Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Kemana Ya Dia?


__ADS_3

"Sivia itu tunangannya Alvin, dia kuliah di luar negeri dan besok pulang," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Oh tunangannya sersan Alvin, emangnya besok jam berapa tunangannya sersan Alvin datang?" tanya Rea.


"Mungkin jam 3 atau jam 4-an," ucap Alvin.


"Kalau gitu besok saya aja yang jemput tunangannya sersan Alvin," ucap Rea.


"Gak ya, aku gak setuju," ucap Alan.


"Ish, maksud aku itu aku sama Nina gitu loh, jadi besok aku minta diantar Nina aja," ucap Rea.


"Gak, besok kamu tetep aku jemput kayak biasanya," ucap Alan.


"Loh kan kami sibuk, gapapa dong sekali-kali gitu ya," ucap Rea.


"Gak ya, aku gak mau kamu sama baby-nya kenapa-napa," ucap Alan.


"Aku sama baby gak kenapa-napa kok," ucap Rea.


"Huh, yaudah, tapi kamu gak boleh sampe kecapean ya dan kalau ada apa-apa kamu harus cepet kabarin aku," ucap Alan.


"Siap kapten Alan," ucap Rea.


"Berarti besok Sivia sama dokter Rea nih," ucap Alvin dan diangguki Rea.


"Kalau gitu biar gue kasih tahu Sivia," ucap Alvin.


"Udah cuma itu doang kan yang mau lo bicarain?" tanya Alan.


"Iya, cuma itu doang kok," ucap Alvin.


"Yaudah, kalau gitu lo pergi sana ganggu orang lagi pacaran aja," ucap Alan.


"Heh, lo udah mau jadi bapak-bapak ya mana ada pacaran," ucap Alvin.


"Ada ini namanya pacaran halal gak kayak lo, udah sana," ucap Alan dan akhirnya mau tidak mau Alvin pun pergi dari rumah Alan. Namun, tentunya ia sudah mengucapkan terima kasih pada Rea yang sudah mau membantunya.


"Sersan Alvin udah lama ya tunangannya?" tanya Rea.


"Ya, gak juga sih, kira-kira satu tahun," ucap Alan.


"Tunangannya Alvin kuliah jurusan apa?" tanya Rea.


"Lupa sayang, besok kamu tanya sendiri ya," ucap Alan.


"Ish, dasar kamu mah," ucap Rea.


"Sekarang waktunya tidur, ibu hamil gak boleh tidur malem-malem," ucap Alan dan menggendong Rea ala bridal style.

__ADS_1


"Tapi, ini masih jam 7 loh, ini belum malem," ucap Rea.


"Udah malam," ucap Alan dan Rea hanya mendengus kesal.


.


Pagi harinya Rea sudah berada di rumah sakit setelah diantar oleh Alan tadi, Alan dan anggotanya memang saat ini tengah sibuk terutama karena akan ada perayaan ulang tahun tentara dan Rea pun dapat memakluminya.


"Qilla belum datang?" tanya Rea, saat masuk ke dalam ruangannya.


"Belum kayaknya soalnya dari tadi gue di sini gak lihat dia sama sekali," ucap Nina.


"Kok tumben ya, dari hari ini gak libur kan?" tanya Rea.


"Setahuku gue gak deh, dia liburnya masih kurang 3 hari lagi," ucap Nina.


"Kemana ya dia?" tanya Rea.


"Kenapa emangnya, Re?" tanya Nina.


"Gapapa sih, tapi gue cuma ngerasa aneh aja sih sama Qilla kok akhir-akhir ini dia sering banget gak masuk," ucap Rea.


"Mungkin dia sibuk kali di rumahnya, gimana kalau nanti kita mampir ke rumahnya. Kita udah lama loh gak ke rumahnya Qilla kayaknya kita terakhir ke sana waktu SMA deh," ucap Nina.


Disisi lain Qilla sejak kemarin berada di salah satu rumah sakit dimana sang adik dirawat karena kemarin ia tiba-tiba mendapat kabar jika adiknya bertengkar dengan salah satu temannya, "Kak Qilla pulang aja Jeffry gapapa kok," ucap Jeffry.


"Gapapa gimana, lihat. Kamu sampe patah tulang gitu, untung gak sampe parah banget, harusnya sekalian aja kamu sama temen kamu itu bawa pedang terus tebas leher masing-masing," ucap Qilla dan menatap sang adik serta teman dari Jeffry yang juga di rawat di ruangan yang sama.


"Kalian berdua sama aja, kalau ada masalah selesain baik-baik jangan saling pukul, kalau mau saling pukul nanti kakak daftarkan tinju biar kalian saling pukul ya berkelas dikit gitu," ucap Qilla.


"Mama gak dateng ya kak?" tanya Jeffry.


"Udah gak usah tanya yang gak penting apalagi kalau kamu tahu jawabannya," ucap Qilla.


"Papa kemana ya kak? Jeffry sampe bosen di ejek sama temen-temen Jeffry karena gak punya keluarga yang harmonis. Emang semua salah Jeffry ya sampe keluarga Jeffry kayak gini," ucap Jeffry.


"Udah ya gak usah sedih, kamu itu ada kakak oke," ucap Qilla, yang berusaha tenang dan tidak meneteskan air mata.


Selama ini Qilla selalu bersikap tenang jika berada di hadapan Jeffry karena ia harus berusaha membuat Jeffrey tenang juga dan melupakan apa yang mereka alami, kalau Qilla sendiri bersedih secara berlarut-larut maka Jeffry pun akan sama seperti Qilla apalagi Jeffry itu masih remaja yang emosinya tidak menentu.


Kembali ke Rea dan Nina yang khawatir karena Qilla tidak menampakkan dirinya, "Gue pengen ke rumahnya Qilla deh, tapi gue gak bisa," ucap Rea.


"Gak bisa kenapa?" tanya Nina.


"Nanti kita jemput tunangannya sersan Alvin ya," ucap Rea.


"Gue?" tanya Nina dan diangguki Rea.


"Kenapa gak sersan Alvin aja yang jemput tunangannya?" tanya Rea.

__ADS_1


"Soalnya sersan Alvin lagi sibuk, mau ya," ucap Rea.


"Iya bumil mau kok, terus ke rumah Qilla nya kapan?" tanya Nina.


"Kita lihat besok gimana kalau Qilla belum masuk juga kita ke rumahnya Qilla," ucap Rea.


"Oke deh," ucap Nina.


"Oh iya, kemarin lo dicariin dokter Gabby," ucap Nina.


"Dokter Gabby? kenapa emangnya?" tanya Rea.


"Mana gue tahu, coba lo tanya langsung ke dokter Gabby," ucap Nina.


"Kalau gitu gue ke dokter Gabby deh sekalian ke ruangannya Bima," ucap Rea.


Setelah itupun, Rea menemui dokter Gabby di ruangan dokter Gabby, "Dokter Gabby katanya kemarin cari saya?" tanya Rea.


"Oh iya, saya kemarin cari dokter Rea," ucap dokter Gabby.


"Kalau boleh tahu ada apa ya dok?" tanya Rea.


"Maaf jika saya menyinggung perasaan dokter Rea, jadi kemarin saya menjenguk dokter Shinta dan saya sangat prihatin dengan keadaan dokter Shinta yang bisa dibilang parah bahkan dokter Shinta terus mengatakan sesuatu yang tidak saya mengerti dan saat saya tanya ke perawat yang menangani dokter Shinta ternyata dokter Shinta mengalami depresi berat dan saat ini mentalnya sudah terganggu," ucap dokter Gabby dan tentunya membuat Rea terkejut karena pasalnya yang ia tahu dokter Shinta hanya depresi ringan dan tidak menunjukkan gejala depresi berat.


"Lalu apa maksud dokter Gabby mengatakan semuanya pada saya?" tanya Rea.


"Saya mengatakan ini hanya ingin memberitahukan keadaan dokter Shinta pada dokter Rea dan jika memang dokter Rea berkenan tolonglah jenguk dokter Shinta karena saat saya ke sana dokter Shinta juga sesekali memanggil nama dokter Rea," ucap dokter Gabby.


"Dokter Gabby tentunya tahu bukan bagaimana dokter Shinta pada saya dan kalaupun saya ke sana belum tentu dokter Shinta mau bicara baik-baik sama saya, kalau seandainya dokter Shinta justru dendam sama saya bagaimana," ucap Rea.


"Tidak akan dok, saya hanya ingin melihat dokter Shinta kembali seperti dulu," ucap dokter Gabby.


"Saya tidak janji akan menuruti apa yang dokter Gabby katakan, tapi akan saya pertimbangkan," ucap Rea dan diangguki dokter Gabby.


"Terima kasih karena sudah mau mendengarkan dan mempertimbangkan apa yang saya bicarakan tadi," ucap dokter Gabby.


"Kalau begitu saya bisa pergi bukan atau ada yang ingin dokter Gabby katakan lagi?" tanya Rea.


"Sudah tidak ada, saya hanya ingin mengatakan itu saja," ucap dokter Gabby.


"Yasudah kalau begit saya permisi," pamit Rea, lalu keluar dari ruangan dokter Gabby.


"Masa dokter Shinta sampe depresi berat bahkan mentalnya terganggu gitu, kok kayak kurang meyakinkan ya kalau dokter Shinta ngalamin kayak gitu. Ih udah ah gue gak mau mikirin itu dulu," gumam Rea.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2