Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Hamil Diluar Nikah


__ADS_3

Setelah kepergian Rea, Alan pun berada di ruangannya dan menatap cincin yang juga tersemat indah di kalung yang sama persis dengan milik Rea, bagaimana tidak kalung tersebut juga Alan dapatkan dari Mama Dira.


"Semoga kita segera bertemu, saya ingin membahagiakan kamu meskipun pernikahan in termasuk pernikahan yang tidak kamu inginkan," gumam Alan.


"Saya senang dan bangga saat kamu mengatakan pada saya jika kamu memiliki suami itu artinya kamu menganggap saya sebagai suami kamu meskipun kita belum pernah bertemu. I love you, Rea," lanjut Alan.


.


Disisi lain Rea saat ini sudah di dalam bus dengan para relawan lainnya, "Dokter Ara kenapa pulang bukannya dokter salah satu dokter terbaik ya?" tanya Rea.


"Saya ada acara keluarga makanya saya harus pergi," ucap dokter Ara dan diangguki Rea.


"Dokter Rea gak tanya gitu acaranya apa?" tanya dokter Ara.


"Emang acaranya apa?" taubat Rea.


"Saya mau tunangan sama pacar saya," ucap dokter Ara.


"Wah, selamat dokter Ara. Saya senang mendengarnya," ucap Rea.


"Terima kasih dokter Rea, dokter Rea juga gak mau tahu apa kok saya bisa tunangan sama pacar saya padahal saya baru pacaran 3 Minggu loh?" tanya dokter Ara.


Rea yang mendengarnya menaikkan alis sebelah kanannya, "Pasti dokter Ara sama pacarnya dokter Ara saling suka dan cinta kan makanya kalian berdua memutuskan untuk bertunangan walaupun hubungan kalian cuma sebentar," ucap Rea.


"Salah," ucap Ara.


"Lah terus karena apa kalau bukan karena kalian saling suka atau dokter Ara di jodohkan dengan orangtua dokter Ara?" tanya Rea.


Rea tiba-tiba teringat dirinya yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya dan berakhir membina keluarga bersama suami yang bahkan Rea tidak tahu.


"Salah juga," ucap dokter Ara.


"Lalu karena apa dong dokter Ara bertunangan dengan pacar dokter Ara?" tanya Rea.

__ADS_1


"Karena ini," ucap dokter Ara dan membawa tangan Rea ke perutnya.


Rea tentunya terkejut dengan hal itu, "Dok - dokter Ara hamil?" tanya Rea, dengan suara pelan karena takut orang-orang mendengarnya.


"Iya," ucap dokter Ara, dengan menganggukkan kepalanya.


"Tapi, dokter Ara cinta sama pacar dokter Ara kan?" tanya Rea.


"Saya gak pernah menyukai pacar saya," ucap dokter Ara.


"Tapi, kenapa dokter Ara justru bertunangan dengan pacar dokter Ara?" tanya Rea.


"Sebenarnya pacar saya adalah pria yang merenggut masa depan saya dan setelah itu dia menjadikan saya pacarnya karena takut saya hamil dan ternyata benar saya hamil di luar nikah. Kasihan ya saya," ucap dokter Ara.


Rea yang mendengarnya pun memeluk dokter Ara untuk menyalurkan kekuatan untuk dokter Ara, "Dokter Ara semangat ya, saya gak tahu gimana caranya saya mengibur dokter Ara. Saya hanya bisa memberikan semangat," ucap Rea.


"Terima kasih dokter Rea karena sudah memberikan semangat untuk saya, tapi saya gak sedih loh karena saya harus menikah dengan orang yang merenggut masa depan saya, justru saya sangat senang karena sebentar lagi akan punya baby," ucap dokter Ara dan mengelus perut ratanya.


"Tapi, kan dokter Ara tidak mencintai calon tunangan dokter Ara," ucap Rea.


"Maksud dokter Ara?" tanya Rea.


"Saya menikah untuk kebahagiaan anak saya itu artinya saya sudah terima resiko yang akan saya alami selama hubungan rumah tangga saya dan saya tidak boleh egois dalam rumah tangga saya, bohong kalau saya tidak benci pacar saya. Bahkan saya sendiri untuk mengatakan dia pacar saja sedikit sedih, tapi ya mau bagaimana lagi yang perlu saya lakukan sekarang adalah mensyukuri semuanya dan menganggap jika semua ini adalah berkah dari Tuhan," ucap dokter Ara.


"Apakah prinsip dari pemikiran dokter Ara bisa dijadikan prinsip bagi pasangan yang dijodohkan?" tanya Rea.


"Sangat bisa, pasangan yang dijodohkan pasti untuk membahagiakan orang lain bukan seperti orangtua, prinsip dari pemikiran saya tadi sangat bisa dilakukan. Hubungan rumah tangga itu gak ada yang mulus sampai ajak menjemput, pasti ada aja masalahnya bahkan untuk pasangan yang memang sudah mengenal dan saling mencintai saja bakal mengalami yang namanya ujian dalam hubungan rumah tangga dan yang harus dilakukan lagi-lagi mensyukuri semuanya dan tidak menjadikan semua yang dialami menjadi beban," ucap dokter Ara.


"Memangnya kenapa dokter Rea tanya itu? apa dokter Rea mau dijodohkan ya?" tanya dokter Ara.


"Eh, gak dong dok. Saya cuma tanya aja karena penasaran," ucap Rea dan untungnya dokter Ara percaya dengan ucapannya.


Selama perjalanan Rea merasa seluruh tubuhnya remuk dan akhirnya memilih untuk tidur di bus hingga beberapa jam setelah itu Rea merasakan tepukan di lengannya dan hal itu membuat Rea membuka matanya lalu melihat dokter Ara yang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Kita udah sampe dokter Rea," ucap dokter Ara.


Rea pun sudah sadar sepenuhnya dan berdiri, "Kita di rumah sakit Citra Lestari dokter," ucap dokter Ara.


"Loh kok kita di rumah sakit Citra Lestari bukannya katanya kita baka turun di Daiva General Hospital?" tanya Rea.


"Iya, soalnya ternyata supir busnya bilang lebih banyak relawan dari rumah sakit Citra Lestari makanya supirnya memilih buat turun di sini," ucap dokter Ara.


"Tapi, rumah sakit Citra Lestari itu jauh banget loh dari rumahku," ucap Rea dan akhirnya keluar dari bus bersama dengan relawan lain.


"Dokter Rea udah di jemput?" tanya Riri.


"Belum, dokter Riri. Ini saya mau pesan taksi," ucap Rea.


"Bareng sama saya aja gimana dokter, tapi nanti kita ke ruang sakit?" tanya Riri.


"Iya deh boleh ini nanti biar saya telepon Kakak saya buta jemput," ucap Rea dan diangguki Riri.


Riri ini adalah dokter baru di Daiva General Hospital dan Riri juga pernah magang di rumah sakit tersebut dengan Rea yang menjadi pembimbingnya sebab itu Riri cukup kenal dan berani berbicara dengan Rea. Rea sendiri memang salah satu dokter yang sulit untuk di dekati karena mukanya yang sebenarnya manis jika tersenyum, tapi jika Rea menampilkan ekspresi tidak bersahabat maka bisa dibilang Rea menakutkan padahal sebenarnya Rea bukan orang yang merek pikirkan.


Beberapa saat kemudian, Rea dan Riri lun sampai di rumah sakit, "Terima kasih dokter Riri," ucap Rea.


"Sama-sama dokter, tapi dokter tidak perlu manggil saya dengan dokter panggil Riri saja," ucap Riri.


"Loh kenapa? kan dokter Riri sudah resmi jadi dokter di rumah sakit?" tanya Rea.


"Tapi, tetap saja saya masih belum pantas di panggil dokter sama dokter Rea yang merupakan senior saya," ucap Riri.


"Dokter Riri tidak perlu berpikir kayak gitu, dokter Riri mendapatkan gelar tersebut dengan berjuang keras dan dokter Riri bisa menjadi dokter di rumah sakit ini itu udah membuktikan kalau dokter Riri pantas di sebuah dokter sama senior sekalipun ya dokter Riri," ucap Rea dan diangguki Riri.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2