
"Kenapa lo bisa ada di restoran itu sama dokter Nando?" tanya Qilla.
"Iya, ada hubungan apa lo sama dokter Nando? kayaknya waktu itu gak sampe sedekat ini deh?" tanya Rea.
"O-oh itu, I-itu gue cuma makan malam kok, biasa sama dokter Nando, kemarin itu gue gak sengaja ketemu sama dokter Nando di salah satu minimarket terus yaudah kita makan malam," ucap Nina, yang tentunya bohong.
"Gue ini udah kenal sama lo bukan satu atau dua tahun, gue udah kenal sama lo sejak SMP tahu gak dan lo itu sahabat gue yang gak pinter bohong, lo kalau bohong itu muka lo jadi merah dan lo jadi gagap bahkan bila mata lo itu geraknya cepet banget, cepetan kasih tahu ke gue kenapa lo sama dokter Nando," ucap Qilla.
"Ish, sebel deh gak percaya banget lo sama gue," ucap Nina.
"Muka lo emang tipe orang yang gak bisa di percaya," ucap Qilla.
"Apa Na, cepetan kasih tahu kalau gak gue lahiran sekarang nih," ucap Rea.
"Eh jangan dong bisa berabe gue di tangan kapten Alan," ucap Nina.
"Makanya cepetan kasih tahu," ucap Qilla.
"Huh, lo inget yang waktu dokter Nando ngajak ketemuan kan?" tanya Nina dan diangguki Qilla dan Rea.
"Ya kemarin itu dokter Nando yang ngajak ketemuannya, terus kemarin itu sebenarnya gue udah mau pulang, tapi tiba-tiba gue denger suara Rea makanya gue penasaran dan ngelihat kalian semua," ucap Nina.
"Udah di tembak belum lo sama dokter Nando?" tanya Qilla.
"Ish, ditembak apanya sih," ucap Nina.
"Ngaku deh ditembak apa gak lo?" tanya Qilla.
"Gak lah kalau gue ditembak udah mati gue sekarang," ucap Nina.
"Oh gak ya terus apa tuh yang di jari lo?" tanya Qilla.
"I-ini ya cincin lah," ucap Nina.
"Mana pernah lo pake cincin, cepetan gue udah penasaran ini lo di tembak apa gak?" tanya Qilla.
"Iya iya gue bakal jujur sebenarnya kemarin itu dokter Nando tiba-tiba ngajak ketemuan dan ya kita jalan-jalan ke taman ke pusat perbelanjaan pokoknya kita jalan-jalan lah dan berakhir kita makan di restoran yang kemarin, terus dokter Nando juga nembak gue," ucap Nina.
"Kok bisa bukannya kemarin lo nganterin gue ya?" tanya Rea.
"Iya, gue udah bawa baju ganti dan ke apartemen-nya dokter Nando buat ganti baju," ucap Nina.
"Wah, udah sampe apartemen aja," ucap Qilla.
"Apa sih, gue itu cuma ganti baju doang ya pikiran lo itu harus di benerin dulu," ucap nian dan Qilla hanya tersenyum.
__ADS_1
"Terus lo terima dokter Nando?" tanya Rea.
"Gak," ucap Nina.
"Hah! kenapa kok lo tolak sih, jangan bercanda deh gak lucu tahu gak," ucap Qilla.
"Gue gak bercanda, emang gue tolak kok dokter Nando," ucap Nina.
"Apa coba alasan lo nolak dokter Nando yang keren iya, ganteng iya, pokoknya idaman banget lah?" tanya Qilla.
"Gue sebenernya juga suka sama dokter Nando, siapa sih yang gak terpikat sama pesonanya dokter Nando," ucap Nina.
"Terus kenapa lo nolak dokter Nando kalau lo suka sama dokter Nando b*g* nih orang?" tanya Rea.
"Dokter Nando kalau ibadah ke gereja," ucap Nina.
Ucapan Nina tentunya membuat Rea dan Qilla terdiam dan tidak mampu berkata apa-apa, ini alasan yang paling tidak bisa mereka berdua lawan, tembok antara Nina dan dokter Nando terlalu kuat dan tinggi, baik Rea ataupun Qilla tidak dapat membantu.
"Gue tahu lo pasti susah ya buat nolaknya," ucap Qilla.
"Kalau buat nolaknya menurut gue gak susah, tapi ya gitu deh rasanya gimana gitu," ucap Nina.
"Lo mau nikah beda agama?" tanya Rea.
"Gue lebih ingin bahagia di surga daripada di dunia yang fana ini, gue pernah denger kalau nikah beda agama itungannya zina apalagi yang agama Islam gue," ucap Nina dan diangguki Rea.
"Tapi, kok lo pake cincin dari dokter Nando?" tanya Qilla.
"Iya, gue pake soalnya kemarin dokter Nando suruh pake buat ngehargain perasaannya dan setelah itu nanti dia bakal bilang ke gue buat ngelepasin cincinnya, dia bilang mau nata hati dulu gitu," ucap Nina.
"Semoga kalian berdua bisa move on ya," ucap Rea.
"Sebenarnya gue setuju lo sama dokter Nando, tapi setelah tahu kenyataannya gue gak setuju dan nyaranin ke lo buat cari cowok lain yang tentunya seiman," ucap Qilla.
"Lagian gue juga gak mau kali, lo tahu sendirilah gimana keluarga besar gue soal agama bahkan nyokap gue aja dapat kayak bokap gue yang agamanya beeh the best banget lah," ucap Nina dan diangguki Rea.
"Tapi, kasihan ya sama dokter Nando, dia pasti lagi patah hati sekarang," ucap Qilla.
"Ya, mau gimana lagi ini masalahnya perbedaan keyakinan loh. Gue lebih sayang sama diri gue daripada harus nikah sama yang beda agama lagian masih banyak yang seagama kok, jadi kenapa harus milih yang beda agama padahal udah jelas kalau itu bukan yang terbaik dari tuhan," ucap Nina.
"Tuhan tahu mana yang terbaik buat kita tinggal kitanya aja percaya gak sama yang terbaik itu," ucap Qilla.
"Kalian berdua buat gue kagum, tumben banget kata-kata kalian bener," ucap Rea.
"Kita gituloh," ucap Qilla dan Nina bersamaan.
__ADS_1
"Oh iya kita malah asik cerita di sini, lagi gak ada pasien kalian?" tanya Qilla.
"Gue ada sih, tapi nanti jam 10," ucap Rea.
"Sekarang masih jam setengah 9, kok lama ya perasaan tadi gue ceritanya lama banget loh bahkan sampe Nina juga cerita, tapi masih setengah 9," ucap Qilla.
"Iya lah, orang tadi kita berangkatnya aja pagi banget," ucap Nina.
Memang tadi mereka bertiga berangkat bersama dan tentunya Rea harus membujuk Alan hingga akhirnya Alan setuju meskipun terlihat tidak ikhlas.
"Btw, tadi kapten Alan gak marah kan ya kita tiba-tiba datang dan nyulik lo?" tanya Qilla.
"Gak kok, nanti kalau dia marah gue tahu gimana cara nenanginnya," ucap Rea.
"Gimana caranya?" tanya Nina.
"Ada lah, nanti kalian bakal tahu gimana cara buat pasangan kalian gak marah," ucap Rea.
"Udah gak usah dijelasin gue udah paham," ucap Qilla.
"Kok udah paham kan lo belum nikah," ucap Rea dan menaikan alis sebelah kanannya.
"Gue ini banyak dosa ya, jadi gue paham maksud lo," ucap Qilla dan membuat rooftop penuh dengan tawa.
"Tapi, lo kok bisa bertahan sama kapten Alan ya, maksud gue gini kapten Alan itu nakutin loh?" tanya Qilla.
"Gue udah sering banget jawab pertanyaan ini deh, jadi gue gak bakal jawab lagi," ucap Rea.
"Ya kan, gue penasaran aja kok lo betah, kalau gue kayaknya udah gak betah deh dan milih pisah," ucap Qilla.
"Lo kalau nanti udah nikah jangan ujuk-ujuk minta pisah loh," ucap Rea.
"Iya, Bu Rea," ucap Qilla.
"Gue yakin kalian berdua pasti bakal dapat pasangan yang terbaik buat kalian, nanti kalau gak ada gue bakal adain sayembara buat kalian berdua," ucap Rea.
"Emang kita apaan coba pake sayembara segala," ucap Qilla.
"Hehehehe, biar kalian laku gitu," ucap Rea.
Mereka pun akhirnya kembali mengobrol dan setelah itu mereka kembali bekerja sesuai tugas mereka masing-masing.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.