Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
KAPTEN ALAN!


__ADS_3

Rea hari ini benar-benar merasa santai karena tidak harus pergi ke rumah sakit, tapi meski begitu Rea tetap harus bangun pagi untuk menyiapkan segala keperluan sang suami. Rea bahkan bangun sekitar pukul 5 dan mulai melakukan segala tugasnya sebagai istri, Rea terlebih dahulu memasak dan setelah itu ia pun kembali ke kamar untuk membangunkan Alan yang masih bergelut dengan selimutnya.


Padahal dulu Rea juga termasuk orang yang susah untuk, tapi setelah menikah dan mulai hidup mandiri Rea sudah bisa bangun sendiri bahkan bangun lebih pagi dari biasanya saat ia masih sendiri.


Satu hal yang baru Rea tahu mengenai Alan sang kapten yang dihormati oleh para tentara yaitu dimana setelah Alan di bangunkan maka Alan tidak langsung bangun, tapi ia harus bergumam tidak jelas terlebih dahulu bahkan pernah Alan marah-marah lalu pergi menuju kamar mandi. Saya Rea tanya ke Alan, Alan tidak tahu bahkan Alan merasa ia tidak melakukannya, tapi saat Rea bertanya pada Mama Dira, barulah Mama Dira cerita jika Alan memang memiliki kebiasaan bangun tidur aneh seperti itu sejak kecil.


Seperti saat ini Rea melangkahkan kakinya menuju kamar dan membangunkan Alan, Rea hanya memandang gemas sang suami yang tengah berguna tidak jelas dan segera pergi untuk menyiapkan pakaian Alan. Rea sudah hafal seragam apa saja yang akan Alan ke akan untuk hari ini, hari ini Alan memakai seragam lapangan karena ada latihan apa gitu Rea juga tidak ingat bahkan Rea tidak ingin mengingatnya, setelah semuanya selesai barulah Rea kembali ke meja makan menunggu Alan.


Disisi lain Alan sudah rapi dengan seragamnya dan segera keluar dari kamar lalu menatap istrinya yang tengah duduk santai di kursi meja makan, "Hari ini aku pulangnya telat gapapakan?" tanya Alan.


"Gapapa kok," ucap Rea.


"Nanti jangan lupa kabarin aku ya," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Iya, oh iya katanya Dea nanti mau mampir kesini boleh gak?" tanya Rea.


"Boleh dong, nanti juga sekalian biar kamu ada temennya," ucap Alan.


Alan pun memakan sarapannya dan setelah itu pergi ke pangkalan yang tidak terlalu jauh dari rumah dinas, Alan selalu menggunakan sepeda motor dinasnya yang membuat Alan sekian gagah dengan seragam dan kendaraan yang ia gunakan saat ini.


"Kapten Alan," panggil sersan Zein, saat Alan baru saja sampai di parkiran.


"Ada apa sersan? bukannya hari ini latihan menembak, tapi kenapa sersan Zein ada di sini?" tanya Alan.


"Iya, kapten. Saya kesini ingin berbicara dengan kapten mengenai pergantian pemimpin," ucap sersan.


"Maksud sersan Zein apa? pergantian pemimpin?" tanya Alan.


"Iya, kapten. Lebih baik kita bicarakan ini di ruangan komandan Ivan," ucap sersan Zein dan diangguki Alan.


Alan pun menuju ruangan komandan Ivan, "Komandan saya sudah bersama dengan kapten Alan," ucap sersan Zein.

__ADS_1


"Baiklah, karena kapten Alan sudah ada lebih baik kita bahas mengenai pergantian pemimpin di divisi 1," ucap komandan Ivan.


"Jadi, divisi 1 sudah membuat keputusan jika kepemimpinan sersan Zein akan jatuh pada kapten Alan," ucap komandan Ivan.


"Maksudnya apa ini? kenapa jatuh pada saya? saya tidak tahu apa-apa soal ini?" tanya Alan.


"Jadi, beberapa hari yang lalu kami divisi 1 membuat sebuah pemilihan kepemimpinan dan suara mayoritas jatuh pada kapten Alan," ucap sersan Zein.


"Kenapa semuanya mendadak seperti ini? bahkan saya belum sampai satu bulan ditugaskan di divisi 1, seperti ada yang salah di sini?" tanya Alan.


Sebenarnya Alan sangat terhormat karena bisa dipilih menjadi pemimpin kembali, tapi Alan merasa ada yang tidak beres karena pemilihan Alma sebagai pengganti sersan Zein termasuk mendadak bahkan terkesan sembunyi-sembunyi. Alan sendiri yang menjadi anggota divisi 1 saja tidak tahu mengatur perihal masalah ini.


"Sebenarnya untuk masalah ini sudah alamat id bicarakan dengan anggota tim divisi 1 bahkan sebelum kapten Alan datang, tapi karena memang kami baru ingat beberapa hari yang lalu akhirnya kami memilih kapten Alan sebagai pengganti saya," ucap sersan Zein.


"Terima kasih atas kepercayaannya, tapi maaf saya tidak bisa melakukannya," ucap Alan.


"Kenapa tidak bisa?" tanya komandan Ivan.


"Kapten Alan!" panggil sersan Zein.


Alan pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap sersan Zein, "Maafkan saya karena sudah lancang meminta kapten Alan untuk menggantikan saya dan maafkan saya karena tidak membicarakannya terlebih dahulu pada kapten Alan," ucap sersan Zein.


"Tidak apa-apa, lupakan saja," ucap Alan.


Setelah berbicara dengan sersan Zein, Alan dan sersan Zein pun menuju lapangan tempat tentara lainnya berlatih, Alan terus melatih kemampuannya bahkan ia tak jarang juga mengajarkannya pada tentara lainnya.


"Kapten Alan, sudah jam 4 sore, kapten Alan tidak pulang?" tanya salah satu tentara yang sepertinya akan pulang.


"Iya, sebentar lagi. Ini sedikit lagi selesai," ucap Alan.


Hingga beberapa saat kemudian, Alan lun selesai dengan latihannya dan menatap beberapa tentara lainnya yang masih berlatih, "Saya pulang dulu," pamit Alan dan diangguki serta diacungi jempol oleh tentara lainnya.

__ADS_1


Alan pun mengendarai sepeda motor dinasnya menuju rumah, di sana ia melihat Rea yang abru saja membuang sampah, "Kok udah pulang, katanya telat?" tanya Rea.


"Iya, rencananya sih gitu, tapi gak jadi soalnya udah keburu kangen sama kamu," ucap Alan, yang mengikuti Rea masuk ke dalam rumah.


"Mulai deh," ucap Rea.


"Kangen banget aku sama kamu, padahal gak sampe sehari loh. Tapi, kok kangennya banget gini ya kayak gak ketemu 1 tahun," ucap Alan dan memeluk Rea dari belakang.


"Ish, udah gak usah gombal, lebih baik sekarang kamu ke kamar mandi terus bersihin tubuh kamu lalu keluar makan, aku tadi udah masak soalnya," ucap Rea.


"Siap ibu negara," ucap Alan dan mengecupnya pipi Rea setelah itu barulah Alan pergi ke kamar mandi.


Sedangkan, Rea hanya menggelengkan kepalanya, memang setelah malam pertama mereka waktu itu, Alan mulai berubah menjadi manis bahkan kelewat manis bagi Rea. Bukan hanya manis, takut juga jail, seringkali Rea menjadi korban dari kejailan suaminya itu.


Rea sendiri pun mulai merapikan barang-barang Alan yang tadi ditaruh sembarangan oleh Alan, dengan cekatan Rea membersihkannya hingga suara teriakan seseorang bukan hanya satu orang sih, tapi teriakan beberapa orang membuat aktifitasnya berhenti dan menatap pintu rumah yang sudah terbuka lebar dan menampilkan beberapa orang yang satu profesi dengan suaminya itu.


"KAPTEN ALAN! AKU KEMBALI!" teriaknya.


"KAPTEN ALAN!" terima lainnya.


"KAPTEN AL ... an," ucapan mereka perlahan mulai terhenti saat melihat Rea yang juga tengah menatap mereka semua.


"Kok ada perempuan di rumahnya kapten Alan?" tanya saja satu dari orang tersebut.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2