
"Gila, laki lo serem banget sih Le, jadi takut gue sama laki lo," ucap Tyas.
Saat ini mereka berdua bersiap-siap untuk beraktifitas pagi, lebih tepatnya latihan yang sebenarnya karena tadi hanya ucapan selamat datang dari Noah.
Mengesalkan bukan, bagaimana tidak. Lea dan rekan-rekannya di bangunkan hanya untuk mendengarkan ucapan Noah.
"Gue sendiri juga takut tadi, mana kayak mau makan orang gitu," ucap Lea.
"Halah takut ngapain sih lo, Le. Orang lo udah pernah di makan juga sama letnan Noah," ucap Tyas.
"Gak ya, enak aja lo. Gue belum pernah di makan nih buktinya tubuh gue masih lengkap gak ada yang hilang satupun," ucap Lea.
"Maksud gue letnan Noah pernah makan lo itu berarti lo sama letnan Noah pernah berhubungan suami istri gitu loh," ucap Tyas.
"Oh gitu, ya iya juga sih ya. Tapi, ya tetep aja waktu kak Noah makan gue di ranjang itu lembut banget bahkan gue gak takut sama sekali yang ada gue menikmati setiap sentuhan kak Noah, tapi kalau tadi kak Noah nakutin," ucap Lea, yang tempat sengaja keceplosan mengenai hubungan intim uang ia lakukan dengan Noah.
"Cieee," goda Tyas.
"Apa sih, udah deh jangan godain gue deh," ucap Lea.
Setelah beberapa menit, Lea dan Tyas pun selesai bersiap denhan waktu yang terbilang cepat bagi para perempuan. Setelah itu, Lea dan Tyas keluar kamar lalu menuju lapangan karena ternyata beberapa rekan kerja mereka sudah berada di tengah lapangan.
"Kenapa di sini? emang udah di suruh ke sini ya?" tanya Tyas.
"Lo gak denger tadi, setelah selesai kita di suruh ke tengah lapangan?" tanya Rudy.
"Gak tuh," ucap Tyas.
"Le," panggil Rudy.
"Kenapa?" tanya Lea.
"Lo yakin letnan Noah itu suami lo?" tanya Rudy.
"Iyalah, kenapa emangnya?" tanya Lea.
"Kok letnan Noah tadi ngehukum lo, harusnya letnan Noah gak ngehukum lo. Kan lo istrinya," ucap Rudy.
"Tapi kan dia ini letnan Noah itu bertugas sebagai ketua pelaksana, jadi ya wajar dong kalau letnan Noah hukum gue karena gue salah," ucap Lea.
"Iya, juga sih. Tapi, harusnya gak gitulah letnan Noah sama istrinya sendiri," ucap Rudy.
"Istrinya siapa?" tanya pak Anton, yang baru saja datang.
__ADS_1
"Tidak kok pak, tadi kami tengah membahas suaminya Lea," ucap Rudy.
Rudy menjawab pertanyaan pak Anto dengan gugup karena ia terkejut saat mendapati pak Anton yang ada di sana. Padahal Lea Baisa saja biarkan dia semua orang tau mengenai statusnya dengan Noah bahkan Lea batu ingin menjawabnya, takut Rudy menyelanya dan pak Anton sendiri hanya menganggukkan kepalanya tanpa menanyakan siapa suami Lea.
"Setelah urusan dengan tim tentara, nanti semua tim akan dikumpulkan untuk membagi tugas serta waktu yang akan digunakan untuk meliput," ucap pak Dirga.
"Iya, pak," ucap semua orang.
Beberapa saat kemudian, datanglah seorang tentara yang wajahnya sudah tidak asing bagi Lea. Dia adalah Tian salah satu sahabat serta rekan seperjuangan Noah.
"Baik, untuk hari ini saya akan menggantikan latihan pagi kalian karena letnan Noah ada beberapa urusan yang tidak bisa ditinggalkan sehingga saya harus mewakilinya letnan Noah," ucap Tian.
Namun, tidak ada yang merespon ucapnya Tian tersebut dan di sana hanya terjadi keheningan.
"Kalau ada yang berbicara itu dijawab," ucap Tian, dengan tegas yang tak jauh bed dnegan Noah.
"Iya letnan Tian," ucap semua orang.
"Untuk latihan pertama kalian akan lari pagi terlebih dahulu, kalian akan mengelilingi kompleks militer. Untuk kalian hanya berlari dua putaran, mulai dari barisan pertama kalian lari terlebih dahulu dan diikuti barisan selanjutnya, selesai berlari kalian akan kembali pada barisan semula dan satu lagi selama lari kalian tidak boleh mendahului barisan pertama, kalian harus tetap pada posisi kalian. Paham," ucap Tian.
"Paham letnan Tian," ucap mereka semua.
"Mulai," ucap Tian.
"Bener, ini kita di sini sebenarnya mau liputan atau mau latihan militer sih kok kayak gini banget," ucap Tyas.
"Inilah awal kesengsaraan kita," ucap Ayu.
"Gue denger katanya emang kita di sini sebenarnya mau liputan Sam latihan militer," ucap Dedy.
"Kenapa kok gitu?' tanya Tyas.
"Katanya sih direktur yang ngusulin ini, soalnya banyak pegawai yang gak disiplin gitu," ucap Dedy.
"Emang anggota tim mana yang gak disiplin coba? kalau pegawai timnya pak Anton mah disiplin selalu," ucap Tyas.
"Gue juga gak tau, yan jelas pelatihan kayak gini nanti giliran kok," ucap Dedy.
"Ish, bete deh gue," ucap Tyas.
"Cepat lagi jangan bicara terus," ucap Disna.
Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai berlari mengelilingi kompleks militer dengan diawasi beberapa tentara tentunya.
__ADS_1
"Setelah ini kalian langsung ke kantin," ucap Disna dan pergi.
"Ini kita gak ke asrama dulu buat mandi apa," ucap Tyas.
"Tapi, tadi kita udah mandi kan," ucap Lea.
"Iya nih, harusnya kita lari dulu batu mandi lah ini kita malah mandi dulu baru lari kan gak nyambung, percuma dong kita mandi kalau ujung-ujungnya lari," ucap Tyas.
Mereka pun mau tidak mau menuju kantin dan di sana sudah ada para tentara yang juga mengikuti pelatihan, mereka juga sama seperti Lea dan rekan-rekannya. Tapi, yang membedakan mereka makan dengan membawa tas yang besar bahkan semuanya tercengang melihat tas yang mereka bawa.
"Ini kenapa gak kalian turunin dulu tasnya biar enak kalau makan?" tanya Tyas.
"Ini sudah peraturan di sini, anggaplah ini pelatihan umum," ucap Disna, yang baru saja datang.
"Pelatihan umum, tapi kasihan lo mereka," ucap Lea.
"Kalau seandainya nanti ada situasi yang mengharuskan mereka tetap membawa tas mereka atau persenjataan mereka bagaimana? apa mereka atau menurunkannya dan setelah itu melakukan kegiatan mereka?" tanya Disna.
"Ya, iya juga sih," ucap Lea.
"Semua yang diajarkan pada mereka dan juga pada kalian tentunya dengan segala pertimbangan yang menguntungkan kalian semuanya, walaupun bagi kalian mungkin terkesan tegas atau kejam, tapi itulah cara kami dalam melatih seseorang untuk berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain. Jangan hanya lihat bagaimana kami memperlakukan kalian, tapi lihat apa yang kami lakukan berguna atau tidak bagi kalian," ucap Disna dan lagi-lagi ia pergi begitu saja.
"Apa yang dibilang Bu tentara tadi bener juga ya," ucap Lea.
"Iya, gue setuju. Gue jadi bersalah gitu daritadi ngeluh," ucap Tyas.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun selesai dengan makan, "Sebenarnya gue masih lapar banget, masa tadi nasinya dikit banget sih. Mana banyakan sayur daripada ayamnya, jadi gak selera gue makan tadi," ucap Tyas.
"Tadi aja ngerasa bersalah udah ngeluh, eh sekarang ngeluh lagi," ucap Lea.
"Hehehehe, tapi beneran loh Le, gue masih laper," ucap Tyas.
"Gue bawa roti lo mau gak?" tanya Rudy.
"Mau dong," ucap Tyas.
"Yaudah, gue ke kamar dulu mau ambil rotinya," ucap Rudy dan diangguki Tyas.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.