
Pagi harinya Maudy merasa terganggu saya merasakan seseorang yang memeluknya begitu erat dari belakang, Maudy pun membuka matanya dan melihat tangan kekar sang suami.
Maudy malu mengingat kemarin malam ia telah memberikan haknya pada Nial, rasanya Maudy ingin tenggelam saja, ia yakin jika ia tidak akan bisa berhadapan dengan Nial karena malu.
"Morning," ucap Nial dengan suara khas bangun tidurnya dan gak lupa Nial juga mengecup tengkuk Maudy lalu membalikkan tubuh Maudy hingga saat ini mereka berdua saling berhadapan.
"Kita mandi ya," ucap Nial.
"Iya kak," ucap Maudy.
"Yaudah ayo," ajak Nial dan mendudukkan dirinya.
"Kakak aja yang duluan mandi baru setelah itu Maudy," ucap Maudy.
"Gak, kita mandi bareng aja," ucap Nial lalu berdiri dan menggendong Maudy.
Maudy benar-benar malu karena mereka berdua saat ini full naked, "Kenapa wajahnya di tutup gitu?" tanya Nial saat mereka berdua sudah berada di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun keluar dari kamar mandi dan sudah memakai baju lengkap.
"Kamu di sini ya, sebentar lagi makanan datang," ucap Nial.
"Kenapa gak ke bawah aja kak? nanti kalau yang lain nyariin gimana?" tanya Maudy.
"Mereka pasti paham kok, lagian bagian bawah kamu pasti masih sakit kan jadi kita di sini aja," ucap Nial dan Maudy hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah sarapan tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dengan cukup keras hingga membuat Maudy yang tengah minum pun tersedak.
"Sebentar ya, aku buka pintunya dulu," ucap Nial dan segera membuka pintu kamar tersebut.
"Kenapa?" tanya Nial, yang melihat Daisy di depan kamarnya.
"Kak Lea mau lahiran kak," ucap Daisy.
"Terus sekarang kak Lea dimana?" tanya Nial.
"Kak Lea di rumah sakit dekat sini," ucap Daisy.
"Yaudah ayo kita ke sana," ucap Nial dan masuk ke dalam kamar.
"Kenapa?" tanya Maudy.
"Kak Lea mau lahiran," ucap Nial.
"Hah! ayo kak kita temui kak Lea," ucap Maudy.
"Aku sama Daisy, kamu di sini aja ya," ucap Nial.
"Aku mau ikut," ucap Maudy.
"Kamu masih sakit," ucap Nial.
"Gak kok kak," ucap Maudy.
"Gak ya, kamu di sini aja nanti malam deh aku bakal jemput kamu ya," ucap Nial dan mengecup kening Maudy lalu pergi.
"Ayo," ajak Nial.
Nial dan Daisy pun menuju rumah sakit tempat Lea melahirkan, sesampainya di sana ternyata Lea belum melahirkan dan masih pembukaan 3.
"Bukannya kata dokter itu masih satu Minggu lagi ya kak," ucap Nial.
"Iya, kakak juga gak tau tiba-tiba aja udah mau lahiran," ucap Lea.
"Namanya juga kan cuma prediksi dokter," ucap bunda Rea.
"Tadi gimana kok tiba-tiba kak Lea tau kalau mau lahiran?" tanya Daisy.
# Flashback On #
Lea saat ini sudah duduk di kursi yang ada di ballroom hotel, Lea sudah lelah karena memakan beberapa cemilan yang ada di sana.
"Kak kenyang," rengek Lea.
"Tadi kan udah bilang jangan makan banyak-banyak, lihat sekarang kan jadi kenyang kamunya," ucap Noah.
"Ish, namanya juga pengen kak," ucap Lea.
"Yaudah iya, sekarang mau makan lagi atau gimana?" tanya Noah.
"Gak deh kak, langsung ke kamar aja ya. Le pengen tidur ngantuk banget, mana perut Lea daritadi sakit," ucap Lea.
"Yaudah ayo," ucap Noah.
Setelah meminta izin Noah dan Lea pun masuk ke dalam kamar dan benar saja Lea langsung tertidur tanpa mengganti pakaiannya.
Noah pun membiarkannya karena melihat wajah lelah istrinya itu, "Jangan nakal-nakal ya baby, kasihan mommy loh," ucap Noah tepat di depan perut Lea.
Pagi harinya Noah sudah bangun dan Lea masih nyenyak tidurnya, Noah keluar kamar dan mengambilkan makanan untuk Lea. Namun, baru saja Noah masuk ke dalam kamar dan betapa terkejutnya ia saat melihat Lea yang duduk di lantai sambil menangis.
__ADS_1
"Sayang," panggil Noah dan menghampiri Lea.
"Kak sakit," rintih Lea.
Noah pun melihat air yang keluar dari bagian bawah Lea, hal itu membuat Noah panik.
"Sayang, ini gimana?" tanya Noah.
"Gak tau kak! sakit!" teriak Lea.
"Sabar sayang," ucap Noah.
"Kenapa kok Lea teriak?" tanya bunda Rea.
"Bunda sakit!" teriak Lea.
"Sayang, kamu mau lahiran," ucap bunda Rea.
"Sakit bunda," rintih Lea.
"Noah bawa istri kamu ke rumah sakit terdekat," ucap bunda Rea.
"Iya bunda," ucap Noah dan langsung menggendong Lea.
Noah benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih apalagi melihat Lea kesakitan.
# Flashback Off #
"Kak, sakit banget, Lea gak kuat," rintih Lea.
"Bunda," panggil Noah.
"Jangan panik Noah, nanti Lea juga ikut panik," ucap bunda Rea.
"Huh, iya Bun. ini gimana Bun?" tanya Noah.
"Ayah udah panggil dokter sebentar lagi dokternya datang," ucap ayah Alan dan benar saja selang beberapa saat dokter perempuan pun datang.
"Pasien sudah pembukaan lengkap, sekarang kita akan segera ke proses persalinan," ucap dokter Ana
Lea pun menjalani persalinan dengan di dampingi Noah, Noah berada di samping istrinya. Iya benar-benar tidak tega melihat Lea yang kesakitan seperti ini.
"Sedikit lagi Bu," ucap dokter Ana.
"AAAAAA," teriak Lea.
Akhirnya suara tangsi bayi pun menggema di ruangan tersebut, Noah melihat bagaimana bayi tersebut lahir dan tanpa ia sadari air matanya menetes dan langsung ia hapus agar Lea tidak melihat hal itu.
Setelah itu, Noah pun mengalihkan pandangannya ke arah Lea yang tersenyum ke arahnya.
"Makasih sayang, kamu hebat mau berjuang untuk baby, i love you," ucap Noah dan mengecup punggung tangan Lea berkali-kali.
Lea hanya tersenyum dan setelah itu ia tidak sadarkan diri, hal itu membuat Noah terkejut dan panik seketika.
"Dok istri saya pingsan," ucap Noah.
"Bapak tidak perlu khawatir, pasien hanya kelelahan dan nanti akan sadar," ucap dokter Ana dan Noah lega mendengarnya.
Noah pun menghampiri sang anak yang baru saja dimandikan oleh suster, Noah langsung menggendongnya dan mengadzani putra tampannya itu.
Benar saja kata dokter Ana jika Lea akan sadar, buktinya baru saja Noah mengadzani putranya, Lea pun sadar.
"Sayang," panggil Noah dan menghampiri Lea dengan putranya yang berada di gendongannya.
"Kak, aku mau lihat baby-nya dong," ucap Lea.
"Ini, sayang," ucap Noah dan memberikan putranya di samping sang istri.
"Ganteng banget sih anak mommy," ucap Lea.
"Kayak daddy nya ya," ucap Noah.
Le alun menatap Noah, "Mau bilang juga gimana ya masalahnya kamu emang mirip banget sama daddy sayang," ucap Lea.
"Sebentar lagi dokter datang," ucap Noah dan diangguki Lea.
Beberapa saat kemudian, dokter pun masuk ke dalam ruang rawat Lea, dokter Ana tidak sendirian karena di belakang dokter Ana sudah ada bunda Rea, ayah Alan, Daisy dan jangan lupakan pengantin baru yaitu Nial, tentunya tidak dengan Maudy karena kalian taulah alasan Nial tidak membawa Maudy.
"Ganteng banget cucu bunda sayang," ucap bunda Rea.
"Sayang, Lea biar di periksa dokter dulu ya," ucapan ayah Alan.
"Eh, iya lupa," ucap bunda Rea.
Dokter Ana pun memeriksa Lea, "Kondisi Bu Lea sudah membaik dan tidak dan masalah apapun. Mati saya ajarkan untuk menyusui bayinya," ucap dokter Ana.
"Eh, iya dok," ucap Lea dan menatap sekelilingnya.
"Ayo kita keluar," ucap ayah Alan lalu menarik Daisy dan Nial.
__ADS_1
"Kak Noah gak keluar," ucap Lea.
"Kenapa aku harus keluar?" tanya Noah.
"Kan Lea mau nyusui baby-nya," ucap Lea.
"Terus?" tanya Noah.
"Malu," ucap Lea dengan pelan dan untungnya Noah mendengarnya.
"Kenapa harus malu? orang buat baby-nya Noah juga udah ngelihat," bukan Noah, tapi bunda Rea yang mengatakan hal se-vulgar itu.
"Bunda," rengek Lea.
"Untuk suami Bu Lea saya sarankan tetap di sini supaya nanti tau bagaimana cara Bu Lea menyusui bayinya dengan benar," ucap dokter Ana dan Lea pun setuju.
Lea mulai menyusui bayinya dan jujur saja ia merasakan geli dan sakit secara bersamaan, "Aw, sakit dok," rintih Lea.
"Itu wajar Bu, memang begini rasanya menyusui apalagi untuk pertama kali," ucap dokter Ana.
Bahkan tanpa terasa air mata Lea lolos begitu saja dan untung saja ada sang suami di sampingnya, Noah mengusap air mata Lea.
Akhirnya beberapa saat kemudian, Lea mulai terbiasa dan membaik hingga baby-nya melepaskan sumber makanannya.
Setelah Lea menyusui putranya, semua keluarga pun kembali masuk ke dalam ruang rawatnya, "Namanya siapa kak?" tanya Daisy dan menatap wajah tampan keponakannya.
"Namanya Reviano Arshaka Valda artinya pemimpin terkenal yang memiliki keistimewaan yakni bermurah hati dan penuh keyakinan," ucap Noah.
Ya, itulah nama putra Noah dan Lea, sebelumnya mereka berdua sudah mendiskusikan mengenai nama anak mereka karena memang mereka sudah mengetahui jenis kelamin anak mereka.
"Namanya bagus, panggilannya siapa kak?" tanya Nial.
"Vian aja gimana?" tanya Daisy.
"Boleh, panggilannya bagus kakak suka," ucap Lea.
"Vian ganteng banget sih, astaga ini mah cetakannya Noah banget," ucap bunda Rea.
"Masa gak kayak Lea sama sekali sih Bun," ucap Lea.
"Kamu mah cuma kebagian bulu matanya aja sayang," ucap bunda Rea.
"Huh, padahal kan Lea yang hamil 9 bulan, tapi baby-nya malah mirip kak Noah," ucap Lea.
"Untung aja baby-nya mirip kak Noah daripada mirip tetangga," ucap Daisy.
"Hujan, kalau ngomong," ucap bunda Rea dan Daisy hany tersenyum.
"Oh iya, mommy sama daddy ga bisa datang dalam waktu dekat ini karena kerjaan mereka yang gak bisa ditinggal, tapi mungkin nanti waktu kita udah di kota mereka udah pulang dan ngelihat cucunya," ucap Noah.
"Iya gapapa kok kak," ucap Lea.
"Kamu kalau capek istirahat aja ya," ucap Noah dan diangguki Lea.
"Oh iya, Maudy mana Nial?" tanya Lea.
"Maudy di hotel kak," ucap Nial.
"Kenapa gak diajak ke sini?" tanya bunda Rea.
"Biasa Bun, pengantin baru, kak Maudy gak bisa jalan nih pasti," ucap Daisy.
"Kamu langsung malam pertama, wah keren banget kakak dulu aja agak lama malam pertamanya," ceplos Lea.
"Ups, keceplosan," ucap Lea dan menutup mulutnya.
"Walaupun lama, yakin jadi ya kak," ucap Daisy.
"Hehehe, iya," ucap Lea.
"Udah kamu istirahat pasti capek kan," ucap Noah dan diangguki Lea.
Malam harinya Maudy sudah berada di ruang rawat Lea dan bayi tampan yang berada di gendongan bunda Rea tentunya ia di jemput sang suami.
"Vian ganteng banget ya Bun," ucap Maudy.
"Iya sayang, nanti kamu sama Nial juga punya kok yang kayak gini," ucap bunda Rea.
"Doain ya Bun," ucap Maudy.
"Pasti dong sayang, bunda selalu doain yang terbaik buat anak-anak bunda dan juga menantu bunda. Tapi, kamu harus tau kalau bunda gak pernah maksa buat kamu diet kasih bunda cucu karena semuanya keputusannya ada di kamu," ucap bunda Rea.
"Iya Bun," ucap Maudy.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.