Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Masalah Perut


__ADS_3


revisi -



#


Rea terbangun saat merasakan tenggorokannya yang kering, "Astaga kering banget tenggorokan gue," gumam Rea dan mengambil minuman yang ada di tasnya.


Rea melihat sekelilingnya yang ternyata ia berada di kamp militer, "Gue kirain gue mimpi jadi relawan eh ternyata gue emang beneran jadi relawan," gumam Rea dan duduk lalu menatap ke arah ranjang Qilla yang kosong dan ranjang Nina yang tentunya ada Nina di sana.


"Kemana tuh anak?" tanya Rea.


Rea merasa lapar karena ia terakhir makan saat di rumah tadi dan sejak itu ia belum makan apapun bahkan saat di bus pun Rea tidak makan karena ia takut akan muntah saat makan di bus.


"Re, nih makan," ucap Qilla, yang baru saja masuk ke dalam kamp.


"Kamu ngambilin aku makanan, huh baik banget sih sahabat aku ini," ucap Rea dan mengambil makanan dari tangan Qilla.


"Gak ya, gue gak ngambilin lo makanan, orang tadi gue habis jalan-jalan menikmati pemandangan di luar kok," ucap Qilla.


"Terus kok lo ngasih gue makanan ini? kalau bukan lo siapa dong? apa jangan-jangan ini makanan sisa ya? pasti lo mau nyelakain gue kan, jadi ngaku aja deh?" tanya Rea.


"Astaga Rea! gue gak seburuk itu ya, kalaupun gue mau nyelakain lo udah dari dulu kali gue lakuin," ucap Qilla.


"Terus ini dari siapa?" tanya Rea.


"Oh, ini dari kapten Alan," ucap Qilla.


"Hah kapten Alan? kok bisa? apa kamu maksa kapten Alan ambilin makanan buat aku ya, La?" tanya Rea.


"Lo itu mikirnya kejauhan ya, ya kali gue maksa kapten Alan. Nih ya gue ketemu sama kapten Alan aja takutnya minta ampun, lo tahukan gimana kapten Alan kalau ngelihat orang kayak mau makan orang hidup-hidup tahu gak. Pokoknya nakutin lah," ucap Qilla.


"Udah ah, gue laper gak penting masalah itu yang penting sekarang masalah perut," ucap Rea, memakan makanan tersebut dengan lahap.

__ADS_1


"Btw, lo bilang makasih ke kapten Alan," ucap Qilla.


"Sekarang gue tanya nih ya, lo pas di kasih makanan ini bilang makasih gak?" tanya Rea.


"Ya, bilang lah," ucap Qilla.


"Yaudah, beres kan soalnya terima kasih gue udah lo wakilin," ucap Rea.


"Lama-lama gue di sini tambah emosi, udah deh gue keluar aja, di luar gue bisa tenang soalnya ngelihat pemandangan alam," ucap Qilla dan dihiraukan oleh Rea.


"Emang bener kata orang, jangan ngomong sama orang yang lagi laper karena bakal kacang yang kita dapatin, ya kayak gue ini," gumam Qilla, yang tentunya dapat di dengar Rea. Namun, karena Rea memang terlalu lapar sehingga tidak menanggapi hal tersebut.


Setelah menghabiskan makanannya Rea pun bersiap-siap untuk membersihkan dirinya, tapi ia tidak tahu dimana tempat membersihkan dirinya karena ia tidak melihat kamar mandi di dalam kamp. Baru saja Rea akan mengambil peralatan mandinya tiba-tiba suara Nina yang baru saja bangun mengejutkannya.


"Udah bangun daritadi lo, Re?" tanya Nina.


"Ya, lumayan sih," ucap Rea.


"Btw, Re. Gue penasaran lo kok bisa telat gara-gara apa? apa lo susah bangun ya?" tanya Nina.


"Rumah sakit ngirim email ke gue dan bilang kalau berangkatnya itu jam 9, yaudah karena jam 9 berangkatnya gue nah santai aja. Eh taunya pas di rumah sakit Fafi bilang kalau busnya udah berangkat dari jam 6 pagi tiba-tiba lemes semua dong badan gue. Gue mau balik pulang, tapi ya gimana gue mikirin yang di sini tahu gak, gue kayak gak bertanggungjawab banget kalau gue balik pulang. Makanya akhirnya gue naik kendaraan umum dan lo tahu itu adalah pertama kalinya gue naik kendaraan umum," ucap Rea.


"Kok bisa ya, tapi gue gak dapet email apapun tuh," ucap Nina.


"Lo pasti tahulah semua ini ulah si Bagas bugus bigis itu," ucap Rea, dengan kesal.


"Gue kalau inget tuh orang pengen gue bejek-bejek aja sumpah. Kok ada ya orang kayak gitu," ucap Nina.


"Kok bisa ya tuh orang jadi direktur di sana?" tanya Rea.


"Lo kayak lupa aja si direktur itu kan keluarga profesor Darren, ya pastinya lah bakal di pilihin tempat yang bagus apalagi ini Daiva General Hospital yang termasuk rumah sakit kelas atas. Tapi, sayang gue masih dokter kelas bawah belum bisa masuk ke lantai VIP," ucap Nina.


"Sama gue juga," ucap Rea.


Mereka mengobrol sampai perut mereka sakit karena pecahnya tawa mereka berdua hingga suara Qilla yang membuat mereka kembali sadar waktu yang mereka lewatkan cukup banyak.

__ADS_1


"Kalian ini ya, astaga gue aja udah seger gini, kalian masih belum mandi," ucap Qilla.


"Loh, lo kok bisa udah mandi aja. Kayaknya daritadi lo gak masuk deh buat ngambil sabun?" tanya Rea.


"Hehehehe, gue minta salah satu dokter cewek yang tadi habis mandi," ucap Qilla.


"Dasar malu-maluin aja," ucap Nina.


"Yaudah kalian cepet mandi keburu telat nanti kalau mau ke desanya," ucap Qilla.


Rea dan Nina pun keluar dari kamp dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, "Ini dimana sih tempatnya kok kayak masuk hutan gini?" tanya Rea.


"Ya, emang gini," ucap Nina.


"Lo tahukan tempatnya jangan-jangan kita malah kesasar lagi?" tanya Rea, yang menatap ke sekelilingnya.


"Gak kok, ini udah bener percaya sama gue. Orang tadi kan gue pas baru dateng langsung ke kamar mandi mandi sama dokter Gabby," ucap Nina dan diangguki Rea.


"Btw, kamar mandi cewek cowok pisah atau jadi satu?" tanya Rea.


"Pisah kok, tapi deketan gitu. Jadi, kita bisa lihat kamar mandi cowok dan begitupun sama cowok, tapi cuma luarnya doang kok. Kalau dalamnya mah aman terkendali," ucap Nina.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di kamar mandi, di sana ternyata masih terdapat beberapa dokter perempuan yang sedang membersihkan dirinya. Ternyata kamar mandi tersebut tidak buruk karena seperti kamar mandi pada umumnya hanya saja tempatnya yang memang berada di hutan dan dekat dengan sungai. Tempat perempuan dan laki-laki pun terpisah dan masing-masing kamar mandi sudah ada bangunan layaknya kamar mandi di kota, jadi tidak perlu takut.


Setelah beberapa menit Rea dan Nina pun selesai dan keluar dari kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi dan menaiki tangga yang cukup banyak untuk menuju kamp, Rea dan Nina berpapasan dengan beberapa tentara yang sepertinya juga akan membersihkan tubuh mereka. Ada beberapa tentara yang secara terang-terangan membuka baju mereka dan memperlihatkan otot mereka dan karena hal itu pula Rea harus ekstra dalam menarik Nina.


Bagaimana tidak, Nina menatap lekat para tentara tersebut, "Kayaknya tuhan emang takdirin gue buat berjodoh sama para kaum tentara deh. Lihat sekarang jantung gue berdetak," ucap Nina.


'Ck, kalau jantung lo gak berdetak itu artinya lo udah mati, Nin,' ucap Rea dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2