
Alan dan Alvin segera keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Ryan sendirian, "Astaga, gue ditinggal sendirian padahal gue udah lari lo ke sini tadi," gumam Ryan dan akhirnya kembali berlari mengejar Alan dan Alvin.
Disisi lain Alan yang saat ini sudah berada di luar kamp pun lantas mencari sahabat Rea, "Lan, itu bukannya sahabatnya dokter Rea," ucap Alvin.
Alan pun segera berlari menuju Qilla yang saat ini juga tengah khawatir dengan keadaan sahabatnya itu, "Dokter Qilla," panggil Alan.
Qilla yang berjalan pun berhenti dan menatap Alan serta Alvin, "Ada apa kapten Alan, sersan Alvin?" tanya Qilla.
"Apa benar dokter Rea hilang?" tanya Alan.
Mendengar hal itu tiba-tiba membuat Qilla kembali khawatir dan mulai berkaca-kaca, "Iya, kapten. Tadi saya ke kamp berasal dokter Rea padahal, terus beberapa menit saya tinggal buat ke kamar mandi dan pas saya balik dokter Rea gak ada. Saya sudah cari ke beberapa tempat, tapi gak ada bahkan ponselnya lun gak aktif," ucap Qilla.
"Kemana ya dokter Rea?" tanya Alvin, dengan suara pelan.
"Terima kasih dok," ucap Alan dan setelah itu berlari menuju ruangannya. Namun, sebelum itu, Alan memanggil Raka untuk memeriksa sesuatu.
Ryan yang sudah dekat dengan Alan pun harus kembali berlari lawan arah Alan dan Alvin yang baru saja melewatinya dengan berlari, "I-ini orang-orang mau latihan buat lomba lari atau gimana sih hhhhhh," ucap Ryan, dengan suara tersengal-sengal.
Beberapa saat kemudian, Alan, Alvin dan Raka sudah berada di ruangan tempat Alan, "Lacak cctv di kamp," ucap Alan.
"Lacak, tapi bukannya itu tidak boleh kapten kan cctv di sini dapat di jangkau pusat," ucap Raka.
"Lakukan apapun supaya kita bisa melacak cctv di kamp dan untuk masalah yang akan timbul di kemudian hari adalah urusanku," ucap Alan.
Akhirnya Raka pun melakukan apa yang di perintahkan sang kapten dan beberapa saat kemudian, Raka pun berhasil. Mereka bertiga saat ini tengah melihat cctv tersebut, di dalam cctv tersebut menampilkan tempat dimana saja Rea terlihat oleh cctv.
"Tunggu, kenapa dokter Rea ke tempat ini?" tanya Alvin.
"Apa tidak ada cctv di sana?" tanya Alan.
Raka lun memeriksanya dan setelah menemukan hasilnya Raka menggelengkan kepalanya pertanda jika di sana tidak ada cctv atau tidak terekam, "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alan.
__ADS_1
"Tunggu, ini bukannya dokter Rea," ucap Raka.
"Kenapa dokter Rea masuk ke hutan?" tanya Alvin.
"Aku akan cari dokter Rea di hutan dan jika dalam kurung waktu 2 jam aku belum juga sampai di sini dan tidak ada kabar apapun, maka lakukan pencarian. Tapi, kalau aku belum sampai, tapi aku memberi kabar maka tunggu sampai aku meminta kalian melakukan pencarian dan aku akan bawa deteksi bahaya ini, nanti saat aku tekan ini artinya aku butuh bantuan kalian," ucap Alan lalu diangguki Raka dan Alvin. setelah itu, Alan pun mengambil jaketnya dan senjatanya.
"Kapten Alan yakin tidak perlu menggunakan tim untuk mencari dokter Rea?" tanya Raka.
"Tidak perlu," ucap Alan.
Beberapa saat kemudian, Alan lun mulai menyusuri hutan padahal sore hari seperti saat ini kondisi hutan cukup menakutkan, tapi Alan tetap mencari karena ia yakin Rea pasti ada di dalam hutan. Alan terus mencari bahkan saat ini hari mulai gelap, Alan sudah mengabari timnya jika ia baik-baik saja.
"Rea, dimana sih kamu," gumam Alan.
Alan terus menyusuri hutan dan akan tahu jika saya ini ia sudah berada di tengah hutan karena Alan ingat betul jalan hutan di daerah perbatasan, saat akan melangkah lebih jauh lagi tiba-tiba Alan mendengar suara minta tolong seorang perempuan dan dengan cepat Alan mencari sumber dari suara tersebut. Setelah mencari akhirnya Alan melihat perempuan cantik yang berhasil membuatnya luluh siapa lagi kalau bukan Rea istrinya.
Alan berlari dan memeluk Rea dengan erat, "Kamu gapapa?" tanya Alan dan melihat kondisi Rea yang cukup menyedihkan bagaimana tidak saat ini pakaian bahan rambut Rea kotor karena tanah dan daun.
"Ayo, kita kembali," ucap Alan dan menggenggam tangan Rea, baru saja melangkah tiba-tiba Rea merasa kakinya sakit dan alhasil Rea kembali duduk.
Alan memeriksa keadaan kaki Rea dan ia melihat darah kering yang berada di telapak kakinya, "Biar saya gendong," ucap Alan.
"Tidak perlu, saya bisa sendiri kok," ucap Rea
"Yakin?" tanya Alan dan diangguki Rea.
Akhirnya Rea memutuskan untuk berdiri dan berjalan sendiri. Namun, lagi-lagi baru satu langkah kaki Rea kembali merasakan sakit dan hal itu membuat Alan pun menggendong Rea tanpa persetujuan dari Rea tentunya.
Sepertinya tuhan memang tidak membiarkan mereka untuk keluar dari hotel karena tiba-tiba hujan deras tanpa pertanda apapun, Alan pun segera berlari dan menuju ke salah satu gua yang ada di sana. Alan tentunya tahu dimana letak gua tersebut karena memang ia sudah menyusuri hutan ini beberapa kali.
Alan segera mendudukkan Rea di salah satu batu yang ada di gua, "Pakai ini," ucap Alan dan memberikan jaketnya.
__ADS_1
"Tidak perlu kapten Alan, saya sudah memakai beberapa baju kok," ucap Rea.
Akhirnya dengan pasrah Rea pun memakai jaket tersebut karena memang udaranya dingin, saat ia tengah menatap ke depan tiba-tiba saja Alan berpindah posisi berada di belakangnya dan memeluknya dari belakang. Rea benar-benar terkejut bahkan ia melihat ke belakang dan melotot melihat Alan yang dengan santainya meletakkan tangannya di pinggangnya.
"Kapten Alan, ma-af saya kurang nyaman dengan posisi seperti ini," ucap Rea, yang gugup setengah mati.
"Sayang, baby, honey, kamu mau panggil namaku juga boleh atau kalau kamu masih belum nyaman, kamu bisa manggil aku seperti biasa," ucap Alan.
"Hah! maksudnya?" tanya Rea.
"Banyak nama panggilan yang menarik untuk suami istri, tapi kenapa malah harus menggunakan panggilan saya kerja," ucap Alan.
Rea paham maksud dari Alan, tapi ia juga gengsi kalau memanggilnya terlebih dahulu, "Sayang," panggil Alan, tepat di telinga Rea dan hal itu membuat Rea merinding seketika.
"Sayang?" tanya Rea.
"Iya, sayang nama panggilanku untuk kamu, sekarang kita berusaha ya mulai dari awal. Kita coba perbaiki lagi kalau bisa kita pake aku-kamu," ucap Alan.
"Aku-kamu, tapi kalau kerja masa saya harus bilang aku-kamu, nanti kalau ada yang curiga gimana?" tanya Rea.
"Untuk masalah kerjaan kita bisa menggunakan bahasa formal, tapi kalau kita sedang berdua kita bisa menggunakan aku-kamu," ucap Alan.
Rea pun menganggukkan kepalanya, Rea bingung kemana rasa marah, kecewa dan sedihnya saya ini. Yang ada saat ini ia justru merasa bahagia karena bersama dengan Alan suaminya.
"Ngomong-ngomong, apa nama panggilan kamu untuk aku?" tanya Alan.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.