Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Kasihan Pada Noah


__ADS_3

Sudah 3 hari Lea dirawat di rumah sakit dan hari ini Lea sudah berada di rumah ayah Alan dan bunda Rea. Noah memang sengaja memilih untuk tinggal di rumah tersebut karena banyak keluarga yang dapat membantu jika Noah tidak ada di rumah.


Jika di rumah Daddy Albert dan mommy Emma Noah tidak yakin, apalagi mommy Emma juga bekerja sehingga rumah tidak ada siapa-siapa dan percuma saja Lea di sana.


Saat ini Lea berada di kamar sendirian karena dia bilang pada Noah jika ia ingin sendiri di kamar, Noah pun menurut dan memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruang keluarga di lantai 2 tepat di dekat kamar Lea sehingga Noah dapat melihat pintu kamar tersebut.


Noah sadar jika setelah mengalami keguguran Lea memang tidak seperti biasanya, Lea sering terlihat murung bahkan Noah beberapa kali mendapat penolakan dari Lea dan Noah berpikir positif mungkin Lea masih teringat musibah yang terjadi.


Namun, Noah mulai frustasi karena Lea terkesan menghindarinya bahkan Lea sering meminta seseorang untuk membantunya padahal di sana ada Noah, Noah rela izin karena ingin membantu Lea. Tapi, ia justru mendapat penolakan dari Lea.


Entahlah kapan amarah yang ia tahan ini akan keluar, Noah hanya berharap amarahnya tidak ia lampiaskan pada Lea sang pelaku.


Saat tengah menunggu tiba-tiba Daisy datang dengan membawa beberapa buah, "Buat kak Lea ya?" tanya Noah.


"Eh, kak Noah. Iya kak, tadi kak Lea nelpon Daisy dan nyuruh bawain anggur sama minuman sekalian," ucap Daisy.


Noah pun menghela nafas dan mengambil nampan yang di bawa Daisy, "Biar kakak aja yang bawa ke kak Lea, kamu balik aja," ucap Noah.


"Siap kak," ucap Daisy dan pergi.


Noah melangkahkan kakinya dan membuka pintu kamar tersebut, saat pintu sudah terbuka dapat dilihat sang istri yang menatap depan dengan tatapan kosong.


Selalu seperti ini, entahlah apa yang dipikirkan Lea, Noah juga tidak tau karena pernah Noah tanya mengenai apa yang dipikirkan Lea. Namun, Lea justru menangis dan Noah tidak lagi menanyakan hal itu.


"Sayang, ini buahnya," ucap Noah dan tidak ada respon dari Lea.


Noah mendekat dan menggoyangkan lengan Lea dengan perlahan, "Sayang," panggil Noah.


Lea pun tersadar dari lamunannya dan menatap Noah, "Kenapa kakak di sini?" tanya Lea.


"Ini tadi kamu minta Daisy buat ambilin buah kan," ucap Noah.


Lea mengambil buah tersebut, "Terima kasih kak," ucap Lea.


"Sayang," panggil Noah lagi.


"Maaf kalau aku ada salah, kamu jangan gini ya. Kalau ada apa-apa cerita ke aku, aku akan selalu ada di samping kamu," ucap Noah.


Lea menggelengkan kepalanya, "Kakak gak salah apa-apa, Lea hanya lelah kan pengen sendiri," ucap Lea.


'Aku tau kamu bohong, aku dapat melihat sorot mata lemah dari kamu,' ucap Noah dalam hati.


"Kalau gitu kakak tunggu di sofa ya," ucap Noah dan Lea menggelengkan kepalanya.


"Lea lagi pengen sendiri dulu kak," ucap Lea.


"Kakak gak akan ganggu kamu," ucap Noah.

__ADS_1


"Gak kak," ucap Lea.


Noah menghela nafas dan menatap lekat istrinya, "Yaudah, kakak tunggu di luar. Kalau ada apa-apa panggil kakak," ucap Noah.


"Iya," jawab Lea.


Setelah itu, Noah pun keluar kamar dan benar saja Noah menunggu di depan kamar Lea hingga tanpa terasa sudah pukul 7 malam, "Loh Noah kok tidur di sini? kenapa gak masuk ke kamar?" tanya bunda Rea.


"Eh, iya Bun. Noah ketiduran," ucap Noah.


"Yaudah, kalau gitu makan malam ya di bawah," ucap bunda Rea dan diangguki Noah.


"Bunda mau ke Lea?" tanya Noah.


"Iya, mau suruh makan," ucap bunda Rea.


"Biar Noah aja Bun," ucap Noah.


"Yaudah, kalau gitu bunda turun dulu ya," ucap bunda Rea dan turun ke bawah.


"Sayang, makan yuk. Tadi bunda Rea udah bilang buat makan malam," ucap Noah, dari luar pintu.


Pintu kamar pun terbuka dan menampilkan istri cantiknya, "Ayo," ajak Noah dengan lembut.


"Lea bisa sendiri kak," ucap Lea dan turun ke bawah disusul Noah dari belakang.


Mereka pun makan dengan tenang dan setelah itu mengobrol di ruang tamu banyak yang mereka obrolkan semata-mata untuk membuat Lea tidak teringat masa sulitnya, tapi sepertinya hal itu sia-sia karena sedari tadi Lea hanya diam dengan tatapan kosong.


"Udah mau jam setengah 9, kalian tidur gih. Gak baik tidur larut malam apalagi Lea masih harus banyak istirahat kan," ucap bunda Rea.


"Iya Bun, ayo sayang," ucap Noah.


Noah menggandeng tangan Lea, tapi lagi-lagi tangan tersebut dihempaskan begitu saja oleh Lea dan pergi dari ruang tamu. Semua keluarga yang melihatnya pun merasa kasihan pada Noah yang memang sejak beberapa hari lalu dicuekin Lea.


"Huh, Noah ke Lea dulu ya," pamit Noah dan mengikuti istrinya.


"Kasihan ya kak Noah," ucap Daisy.


"Iya, sampe segitunya kak Lea sama kak Noah," ucap Karin.


"Jangan salahkan Lea, dia gak salah. Wajar kalau wanita yang batu saja mengalami keguguran seperti itu, Lea pasti sekarang trauma dan mentalnya down," ucap Aunty Dea.


"Iya, dulu aku juga gitu waktu keguguran anak kedua, bahkan aku harus konsultasi ke psikiater karena mentalku yang bener-bener down, tapi untung sekarang aku baik-baik saja dan mulai melupakannya. Semua itu butuh waktu, jangan lihat dari satu sisi, tapi coba lihat sisi lain," ucap Nina.


Disisi lain, Noah masuk ke dalam kamar dan melihat Lea yang merebahkan tubuhnya di kasur dan membelakanginya, "Sayang, kenapa hem?" tanya Noah.


"Yaudah, kalau kamu mau tidur. Ayo tidur," ucap Noah.

__ADS_1


"Aku mau tidur sendiri kamu bisa tidur di kamar lain," ucap Lea, tanpa menatap Noah.


"Apa gak bisa kita selesaikan semuanya baik-baik? kamu jangan kayak anak kecil gini dong, aku udah bersabar sejak tadi dan ini bener-bener gak bisa aku diam aja. Kamu secara gak langsung ngusir aku," ucap Noah, yang menaikkan sedikit suaranya.


Lea pun mendudukkan dirinya dan menatap Noah, "Kamu gak terima?" tanya Lea.


"Jelas aku gak terima, aku ini suami kamu dan kamu ngusir aku," ucap Noah.


"Kenapa kamu mau cerain aku iya!" teriak Lea, yang ikut meninggikan suaranya.


"Kamu kenapa mikir kayak gitu? aku gak ada niatan buat cerain kamu sayang," ucap Noah, yang mulai lembut.


"Halah, kamu bohong. Aku tau kamu pasti mau cari perempuan lain yang bisa ngasih kamu keturunan kan!" teriak Lea.


"Sayang," panggil Noah.


"Kenapa? kalau kamu mau cerain aku siapkan!" teriak Lea.


"Aku gak bakal cerain kamu Lea!" bentak Noah, yang akhirnya mulai tersulut emosi.


Lea diam menatap tidak percaya pada Noah, ini adakah pertama kalinya Noah membentak Lea dan bohong jika Lea tidak takut. Ia sangat takut melihat raut wajah dingin Noah, tapi ia mencoba untuk tidak terlihat takut.


"Lea! Noah! buka pintu!" teriak ayah Alan dari luar.


"Sayang, maaf tadi kau kelepasan," ucap Noah dan berusaha menggapai tangan Lea, tapi Lea menarik tangannya dan mundur.


"Sayang," panggil Noah.


Bruk...


Pintu pun terbuka dan menampilkan kedua orangtua Noah dan Lea, "Sayang," panggil mommy Emma dan memeluk Lea.


Lea menangis di pelukan mommy Emma dan membuat semua orang yang ada di sana merasa iba, "Apa yang kamu lakukan?" tanya ayah Alan, dengan tegas.


"Maaf Yah, Noah kelepasan," ucap Noah.


"Tapi, apa kamu harus membentak putri ayah," ucap ayah Alan.


"Maaf, Noah kelepasan," ucap Noah.


"Kamu ingat perjanjian yang ayah buat bukan," ucap ayah Alan dan membuat Noah serta Daddy Albert menatap ke arah Noah.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2