
Setelah acara menginap di hotel tempat Desti menikah, Rea dan seluruh keluarga Bratadikara pun sudah pulang ke rumah Bratadikara, "Kalian mau ke rumah Mama Dira kapan?" tanya kak Ray.
"Gak tahu sih kak soalnya mas Alan belum bilang apa-apa ke aku," ucap Rea.
"Suami kamu mana?" tanya Bunda Nara.
"Mas Alan lagi ambil dompet Rea yang ketinggalan di mobil," ucap Rea.
Beberapa saat kemudian, Alan pun datang dan duduk di samping Rea lalu memberikan dompet milik Rea yang tadi ia ambil dari mobil, "Gimana, Lan?" tanya kak Ray.
"Gimana apanya kak?" tanya Alan.
"Kamu rencananya mau ke rumah Mama Dira kapan?" tanya kak Ray.
"Mungkin besok kak soalnya nanti Alan pengen jalan-jalan dulu sama Rea dan buat malam ini juga bakal nginep di sini dulu," ucap Alan.
"Kakak mau jalan-jalan kemana? Gia ikut dong, Gia males banget nih di rumah," tanya Gia.
"Kamu gak usah ikut, kamu di rumah aja. Biarin kakak kamu berduaan," ucap Bunda Nara.
"Tapi, Gia bosen banget loh Bun," ucap Gia.
"Nanti Bunda kasih kamu kerjaan biar gak bosen," ucap Bunda Nara.
"Ish, Bunda nah gak asik," ucap Gia.
"Emangnya kita mau jalan-jalan kemana?" tanya Rea, dengan suara yang cukup pelan dan hanya dapat di dengar Alan.
"Gak tahu yang jelas kita jalan-jalan aja, kemarin katanya kamu pengen jalan-jalan," ucap Alan. Rea begitu senang karena Alan mengingat ucapannya kemarin bahkan Rea sendiri sudah lupa apa yang ia katakan.
Seperti yang tadi Alan katakan untuk mengajak Rea jalan-jalan, saat ini Alan dan Rea tengah merasakan udara kota yang sangat sejuk di sore hari, "Aku jarang banget loh jalan-jalan sore kayak gini," ucap Rea.
"Kenapa kok jarang?" tanya Alan.
"Soalnya kerjaanku yang gak ada habisnya," ucap Rea.
"Sebenarnya ada yang mau aku bahas sih, tapi kayaknya kita bahas pas di rumah aja deh," ucap Alan.
"Kenapa harus di rumah, mendingan di sini aja deh soalnya kan di sini juga gak terllau ramai kalau dor murah takutnya ada yang nguping," ucap Rea dan diangguki Alan.
__ADS_1
"Sebenarnya aku cuma pengen diskusiin soal tempat tinggal sih, jadi rencananya aku pengen aja kamu tinggal dia apartemen aku. Tapi, karena masih ada renovasi otomatis kita gak bisa tinggal di sana sedangkan aku pengen kita hidup mandiri dan satu-satunya cara aku pengen ajak kamu tinggal di asrama. Menurut kamu gimana? aku gak maksa kamu kok kalau kamu belum siap kita lebih baik tinggal di rumahnya Bunda atau Mama aja," tanya Alan.
"Kalau boleh jujur aku masih takut kalau tinggal sendiri karena seumur hidup aku gak pernah tinggal dan ngerawat rumah sendiri bahkan aku aja masih belum bisa pekerjaan rumah tangga, jadi aku sebenarnya juga takut. Tapi, kalau memang keputusan itu keputusan kamu, aku sebagai istri kamu ya nurut aja, aku mau tinggal dimana pun selama itu baik buat aku dan juga kamu," ucap Rea.
"Kalau begitu kita tinggal di rumah Mama sama Bunda aja dulu, supaya kamu dan aku juga bisa belajar masalah rumah tangga dan setelah itu kita bisa tinggal di asrama," ucap Alan.
"Tapi, sampai kapan kita tinggal di rumah Mama atau Bunda?" tanya Rea.
"Hem, gimana kalau satu Minggu aja," ucap Alan.
"Dua Minggu deh," ucap Rea.
"Yaudah, dua Minggu," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Tapi, asrama jauh gak sama rumah sakit?" tanya Rea.
"Ya, sebenarnya sih gak terlalu jauh mungkin cuma 35 menit," ucap Alan.
"Kamu haus gak?" tanya Alan.
"Ya, lumayan sih kenapa emangnya?" tanya Rea dan Alan menunjuk penjual es di pinggir jalan.
"Aku mau air mineral aja," ucap Rea.
"Kenapa gak yang ada rasanya?" tanya Alan.
"Gapapa, lagi gak pengen aja," ucap Rea dan diangguki Alan.
"Bentar ya aku beli dulu," ucap Alan.
Rea pun mengedarkan pandangannya ke segala arah hingga beberapa saat kemudian Alan pun datang dan memberikan minuman pada Rea, "Loh kok kamu juga beli air mineral kenapa gak yang rasa?" tanya Rea.
"Kamu kan tahu kalau aku udah terbiasa minum air mineral," ucap Alan.
"Kamu gak minum kopi atau teh gitu?" tanya Rea.
"Teh sih, palingan. Tapi, itu pun jarang setelah aku jadi tentara," ucap Alan.
"Kenapa kamu mau jadi tentara? maksudku banyak pekerjaan yang bisa kamu lakukan bahkan Papa Aldi kan punya perusahaan dan pasti nanti kamu yang jadi pewarisnya kan? soalnya kalau di novel yang aku baca itu nanti ujung-ujungnya bakal jadi pewaris perusahaan keluarga," tanya Rea.
__ADS_1
"Kamu kebanyak baca novel ya, ya emang sih aku pewaris perusahaan Papa. Tapi, aku sama Papa udah sepakat sejak aku masih militer dan mampu naik jabatan dalam waktu yang terbilang cepat makanya papa tidak memaksaku buat nerusin perusahaannya dan sekarang perusahaan itu bukan tanggungjawab ku," ucap Alan.
"Kenapa bukan tanggungjawab kamu?" tanya Rea.
"Karena papa bakal mewariskan perusahaan itu untuk cucu pertamanya," ucap Alan.
"Hah, cucu pertama! tapi kan Papa belum punya cucu pertama," ucap Rea.
"Iya, makanya itu Papa pengen banget kita segera punya anak biar Papa punya cucu pertama buat di jadiin pewaris perusahaannya," ucap Alan.
"Wah, langsung Alya dong anak aku," ucap Rea.
"Aku gak setuju dengan Papa," ucap Alan.
"Kenapa?" tanya Rea.
"Karena aku gak mau mengekang anakku untuk melakukan hal yang gak dia suka, kalau Papa mewariskan perusahaannya maka cucunya nanti yang ada anak kita bakal memiliki beban dan tanggungjawab yang harus dia pikirkan sejak kecil dan aku gak mau itu terjadi. Aku dulu sempat begitu dan karena itu aku juga sempat nakal bahkan buat Mama beberapa kali nangis," ucap Alan.
"Kok aku jadi takut," ucap Rea.
"Kamu gak perlu takut, nanti aku akan bicara lagi sama Papa," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Tapi, kenapa kamu gak tertarik buat nerusin perusahaan Papa? kamu kan tahu kalau perusahaan Papa sukses besar?" tanya Rea.
"Ya, karena gak pengen aja, dari dulu aku emang bukan jiwa pengusaha makanya aku sempat bisnis dulu pas SMA dan selalu gagal, eh sekalinya ikut berbau militer atau olahraga bela diri malah lolos," ucap Alan.
"Tapi, kalau bukan kamu siapa dong yang bakal menjadi pewarisnya? masa Dea?" tanya Rea.
"Kan perusahaannya masih bisa di kasih ke yayasan atau gak kita juga bisa jual, karena perusahaan Papa juga cukup sukses jadi pasti banyak yang mau beli," ucap Alan.
"Kamu enteng banget kalau ngomong, kasihan tahu Papa udah susah-susah, tapi malah di kasih ke yayasan," ucap Rea.
"Ya, mau gimana lagi aku itu gak pernah tertarik sekalipun dengan dunia bisnis," ucap Alan.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.