun, kali ini ciuman tersebut hanya sebuah kecupan saja tidak lebih seperti tadi.
"Kenapa hem?" tanya Alan, yang saat ini tengah memeluk Rea.
"Kapten Alan mau bunuh aku atau gimana sih," ucap Rea.
__ADS_1
"Kapten Alan lagi," ucap Alan.
"Hehehe lupa," ucap Rea.
"Kita lanjut di kasur yuk," ucap Alan dan menggendong Rea.
Rea yang tiba-tiba di gendong pun kaget bahkan ia sampai berteriak, "Shut, jangan teriak-teriak sayang nanti yang ada dikiranya aku kasar lagi sama kamu," ucap Alan lalu membaringkan tubuh Rea di kasur.
Alan mengungkung tubuh Rea dan mengusap lembut rambut Rea yang menutupi wajah cantiknya itu, Alan mengecup pelipis Rea dan hidung Rea. Setelah itu, Alan kembali mencium bibir Rea dan tentunya dengan ******* hingga kembali menuju leher Rea bahkan saat ini ciuman di lehernya tersebut cukup kasar tidak seperti tadi saat berdiri, Rea benar-benar gila ternyata sensasi saat berdiri dan di kasur sangatlah berbeda dan Rea sudah tidak bisa lagi menahan agar suara aneh tersebut tidak keluar.
"Ish, uh kapten A-alan pelan-pelan enghhh," ucap Rea, yang akhirnya suara aneh itu pun lolos keluar dari mulutnya.
Alan mulai membuka kancing Rea satu persatu, Rea berhasil menghentikan tangan Alan, "Aku belum siap," ucap Rea.
Baik Alan maupun Rea menatap pintu kamarnya, Rea pun merasa lega karena Dea membantunya. Sedangkan, Alan hanya mampu mendengus sebal lalu menatap Rea yang terlihat jelas wajah takutnya. Alan yang sadar jika tangannya saat ini berada di kancing baju Rea pun menjauhkan tangannya dan mengubah posisinya menjadi duduk begitupun dengan Rea yang duduk di samping Alan. Rea pun merapikan pakaiannya yang berantakan terutama kancingnya yang tidak rapi.
"A-aku ke Dea dulu," ucap Rea.
Situasi saat ini benar-benar canggung baik itu Alan maupun Rea bahkan Rea sampai gugup berada di dekat Alan, Rea segera berlari dan membuka pintu. Saat membuka pintu, Rea dapat melihat Dea yang tengah tersenyum padanya, "Ini kakak sebentar lagi turun," ucap Rea.
"Iya kak, yang cepet ya kak soalnya Dea udah laper," ucap Dea dan diangguki Rea.
Setelah Dea pergi, Rea pun kembali masuk ke dalam kamar, tapi bedanya ia sudah tidak melihat Alan dan sepertinya Alan sedang memakai pakaiannya, benar saja beberapa saat kemudian Alan keluar dengan pakaian yang sudah lengkap, "Kenapa Dea tadi ke sini?" tanya Alan, yang berusaha untuk tidak canggung di dekat Rea.
"Tadi katanya di suruh sarapan sama Mama,, kalau gitu ayo kita ke bawah takutnya banyak yang udah nunggu," ucap Rea dan diangguki Alan.
__ADS_1
Baru saja Alan akan menggandeng tangan Rea, tapi Rea terlebih dahulu sudah melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Alan di kamar.
Rea pun turun ke bawah dan menuju meja makan dengan Alan yang ada di belakangnya, "Kalian lama banget sih, kasihan tahu Dea sama Papa udah laper," ucap Mama Dira.
"Tahu nih kak Alan sama kak Rea gak kasihan apa sama Dea yang udah gak kuat," ucap Dea.
"Maaf, Ma," ucap Rea.
"Iya, gapapa kok sayang, tapi kenapa kalian lama jangan bilang kalau kalau malah malam pertama?" tanya Mama Dira.
"Hampir," gumam Alan dan masih dapat di dengar Mama Dira dan Papa Aldi.
"Apa! kalian hampir malam pertama itu artinya tadi Dea ganggu kalian dong?" tanya Mama Dira, dengan heboh.
"Sangat mengganggu," ucap Alan.
"Astaga, gagal sudah mau dapet cucunya," ucap mama Dira.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1