Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Namanya Juga Pengen


__ADS_3

Saat ini usia kehamilan Rea sudah memasuki Minggu ke-21 atau 5 bulan dan selama itu juga Rea semakin merasakan sikap posesif Alan, dimana Rea tidak boleh kelelahan bahkan saat di rumah sakit, Alan sampai menelpon beberapa kali katanya takut Rea kenapa-napa. Saya di rumah pun begitu Alan selalu menggendong Rea kemanapun, ia tidak memperbolehkan Rea menginjak lantai sedikitpun, tapi, lambat laun sikap posesif Alan pun hilang.


Untuk morning sickness sendiri Rea tidak merasakannya sama sekali karena yang merasakannya adalah Alan, pernah suatu saat Alan tiba-tiba terbangun dan merasakan mual dan saat memuntahkannya hanya cairan saja. Lalu karena takut akhirnya Alan dan Rea memeriksanya ke rumah sakit dan dokter Karin mengatakan jika hal itu wajar jika terjadi pada sang ayah, atau biasa disebut gejala dari sindrom couvade.


Dokter Karin juga mengatakan jika hal ini terjadi karena meningkatnya hormon prolaktin dan kortisol menyebabkan Alan mengalami gejala morning sickness yang mana Rea yang seharusnya mengalaminya seperti pada ibu hamil lainnya. Menurut dokter Karin perubahan hormon ini dapat dikaitkan dengan rasa kekhawatiran Alan yang akan menjadi seorang ayah, Alan mengalami morning sickness sampai beberapa hari dan para anggotanya pun terkejut karena alam mengalami morning sickness dan mengatakan jika Alan terllau cinta dengan Rea makanya Alan sampai mengalami morning sickness.


Selain itu, Rea juga mengalami perubahan dalam dirinya diantara perutnya yang mulai membesar dan juga sering merasa lapar bahkan saat ini Rea dapat makan 4-5 kali sehari padahal dulu Rea hanya makan 2-3 kali sehari. Selain itu, pada usia kehamilan 5 bulan ini, Rea juga beberapa kali mengalami kontraksi palsu atau yang disebut juga dengan Braxton-Hicks pada malam hari setelah pulang dari rumah sakit, dimana perutnya yang mulai menegang dan kadang disertai rasa nyeri.


Bukan hanya perubahan pada Rea, tapi juga pada Alan semakin hari Alan justru semakin manja bahkan Rea juga bingung kemana sikap dinginnya Alan yang dulu, ya walaupun begitu sikap posesif Alan kadang muncul. Namun, tidak separah dulu saat awal kehamilan Rea.


Saat ini Alan dan Rea berada di rumah Bunda Nara, "Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Alan.


Alan sudah hafal jam berapa Rea biasanya merasa lapar, "Hem, kayaknya nasi goreng enak deh," ucap Rea.


"Yaudah, aku beli dulu," ucap Alan.


"Gak usah beli, aku pengen makan nasi goreng buatannya kak Inez," ucap Rea.


"Yaudah, kalau gitu aku bilang ke kak Inez ya," ucap Alan dan diangguki Rea.


Alan pun pergi keluar kamar dan beberapa saat kemudian, Alan masuk ke dalam kamar dengan kak Inez di belakangnya, "Katanya Kam mau nasi goreng buatan kakak?' tanya kak Inez.


"Iya, kak. Tiba-tiba Rea pengen makan nasi goreng buatan kak Inez," ucap Rea.


"Yaudah, kakak buatin khusus buat ponakannya kakak," ucap kak Inez.


"Ikut," ucap Rea.


"Emang boleh?" tanya kak Inez.


"Boleh?" tanya Rea, yang menatap lekat pada Alan. Alan pun menghela napasnya dan menganggukkan kepalanya, Alan sebenarnya ingin menolak. Tapi, ia tidak tega karena melihat wajah Rea.

__ADS_1


Rea dan kak Inez pun sampai di dapur dan kak Inez segera membuat nasi goreng khusus untuk Rea. Sedangkan, Rea hanya duduk di meja makan dan melihat kak Inez yang tengah memasak untuknya. "Kamu kenapa masak sayang?" tanya kak Ray, yang baru saja datang.


"Ini loh ponakan kamu pengen nasi goreng katanya," ucap kak Inez.


"Padahal aku jam 8 tadi udah makan sup sama martabat loh dan sekarang jam 10 kamu makan nasi goreng, kamu gak kenyang dek?" tanya kak Ray, yang tidak percaya dengan pola makan Rea yang berantakan.


"Namanya juga pengen kak," ucap Rea dan mulai berkaca-kaca.


Salah satu perubahan pada Rea adalah dimana ia mudah terbawa suasana seperti saat ini ia tiba-tiba ingin menangis dan tentunya hal itu membuat semua orang merasa harus berhati-hati dalam berucap.


"Eh, jangan nangis dong, gak kok tadi kakak cuma bercanda udah ya jangan nangis lagi Kalla takut sama tatapan tajam suamimu itu," ucap kak Ray.


"Tadi kata kak Ray ngelarang aku makan," ucap Rea.


"Enggak sayang, kakak gak ngelarang kok udah ah jangan nangis lagi kamu mau makan jam berapapun kakak gak masalah yang penting ponakan kakak bahagia," ucap kak Ray dan berhasil membuat Rea tersenyum cerah.


Beberapa saat kemudian, nasi goreng buatan kak Inez pun jadi dan Rea langsung memakannya dengan lahap, "Jangan cepet-cepet sayang, gak ada yang minta juga kok," ucap Alan, yang baru saja sampai di meja makan.


"Gak ah, udah kenyang mau tidur aja," ucap Rea.


"Yaudah, ayo tidur," ucap Alan dan menggendong Rea ala bridal style.


"Aku emangnya gak berat ya kok kamu malah gendong aku?" tanya Rea.


"Gak sayang, kalau cuma gendong kamu aku kuat," ucap Alan.


"Tapi, aku tambah gede loh mana sekarang Berta badanku udah naik," ucap Rea.


Alan pun mendudukkan Rea di kasur lalu ia bersimpuh di depan Rea, "Wajar sayang kalau berat badan kamu naik, sekarang kamu gak sendirian ada baby juga di sini," ucap Alan dan mengusap lembut perut Rea.


Setiap kali akan mengusap perutnya, Rea selalu merasakan pergerakan di dalam bahkan Rea sampai merasakan nyeri pada perutnya, "Awsh," rintih Rea.

__ADS_1


"Sakit ya sayang yaudah aku gak usap lagi," ucap Alan, ia selalu takut jika melihat raut wajah kesakitan Rea.


"Aku gapapa kok, kamu usap lagi walaupun sakit, tapi enak aku nya juga nyaman," ucap Rea dan Alan pun kembali mengusap lembut perut Rea.


"Sayang, ayah udah gak sabar banget buat ketemu sama kamu. Kamu jangan buat Bunda sakit ya, kasihan loh Bunda kamu karena kamu geraknya kenceng di dalam," ucap Alan tepat di depan perut Rea dan memberikan kecupan bertubi-tubi pada perut Rea.


"Mas besok katanya persidangan dokter Shinta ya?" tanya Rea.


"Iya sayang kenapa emangnya?" tanya Alan.


"Aku boleh gak ikut ke persidangan, aku pengen ngelihat dokter Shinta," ucap Rea.


"Sayang, kamu kan besok ada pasien," ucap Alan.


"Tapi, pasienku sebelum persidangannya dokter Shinta," ucap Rea.


"Gak ah nanti kamu capek, untuk masalah ini biar aku yang urus ya. Aku gak mau kamu banyak pikiran terus nanti malah berdampak pada baby," ucap Alan.


"Ish, kamu mah," ucap Rea.


Setelah kejadian beberapa bulan lalu, Alan benar-benar melaporkan dokter Shinta ke pihak berwajib bahkan sebelum keputusan komite kedisiplinan dibuat, Alan tidak percaya dengan komite kedisiplinan apalagi salah satu keluarga dokter Shinta merupakan salah satu orang terpenting di sana dan akhirnya ala memutuskan untuk melaporkannya ke pihak berwajib dan melalui beberapa kali pemeriksaan serta beberapa persidangan akhirnya besok adalah hari dimana persidangan terakhir. Lagipula setelah Alan melaporkan dokter Shinta, rumah sakit juga memecat dokter Shinta secara tidak hormat, tidak ada yang bisa membantu dokter Shinta bahkan termasuk keluarganya sekalipun dan berita mengenai hubungannya dengan direktur Bagas yang kandas pun sudah tersebar luas.


Nasib dokter Shinta seperti halnya sudah jatuh tertimpa tangga pula dimana setelah pernikahannya batal, dokter Shinta justru harus mengalami semua ini karena kesalahan yang ia lakukan.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2