Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Uang 200 Juta?


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Ryan karena hari ini ia akan bertemu dengan Mama dari Qilla, "Kamu beneran mau temuin mama?" tanya Qilla.


"Iya, mama kamu ada di rumah kan?" tanya Ryan dan dan diangguki Qilla.


"Yaudah, kalau gitu ayo kita berangkat sekarang," ucap Ryan.


"Semangat ya Qilla sama sersan Ryan semoga dapat restu dan segera menikah," ucap Nina.


Ya, semua orang sekarang sudah tahu mengenai hubungan Ryan dan Qilla, bagaimana tidak Ryan secara terang-terangan datang ke rumah sakit dan mengaku calon suami dari Qilla bahkan Ryan hampir setiap hari mengirimkan makan siang pada Qilla. Sekedar info hari ini tepat 2 bulan setelah yang mengajak Qilla menikah, kenapa lama karena mama Qilla saat itu ternyata berada di Brazil dan baru tiga hari kemarin pulang.


"Aku takut nanti mama malah marah-marah lagi," ucap Qilla.


"Gapapa ayo," ucap Ryan.


"Huh, gue duluan ya jomblo," ucap Qilla.


"Dasar lo ya mentang-mentang udah punya doi," ucap Qilla.


Qilla dan Ryan pun masuk ke dalam mobil Ryan, "Jeffry gak ikut?" tanya Qilla, saat melihat di dalam mobil Ryan tidak ada Jeffry adiknya.


"Tadi aku ajak dia, tapi kayanya gak mau. Jadi, yaudah aku gak maksa dia buat ikut," ucap Ryan dan diangguki Qilla.


"Dia masih takut ya sama mama," ucap Qilla.


"Maaf kalau aku lancang tanya ini, tapi emang mama kamu berbuat apa ke Jeffry? sebenarnya aku pengen tanya langsung ke Jeffry, tapi aku malah takut buat dia inget semua yang pernah mamanya lakukan," tanya Ryan.


"Mama itu gak mau punya anak laki-laki, alasan mama gak mau sama anak laki-laki karena kakak pertamaku memiliki keistimewaan, dia berbeda dari anak pada umumnya dan saat aku lahir mama seneng karena keinginannya terwujud, tapi sayang di kehamilan ketiganya mama justru melahirkan anak laki-laki yaitu Jeffry dan ya mungkin karena itu akhirnya mama sering melampiaskan semua emosinya ke Jeffry, bukan hanya ke Jeffry saja, tapi juga ke kakak aku. Mama selalu nyalahin Jeffry karena dia lahir, akhirnya papa pergi bawa kakak aku padahal papa pergi karena gak kuat sama sikap mama yang terlalu kasar, suka foya-foya bahkan mama sering pulang malam dalam keadaan mabuk," ucap Qilla.


"Kamu punya kakak?" tanya Ryan.


"Iya, aku punya kakak laki-laki namanya kak Satria, dia tunanetra," ucap Qilla.


"Maaf, aku gak bermaksud bikin kamu sedih," ucap Ryan, saat melihat Qilla yang berkaca-kaca.


"Gak kok, aku gapapa. Aku cuma kangen aja sama papa sama kak Satria, kalau seandainya mereka berdua gak pergi pasti sekarang aku bakal bahagia dan pasti aku bakal punya ponakan yang ganteng dan cantik," ucap Qilla.


"Kalau boleh tahu berapa umur kakak kamu?" tanya Ryan.


"Kurang lebih 37 tahun," ucap Qilla.


"Pasti sekarang papa dan kakak kamu juga kangen sama kamu," ucap Ryan.


"Semoga begitu," ucap Qilla.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Ryan dan Qilla lun sampai di depan rumah Qilla, "Jangan gugup gitu dong, ini masih ketemu sama mama kamu loh gimana kalau mau ketemu sama mama aku," ucap Ryan.


"Kau tuh bukan gugup karena apa gitu ya, aku itu cuma takut aja nanti mama marah-marah ke kamu, kamu gak tau sih gimana mama aku yang kayak singa kelaparan," ucap Qilla.


"Iya, udah ayo masuk. Udah gak sabar nih calon suaminya mau ketemu sama calon mertuanya," ucap Ryan.


"Dasar bisa banget emang," gumam Qilla dan Ryan hanya tersenyum mendengarnya.


Qilla pun mengetuk pintu rumah tersebut, cukup lama mereka berada di sana. Namun, belum ada tanda-tanda pintu akan terbuka hingga beberapa saat kemudian pintu pun terbuka dan menampilkan sosok wanita yang sudah melahirkan Qilla, "Ngapain pulang? pergi aja sana gak usah pulang," ucap mama Qilla.


"Qilla ke sini cuma mau ngenalin pasangan Qilla," ucap Qilla dan melirik Ryan.


"Punya apa dia sampai berani ketemu sama mama?" tanya mama Qilla.


"Ma, Qilla datang ke sini secara baik-baik dan untuk kali ini aja mama jangan tunjukkan sikap itu ke pasangannya Qilla," ucap Qilla.


"Tergantung, kalau memang pasangan kamu menarik buat jadi calon suami kamu ya mama oke oke aja," ucap mama Qilla.


"Udahlah kita balik aja aku keburu males ketemu sama mama," ucap Qilla.


"Kalau kita balik makin lama dong dari rencana aku, udah ya kita harus bicarain semuanya baik-baik," ucap Ryan dan diangguki Qilla.


Saat ini Ryan dan Qilla sudah duduk di ruang tamu rumah tersebut, "Saya gak nyiapin minuman, kalau mau minum ya ambil sendiri," ucap mama Qilla dan diangguki Ryan.


"Punya apa kamu? kamu kerjanya apa? berapa gaji kamu?" tanya mama Qilla.


"Saya saat ini memang belum punya apa-apa, tapi saya janji saya akan berusaha membahagiakan Qilla, untuk pekerjaan saya bekerja di salah satu perusahaan kecil di kota dan untuk gaji memang tidak besar, tapi cukup untuk kebutuhan saya sehari-hari," ucap Ryan.


"Oh miskin toh ternyata," ucap mama Qilla, dengan sinis.


"Ma." Qilla benar-benar tak habis pikir dengan mamanya yang menilai orang dari hartanya.


"Kenapa bener kan dia emang miskin," ucap mama Qilla.


"Meskipun begitu saya bisa bahagiakan Qilla," ucap Ryan.


"Dengan cara?" tanya mama Qilla.


"Menjadikan Qilla sebagai ratu di rumah saya dan juga memberikan perhatian yang lebih dari apa yang di pernah dapatkan di rumah ini," ucap Ryan.


"Apa kamu pikir Qilla bisa bahagia hanya dengan cara itu, dia juga butuh uang kali," ucap mama Qilla.


"Gak tuh, Qilla gak butuh uang. Yang Qilla butuhin cuma perhatian aja dan Qilla merasa bahagia dengan itu," ucap Qilla.

__ADS_1


"Kamu diem aja, mama tahu apa yang baik buat kamu," ucap mama Qilla.


"Mama gak tahu apa yang terbaik buat Qilla, kalau mama tahu yang terbaik buat Qilla harusnya Qilla bahagia sekarang. Tapi, ini apa Qilla gak bahagia, Qilla ada di rumah, tapi Qilla rasanya pengen nangis terus. Qilla tertekan dengan sikap mama yang selalu menginginkan Qilla untuk sempurna di mata mama," ucap Qilla.


"Gak, kamu itu bahagia dengan apa yang mama lakukan untuk kamu. Tapi, kamunya aja yang gak sadar," ucap mama Qilla.


"Mama salah besar kalau seandainya Mama berpikiran seperti itu," ucap Qilla.


"Mama gak salah, apa kamu pikir dengan bersama si miskin ini kamu bahagia?" tanya mama Qilla.


"Ya, Qilla rasa Qilla akan jauh lebih bahagia jika bersama Ryan," ucap Qilla.


"Oke, kalau begitu hei apa yang akan kau berikan untukku jika aku merelakan anakku Menikah denganmu? bagaimana kalau uang 200 juta? kau sanggup bukan?" tanya mama Qilla.


"Mama jual Qilla," ucap Qilla, yang tidak percaya jika mamanya justru meminta uang pada Ryan.


"Mama tidak menjualmu, yang mama lakukan hanyalah barter kau bisa bahagia dengan si miskin ini dan Mama bisa mendapatkan uangnya," ucap mam Qilla.


"Bagaimana?" tanya mama Qilla, pada Ryan.


Ryan menatap Qilla dan Qilla menganggukkan kepalanya, "Huh, baik. Saya akan membayar uang 200 juta tersebut, tapi setelah saya membawa keluarga saya untuk melamar Qilla," ucap Ryan.


"Oke, kalau begitu saya setuju. Kapan kau akan membawa keluargamu?" tanya mama Qilla.


"Secepatnya," ucap Ryan.


"Kalau begitu kalian bisa pergi dari sini bukan, saya masih ada urusan soalnya," ucap mama Qilla.


Ryan dan Qilla pun akhirnya pergi dari rumah tersebut, "Maaf, uangnya nanti akan saya transfer," ucap Qilla.


"Hei, gak perlu. Anggap aja itu hadiah karena aku berhasil membebaskanmu," ucap Ryan.


"Tapi, tunggu kok kamu tadi bilang kalau kamu kerjanya di perusahaan sih?" tanya Qilla.


"Hehehehe, biar kelihatan miskin aja dulu soalnya kau udah yakin dari cerita kamu dan Jeffry sebelumnya kalau mama kamu itu matre makanya aku bohong, kalau gak gitu pasti mama kamu bakal minta 1 milyar ke aku," ucap Ryan dan membaut Qilla tertawa mendengarnya.


"Pinter juga kamu, hahahha," ucap Qilla.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2