Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Cucu


__ADS_3

Alan dan Rea sudah berada minimarket dan membeli susu hamil serta beberapa cemilan yang Rea inginkan, setelah membayar semuanya Alan dan Rea pun pergi menuju rumah Papa Aldi. Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di depan rumah Papa Aldi, "Kayaknya Papa udah pulang deh soalnya mobilnya ada udah ada, ayok masuk," ajak Alan dan menggenggam tangan Rea.


Tanpa mengetuk pintu Alan langsung saja membuka pintu rumah tersebut dan masuk bersama istrinya, Alan membawa Rea menuju ruang tamu yang ternyata di sana semua keluarganya berkumpul, "Menantu Mama!" pekik Mama Dira dan menghampiri Rea lalu memeluk Rea.


"Astaga, Mama kangen banget tahu sama kamu. Kenapa kamu lama banget gak ke sini?" tanya Mama Dira.


"Astaga Ma, belum juga satu tahun masa dibilang lama sih masih untung Alan bawa Rea ke sini," ucap Alan.


"Ish, kamu ini. Mama mau ngobrol sama menantu Mama, kamu hus sana," ucap Mama Dira.


Alan pun memilih untuk duduk di sofa dan berbicara dengan Papa Aldi, "Kak Rea!" pekik Dea, saat melihat Rea yang baru sja duduk di sofa.


"Eh, ada adik kakak yang cantik," ucap Rea.


"Kalian itu kayak kembar loh, mana namanya juga hampir sama Rea sama Dea," ucap Mama Dira.


"Dea itu emang kembar sama kak Rea Ma," ucap Dea.


"Terserah kamu deh sayang," ucap Mama Dira.


"Oh iya, kakak kok gak bilang sih kalau mau ke sini, tahu gitu Dea mau ajak nonton," ucap Dea.


"Hehehe, kakak kan mau kasih kejutan, masa harus bilang dulu sih," ucap Rea.


"Sayang gimana kamu betah gak selama di rumah dinas?" tanya Mama Dira.


"Rea betah Ma, malah Rea Suak disana soalnya tempatnya asri gitu," ucap Rea.


"Ada yang mau Alan kasih tahu ke Papa, Mama sama Dea," ucap Alan, yang membuat seluruh atensi beralih padanya.


"Apa?" tanya Papa Aldi.


"Sebentar lagi Papa alam jadi Kakek," ucap Alan.


"Kakek? maksudnya?" tanya Papa Aldi, yang masih belum mengerti maksud Alan.


Berbeda dengan Mama Dira yang langsung mengerti dan menatap Alan serta Rea secara bergantian. Alan yang mengerti tatapan itu pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Mama Dira langsung mendekati Rea dan memeluk Rea bahkan Mama Dira sampai menangis. Papa Aldi yang masih belum paham pun terkejut dan bingung karena Mama Dira yang memeluk Rea dan menangis.


"Mama kenapa nangis?" tanya Papa Aldi.


"MENANTU MAMA!" teriak Mama Dira dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Mama seneng banget karena sebentar lagi Mama bakal jadi nenek, Mama bakal punya cucu," ucap Mama Dira dan mengusap lembut perut rata Rea.


"Hah! Rea hamil?" tanya Papa Aldi.


"Iya, Pa. Masa gitu aja gak tahu sih," ucap Alan.

__ADS_1


"Astaga, sayang sini Papa bahagia sekali akhirnya Papa bakal jadi Kakek," ucap Papa Aldi dan memeluk Rea.


"Berarti sebentar lagi Dea bakal punya ponakan dong, oh gak sabar pengen Dea ajak jalan-jalan dan pamerin ke temen-temen Dea," ucap Dea.


"Sama Mama juga gak sabar, Mama pengen kenalin ke temen-temen arisan Mama, akhirnya setelah selama ini Mama di pamerin cucu mereka sekarang Mama bakal punya cucu sendiri," ucap Mama Dira.


Alan yang mendengarnya hanya mampu menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa mereka mengharapkan cucu hanya untuk di pamerkan ke orang-orang.


"Udah berapa usia kandungannya sayang?" tanya Mama Dira.


"Udah 3 Minggu, Ma," ucap Rea.


"Wah, Alan baru jebol langsung jadi aja ya, Alan nih keturunan Papa deh, Papa dulu juga gitu langsung jadi," ucap Mama Dira.


Alan dan Rea sampai terkejut mendengar perkataan Mama Dira yang terlalu jujur, "Loh, cepet banget bukannya kak Alan gak sampe 3 Minggu ya?" tanya Dea.


"Nanti kalau kamu udah nikah terus hamil, kamu tanya ke dokter ya," ucap Mama Dira dan Dea hanya mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Mama jadi gak sabar deh beli baju buat cucu Mama, kapan kamu belinya?" tanya Mama Dira.


"Astaga, Ma. Ini aja belum tahu bayinya cowok apa cewek mas udah beli aja sih," ucap Alan.


"Loh, gapapa dong," ucap Mama Dira.


"Baru 3 Minggu Ma, mungkin kalau mau beli nanti dulu waktu usianya 7 atau 8 bulan," ucap Rea.


"Masih lama dong," ucap Mama Dira.


"Oke, setuju," ucap Mama Dira.


"Kamu mau nginep di sini, Lan?" tanya Papa Aldi.


"Gak deh, Pa. Soalnya setelah ini Alan sama Rea kan juga harus ke rumah ayah Argi buat ngasih tahu kehamilannya Rea," ucap Alan.


"Kenapa gak telpon mereka aja terus kamu sama Rea nginep di sini?" tanya Mama Dira.


"Gak adil dong, Ma. Masa lewat telpon sih lagian Alan sana Rea juga udah lama gak ke rumah ayah Argi," ucap Alan dan diangguki Mama Dira.


Alan dan Rea pun berada di rumah Papa Aldi hanya beberapa jam saja karena ia tidak ingin terlalu malam sampai di rumah ayah Argi, setelah pamit dengan Papa Aldi, Mama Dira dan Dea. Alan dan Rea pun menuju rumah ayah Argi hingga beberapa saat kemudian mereka berdua pun sampai di rumah ayah Argi. Mereka berdua masuk ke dalam rumah tersebut dan langsung disajikan gelak tawa dari Kaif yang berada di gendongan Ayah Argi.


"Loh, Rea kok ke sini gak ngasih kabar?" tanya Bunda Nara dan langsung menghampiri Rea lalu memeluk Rea.


"Biar surprise dong, Bun," ucap Rea.


"Ini Rea gak di suruh duduk dulu apa," lanjut Rea.


"Oh iya, Bunda lupa. Yaudah kamu duduk dulu sana biar Bunda bikin minum," ucap Bunda Nara.

__ADS_1


"Siap Bunda," ucap Rea dan duduk di samping kak Inez, Rea pun memeluk kak Inez yang membuat kak Inez bingung dan menatap Rea dengan mengerutkan keningnya.


"Kamu kenapa kok tumben peluk-peluk?" tanya kak Inez.


"Ish, kan biasanya Rea juga peluk kak Inez," ucap Rea dan menatap Alan yang sudah duduk di samping ayah Argi dengan Kaif yang berada di pangkuan Alan saat ini.


"Astaga! aunty lupa sama anak aunty!" pekik Rea dan menghampiri Kaif lalu menggendongnya.


"Jangan gendong Kaif dulu, mending kamu pangku aja," ucap Alan, ia sedikit khawatir jika anaknya kenapa-napa dan untungnya Rea menuruti apa yang ia katakan tadi.


"Wah, ada makanan nih," ucap Gia yang melihat belanjaan Rea.


"Ambil aja tadi kakak beli beberapa cemilan kok," ucap Rea.


"Wokeh," jawab Gia dan mengambil cemilan yang ada di dalam bungkusan plastik tersebut.


"Loh kak, ini kok ada susu ibu hamil?" tanya Gia dan mengeluarkan susu tersebut.


Bunda Nara yang baru saja meletakkan minuman di atas meja langsung mengambil susu tersebut dan memeriksa apa benar yang dikatakan dan ternyata benar setelah itu Bunda Nara menatap Rea dan Alan secara bergantian, "Ini susu hamil punya siapa?" tanya Bunda Nara, yang sudah tersenyum bahagia padahal Rea belum menjawab pertanyaannya.


"Jadi Alan sama Rea ke sini mau ngasih tahu kalau Rea lagi hamil, Bun," ucap Alan.


"AAAAAAAA, BUNDA SENENG BANGET, BUNDA MAU PUNYA CUCU LAGI!" teriak Bunda Nara.


"Wah, beneran akhirnya. Alhamdulillah," ucap ayah Argi dan memeluk anak perempuannya itu begitupun dengan Bunda Nara.


Semua orang yang ada di sana bersukacita karena mendengar kabar bahagia yang datang dari Rea, "Bunda gak menyangka jika kalian berdua secepat ini dikasih kepercayaan sama tuhan, padahal Bunda kira kalian sedang dalam tahap perkenalan," ucap Bunda Nara.


"Rea juga gak nyangka, tapi Rea bahagia banget," ucap Rea.


"Kakak seneng dengernya," ucap kak Inez.


"Keren kamu, Lan. Baru ketemu langsung gas eh jadi kapan-kapan kakak belajar ke kamu ya," ucap kak Ray.


"Siap, Kak," ucap Alan.


"Berarti kamu pas pulang langsung tancap gas ya Lan, kamu tancap gasnya dimana Lan?" tanya kak Ray.


"Apa sih kak Ray, udah ah jangan tanyain suami Rea yang gak-gak," ucap Rea, yang malu karena jika Ray menanyakan hal yang menurut Rea itu privasi.


"Yaudah deh Kakak gak tanya lagi, malu dia Kan," ucap kak Ray.


Akhirnya Alan dan Rea memutuskan untuk menginap di rumah ayah Argi karena tiba-tiba hujan dan Alan juga takut terjadi apa-apa dengan Rea apalagi saat ini Rea tengah berbadan dua.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2