Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Tempat Khusus Para Tentara


__ADS_3

Rea sendiri saya ini sedang berada di tempat persediaan oksigen karena tadi dokter Danu mengatakan jika persediaan oksigen yang dimiliki mulai menipis, karena tadi Rea selesai memeriksa pasien dan akan kembali ke kamp akhirnya Rea memutuskan untuk memeriksa persediaan oksigen sekaligus dan setelah itu mencatatnya untuk diserahkan pada dokter Danu esok hari.


Setelah memeriksa persediaan oksigen Rea pun memutuskan untuk kembali ke kamp militer agar ia dapat beristirahat, tapi langkahnya terhenti karena ia melihat sebuah bangunan kecil yang tidak terllau besar seperti tempat kamp militer, bangunan tersebut seperti terawat dan dengan penasaran Rea pun melangkah menuju bangunan tersebut. Namun, langkahnya terhenti kembali saat Rea mendengar suara yang baru pertama kali Rea dengar, meskipun begitu Rea paham dengan suara yang saat ini ia dengar.


Rea tidak peduli karena ia benar-benar penasaran siapa orang yang dengan seenaknya melakukan mendengar suara aneh di tempat seperti ini bahkan dalam keadaan seperti ini. Baru saja Rea melangkah tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang menahan tangannya dan justru menariknya hingga Rea membalikkan badannya dan menabrak tubuh tegap seseorang.


Rea tentunya terkejut dan melihat orang yang menarik tangannya itu dan betapa terkejutnya saya netranya bertabrakan dengan netra orang tersebut, "Kapten Alan," gumam Rea.


"Dokter Rea mau kemana? kenapa malam-malam begini tidak berada di kamp atau tempat pengungsian, tapi justru di sini?" tanya Alan.


"Ta-tadi saya sedang memeriksa persediaan oksigen," ucap Rea, dengan terbata-bata entahlah kenapa Rea jadi gugup.


"Terus kenapa dokter di sini bukannya seharunya dokter Rea jalan lurus bukan belok?" tanya Alan dan berhasil membuat Rea terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa-apa.


Dengan keberanian tinggi Rea pun menatap Alan. Namun, baru beberapa detik Rea kembali menunduk agar tidak melihat tatapan tajam Alan, "I-itu saya mendengar suara aneh dari tempat itu," ucap Rea dan menunjuk bangunan yang sejak tadi membuatnya penasaran.


Alan menghela napas panjang untunglah tadi air sempat mengehentikan Rea yang akan menuju tempat keramat bagi para tentara, "Itu bukan tempat apa-apa dan tolong untuk dokter Rea tidak ke tempat itu karena itu tempat khusus para tentara, dokter Rea mengerti," ucap Alan dan Rea dengan cepat menganggukkan kepalanya.


Rea tidak bodoh karena bagaimanapun Rea mendapatkan nilai yang memuaskan di kampus serta pelatihan menjadi dokter, jadi ia paham yang di maksud kapten Alan mengenai tempat khusus para tentara.


"Kalau begitu ayo saya antar dokter Rea ke kamp," ucap Alan.


Rea yang baru menyadari posisinya dengan Alan yang cukup intim itupun segera menjauh agar tidak terjadi salah paham antara keduanya.


"Tidak perlu kapten, saya bisa sendiri kok," ucap Rea.


"Dokter Rea bisa tidak sekali saja tidak usah membantah," ucap Alan.


"I-iya," ucap Rea.

__ADS_1


Rea cukup takut saat mendengar perkataan Alan dengan suara tegasnya. Ini adalah kedua kalinya Rea mendengar suara tegas Alan dan hal itu benar-benar membuat Rea takut.


Alan pun pergi terlebih dahulu, Rea pun bersiap beranjak. Tapi, langkahnya terhenti saat bertanya melihat sebuah kalung yang sangat tidak asing baginya. Dengan cepat Rea pun mengambil kalung itu, Rea benar-benar tahu persis bentuk kalung tersebut, tapi seketika Rea lupa di mana ia pernah melihat melihat kalung tersebut. Bahkan bukan hanya kalung, tali cincin yang ada di kalung tersebut juga Rea pernah melihatnya.


Saat Rea tengah menatap kalung tersebut dan akan melihat ukiran di cincin tersebut tiba-tiba saja seseorang mengambil kalung tersebut dan Rea pun segera melihat sang pelaku yang tidak lain adalah Alan.


"Kenapa?" tanya Alan, saat melihat Rea terus menatap kalung yang berada di tangannya.


"Kayaknya saya pernah lihat kalung itu," ucap Rea.


"Mungkin salah lihat," ucap Alan dan pergi meninggalkan Rea.


Rea yang akan berjalan mengikuti Alan pun terkejut saat suara dari bangunan tersebut kembali terdengar bahan seperti berteriak, Rea pun akhirnya berlari hingga ia dapat mendahului Alan.


Alan yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala, 'Bodoh kau Alan, kenapa tidak mengatakan jika aku suaminya?' tanya Alan dalam hati.


Rea sendiri berlari hingga berada di kamp militer dan segera masuk ke dalam, saat di dalam Rea dapat melihat Qilla, Nina dan Fafi tengah merawat kulit mereka dengan menggunakan masker.


"Ada deh, kalian dapat masker darimana?" tanya Rea.


"Nih anak bawa masker dari kota, makanya kita minta soalnya masker gue udah habis," ucap Qilla.


"Kalau dokter Rea mau, dokter Rea bisa ambil," ucap Fafi.


"Gapapa emangnya?" tanya Rea.


"Gapapa dong," ucap Fafi.


Akhirnya Rea pun menggunakan masker bersama Qilla, Nina dan Fafi. Bahkan tanpa terasa Rea pun tertidur begitu pula dengan Qilla, Nina dan Fafi yang juga tertidur tanpa membersihkan masker yang sudah mulai kering di wajah mereka.

__ADS_1


Pagi harinya Qilla berteriak heboh dan hal itu membuat Rea, Nina dan Fafi pun terkejut dan akhirnya bangun dari tidur lelapnya dengan kesal pasalnya saat ini masih pagi dan Qilla sudah membangunkan mereka dengan suaranya, "Kenapa sih, La, Ganggu tidur gue aja?" tanya Nina.


"Heh, kita lupa belum cuci muka lihat masker kita udah kering banget, itu artinya kita tidur sambil pake masker," ucap Qilla.


Akhirnya semua orang di dalam kamp itu lun membual matanya dan sadar dengan apa yang di katakan Qilla, "Mampus, pasti muka gue bakal jerawatan deh kalau kayak gini," ucap Nina.


Akhirnya mereka bertiga pun berlari keluar dari kamp militer dan menuju kran air yang berada di dekat kamp militer para tentara. Nina terus mendesak Qilla agar cepat mencuci mukanya karena ia takut para tentara keluar dari kamp nya dan melihat wajahnya. Tapi, untunglah saat ini masih pagi sekitar pukul 4 sehingga tidak Anda orang yang keluar. Saat ini posisi Qilla berada di depan dan sedang mencuci muka mereka yang kedua Nina, ketiga Fafi dan yang terakhir Rea.


"Cepet, La," ucap Nina.


"Sabar napa ini gue lagi cuci muka jangan di ganggu," ucap Qilla.


Setelah Qilla selesai membersihkan wajahnya Qilla pun pergi dari tempat tersebut dan menuju kamp militer. Sedangkan, Nina yang baru saja akan mencuci mukanya dibuat terkejut dengan suara seorang pria yang berada di sebelah kanannya tepatnya pintu kamp militer para tentara.


"Kalian kenapa berisik pagi-pagi sih?" tanya pria tersebut.


Nina hanya diam dan kembali membasuh wajahnya. Sedangkan, Fafi dan Rea hanya mampu menutup wajahnya dan menunduk tidak ingin melihat wajah pria tersebut.


"Kalian kenapa nunduk gitu emang ada uang di sana?" tamat pria itu.


Setalah Nina selesai membasuh wajahnya, Nina pun melihat pria tersebut. "Eh, sersan Alvin, biasa ritual para cewek sersan," ucap Nina dan berlalu meninggalkan Fafi dan Rea.


Saat ini Fafi sedang membersihkan wajahnya, "Dokter Rea di cariin kapten Alan loh," ucap Alvin dan membuat Rea mendongak menatap Alvin.


Naasnya ternyata di sana juga ada Alan yang tengah menatapnya, entahlah apa yang harus Rea lakukan karena Alan melihat wajahnya yang menggunakan masker. Setelah Fafi selesai dengan cepat Rea membersihkan wajahnya dan setelah itu Rea pamit pada Alvin dan Alan untuk kembali ke kamp.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2