
Akhirnya Rea pun merebahkan tubuhnya dan tidur dengan miring ke kanan yaitu menghadap ke arah Alan tidur hingga beberapa saat kemudian pintu kamar pun terbuka dan menampilkan sosok tampan yang saat ini sudah menjadi suaminya, Rea yang melihat itu langsung pura-pura tidur dan merasakan pergerakan di sebelahnya. Namun, cukup lama Rea menutup mata, tapi ia tidak merasakan usapan apapun pada perutnya akhirnya Rea pun mencoba untuk membuka matanya dan melihat Alan yang sudah menutup matanya dengan posisi terlentang.
Ini adalah pertama kalinya Alan tidur terlentang selama Rea hamil, karena biasanya Alan akan tidur menyamping untuk mengusap lembut perut Rea hingga Rea tertidur dan barulah Alan akan merubah posisinya menjadi terlentang. Rea menatap Alan yang sudah menutup matanya, padahal saat ini Rea ingin sekali di usap perutnya oleh Alan. Rea pun maju dan memeluk lengan Alan dan menangis di lengan Alan.
"Hiks hiks, maafin aku. Aku janji gak bakal kayak gitu, aku mau kok tinggal di rumah mama," ucap Rea, yang masih bersembunyi di lengan Alan.
"Hei, kenapa sayang? udah ya jangan nangis lagi. Aku gak masalah kok kalua kamu gak mau tinggal di sana lagian aku juga udah bilang ke mama," ucap Alan dan Rea menggelengkan kepalanya.
"Gak mau, aku mau tinggal sama mama aja," ucap Rea.
"Kenapa hem kok jadi kayak gini?" tanya Alan dan Rea hanya menggelengkan kepalanya dan semakin memeluk erat lengan Alan.
Alan pun mulai mengubah posisinya menjadi miring menghadap Rea dan memeluk tubuh istrinya itu tentunya tidak erat dan memiliki jarak karena sekarang perut Rea yang sudah membesar, "Aku gak marah sayang, udah ya jangan nangis lagi," ucap Alan dan menghapus air mata istrinya.
"Ta-tapi, kamu gak kayak biasanya," ucap Rea.
"Kayak biasanya maksudnya?" tanya Alan.
"Ka-kamu biasanya kalau mau tidur usap perut aku dulu, tapi ini tadi kami gak usap perut aku terus kamu juga tidurnya gak hadap ke aku hiks hiks," ucap Rea, yang masih sesenggukan.
"Astaga sayang, aku gak marah sama kamu dan aku gak ngelakuin itu karena aku kira kamu udah tidur. Udah ya sini aku usap, pasti baby-nya di dalam juga sedih ya, aduh kasihannya anak ayah," ucap Alan dan mulai mengusap lembut perut Rea.
"Kok kamu mau dipanggil ayah sih, kan lebih bagus dipanggil daddy biar keren gitu?" tanya Rea.
"gak tau, aku suka aja kalau dipanggil ayah terus nanti kamu dipanggil bunda," ucap Alan dan diangguki Rea.
Beberapa saat kemudian, Alan pun mulai memelankan usapannya karena melihat Rea yang sudah tidur, "Selamat malam bunda, mimpi yang indah ya. I love you, sayang," gumam Alan dan mengecup kening Rea, lalu ia mengikuti Rea menuju alam mimpi.
.
Pagi harinya Rea sudah berada di rumah sakit tentunya, "Gue kayaknya gak bisa tinggal di rumahnya Nina deh," ucap Rea.
"Loh kenapa emangnya?" tanya Qilla.
"Suami gue gak ngizinin, gue mendingan tinggal di rumahnya mama aja," ucap Rea.
"Ya, sayang banget. Padahal kayaknya seru kalau kita bisa kumpul gitu di rumah Nina," ucap Qilla.
"Mau gimana lagi coba, gue gak mau lagi ngelawan suami gue nanti yang ada gue yang nyesel lagi," ucap Rea.
"Kan gue udah bilang kemarin lo itu harusnya nurut sama kapten Alan," ucap Nina.
"Iya deh, gue gak bakal lagi kayak gitu," ucap Rea.
"Berarti kapten Alan juga ikut ya?" tanya Nina dan diangguki Rea.
"Kalian tenang aja, pasangan kalian pasti baik-baik aja percaya deh sama gue," ucap Nina.
"Sok tau lo," ucap Qilla.
"Ya, emang gue tau," ucap Nina.
"Dokter Rea," panggil dokter Gabby, yang baru saja masuk ke dalam ruang istirahat.
__ADS_1
"Ada apa ya dokter Gabby?" tanya Rea.
"Saya ingin memberitahukan jika dokter Shinta meninggal dunia," ucap dokter Gabby, yang membuat semua orang yang ada di sana terkejut bahkan tidak bisa berkata apa-apa.
"Saya tadi mendapat kabar jika dokter Shinta ditemukan sudah meninggal dunia tadi pagi," ucap dokter Gabby.
"Tapi, gimana bisa dokter Shinta meninggal dunia?" tanya Nina.
"Dokter Shinta bunuh diri," ucap dokter Gabby.
"Bunuh diri? dokter Gabby beneran?" tanya Rea dan diangguki dokter Gabby.
"Iya, beneran dokter Shinta meninggal karena bunuh diri," ucap dokter Gabby.
Ucapan dokter Gabby tentunya bak petir yang menyambar Rea, "Dokter Gabby gak bohong kan? dokter Gabby gak ngelakuin ini cuma supaya saya datang menemui dokter Shinta kan?" tanya Rea.
"Saya tidak pernah bohong dok, saya mengatakan yang sebenarnya. Kalau memang dokter Rea tidak percaya silahkan dokter Rea datang ke sana, kalau begitu saya permisi karena ahrus mengurus pemakaman dokter Shinta," ucap dokter Gabby.
"Kenapa dokter Gabby yang mengurus pemakaman dokter Shinta? apa pihak keluarga tidak ada?" tanya Qilla.
"Semua keluarga dokter Shinta sudah dikabari, tapi tidak ada yang mau mengurusnya," ucap dokter Gabby, kalau keluar dari ruangan tersebut.
"Ini beneran atau gimana sih?" tanya Rea, yang masih belum percaya atas ucapan dokter Gabby.
"Benar kata dokter Gabby, kalau kalau kita gak percaya lebih baik kita langsung ke sana," ucap Qilla.
"Yaudah, ayo pake mobil gue," ucap Nina.
"Gue ikut," ucap Rea.
"Tapi, gue gak tenang kalau gue gak pastiin sendiri," ucap Rea.
"Tapi, kita takutnya kalau dokter Gabby bohong," ucap Nina.
"Yaudah, kalau gitu jangan lupa kabarin gue," ucap re Adan diacungi jempol oleh Nina.
Rea pun menunggu Nina dan Qilla, tapi sampai sekarang belum ada kabar dari mereka berdua bahkan saat ini sudah sore dan jadwal Rea pun akan selesai, "Apa gue langsung ke sana aja ya," gumam Rea.
"Dokter Rea, tidak pulang?" tanya Bima.
"Loh udah gak ada pasien lagi emangnya?" tanya Rea.
"Tidak ada dok, semuanya udah selesai," ucap Bima.
"Yasudah kalau gitu, sebentar lagi saya akan pulang," ucap Rea dan diangguki Bima.
Rea pun menyiapkan barang-barangnya dan setelah itu keluar dari rumah sakit, saat keluar dari rumah sakit Rea dapat melihat Alan yang sudah menjemputnya, "Maaf ya telat," ucap Rea.
"Iya gapapa," ucap Alan.
"Oh iya, tadi aku denger kabar tadi dokter Gabby kalau dokter Shinta meninggal terus nian sama Qilla mau mastiin kabar itu, tapi sampe sekarang mereka belum kabarin aku, aku jadi takut deh," ucap Rea.
"Mereka gapapa kok. Mungkin mereka lagi bantuin dokter Gabby sekarang," ucap Alan.
__ADS_1
"Bantuin dokter Gabby? jadi dokter Shinta beneran meninggal?" tanya Rea.
"Iya dokter Shinta meninggal dengan gantung diri di kamarnya," ucap Alan.
"Inalillahi, aku kira dokter Gabby bercanda, terus sekarang kita ini lagi mau ke sana kan?" tanya Rea.
"Gak, ini kita mau pulang," ucap Alan.
"Loh kenapa pulang? kita kan harus ke pemakamannya dokter Shinta?" tanya Rea.
"Nanti setelah kamu siap-siap, aku gak mau kamu ke sana dan belum apa-apa. Kamu harus makan dan minum susu hamil dulu baru boleh ke sana," ucap Alan.
"Huh, iya deh. Aku nurut," ucap Rea.
"Tapi, kamu kok tahu kalau dokter Shinta meninggal?" tanya Rea.
"Pihak rumah sakit tadi juga kabarin aku," ucap Alan dan diangguki Rea.
Setelah sampai rumah Rea pun melakukan apa yang harus ia lakukan dan setelah semuanya selesai Rea dan Alan bergegas menuju tempat pemakaman dokter Shinta hingga beberapa saat kemudian mereka berdua sampai di tempat pemakaman, di sana ada dokter Gabby, Nina, dan Qilla serta direktur Bagas.
"Gak nyangka ya ternyata dokter Shinta bakal pergi secepat ini," ucap Rea, yang sudah berada di makam dokter Shinta.
"Padahal dokter Shinta ingin bertemu dengan dokter Rea dan meminta maaf, tapi ternyata dokter Rea tidak bisa bertemu dengan dokter Shinta," ucap dokter Gabby, dengan sinis.
"Wajar bukan jika istri saya tidak ingin bertemu dengan orang yang sudah melukainya. Bukan sombong, tapi untuk antisipasi agar tidak terjadi hal buruk lagi," ucap Alan.
"Dokter Rea, dokter Nina. Saya minta maaf jika selama ini saya sudah bersikap kurang ajar pada kalian terutama dokter Nina, saya mengaku dan menyadari jika saya salah, saya ingin hidup dengan tenang seperti dulu lagi," ucap direktur Bagas.
"Saya sudah maafin direktur Bagas, ya walaupun begitu saya bel bisa lupa apa yang direktur Bagas lakukan pada saya," ucap Rea.
"Terimakasih dokter Rea," ucap direktur Bagas dan setelah itu menatap Nina.
"Hem, saya maafkan," Qilla menjawabnya dengan singkat padat dan jelas.
"Kalau begitu saya permisi," ucap direktur Bagas dan diangguki semua orang yang ada di sana.
"Direktur Bagas terkena kanker hati dan mungkin karena itu dia merasa bersalah bahkan satu hal yang mungkin dokter Rea belum tahu, ternyata dokter Shinta selain depresi juga terkena HIV," ucap dokter Gabby.
"Maksud dokter Gabby?" tanya Qilla.
"Ya, dokter Shinta terkena HIV semua ini juga mungkin karena pergaulan bebas dokter Shinta dan setelah dokter Shinta mengetahui hal itu dokter Shinta semakin depresi dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya," ucap dokter Gabby.
"Saya tidak tahu jika dokter Shinta mengalami hidup yang begitu berat," ucap Rea.
"Semuanya juga bukan salah dokter Rea, tuhan sudah memperlihatkan bagaimana kuasanya yaitu pada direktur Bagas dan dokter Shinta misalnya," ucap dokter Gabby.
"Lebih baik kita doakan saja dokter Shinta dan mulai melupakan semua yan pernah terjadi," ucap Alan dan diangguki semua orang yang ada di sana. Setelah itu, mereka pun akhirnya pergi dari makam dokter Shinta.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.