Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Warna Yang Menantang


__ADS_3

Saat ini Alan dan Rea sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan di kota, "Kita beli makanan dulu yuk, aku udah laper nih," ajak Rea.


"Tadi akan sebelum ke sini udah makan sayang," ucap Alan.


"Tapi, laper lagi," ucap Rea.


"Yaudah ayo, kamu mau makan apa?" tanya Alan.


"Kayaknya kentang goreng enak deh," ucap Rea.


"Jangan yang gorengan dong, kan kamu sering banget makan gorengan," ucap Alan.


"Terus apa dong?" tanya Rea.


"Terserah kamu, tapi jangan yang gorengan," ucap Alan.


"Yaudah deh aku mau ramen aja gimana?" tanya Rea.


"Yang lain ya, buah aja gimana?" tanya Alan.


"Gak mau, aku bosen buah lagi buah lagi sekali-kali lah yang lain," ucap Rea.


"Yaudah deh ramen, tapi yang gak pedes ya," ucap Alan.


"Siap," ucap Rea.


Mereka berdua pun menuju tempat ramen dan Alan memesan ramen hanya untuk Rea tentunya yang tidak pedas bahkan tidak ada bubuk cabai sama sekali. Sedangkan, Alan tidak memesan apapun karena memang ia sudah kenyang, Alan melihat Rea yang makan dengan lahap pun senang karena menurutnya cara makan istrinya itu sangat lucu.


"Pelan-pelan sayang, gak ada yang mau ambil makanan kamu kok," ucap Alan.


Setelah Rea menghabiskan makanannya Alan dan Rea pun berniat untuk turun ke lantai 2, tapi sayang niatnya harus di kubur terlebih dahulu karena si bumil justru membeli wafel terlebih dahulu, "Aku mau wafel deh kayaknya enak, kamu beliin ya," ucap Rea.


"Yaudah, mau rasa apa sayang?" tanya Alan.


"Hem, stroberi aja deh," ucap Rea dan diangguki Alan.


Alan pun menuju toko wafel yang ada di lantai tersebut, beberapa saat kemudian Alan kembali dengan wafel pesanan Rea. "Wah, kayaknya enak, aku makan ini dulu ya setelah ini habis baru kita turun ke bawah," ucap Rea dan Alan hanya mengikuti apa keinginan Rea.


Akhirnya Rea selesai memakan wafelnya dan mereka pun turun ke lantai 2 dimana tempat Rea lama membeli kebutuhannya, "Kamu masuk aja aku tunggu di kursi deket eskalator, ini dompetku kamu pake buat bayar kebutuhan kamu," ucap Alan dan memberikan dompetnya.


"Loh kok kamu malah duduk di sana dan ngasih dompet kamu sih, kamu gak masuk ke dalam toko disana juga ada tempat duduk kok buat nunggu," ucap Rea.


"Gak usah sayang, aku tunggu di sana aja," ucap Alan.

__ADS_1


"Kamu gak beli juga di sana banyak kok ****** ***** pria?" tanya Rea.


"Gak usah, aku udah punya banyak kok," ucap Alan.


"Jadi kamu duduk di sana dan aku masuk sendiri ke toko?" tanya Rea dan diangguki Alan.


"Yaudah deh kalau gitu kita pulang aja, aku gak jadi beli. Kamu pasti capek ya makanya mau duduk, ayo kita pulang aja biar cepet istirahatnya," ucap Rea dan meninggalkan Alan yang bingung dengan respon Rea.


"Loh sayang kok pulang, katanya beli. Aku gak capek kok, ayo kita beli," ajak Alan dan menahan lengan Rea dan membalikkan tubuh istrinya itu hingga menghadapnya.


"Ga-gak usah kita pulang a-aja, hiks ... hiks," ucap Rea, yang sudah berlinang air mata.


"Hah, kok aku nangis aku salah ya, maaf sayang," ucap Alan dan memeluk Rea.


"Gak kok, kamu gak salah. Ayo pulang aja aku capek," ajak Rea.


"Gak, kamu katanya mau beli ehm bra loh malah pulang. Kamu beli deh biar aku tunggu di kursi dekat eskalator ya," ucap Alan dan mendapatkan gelengan kepala dari Rea.


"Pulang aja, kamu pasti capek habis latihan terus nanti juga kamu ada urusan di pangkalan kan, ayo pulang aja," ucap Rea, dengan wajah sedihnya.


Alan awalnya masih belum mengerti dengan sikap Rea hingga beberapa saat akhirnya Alan mengerti kenapa Rea aneh, "Yaudah, ayo beli kebutuhan kamu dulu, aku juga masuk nemenin kamu kok," ucap Alan.


"Beneran?" tanya Rea, yang mendongakkan kepalanya dan menatap Alan dengan wajah bahagianya.


Benar bukan dugaan Alan jika Rea tadi ngambek karena Alan tidak ikut masuk ke dalam toko padahal Alan sebenarnya malu untuk masuk. Bagaimana tidak, isi toko tersebut semuanya pakaian dalam ya meskipun ada pakaian dalam pria, tapi tetap saja bukan yang paling banyak yang paling kelihatan adalah pakaian dalam perempuan.


"Ba-bagus kok," ucap Alan.


"Yang, udah turunin jangan taruh di sana terus," ucap Alan dan menurunkan tangan Rea dari bra yang ada di ***********.


"Loh kenapa kan aku mau cek ini sesuai gak sama aku, lagian aku juga belum tahu ukuran berapa bra ku sekarang," ucap Rea.


"Tapi, kamu nanti kelihatan dari luar loh," ucap Alan dan menunjuk jendela yang ternyata transparan dan dapat dilihat dari luar.


"Udah gapapa, kan emang toko ini jualan pakaian dalam. Udah ayo kita cari lain," ucap Rea.


Alan pun menghela napas dan mengikuti pergerakan Rea yang memilih bra sesuai keinginannya, saat Rea akan mencoba kembali bra tersebut, Alan memundurkan Rea sehingga Alan berada di hadapan Rea.


"Kenapa?" tanya Rea.


"Kalau kamu mau coba hadap ke aku jangan jangan ke yang lain," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Yaudah ini aja deh, bagus kan ya di aku?" tanya Rea dan diangguki Alan.

__ADS_1


"Kamu yakin gak mau beli ****** *****?" tanya Rea.


"Iya sayang yakin, udah sekarang kamu mau beli apa lagi?" tanya Alan.


"Ini kan masih dua kurang beberapa lagi, sebentar ya kita cari lagi kalau bisa warnanya yang lebih menantang gitu," ucap Rea.


"Warna yang menantang? warna apa yang menantang?" tanya Alan.


"Warna merah," ucap Rea.


"Oh, warna merah," ucap Alan.


"Oh iya, aku juga mau beli bra sama ****** ***** yang satu set ya biar lucu gitu samaan," ucap Rea.


"Iya sayang, kamu bisa beli apapun yang kamu mau," ucap Alan.


"Oke let's go," ucap Rea dan memilih apapun yang ia sukai dan yang menarik baginya.


Setelah beberapa saat mengelilingi toko tersebut akhirnya Rea pun selesai membeli beberapa bra dan juga ****** ***** untuknya, tak hanya itu Rea ternyata juga membeli beberapa ****** ***** untuk Alan padahal sejak tadi Alan mengatakan tidak perlu membeli, tapi Rea tetaplah Rea, ia membeli beberapa ****** ***** untuk Alan yang menurutnya bagus.


Saat ini Alan dan Rea sudah keluar dari toko tadi, "Sekarang mau apa lagi?" tanya Alan.


"Kayaknya udah deh, gak ada lagi. Aku penasaran pengen cobain yang tadi aku beli," ucap Rea.


"Yaudah, kalau gitu kita pulang sekarang ya," ucap Alan dan diangguki Rea.


Saat mereka akan turun tiba-tiba seseorang memanggil Rea dan tentunya membuat Alan dan Rea membalikkan tubuhnya lalu menatap ke arah orang tersebut yang menghampirinya mereka berdua, "Rea, hai apa kabar?" tanya Riko.


"Oh, Riko, ada apa ya?" tanya Rea.


"Hem, gak ada apa-apa sih cuma mau nyapa aja, kita udah lama gak ketemu kan. Oh iya kamu beli apa aja kok kayak banyak gitu?" tanya Riko.


"Oh ini aku beli keperluanku sama suamiku biasalah keperluan untuk di atas ranjang, udah ya aku sama suami aku balik dulu soalnya aku harus istirahat," ucap Rea dan mengusap perutnya.


Rea memang sengaja melakukan hal itu agar Riko berhenti menganggu dirinya, Rea tidak bodoh ia tahu jika Riko berusaha untuk mendekatinya karena Riko suka dengan Rea bahkan Riko dulu juga pernah mengatakan secara langsung bukan, kalau Riko datang sebelum Rea mengenal Alan mungkin Rea akan luluh, tapi saat ini karena Rea sudah mengenal Alan sehingga membuat Rea terganggu saya Riko mendekatinya.


"Oh iya, aku inget temenku pernah bilang gini ke aku, percaya diri itu penting, tapi sadar diri itu jauh lebih penting. Ayo sayang kita pulang," ucap Rea.


Setelah mengatakan itu Rea menggandeng tangan Alan dan pergi meninggalkan Riko sendirian di sana.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2