
Pagi harinya, Rea sudah bersiap pergi ke rumah sakit dan hasil untuk permintaan Rea tadi yaitu akhirnya Rea tidak diperbolehkan ikut ke persidangan dokter Shinta, bukan hanya Alan yang melarang. Tapi, juga seluruh keluarga baik itu dari keluarga Rea ataupun keluarga Alan dan mau tidak mau Rea pun mengikuti ucapan semua orang, kalau tidak bisa kena masalah nanti Rea.
"Udah gak usah cemberut gitu sayang, kamu malah bikin aku gemes kalau cemberut kayak gini," ucap Alan.
"Ish, aku masih kesel tahu, padahal aku pengen ikut ke persidangan loh," rengek Rea.
"Tapi, semua orang gak ngizinin kamu, jadi kamu harus nurut oke," ucap Alan.
"Iiiih, kamu mah," ucap Rea.
"Kenapa sih Bunda ini marah-marah muluh, makin sayang tahu ayahnya ini. Kalau kayak gini jadinya ayah gak mau Bunda keluar kamar deh biar ayah bisa lihat muka Bunda yang lagi gemesin seharian, iya gak baby," ucap Alan, tepat di depan perut Rea dan mengecupnya bertubi-tubi.
Blush...
Hilang sudah muka cemberut Rea lalu digantikan dengan muka merah dan salah tingkahnya, "Ini kenapa pipinya merah sih kan ayahnya makin gemes," ucap Alan dan mengusap lembut pipi Rea.
"Udah ah jangan godain aku terus gak baik tahu," ucap Rea.
"Iya, gak baik buat jantung kamu kan, sekarang jantung kamu lagi jedag jedug ya di dalam sana, soalnya kedengaran sampe sini," ucap Alan, yang semakin gencar menggoda Rea.
"Ish, makin ngeselin deh kamu, aku mau berangkat aja deh kalau gitu," ucap Rea, Rea selalu bertanya-tanya kemana Alan yang dingin dan cuek dulu, tapi Rea juga senang melihat perubahan pada diri Alan.
"Bareng dong sayang, ayo," ucap Alan.
Mereka pun saat ini dalam perjalanan menuju rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Rea pun berpamitan pada Alan. "Aku masuk dulu ya," ucap Rea.
"Iya, hati-hati ya, kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Jangan nakal ya baby," ucap Alan, dengan mengusap lembut perut Rea.
Setelah itu, Rea pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit, banyak yang menyapanya dan tersenyum ramah padanya berbeda dengan beberapa bulan lalu dimana saat Rea masuk ke dalam rumah sakit selalu kata-kata buruk yang terlontar dari bibir mereka. Setelah semua terbongkar dimana ternyata dokter Shinta yang menuduh Rea, maka sikap semua orang berbeda dari sebelumnya apalagi setelah mereka tahu siapa suami dari Rea.
Saat pertama kali semua orang tahu Alan adalah suami Rea banyak yang tidak menyangka dan tentunya beberapa orang sampai menghampiri Rea dan meminta di kenalkan dengan dengan teman dari Alan. Tapi, Rea tidak ingin menanggapinya katakanlah Rea saat itu tengah merajuk karena di hina bahkan di tuduh yang tidak-tidak, tapi perlahan sikapnya berubah dan kembali seperti semula. Meksipun sakit hati, tapi Rea berusaha untuk kembali seperti dahulu dan berhasil.
Rea masuk ke dalam ruangannya dan melihat Nina yang sepertinya baru datang karena ia baru saja menaruh tasnya ke kursinya, "Selamat pagi bumil," sapa Nina.
"Selamat pagi juga aunty Nina, tumben banget pagi masuknya," ucap Rea.
"Iya dong, lo lupa kalau hari ini kita ada jadwal operasi bareng, ini pertama kalinya loh lo jadi asisten gue nanti pas operasi," ucap Nina.
"Ya lah gue kan lagi hamil, ya walaupun gue bisa aja sih. Tapi, tetep aja gimana gitu," ucap Rea.
__ADS_1
"Lebih tepatnya lo yang males ya," ucap Nina.
"Hehehe, baby-nya yang gak mau," ucap Rea.
"Lo udah periksa kan gimana ponakan gue gimana cewek atau cowok?" tanya Nina.
"Gue belum tahu, soalnya gue sama suami gue sengaja gak mau tahu dulu biar surprise gitu," ucap Rea.
"Terus pakaian baby-nya gimana kalau lo belum tahu cewek apa cowok?" tanya Nina.
"Ya gitu, kenapa emangnya pakaian baby-nya?" tanya Rea.
"Ya, kan biasanya pas usia kehamilan 7 bulan itu beli pakaian buat bayi kan nah terus nentuin warna baju sama model baju gitu," ucap Nina.
"Warna baju mah gampang kalau bayi kan gak harus sesuai warna cowok sama cewek yang penting bajunya nyaman di pake gitu aja simple kan, terus kalau model juga gue gak nyari yang ribet lagian bayi kan bajunya modelnya ya cuma gitu-gitu doang terus nanti juga di tutup sama apa sih selimut atau apa gitu kalau bayinya kedinginan," ucap Rea.
"Terserah deh padahal gue udah gak sabar mau belanja buat si baby loh," ucap Nina.
"Nanti deh kapan-kapan lo beli, tapi kalau bisa pas si baby udah gede aja ya sekitar usianya dua atau tiga tahun gitu," ucap Rea.
"Buset, lama bener dah," ucap Nina dan Rea hanya tersenyum geli mendengarnya
"Dia kan jadwalnya siang nanti, mungkin dia bakal berangkat jam 2 atau gak jam 3 deh," ucap Nina dan diangguki Rea.
"Dokter Rea," panggil Bima.
"Iya, ada apa Bim?" tanya Rea.
"Itu tadi ada telepon dari dokter Fandy, beliau ingin berbicara secara langsung dengan dokter Rea membahas mengenai jurnal yang akan beliau kerjakan," ucap Bima.
"Oh yaudah nanti saya kan hubungi lagi dokter Fandy, terima kasih ya Bim," ucap Rea dan diangguki Bima.
"Sama-sama dok, kalau begitu saya permisi dokter Rea, dokter Nina," ucap Bima dan pergi meninggalkan Rea dan Nina.
"Fafi bener-bener gak nemuin lo sama sekali?" tanya Nina.
"Gak tuh, setelah hari itu tiba-tiba dia mengundurkan diri," ucap Rea.
"Padahal dia harusnya di hukum, tapi dia malah lari entah kemana," ucap Nina.
"Udah sih gak usah bahas dia lagi kayaknya itu udah cerita lama deh," ucap Rea.
__ADS_1
"Ya, tapi tetep aja, Re. Gue itu masih heran aja gitu," ucap Nina.
"Gue aja gak tahu padahal Fafi gak salah sih maksudnya dia kan gak ikut sama komplotannya dokter Shinta, tapi dia justru milih pergi dan gak bilang ke gue lagi," ucap Rea.
"Fafi tuh suka ya sama kapten Alan?" tanya Nina.
"Lo tahu itu darimana? siapa yang bilang?" tanya Rea, yang pura-pura tidak tahu mengenai hal tersebut.
"Udah ketebak kali, lo inget waktu kapten Alan di lobby dan bilang kalau lo itu istrinya nah disitu wajah Fafi kelihatan banget berubahnya dari yang senyum gak jelas kayak orang gila gitu terus langsung murung nih ya bahkan sebelum kapten Alan bilang kalau lo itu istrinya, si Fafi malahan jelas banget kalau dia berusaha narik perhatiannya kapten Alan, ya tapi sayang kapten Alan gak tertarik sama sekali sama dia," ucap Nina.
"Gue malah udah tahu waktu jadi relawan sih," ucap Rea.
"Hah, kok bisa?" tanya Nina.
Rea pun menceritakan semuanya yang ia ketahui sejak tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Fafi dan salah satu dokter yang jadi relawan di sana.
"Wah, parah sih, dia suka sama suami orang," ucap Nina.
"Tapi, ya gak salah juga sih kan waktu itu gak ada yang tahu kalau Alan itu suami gue, bukan hanya Fafi bahkan gue aja gak tahu kalau Alan itu suami gue saat itu, tapi kalau saat ini ya gue gak maulah suami gue sama orang lain, dulu ya mau marah juga gak bisa malahan nih gue dengan bodohnya sempat bilang kalau Fafi sama Alan cocok dan kalau sekarang mah gak lagi soalnya yang lebih cocok sama Alan itu gue lah. Lagian kalau emang Fafi suka ya udah namanya suka kan gak bisa di larang asal gak berlebihan aja," ucap Rea.
"Dulu gue juga sempet suka loh sama kapten Alan, tapi nih ya jangan marah dulu. Maksud gue tuh siapa sih cewek yang gak suka sama kapten Alan pas pertama kali ketemu, ganteng iya, berwibawa apalagi pokoknya idaman banget buat memperbaiki keturunan, tapi ya gitu gue udah sadar diri dari awal jadinya gak gue gak baper deh kalau ketemu atau deket sama kapten Alan, ya walaupun muka gue gak jelek-jelek amat, tapi gue udah mundur dari awal karena kapten Alan juga gak bakal mau sama gue, tapi kalau gue di sandingkan sama kapten Alan juga gak buruk kok," ucap Nina.
"Percaya diri itu penting, tapi sadar diri itu juga lebih penting," lanjut Nina.
"Wah, keren banget kata-kata lo," ucap Rea dan mengacungkan dua jempolnya.
"Iya lah gue gitu loh," ucap Nina.
"Darimana lo dapet kata-kata keren itu?" tanya Rea.
"Tadi waktu gue scroll Instagram," ucap Nina.
"Gue kirain lo mikir sendiri," ucap Rea.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1