
Di sisi lain, Alan saat ini berada di lapangan karena ia telah selesai latihan bersama para anggotanya. Alan merasa hari ini cukup sepi karena para relawan pergi dan memang selama para relawan berada di sini daerah perbatasan cukup ramai sehingga saat mereka pergi daerah perbatasan kembali seperti dulu sepi.
"Kangen banget sama para dokter deh, kalau gak ada mereka tuh kamp militer rasanya jadi sepi," ucap Ryan.
"Alah, itu mah karena sersan Ryan ada gebetan kan diantara para relawan," ucap Gara.
"Hush, kalau ngomong bener banget," ucap Ryan.
"Kapten bisa bicara sebentar," ucap Raka.
Alan yang awalnya hanya memperhatikan obrolan anggotanya pun menatap Raka dan menganggukkan kepalanya, lalu mereka memilih tempat yang cukup sepi yang tidak ada anggotanya lebih tepatnya ruangan Alan karena memang saat ini di sana tidak ada siapapun.
"Ada apa?" tanya Alan.
"Tadi komandan Arga telepon," ucap Raka dan diangguki Alan.
"Lalu?" tanya Alan.
"Kapten Alan di suruh langsung ke pangkalan pusat daerah perbatasan untuk mengambil surat pemindahan," ucap Raka, dengan wajah lesu bahkan Raka mulai berkaca-kaca. Namun, masih ia tahan agar tidak menangis karena ia tahu jika Alan tidak menyukai anggotanya meneteskan air matanya.
Alan sendiri hanya menghela napasnya, ia tidak berpikir jika anggotanya akan tahu semua ini dengan sendirinya padahal Alan ingin mereka tahu saat nanti ia sudah mendapatkan surat pemindahan.
"Surat pemindahan apa maksudnya?" tanya Alvin, yang baru saja masuk pun bertanya dengan suara yang cukup keras.
Oh Alvin tidak sendirian, tapi di sana juga ada beberapa anggotanya, "Kok lo bisa masuk sih?" tanya Alan.
"Ya iyalah orang pintunya gak ketutup penuh, sekarang lebih baik lo yang jawab pertanyaan gue. Apa maksudnya surat pemindahan?" tanya Alvin.
"Jadi gin sersan Alvin, tadi komandan Arga menelpon dan saya angkat terus komandan Arga menyuruh saya untuk menyampaikan jika surat pemindahan kapten Alan sudah jadi di pangkalan pusat daerah perbatasan," ucap Raka.
"Apa maksud lo pindah, Lan?" tanya Alvin.
"Lo tahu lah ke apa gue milih pindah," ucap Alan.
"Maksud lo apa?" tanya Alvin.
"Gue sekarang punya tanggungjawab yang lebih besar Vin, gue bukan hanya mikirin diri gue sendiri, gue juga harus mikirin orang lain," ucap Alan.
"Gue tahu, tapi kenapa lo gak bilang ke gue atau ke anggota lainnya?" tanya Alvin.
"Gue rencananya mau bilang kalau surat pemindahan gue udah ada di tangan gue, tapi ternyata Raka yang tahu lebih dulu," ucap Alan.
__ADS_1
"Terus kita di sini gimana?" tanya Ryan.
"Nanti bakal ada tentara lain yang mimpin kok atau gak nanti biar gue pilih diantara kalian yang mimpin di sini," ucap Alan.
"Padahal kemarin kita baru aja ngelepas para relawan, sekarang kita malah harus ngelepas kapten Alan," ucap Kino.
"Kapan pemindahannya?" tanya Ryan.
"Kan gue belum ambil surat pemindahannya, jadi gue gak tahu," ucap Alan.
"Lo mau ke pangkalan pusat kapan?" tanya Alvin.
"Habis ini," ucap Alan.
"Ayo sama gue," ucap Alvin dan diangguki Alan.
"Sama gue juga," ucap Ryan.
"Gak usah, gue aja. Lebih baik kalian dia ini kembali berlatih udah lama istirahat kalian," ucap Alvin.
Beberapa saat kemudian, Alan dan Alvin pun menuju pangkalan militer pesat di daerah perbatasan, sesampainya di sana Alan dan Alvin masuk ke dalam ruangan tempat komandan Arga dan bertemu dengan komandan Arga, yang sudah ada di sana.
"Terima kasih karena telah mengerti saya komandan," ucap Alan.
"Apapun alasannya, saya harap kau bisa menjadi teladan bagi para tentara lainnya. Sejujurnya saya sedikit penasaran apa alasanmu untuk pindah, tapi saya rasa untuk menanyakan itu bukannya tidak sopan," ucap komandan Arga dan diangguki Alan.
"Baik, ini surat pemindahannya. Kau akan di pindahkan dalam waktu kurang dari 24 jam," ucap komandan Arga.
"Bukannya itu terlalu dekat komandan?" tanya Alvin.
"Saya rasa juga begitu, tapi ini pangakalan pusat yang memutuskannya dan saya hanya bisa menyampaikannya," ucap komandan Arga.
Setelah keluar dari ruangan komandan Arga tiba-tiba Alvin memeluk Alan dari samping dan tentunya membuat Alan terkejut, "Kenapa lo meluk gue? lepas gih gue malu banget lo peluk," tanya Alan dan berusaha melepaskan pelukan Alvin.
"Gue gak bisa, gue takut kalau gue lepasin pelukan ini, lo bakal ilang," ucap Alvin.
"Ck, lebay lo. Lepas gak, sekarang kita di lihatin para tentara yang lagi jaga tahu," ucap Alan.
Ucapan alan berhasil membuat pelukan Alvin terlepas dan benar saja saat ini ada beberapa tentara yang tengah menatap mereka dengan tatapan anehnya, "Ayo kita pergi malu banget gue," ucap Alvin dan pergi meninggalkan Alan.
Lana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu, "Gue di tinggal, tadi aja peluk-peluk gak jelas," gumam Alan dan mengikuti Alvin yang saat ini sudah duduk manis di dalam mobil.
__ADS_1
Selama perjalanan Alan pun menjelaskan alasannya pada Alvin, "Dokter Rea tahu kalau lo bakal pindah?" tahap Alvin.
"Gue belum bilang ke dokter Rea," ucap Alan.
"Astaga, Lan. Dokter Rea itu istri lo harusnya dokter Rea tahu semuanya apalagi ini siap kerjaan lo," ucap Alvin.
"Lo tahu gue kan," ucap Alan.
"Nah, kebiasaan lo yang suka gak ngasih tahu ini yang harus di perbaiki," ucap Alvin.
Alan mengendarai mobil tersebut hingga menuju kamp militer, di sana sudah ada beberapa anggota timnya yang menyambut Alan, "Gimana?" tanya Ryan, saat Alan dan Alvin baru saja keluar dari mobil.
"Gimana apanya?" tanya Alan.
"Kapan lo pindahnya?" tanya Ryan.
"Nanti sore atau gak nanti malam," ucap Alan.
"Hah! lo bercanda apa masa nanti malam sih pindahnya biasanya kan butuh waktu satu Minggu atau gak paling cepet itu 3 hari," ucap Ryan.
"Ya, emang gitu kok," ucap Alan.
"Terus yang bakal mimpin kita di sini siapa?" tanya Kino.
"Nanti sebelum saya pergi, saya akan umumkan itu," ucap Alan lalu pergi menuju kamp untuk menyiapkan barang-barangnya.
"Kok gue mau nangis ya kalau Alan bakal pergi, meskipun dia cuek, tapi gue kayak gak rela dia pergi, hiks hiks," ucap Ryan dan tumpah sudah tangisannya dan diikuti beberapa tentara lainnya yang juga sudah meneteskan air matanya.
"Udah jangan kayak bocah, kapten Alan pasti punya alasan tersendiri kenapa dia milih buat pindah," ucap Alvin, yang mencoba menenangkan anak-anaknya.
Sore harinya Alan pun sudah siap dengan barang-barangnya dan Alan pun sudah berpamitan pada para warga dan tentunya hal itu membuat para warga terkejut dan beberapa warga juga menangis dan memeluk Alan agar Alan tidak pergi, tapi bagaimanapun juga keputusan Alan sudah bulat. Saat. ini adalah hal yang harus Alan jadikan prioritas selain tugasnya pada negara.
Bukan hanya orang dewasa bahkan anak kecil pun sampai menangis saat Alan mengatakan Alan pergi, Alan seharusnya hanya 15 menit di sana, tapi ia justru di sana selama 1 jam karena ia benar-benar di tahan oleh warga dan untungnya ada Alvin yang berhasil menenangkan para warga dan mau tidak mau mereka pun membiarkan Alan untuk pergi.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1