
revisi -
#
Hari mulai gelap dan semua orang yang ada di sana masih sibuk dengan tugasnya masing-masing. Namun, ada juga yang mengistirahatkan tubuhnya seperti Rea saat ini, ia duduk di tenda terbuka yang ada di sana bersama Qilla.
"Wah, La. Jadi selama ini lo kalau jadi relawan kayak gini ya?" tanya Rea.
"Iya, Re. Malah bisa lebih parah dari ini, apalagi kalau tsunami gitu," ucap Qilla.
"Gue yang kayak gini aja udah capek banget rasanya tubuh gue remuk semuanya tahu gak," ucap Rea.
"Lebay lo, makanya sih dari dulu gue ajak buat daftar jadi relawan gak mau," ucap Qilla.
"Gak maulah, lo tadi lihat gue kan gimana sedihnya gue sampe habisin tisu berapa tadi bahkan gue sampe di tenangin beberapa warga loh," ucap Rea dan berhasil membuat tawa Qilla pecah.
"Mereka mau pindahin tempat pengungsian ya?" tanya Rea.
"Gue denger sih iya soalnya katanya cuacanya bakal buruk di sini, makanya pindah dan takutnya kalau mereka tetep di sini nanti malah longsor. Lo lihat di sana tanahnya udah kayak mau jatuh gitu," ucap Qilla.
"Iya sih, semoga aja cepet pindah. Gue kasihan lihat mereka di sini, banyak fasilitas yang kurang soalnya tempatnya juga jauh dari kamp terus juga tempat ini kayak terisolasi gitu," ucap Rea.
"Tapi, berarti nanti di pindahin nya lewat jalan tadi dong, bukannya itu justru buat pasien yang sakit makin sakit terus juga gue yakin kalau yang mindahin pasti rada susah," ucap Rea.
"Gue denger sih katanya mereka bakal lewat jalur selatan yang katanya jalannya gak rusak kayak jalan yang kita lalui tadi," ucap Qilla.
"Kok lo bisa tahu banyak gitu sih, La?" tanya Rea.
"Siapa dulu, Qilla gitu loh," ucap Qilla dengan bangga.
Setelah istirahat beberapa menit, Rea dan Qilla kembali melakukan tugasnya sebagai dokter hingga hari yang semakin gelap Rea tetap fokus pada pasiennya yang mulai tenang, banyak warga yang sudah di obati dan juga beberapa dokter pun bahkan saat ini berada di negara tetangga untuk membantu warga di sana karena mereka kekurangan tenaga medis salah satunya Nina yang membantu.
__ADS_1
"Kita sekarang tidur di sini dulu ya. Gak mungkin juga kita balik dan ninggalin pasien," ucap dokter Danu, selaku perwakilan dari rumah sakit Citra Lestari.
Ucapan dokter Danu pun diangguki oleh semua orang yang ada di sana, Rea mencari keberadaan Qilla yang ternyata saat ini sudah terlelap di tenda untuk para relawan perempuan. Rea mencari tempat untuk tidur, tapi sayang semua tempat penuh bahkan ada beberapa perempuan yang tidur di tenda kosong lainnya, Rea pun berjalan menuju tenda tersebut, tapi lagi-lagi ia harus kecewa karena tenda tersebut juga penuh.
'Gue tidur dimana dong? ya masa gue harus tidur di luar. Huh, terpaksa deh tidur di luar,' ucap Rea, dalam hati.
Rea pun berjalan menuju api unggun yang memang di pasang di sana karena udara saat ini yang cukup dingin, Rea mendekat dan duduk di salah satu kayu lalu memejamkan matanya. Baru saja Rea memejamkan matanya tiba-tiba tepukan di bahunya membuat Rea terkejut dan membuka mata lalu menatap orang yang tadi menepuk bahunya.
"Kenapa di sini? gak tidur udah malam?" tanya Alan.
"Hem, saya tidur di sini aja," ucap Rea.
"Kenapa tidur di sini? kurang nyaman ya tidur di tenda gak empuk kayak di rumah?" tanya Alan.
"Gak kok, saya cuma ehm tidak kebagian tempat tidur. Tadi saya sudah cek di tenda, tapi semuanya penuh," ucap Rea.
"Kamu sudah cek tenda itu?" tanya Alan, dengan menunjuk tenda para anggota tim militernya.
Rea menggeleng kepalanya, "Coba kamu cek di sana pasti di sana banyak yang kosong," ucap Alan.
"Gak mau," ucap Rea.
"Itu tenda para tentara," ucap Rea.
"Terus?" tanya Alan.
"Ya, itu bukan tempat saya," ucap Rea.
"Daripada kamu tidak tidur dengan tenang lebih baik kamu tidur di sana," ucap Alan dan Rea pun menggelengkan kepalanya.
Rea hanya takut jika para tentara yang jelas-jelas pria itu menatap Rea seakan Rea santapan hangat malam bagi mereka. Rea juga takut karena dia perempuan sendiri tentunya diantara para pria.
"Tenang saya juga tidur di sana gak akan ada yang bermain macam-macam kok," ucap Alan, lalu menarik Rea dengan lembut.
Alan dan Rea pun saya ini menuju tenda dan beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di tenda tersebut. Alan pun membuka penutup tenda dan menarik lembut tangan Rea untuk masuk ke dalam tenda. Baru saja Rea masuk ia sudah di suguhi pemandangan yang wow sekali. Bagaimana tidak, para pria tersebut sedang bertelanjang dada dan jujur itu membuat Rea takut sekali.
__ADS_1
"Dokter Rea kenapa ada di sini?" tanya Ryan.
"Ehm, i - itu ...," ucap Rea dengan gugup. Rea tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena ia bingung harus menjawab apa. Namun, untungnya Alan segera menjawab pertanyaan dari Ryan.
"Dokter Rea akan tidur di sini malam ini karena semua tenda penuh," ucap Alan.
"Yaudah, kalau gitu ayo dokter Rea tidur di sebelah saya," ajak Ryan.
Rea tidak tahu harus melangkah atau justru ia harus diam di tempat, "Kalian tidur di tempat kalian saja biar Rea nanti tidur di samping dan bukan di tengah," ucap Alan dan menatap tajam Ryan.
"Kamu tidur di sana gapapa?" tanya Alan dan menunjuk tempat tidur yang berada di pinggir triplek.
Info saja, jadi tempat tidur mereka bukan dari kasur empuk karena mereka menggunakan sebuah alas triplek sehingga muat untuk semua orang begitupun dengan tenda lainnya.
Setelah Alan menunjuk tempat tersebut, Rea pun menuju tempat tersebut dan hanya duduk saja. Ia sedikit canggung jika harus tidur sedangkan masih banyak pria di ruangan tersebut yang belum tidur.
"Tidur," ucap Alan, dengan dingin dan datar padahal saat ini Alan sedang berbicara dengan Alvin di tempat Alvin yang berada di tengah dan Rea yakin jika Alan tidak melihatnya.
Setelah perintah dari Alan, Rea pun akhirnya merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Alan sendiri yang melihat Rea tidur pun menghela napas dan menatap Kino, "Tadi ada selimut bukan? mana selimutnya?" tanya Alan.
"Selimutnya sudah saya kasih ke salah satu warga kapten soalnya tadi kapten bilang tidak membutuhkan selimut," ucap Kino dan diangguki Alan.
Ini bukan salah Kino karena memang kejadiannya yang terlalu mendadak saja. Alan pun memutuskan untuk melepaskan jaket yang ia kenakan lalu membawanya dan menyelimuti Rea dengan jaketnya. Tindakan Alan tentunya tak luput dari tatapan para anggota timnya yang saat ini menatap cengo Rea bahkan ada beberapa tentara yang menatap Rea dengan tatapan menggoda.
"Jangan mikir aneh-aneh sekarang kita bahas soal pindah ke tempat baru, gimana, Ka? semuanya udah selesai belum?" tanya Alan.
"Semuanya hampir selsai kapten mungkin dalam waktu dua hari lagi tempat bisa di tempati," ucap Raka dan diangguki Alan.
"Untuk dokter yang bantu Albert gimana? mereka tidak terluka bukan?" tanya Alan.
"Kapten tidak perlu khawatir, tidak ada luka pada mereka," ucap Gara.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.