Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Maudy


__ADS_3

Hari ini Nial selesai memeriksa beberapa persenjataan untuk digunakan dalam upacara, Nial bersiap untuk kembali ke asrama terlebih dahulu dan baru setelah itu ia akan pergi ke lapangan untuk latihan rutin di sore hari.


"Nial, ini ada titipan dari bunda lo," ucap Brandon, salah satu rekannya.


Nial pun mengambil titipan dari bunda Rea, "Thanks," ucap Nial.


"Sama-sama bro, kalau gitu gue balik ke lapangan dulu," ucap Brandon dan diangguki Nial.


Nial pun berjalan menuju asrama, baru saja ia menuruni tangga dekat lapangan tiba-tiba seseorang menabraknya dan membuat titipan sang bunda berjatuhan yang isinya pakaian, Nial pun mengambil pakaiannya dan memasukkan kembali ke dalam paper bag.


Setelah itu, Nial berniat pergi tanpa melihat siapa yang menabraknya. Tapi, sayang orang yang menabraknya tersebut justru menahan tangan Nial dan hal itu membuat Nial berhenti lalu membalikkan tubuhnya menghadap orang yang menabraknya tadi.


"Maaf," ucap orang tersebut.


"Tunggu! kamu lagi," ucap orang tersebut.


Nial mengerutkan keningnya karena melihat orang di hadapannya itu yang sepertinya pernah bertemu dengannya.


"Kamu lupa, aku yang waktu itu," ucap orang tersebut.


Nial cukup heran dengan orang tersebut yang seolah-olah mengenal dirinya, ia lebih memilih untuk pergi meninggalkan orang tersebut, tapi lagi-lagi orang tersebut menahan tangannya dan berdiri tepat di hadapan Nial.


"Aku cewek yang kamu tolong waktu di bus, terus aku mau traktir kamu karena udah bantu aku," ucap orang yang yang gak lain adalah perempuan yang ditolong oleh Nial waktu itu.


Nial hanya menatap perempuan tersebut tanpa mau merespon apapun yang dikatakan perempuan tersebut, "Kamu beneran lupa sama aku?" tanya perempuan tersebut.


"Kita tidak sedekat itu dengan saya, jadi jangan menggunakan aku kamu," ucap Nial.


"Oh, jadi ceritanya kode nih biar kita dekat. Yaudah kenalin nama aku Maudy," ucap perempuan tersebut yang bernama Maudy.


Maudy mengulurkan tangannya, tapi diacuhkan begitu saja oleh Nial dan Nial lebih memilih untuk berlalu meninggalkan perempuan tersebut.


"Yaelah ditinggal lagi," gumam Maudy dan berlari menghampirinya Nial.


"Nama kamu Nial bukan, waktu itu aku denger perempuan itu manggil kamu Nial," ucap Maudy, uang berusaha mengakrabkan diri dengan Nial.


Tapi, Nial cuek tanpa mempedulikan Maudy karena bagi Nial itu hanya buang-buang waktu, "Kamu lagi sariawan ya atau kamu habis cabut gigi kok gak ngomong sih?" tanya Maudy, yang mulai kesal karena dicuekin Nial.


"Bisa pergi gak, anda itu ganggu tau," ucap Nial dan setelah itu ia masuk ke dalam asrama.


"Eh, udah sampe asrama ternyata," ucap Maudy dan tersenyum geli dengan sikapnya.


"Maudy, gak boleh agresif nanti yang ada Nialnya gak mau loh. Tapi, kalau Nial tau siapa aku dia juga gak bakal mau sih," gumam Maudy.


Setelah itu, Maudy pun pergi dari asrama tersebut. Sedangkan, disisi lain Nial saat ini bersama dengan Elvan yaitu anak dari Ryan dan Qilla.

__ADS_1


"Cie, kak Nial lagi deket sama cewek nih," goda Elvan.


Elvan tadi baru dari kantin dan melihat Nial yang datang bersama dengan seorang perempuan, padahal Elvan tau Nial ini salah satu pria yang sulit untuk dekat dengan perempuan sebab itu saat melihat Nial bersama seorang perempuan tentu saja Elvan heboh dan sejak tadi saat bertemu dengan Nial, ia selalu menggoda Nial.


Nial sendiri tidak mau ambil pusing dengan godaan yang di berikan Elvan karena baginya itu hanya angin lalu.


"Kak Nial, harus ubah sikap kak Nial karena takutnya nanti calon kakak iparnya Elvan bakal pergi soalnya dia gak betah sama kak Nial," ucap Elvan.


"Pergi, mau kakak bilangin ke uncle Ryan kalau kamu di sini cuma ghibah terus," ucap Nial.


"Kak Nial mah ancamannya selalu gitu," ucap Elvan.


"Makanya pergi, kalau gak kakak bilang ke uncle Ryan sekarang ya!" ancam Nial.


"Eh! jangan dong kak, yaudah Elvan diem aja deh. Eh gak deh, Elvan ke kamar aja. Dadah kak Nial, salam ya kak buat calon kakak iparnya Elvan!" ucap Elvan dan berlari meninggalkan Nial.


"Dasar," gumam Nial dan berjalan menuju kamarnya dengan beberapa rekan sesama tentara.


"Habis darimana aja lo?" tanya Bian.


"Habis ketemu sama cewek tadi dia," ucap Yudha.


"Beneran? siapa ceweknya?" tanya Bian.


"Oh, yang cantik itu ya. Tapi, sayang keluarganya termasuk keluarga yang kurang dalam hal ekonomi," ucap Bobby.


"Iya, gue juga kasihan. Tapi, setauku gue dia baru aja lulus, malahan dia jadi lulusan terbaik loh," ucap Yudha.


"Oh iya, emangnya dia jurusan apa?" tanya Bian.


"Setau gue dia itu ngambil jurusan pendidikan deh, tapi gue tau pastinya," ucap Yudha.


"Lumayan nih si Nial bisa dapet guru, kayak adek lo Daisy, dia kan juga guru," ucap Bobby.


"Iya, cepet deh halalin sebelum diembat sama orang lain. Gue denger-denger sih Maudy ini salah satu perempuan cantik di desa pelabuhan ini makanya banyak yang naksir dan pengen dia dijadiin istri," ucap Bian.


"Kapan lo mau lamar Maudy? besok? yaudah ayo gas ke rumah dia," tanya Bobby.


"Lo berdua daritadi ngomong gak penting banget, buat apa gue ngelamar orang yang gak gue kenal," ucap Nial.


"Masa sih gak kenal, tapi kok tadi gue liat dari jendela kalau lo sama dia jalan bareng," ucap Bian.


"Dia nya aja yang ngajak ngobrol, gue mah gak peduliin dia," ucap Nial dan memilih untuk pergi ke kamar mandi yang ada di ujung lorong lantai tersebut.


"Gimana kalau kita jodohin dia sama Maudy aja?" tanya Bobby.

__ADS_1


"Boleh, gue gak suka juga kalau Maudy dideketin sama si komandan tua itu, padahal udah punya 4 anak, tapi masih aja cari gadis," ucap Yudha.


"Setuju, tapi Nial gimana? dia itu orangnya peka banget sama tindakan kita terus dia juga sudah buat di deketin?" tanya Bian.


"Kalau masalah itu sebenarnya gampang, asalkan kita semua harus kerjasama," ucap Bobby.


"Yaudah, berarti kita bakal deketin Nial sama Maudy ya," ucap Yudha dan diangguki Bobby serta Bian.


Beberapa saat kemudian, Nial sudah selesai dari kamar mandi dan setelah itu ia pun pergi dari kamarnya dan menuju lapangan untuk latihan sore bersama dengan ketiga temannya tentunya.


"Eh, itu ada Maudy," ucap Bian.


"Halo Maudy, makin cantik aja deh," ucap Yudha.


"Terima kasih kak atas pujiannya," ucap Maudy.


Maudy saat ini bersama dengan ayahnya tengah berjualan burger dengan gerobak yang sudah digunakannya sejak beberapa tahun lalu bahkan sudah terlihat jelas jika gerobak yang digunakan tersebut sudah rapuh.


"Maudy ini ada Nial nih," ucap Yudha dan mendapat lirikan tajam dari Nial.


Maudy sendiri malu karena di sana juga terdapat ayahnya, "Nak Nial ada apa dengan anak saya?" tanya bapak dari Maudy.


"Ini loh pak, calon menantu bapak pengen ketemu katanya," ucap Bobby.


"Maaf pak, mereka ini memang gak waras, jadi tidak perlu di dengarkan. Saya gak kenal putri bapak kok, kalau begitu permisi," ucap Nial dan akhirnya ia memilih berjalan cepat untuk menjauhi ketiga temannya yang tidak waras itu.


Maudy sendiri yang mendengar ucapan Nial pun merasa sakit hati, bahkan mood-nya mulai buruk karena hal itu.


"Udah gak usah di dengerin Nial, dia emang kayak gitu. Kalian begitu mari pak," ucap Yudha.


Akhirnya ketiga orang itu pun pergi dan menyusul Nial yang sudah jauh di depan.


"Jangan berharap nak, kita dari keluarga miskin gak bakal sepadan sama dia. Bapak dengar ayahnya nak Nial itu seorang komandan terus ibunya juga seorang dokter, sangat berbeda jauh dengan kita bapak cuma jualan burger keliling terus ibumu juga lumpuh di rumah," ucap bapak dari Maudy.


"Iya, pak. Maudy juga sadar diri pak," ucap Maudy.


'Maudy, sadar pak. Kalau Maudy gak bakal bisa bersama dengan Nial,' ucap Maudy dalam hati.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2