
Tak terasa saat ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang terutama Lea dan rekan-rekannya karena mereka akan kembali ke asrama setalah mereka menyelesaikan latihan di hutan lebih tepatnya latihan bertahan hidup di hutan yang hanya tinggal pemanasan terakhir saja setelah itu mereka pun dapat kembali ke asrama.
Lagipula semua peralatan yang digunakan selama latihan bertahan hidup di hutan pun sudah dibereskan sehingga sebentar lagi mereka akan kembali ke asrama tempat ternyaman yang ada di sini bagi Lea dan rekan-rekannya.
"Semuanya sudah siap?" tanya Noah.
"Iya letnan," ucap semua orang.
"Kalau begitu kalian akan melakukan panjat tebing atau rock climbing, untuk caranya akan di peragakan letnan Prabu," ucap Noah.
Mereka pun mulai melihat cara panjat tebing yang dilakukan lakukan Prabu, "Gue bisa gak ya, kok nakutin gitu," bisik Tyas.
"Bisa kok," ucap Lea.
"Oke, kalau begitu siapa yang mau mencoba yang pertama?" tanya Noah.
"Saya letnan," ucap Ayu dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Baiklah, silahkan maju supaya dipasangkan alat-alatnya," ucap Noah.
Ayu pun maju ke depan, tapi sebelum itu Ayu menatap Lea dan tersenyum sinis pada Lea.
"Lah kenapa tuh orang," ucap Tyas, yang melihat senyuman sinis Ayu pada Lea.
"Obatnya habis jadi kayak gitu dia," ucap Lea.
"Bisa aja low, tapi bener," ucap Tyas.
Disisi lain Ayu pun sudah memakai alat-alat untuk panjat tebing bahkan Ayu sudah bersiap untuk naik karena alat-alatnya juga sudah terpasang dengan tali untuk ke atas.
Sekedar info, Bondan yang memasangkan alat-alat yang digunakan Ayu, Ayu tadi sempat protes karena bukan Noah yang memasangkannya, tapi Bondan justru mengatakan jika sama saja.
"Ayo letnan Noah, kenapa letnan Noah malah duduk di sana, di sini temenin saya. Saya takut kalau sendirian," ucap Ayu.
"Untuk panjat tebing kalian akan ke atas sendirian tanpa bantuan kami karena tadi sudah kami berikan caranya bukan," ucap Noah.
"Apa! tapi gak bisa gitu dong letnan," ucap Ayu.
"Tian, tarik!" teriak Noah.
Tian yang sudah berada di atas pun menarik tali tersebut hingga tubuh Ayu ikut tertarik, "Lakukan apa yang diperagakan oleh letnan Prabu," ucap Noah.
Mau tidak mau Ayu pun ke atas sendirian dengan perasaan dongkol bahkan ia tidak tersenyum sama sekali saat sudah sampai di atas.
"Gak usah cemberut gitu, situ udah jelek tambah jelek lagi," ucap Tian.
"Ish, bete banget gue," ucap Ayu dan duduk ditempat yang sudah disediakan.
Hampir semuanya sudah sampai di atas dan hanya tinggal Lea saja karena memang Lea menjadi yang terakhir untuk naik ke atas.
Saat Lea sudah berdiri dan bersiap untuk menggunakan alat-alatnya tiba-tiba Noah lun ikut berdiri dari tempat duduknya dan mengambil alat tersebut dari tangan Bondan.
"Astaga pak bos mentang-mentang sekarang waktunya bu bos jadi berdiri dan mengambil alih tugas saya," ucap Bondan dan tersenyum jail pada Noah dan Lea.
"Bacot," ucap Noah dan menarik tangan Lea lalu memasangkan Lata tersebut pada Lea.
"Ada yang sakit?" tanya Noah, saat melihat wajah pucat Lea.
"Gak kok letnan," ucap Lea.
"Setelah ini langsung ke kamar ku," ucap Noah.
"Loh kenapa?" tanya Lea.
__ADS_1
"Untuk istirahat," ucap Noah.
"Tapi, Lea bisa tidur di asrama aja bareng Tyas, lagipula Lea juga udah lama gak tidur di sana," ucap Lea.
"Yaudah, tapi kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku," ucap Noah.
"Iya kak," ucap Lea.
Lea pun berusaha untuk naik, tapi tiba-tiba Noah ikut berada di belakangnya.
"Letnan Noah kenapa di belakang saya?" tanya Lea.
"Saya ikut dengan kamu," ucap Noah.
"Tapi, kenapa? bukannya untuk panjat tebing sendiri-sendiri ya?" tanya Lea.
"Iya, tapi karena kamu yang terakhir jadi sekalian saja biar cepet," ucap Noah.
Setelah mengatakan hal tersebut, Noah pun mulai melakukan panjat tebing dan tentunya Lea pun ikut karena Noah yang mengajarkannya untuk berpijak pada bebatuan di sisi tebing.
"Bisa aja tuh orang kalau mau modus," gumam Bondan, saat melihat Noah yang naik bersama Lea.
Hingga beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di atas dan tentu saja mereka menarik perhatian semua orang yang ada di sana.
"Kok Lea sama letnan Noah sih? tadi katanya sendiri-sendiri?" tanya Ayu, yang tidak terima jika Lea Kemabli bersama Noah.
Noah hanya menatap santai ke arah Ayu, "Karena Lea orang terakhir dan untuk mempercepat makanya saya bersama Lea. Sudah sekarang kita kembali ke asrama," ucap Noah.
Akhirnya mereka pun berjalan menuju asrama, "Le, lo gapapa?" tanya Tyas.
"Gapapa kok," ucap Lea.
"Bohong banget, lihat muka lo pucat banget mana dari tadi gue perhatiin lo jalannya gak Tetu arah gitu," ucap Tyas.
"Kepala lo pusing ya?" tanya Tyas, yang tidak menyerah untuk menanyakan keadaan Lea.
"Iya, sedikit," ucap Lea.
"Gue panggilin tim medis ya," ucap Tyas.
"Gak usah, Yas. Gue gapapa mungkin butuh istirahat sebentar," ucap Lea.
"Gak, lo juga butuh penanganan medis karena ini muka lo pucat banget," ucap Tyas.
"Mungkin gue cuma kurang tidur aja udah gapapa kok," ucap Lea.
"Yaudah, kalau gitu kita langsung ke kamar aja," ucap Tyas dan diangguki Lea.
Saya memasuki lapangan mereka harus melakukan absen terakhir terlebih dahulu dan Tyas yang melihat ke yang sudah ingin tumbang pun tidak tega, "Lo beneran gapapa, Le? kok gue takut lo parah," tanya Tyas.
"Gu-gue gapapa kok," ucap Lea, yang mulai terbata-bata karena menahan rasa sakit di kepala serta perutnya.
Lea tidak ingin membuat orang-orang khawatir karena bagi Lea ia benar-benar tidak apa-apa dan ia hanya butuh istirahat sebentar mungkin karena maag-nya kambuh.
"Gue gak percaya," Tyas.
Tyas pun berniat untuk memanggil tim medis, tali belum sempat ia memanggil tim medis tiba-tiba Lea sudah terjatuh diatas tanah dan tidak sadarkan diri dan Tyas pun refleks lalu berteriak dan menghampiri Lea hingga membuat semua orang yang ada di sana menatap dirinya dan Lea.
"LEA!" teriak Tyas.
"Le, lo kenapa?" tanya Tyas yang berusaha membangunkan Lea.
Disisi lain Noah yang tengah berbicara dengan Tian di sisi lapangan yang terhalang oleh pohon pun terkejut saat mendengar suara sahabat istrinya yang memanggil nama istrinya dengan berteriak. Mereka berdua pun berlari menuju lapangan yang sudah ramai membentuk lingkaran.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Tian, pada salah satu tentara.
"Sepertinya Lea pingsan," ucapnya.
Noah pun berlari mendekat ke arah kerumunan tersebut dan benar saja ia melihat Lea tidak sadarkan diri dengan Tyas yang memangku kepala istrinya.
"Lea kenapa?" tanya Noah, yang menghampiri mereka berdua dengan raut wajah khawatir.
"Saya juga kurang tau letnan, tapi tiba-tiba Lea tidak sadarkan diri," ucap Tyas.
"Kita harus bawa Lea ke tim medis, ayo biar saya yan gendong Lea," ucap Dedy.
Namun, belum sempat Dedy maju dan menggendong Lea, Noah sudah mencegahnya sehingga membuat Dedy mengurungkan niatnya.
"Tidak perlu, biar saya saja," ucap Noah dan menggendong Noah.
Untuk tentara lain, di sana hanya ada Prabu dan Bondan sehingga mereka tidak berani menggendong ataupun menyentuh Lea takut sang pawang marah.
Noah pun menggendong Lea menuju ruangan medis hingga beberapa saat kemudian mereka berdua pun sampai di ruangan medis yang cukup terbuka.
Bagaimana tidak, jendela di sana sangat besar dan transparan sehingga terlihat semua orang yang melihat dari jendela bagaimana Lea dan Noah yang berada di ruangan medis.
Noah sendiri tidak tau jika banyak yang minat tindakannya pada Lea melalui jendela ruangan medis, yang ia pikirkan saat ini hanya Lea sang istri.
"Bagaimana keadaan Lea?" tanya Noah, saat dokter Riri selesai memeriksa Lea.
"Begini letnan Noah, dari pemeriksaan yang saya lakukan sepertinya Lea tengah mengandung, tapi saya juga tidak dapat memastikannya, ini hanya prediksi saya. Mungkin untuk pastinya Lea harus di bawa ke dokter kandungan agar lebih jelas," ucap dokter Riri.
"Lea hamil," ucap Noah.
"Saya juga tidak yakin hal itu, tapi kita harus memeriksakan langsung pada dokter kandungan untuk lebih jelasnya atau letnan Noah bisa panggil dokter Zia dia dokter kandungan," ucap dokter Riri dan diangguki Noah.
Semua ucapan dokter Riri dapat di dengar semua orang yang ada di sana dan tentunya hal itu membuat semua orang terkejut karena Lea hamil, "Akhirnya sahabat gue, hiks hiks," ucap Tyas.
Tyas sangat bahagia mendengarnya terutama setelah Lea keguguran ini adalah hal yang paling diinginkan Lea, Lea sangat takut jika ia tidak bisa memiliki anak karena perempuan yang pernah mengalami keguguran akan sulit untuk mendapatkan keturunan.
Meksipun belum jelas Lea hamil atau tidak, tapi Tyas berdoa semoga Lea hamil dan ia akan segera menjadi aunty.
Berbeda dengan Tyas yang bahagia mendengar kabar kehamilan Lea, Ayu justru senang karena itu artinya Noah akan menjauh dari Lea.
'Akhirnya letnan Noah bakal menjauh dari Lea dan gue bakal deketin letnan Noah,' ucap Ayu dalam hati.
Semua orang terpaksa harus bubar karena Tian yang mengacaukannya dan menyuruh mereka kembali ke asrama masing-masing.
Kembali pada Noah dan sudah memanggil dokter Zia yang merupakan dokter kandungan di rumah sakit yang dekat dengan asrama, ya Noah memutuskan untuk memanggil dokter Zia saja karena ia tidak tega melihat Lea yang harus berpindah-pindah tempat.
Beberapa saat kemudian, dokter Zia pun datang, "Ada apa letnan Noah memanggil saya?" tanya dokter Zia.
"Dokter Zia, tolong periksa istri saya," ucap Noah.
"Istri?" tanya dokter Zia.
"Iya, istri saya. Tadi kata dokter Riri istri saya hamil, tapi karena beliau tidak yakin makanya saya disuruh memanggilnya dokter kandungan untuk memastikannya," ucap Noah.
"Baik, saya akan periksa pasien terlebih dahulu," ucap dokter Zia.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1