
Saat ini semua keluarganya ayah Alan tengah duduk di ruang tamu dan menonton televisi.
"Tadi bunda kasihan deh sama pasiennya dokter Farah," ucap bunda Rea.
"Kasihan kenapa Bun?" tanya Lea.
"Masa tadi pasien dokter Farah yang pucet banget katanya sih dehidrasi sama kram perutnya dan udah di sarankan buat dirawat di rumah sakit, tapi dia nolak dan milih buat pulang," ucap bunda Rea.
"Kenapa gitu? harusnya kan dia pentingin kesehatannya," umatnya Daisy.
"Bunda juga gak tau, tapi kayaknya dia guru di sekolah kamu deh," ucap bunda Rea.
"Masa sih Bun," ucap Daisy.
"Iya, orang tadi dia juga pake seragam sama kayak yang kamu pake," ucap bunda Rea.
"Iya kah Bun, emang siapa namanya?" tanya Daisy.
"Bunda juga agak lupa sih, tapi kalau gak salah namanya itu Maudy deh," ucap bunda Rea.
"Bunda yakin namanya Maudy?" tanya Nial, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan cerita bunda Rea.
"Iya, bunda yakin. Tadi kan bunda ke ruangannya dokter Farah dan lihat namanya," ucap Nial.
"Terus sekarang dia kemana bunda tau?" tanya Nial.
"Gak tau, soalnya dia gak mau di rawat di rumah sakit, tapi kayaknya dia pulang ke rumahnya deh," ucap bunda Rea.
"Bunda tau rumahnya dimana?" tanya Nial.
"Gak tau soalnya dia tadi juga gak bilang dimana rumahnya, kenapa emangnya?" tanya bunda Rea.
"Gak kok Bun," ucap Nial.
"Kenapa?" tanya Lea, ia penasaran dengan Nial karena tiba-tiba saja ia bertanya mengenai perempuan yang di ceritakan bunda Rea.
"Gak kenapa-napa kak," ucap Nial.
"Kamu mau kemana?" tanya Lea, saat melihat Nial berdiri.
"Mau ke kamar," ucap Nial.
Nial pun pergi dari ruang tamu, saat di dalam kamar ia mengambil hoodie dan keluar kamar.
"Kamu mau kemana?" tanya bunda Rea.
"Mau pergi Bun," ucap Nial.
"Pergi kemana?" tanya Daisy.
"Ya, pergi pokoknya, Nial pergi dulu," ucap Nial.
"Kayaknya ada yang aneh sama Nial," ucap Lea.
"Iya kak, dari tadi kak Nial aneh," ucap Daisy.
Disisi lain Nial pun mengendarai motor sport nya menuju rumah sakit dan setelah itu Nial masuk ke dalam ruangan yang tidak asing baginya karena memang Nial sering menjemput bunda Rea di sana.
"Eh Nial ada apa ke sini?" tanya dokter Farah.
Ya, Nial saat ini berada di Daiva General Hospital dan lebih tepatnya berada di ruangan dokter Farah.
"Begini aunty, saya mau tanya apa tadi ada pasien bernama Maudy?" tanya Nial.
"Maudy, oh yang tadi siang ya," ucap dokter Farah.
"Iya aunty," ucap Nial.
__ADS_1
"Iya, tadi ada pasien bernama Maudy dan dia juga guru di sekolah tempat Daisy ngajar," ucap dokter Farah.
"Kalau boleh tau dia sakit apa ya aunty?" tanya Nial.
"Dia dehidrasi dan kram perut, dia itu kayaknya udah beberapa hari gak kemasukan nutrisi dan makannya juga sedikit," ucap dokter Farah.
"Kalau boleh tau aunty Farah tau dimana rumahnya?" tanya Nial.
"aunty juga gak tau pasti sih soalnya dia gak ngasih tau, tapi yang aunty tau tadi sempat aunty tanya dimana rumahnya terus dia bilang kalau dia itu kos di salah satu perumahan di dekat sekolah kayaknya dia tadi bilang di sebelah kanan jalan deh terus kos nya itu di dekat taman perumahan pagarnya putih," ucap dokter Farah.
"Makasih ya aunty, kalua gitu Nial pergi," ucap Nial.
"Tunggu, kenapa kamu tanya soal dia?" tanya dokter Farah.
"Gapapa kok aunty, Nial cuma penasaran sama kasihan aja," ucap Nial.
Nial pun pergi dari rumah sakit dan menuju tempat yang dokter Farah katakan, Nial mengelilingi jalan sekitar sekolah dan menemukan perumahan yang ada di dekat sana.
Nial pun mencari Yaman perumahan tersebut dan sesampainya di sana ia dapat melihat satu rumah dengan gerbang berwarna putih. Nial menuju rumah tersebut dan untungnya ada beberapa perempuan yang duduk di depan rumah.
"Maaf, saya ingin tanya apa benar ini kos?" tanya Nial.
"Iya, tapi ini kos perempuan," ucap perempuan tersebut.
"Iya, saya hanya ingin bertanya mengenai perempuan yang kos di sini," ucap Nial.
"Oh gitu ya, silahkan," ucap perempuan tersebut.
"Apa di kos ini ada perempuan yang bernama Maudy?" tanya Nial.
"Maudy? yang guru itu kah?" tanya perempuan tersebut.
"Ya, benar," ucap perempuan tersebut.
"Hem, apa Maudy sudah ada di kos?" tanya Nial.
"Iya, tadi saya lihat Maudy masuk ke dalam kamarnya sih," ucap perempuan tersebut.
"Iya, sebentar ya," ucap perempuan tersebut dan diangguki Nial.
Perempuan tersebut pun masuk ke dalam untuk memanggil Maudy, tapi cukup lama ia mengetuk pintu kamar tersebut dan tidak ada respon dari Maudy.
"Maudy kok gak jawab sih," gumamnya lalu membuka kamar Maudy yang tidak terkunci.
Betapa terkejutnya saya ia melihat Maudy yang berada di kasur dan tidak sadarkan diri bahkan tasnya jatuh ke lantai dan barangnya pun berserakan.
"Maudy," panggilnya, tapi tidak ada respon dari Maudy.
Perempuan yang bernama Dena itu pun keluar dan berlari ke arah Nial. Nial sendiri cukup terkejut karena Dena berlari ke arahnya apalagi dengan raut wajah panik.
"Ada apa ya mbak?" tanya Nial.
"Itu Maudy, Maudy pingsan di dalam kamar," ucap Dena.
"Apa saya bisa masuk dan membawanya Maudy ke rumah sakit?" tanya Nial.
Nial harus tetap meminta izin dari penghuni kos karena ini kos perempuan takutnya mereka tidak terima jika laki-laki masuk ke dalam.
"Iya gapapa daripada Maudy kenapa-napa," ucap Dena.
Setelah itu, Nial pun berlari masuk ke dalam dan menuju kamar Maudy, benar saja Maudy tidak sadarkan diri dengan kamar yang cukup berantakan.
"Maudy bangun," panggil Nial, tapi tetap tidak ada respon dari Maudy.
Dengan cepat Nial menggendong Maudy dan keluar dari kamar tersebut, sebelum itu Nial sudah menyuruh Dena untuk memesan taksi karena tidak mungkin Nial membawa Maudy dengan motor sport nya.
Setelah mendapatkan taksi Nial pun membawa Maudy ke rumah sakit, "Aunty tolong periksa Maudy," ucap Nial.
__ADS_1
Dokter Farah yang akan pulang pun terkejut karena melihat Nial yang membawa pasiennya tadi apalagi wajah panik Nial.
"Ada apa ini?" tanya dokter Farah.
"Nanti Nial kasih tau sama aunty, tapi sekarang aunty tolongin Maudy dulu," ucap Nial.
"Ayo bawa ke ruang rawat," ucap dokter Farah.
Dokter Farah tau jika Maudy akan mengalami hal ini karena Maudy menolak untuk di rawat. Beberapa saat kemudian, akhirnya dokter Farah pun selesai melakukan pemeriksaan pada Maudy.
"Bagaimana keadaan Maudy?" tanya Nial.
"Maudy sudah lebih baik, tapi aunty sarankan buat Maudy di rawat di rumah sakit beberapa hari agar kondisinya tidak memburuk," ucap dokter Farah.
"Iya dok, terima kasih," ucap Nial.
"Sama-sama, ponakan aunty udah besar ya ternyata," ucap dokter Farah dan Nial hanya tersenyum.
"Aunty jangan bilang ini ke bunda ya," ucap Nial.
"Kenapa?" tanya dokter Farah.
"Nanti Nial akan bilang sendiri mungkin besok kalau bunda ke sini," ucap Nial.
"Iya, aunty gak bakal bilang ke bunda kamu, kalau gitu aunty pergi dulu ya, kalau ada apa-apa kamu kabarin aunty. Aunty ada di ruangannya aunty kok," ucap dokter Farah.
"Iya aunty, sekali lagi makasih dan maaf karena Nial sudah mengganggu aunty sampai aunty lembur di rumah sakit," ucap Nial.
"Iya gapapa kok," ucap dokter Farah dan pergi.
Setelah dokter Farah pergi, Nial pun masuk ke dalam dan minat bagaimana kondisi Maudy, "Apa sakit menjadi kamu?" tanya Nial, dengan suara pelan karena takut mengganggu Maudy.
"Jangan sakit lagi Maudy, bukankah kita harus berbicara," gumam Nial.
Nial memilih duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut sambil menunggu Maudy bangun tentunya.
.
Maudy yang berusaha untuk membuka mata pun merasakan pusing di kepalanya, tapi untung saja itu tidak bertahan lama dan setelah ia membuka matanya dengan sempurna Maudy dapat melihat jika ia berada di ruangan yang asing baginya.
'Kenapa aku di rumah sakit?' tanya Maudy dalam hati dan melihat ke sekelilingnya.
Betapa terkejutnya Maudy saat melihat Nial yang tidur dengan posisi duduk di sofa, 'Kenapa ada sersan Nial? pasti aku cuma mimpi gak mungkin juga sersan Nial di sini,' ucap Maudy dalam hati dan berusaha meyakinkan dirinya jika itu bukan Nial.
Tapi, apa yang Maudy pikir ternyata salah. Laki-laki itu adalah Nial, orang yang harus ia hindari agar keluarganya tidak menderita karenanya. Semakin ia menolak keras jika itu bukan Nial maka hatinya berpikir bahwa itu adalah Nial.
Maudy pun melepaskan infus yan ada ditangannya dan mengganti pakaian dengan pakaiannya yang ada di meja. Setelah itu, Maudy memilih pergi dari sini, tak lupa ia juga menuju resepsionis dan membayar biaya perawatannya.
"Berapa mbak untuk biaya perawatan atas nama Maudy Azzurri?" tanya Maudy, saya sudah berada di resepsionis.
"Maaf mbak untuk biaya perawatan atas nama Maudy Azzurri sudah dibayar," ucap resepsionis.
"Kalau boleh tau siapa ya mbak yang bayar?" tanya Maudy.
"Atas nama Danial Aziel Dhananjaya," ucap resepsionis.
"Sersan Nial, berarti apa yang aku lihat di ruangan tadi benar," gumam Maudy.
"Baik, terima kasih mbak," ucap Maudy dan diangguki resepsionis.
"Aku bakal balikin uang itu melalui Bu Daisy saja, dia kan kekasihnya sersan Nial. Pasti sering bertemu dengan sersan Nial," gumam Maudy.
Maudy memutuskan untuk pergi dari rumah sakit lalu ia menaiki ojek yang ada di sebelah rumah sakit dan ia pulang ke kos.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.