Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Sabar Sayang


__ADS_3

Rea saat ini sendirian di kamar karena Alan yang ada tugas dan kak inez sedang jalan-jalan bersama kak Ray dan Kaif. Sedangkan, bunda Nara saat ini berada di rumah Bu Vina karena Bu Vina tengah sakit dan tidak ada yang merawatnya.


Untuk persalinan Rea sendiri sudah dijadwalkan dua Minggu lagi, meskipun begitu dokter Karin mengatakan jika Rea harus siap-siap karena tidak ada yang bisa menebak apa yang terjadi. Alan dan Rea juga sudah menyiapkan segala keperluan yang akan di bawa ke rumah sakit nantinya saat Rea melahirkan.


"Keluar kamar deh, males banget di kamar bosen," gumam Rea dan keluar kamar, sama halnya dengan di kamar. Di ruang tamu juga sepi, akhirnya Rea masuk ke kamar Gia dan ternyata Gia bersiap untuk keluar, "Kamu mau kemana?" tanya Rea.


"Gia mau jalan sama Hana kak," ucap Gia.


"Kan kamu kemarin habis jalan sama Hana kenapa sekarang malah jalan lagi sama Hana?" tanya Rea.


"Ya kan ada film baru kak, kalau kemarin kan Gia sama Hana ngerjain tugas sambil jalan sih, tapi tetep aja tujuannya beda," ucap Gia.


"Ish, kamu mah jalan-jalan cuma nonton film, mendingan kamu temenin kakak aja di rumah, masa kakak sendirian sih di rumah. Kamu gak kasihan apa sama kakak," ucap Rea.


"Kakak mah, kan Gia udah janjian sama Hana, lagi pula filmnya juga cuma tayang hari ini loh dan Gia juga udah beli tiketnya," ucap Gia.


"Harusnya kamu tanya dulu sama kakak," ucap Rea.


"Biasanya kan gak gitu," ucap Gia.


"Kan kakak lagi hamil masa kakak sendirian di rumah harusnya kan kamu ngertiin kakak," ucap Rea.


"Ihhhh, kakak mah harusnya kan kakak juga ngertiin Gia, Gia pengen jalan-jalan sama Hana. Harusnya kakak juga tinggal di rumahnya kak Alan kan di sana ada adiknya kak Alan," ucap Gia.


"Yaudah, kamu pergi deh," ucap Rea, lalu kembali ke kamarnya.


"Kak Rea marah ya?" tanya Gia.


"Gak kok," ucap Rea.


Gia pun akhirnya pergi dari rumah, "Gini banget adik gue, ya gue marahlah secara gak langsung dia gak suka gue di rumah kan," gumam Rea.


"Mau pergi deh, tapi kemana," lanjut Rea.


Akhirnya setelah perdebatan yang sengit antara pergi atau tidak Rea pun dengan santai memakan buah dan menonton kartun di televisi, ya Rea memilih untuk tidak pergi karena ia takut terjadi apa-apa, biarlah dia sendirian di rumah, "Lucu banget sih," gumam Rea.


Untuk masalah Gia, Rea masih sakit hati dengan ucapan Gia dan entahlah apa yang akan terjadi jika nanti mereka bertemu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ponsel Rea pun berdering dan membuat Rea terkejut dan dengan santainya Rea pun mengambil ponselku dan mengangkat sambungan telepon tersebut, "Kenapa, La? tumben banget lo nelpon gue?" tanya Rea.


"Gue tadi lihat kapten Alan di rumah sakit dan tubuhnya berdarah," ucap Qilla dan sekali lagi membuat Rea terkejut.


"Yang bener Lo, La?" tanya Rea.


"Iya beneran, tadi gue lihat kapten Alan berdarah gitu kayaknya kapten Alan kena darah luka tembak deh soalnya tadi gue tanya ke dokternya, tapi bukan ...," ucap Qilla.


Belum sempat Qilla melanjutkan ucapannya, Rea sudah memutuskan sambungan telepon tersebut dan dengan buru-buru Rea mengambil tasnya dan tak lupa Rea juga mengambil kunci mobil, setalah semuanya selesai Rea pun menuju garasi dan mengendarai mobilnya, ini adalah pertama kalinya Rea mengendarai mobil selama hamil karena memang setelah Rea hamil Alan tidak memperbolehkan Rea mengendarai mobil sendirian dan selalu di jemput alih Alan atau bersama Nina dan Qilla.


"Semoga mas Alan gapapa, gue gak pengen jadi janda," gumam Rea.


Rea benar-benar khawatir dengan keadaan Alan sampai tidak memperhatikan jalanan di di depannya yang ternyata terdapat polisi tidur. Rea yang terlalu fokus pun terkejut dan langsung menepi dan menghentikan mobilnya, Rea merasakan sakit di perutnya karena terbentur saat melewati polisi tidur tadi, hanya beberapa saat saja rasa sakit itu dan setelah rasa sakit di perutnya hilang barulah Rea kembali melakukan mobilnya menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, ia lantas melihat Qilla yang berada di lobby, "Suami gue mana, La? dia baik-baik aja kan? dia gak kenapa-napa kan, La?" tanya Rea.


"Lo kok bisa ada di sini?" tanya Qilla.


"Gak penting itu, sekarang mana suami gue hiks hiks?" tanya Rea, yang tidak bisa menahan tangisannya, ia benar-benar takut terjadi sesuatu dengan suaminya.


"Heh, jangan lari b*go!" pekik Qilla. Namun, diabaikan oleh Rea karena ia terus berlari hingga UGD.


Rea yang sudah berada di lorong UGD pun terkejut saya melihat suaminya yang berada di luar ruangan, dengan cepat Rea melangkah menghampiri Alan dan langsung memeluk suaminya itu dan menangis di dada bidang Alan. Alan yang tengah fokus pada pintu UGD pun terkejut saat melihat seseorang memeluknya. Alan ingin mendorong orang tersebut karena berani memeluknya, tapi ia urungkan saat merasakan perut besar orang tersebut dan Alan tahu jika yang memeluknya adalah istri sendiri.


"Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Alan.


"Jangan lagi Rea astaga capek gue ngejarnya huh huh," ucap Qilla, dengan tersengal-sengal.


"Kamu lari?" tanya Alan.


"Aku tuh khawatir banget sama kamu," ucap Rea.


"Khawatir kenapa? aku gapapa," tanya Alan.


"Tadi kata Qilla kamu berdarah dan kena luka tembak makanya aku langsung ke sini buat lihat keadaan kamu, kamu gapapakan?" tanya Rea.


"Heh, gue tadi mau ngelanjutin ucapan gue, tapi lo udah matiin telepon gue aja," ucap Qilla.

__ADS_1


"emangnya kenapa?" tanya Rea.


"Yang kena tembak itu Kino dan aku bawa dia ke sini," ucap Alan.


"Kamu gapapa?" tanya Rea.


"Iya, aku gapapa sayang. Sekarang kamu istirahat aja dulu," ucap Alan dan diangguki Rea.


Baru saja Rea akan duduk tiba-tiba ia merasakan sakit pada perut bagian bawah, "Kenapa?" tanya Alan.


"Perut aku sakit," rintih Rea.


"Mungkin cuma kontraksi palsu kayak biasanya," ucap Alan dan diangguki Rea.


Namun, Rea merasakan sakit yang luar biasa dan berbeda dari kontraksi hari-hari sebelumnya. Saya Rea akan kembali bicara tiba-tiba Ryan teriak dan membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, "DOKTER REA!" pekik Ryan dan menunjuk lutut Rea yang sudah mengalir air.


"Ketuban Rea pecah," ucap Qilla.


Alan pun dengan sigap menggendong tubuh Rea menuju dokter Karin, "Kalian di sini jagain Kino, nanti kalau ada apa-apa kasih tahu," ucap Alan dan diangguki anggotanya.


Alan pun sudah berada di ruangan bersalin setelah diperiksa oleh dokter Karin dan benar saja ketuban Rea pecah, dokter Karin mengatakan jika sepertinya perut Rea mengalami benturan sehingga membuat ketubannya pecah dan hal itu membuat Alan terkejut.


Saat ini Rea tengah berada di ruang bersalin dan menunggu pembukaannya lengkap, Alan ingin marah dan tanya mengenai hal yang dikatakan dokter Karin, tapi melihat bagaimana Rea yang kesakitan pun Alan mengurungkan niatnya.


"Sakit," rintih Rea.


"Sabar sayang, aku yakin kamu pasti bisa," gumam Alan dan mengecup seluruh wajah Rea.


Qilla sudah menghubungi keluarga Rea dan Ryan yang menghubungi keluarga Alan, ya mereka disuruh Alan karena ia tidak membawa ponsel untuk mengabari keluarganya.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2