Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Kamu Gak Pergi?


__ADS_3

Saat ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Ryan karena hari ini akan membawa keluarganya bertemu dengan mamanya Qilla, Ryan sudah memberitahu semuanya kepada keluarganya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Selain itu, Qilla juga sudah bertemu dengan keluarga besar Ryan dan lagi-lagi keluarganya sangat welcome pada Qilla bahkan mamanya sudah menganggap Qilla sebagai anaknya.


Ryan dan keluarganya pun dalam perjalanan menuju rumah Qilla. sedangkan, Qilla sendiri sudah berada di rumahnya. Beberapa saat kemudian Ryan dan keluarganya pun sampai di rumah Qilla.


Ryan mengetuk pintu rumah tersebut dan pintu pun terbuka yang membuka kali ini adalah asisten rumah tangga di rumah Qilla, "Silahkan masuk tuan, nyonya," ucapnya.


Ryan dan keluarganya pun masuk ke dalam rumah tersebut dan sangat disayangkan mereka tidak mendapat sambutan baik dari mama Qilla. Bagaimana tidak, mama Qilla saat ini dengan santainya duduk di sofa ruang tamu dengan memakan cemilan.


"Oh udah datang ya, yaudah langsung aja kapan mau nikahnya?" tanya mama Qilla.


"Bisa panggilkan Qilla nya dulu Bu," ucap mama Ryan.


"Bi, panggilin Qilla," ucap mama Qilla dan diangguki asisten rumah tangga tersebut.


Beberapa saat kemudian, Qilla pun turun dengan cantiknya menggunakan dress berwarna biru, "Cantik banget calon menantu mama ini," ucap mama Ryan.


"Padahal biasa aja gitu, cantik darimananya coba," gumam mama Qilla dan masih dapat di dengar oleh orang yang ada di sana.


"Kamu cantik kok sayang," ucap mama Ryan dan Qilla pun tersenyum mendengarnya.


Mama Ryan benar-benar tidak percaya dengan Mama Qilla yang bersikap seperti itu bahkan saat Ryan menceritakan semuanya saja mama Ryan sudah geram dan pengen nabok lah ini malah seperti ini sikapnya, tapi bagaimana lagi mama Ryan tidak akan melakukannya karen apa takut Ryan akan di tolak dan sepertinya mama Ryan harus memiliki ekstra kesabaran dalam menghadapi mama Qilla.


"Udahlah mending bahas ini karena saya gak punya banyak waktu, saya ini orang sibuk," ucap mama Qilla.


Akhirnya mereka pun membahas mengenai pernikahan Qilla dan keputusan akhir mereka akan menikah tahun depan lebih tepatnya 4 bulan lagi. Sebenarnya Ryan ingin segera menikah dengan Qilla secepatnya, tapi hal itu tidak dapat dilakukan karena Qilla ingin menikah dengan wali ayahnya sebab itu Ryan harus berusaha terlebih dahulu untuk menemukan keberadaan ayah dari Qilla dan jika dalam waktu 4 bulan tersebut Ryan tidak dapat menemukan keberadaan ayah Qilla maka pernikahan akan tetap dilaksanakan dengan wali Jeffry.


"Aku akan cari papa kamu secepatnya," ucap Ryan dan diangguki Qilla.


"Makasih karena udah mau menerima segala kekuranganku," ucap Qilla.


"Sama-sama," ucap Ryan.


"Halah lebay, udah ya saya mau pergi masih banyak yang harus saya urus," ucap mama Qilla.


Semua orang yang ada di sana hanya mampu menatap punggung mama Qilla dengan menggelengkan kepalanya. Sedangkan, Qilla hanya mampu menahan malu dengan tindakan mama Qilla di depan keluarga Ryan.


"Maafin sikap mama saya ya tante," ucap Qilla, yang benar-benar merasa tidak enak.

__ADS_1


"Gapapa sayang, tante paham kok," ucap mama Ryan.


"Oh iya, Jeffry gak dateng ya?" tanya Qilla.


"Jeffry sama Rendy ponakanku, mereka ada di luar. Jeffry gak mau diajak masuk ke dalam tadi," ucap Ryan dan diangguki Qilla.


"Yaudah kalau gitu, kami sekeluarga pamit ya, tolong sampaikan salam ke mama kamu," ucap papa Ryan.


"Iya, om," ucap Qilla.


"Ryan di sini dulu ya ma, nanti kalau udah selesai urusannya Ryan bakal pulang kok," ucap Ryan.


"Yaudah ,tapi kamu jangan macam-macam loh ya awas aja kalau tiba-tiba mama dapat kabar bakal punya cucu," ucap mama Ryan.


"Siap ma," ucap Ryan.


Keluarga Ryan pun sudah pergi dari rumah Qilla begitupun dengan Jeffry yang tadi sempat berpamitan pada Qilla tentunya, "Mama kamu masih lama ya di dalam?" tanya Ryan.


"Ini saya udah ada di sini, sekarang mana uangnya?" tanya mama Qilla, yang baru saja datang ke ruang tamu dengan pakaian mewahnya.


"Mama mau kemana?" tanya Qilla.


"Iya, tante saya ingat kok. Ini uangnya," ucap Ryan dan menaruh paper bag berisi uang di atas meja. Ryan memang menaruh uang tersebut di dalam paper bag karena suruhan mama minta Qilla padahal Ryan ingin mentransfer uang tersebut, tapi mamanya Qilla menolaknya.


"Bagus, kalau begitu kamu mama restui," ucap mama Qilla dan mengambil uang tersebut lalu masuk ke dalam kamarnya dan beberapa saat kemudian mama Qilla kembali keluar kamar.


"Kamu gak pergi? kamu kan udah gak tinggal di sini?" tanya mama Qilla, lalu pergi meninggalkan Ryan dan Qilla yang berada di ruang tamu.


"Maafin mama aku ya, aku malu banget dengan kelakuan mamaku," ucap Qilla.


"Kamu udah sering banget minta maaf soal mama kamu sampe bosen aku, kamu harus tahu kalau aku gak pernah mempermasalahkan sikap mama kamu yang penting di sini itu kamunya," ucap Ryan.


"Tapi, tetep aja aku ngerasa gak enak," ucap Qilla.


"Aku denger dari dokter Rea dan dokter Nina kalau kamu itu orangnya malu-maluin, tapi kok aku gak pernah ya ngelihat kamu yang malu-maluin," ucap Ryan.


"Iyalah, udah gila kali aku kayak gitu di depan calon suami, kalau aku malu-maluin kayak gitu yang ada aku jomblo lagi," ucap Qilla.

__ADS_1


"Gak kok, aku bakal tetep sama kamu apapun itu keadaannya," ucap Ryan.


"Biasanya kan orang-orang kalau kamu ngomong gitu pasti mereka bakal baper, tapi aku kok gak ya," ucap Qilla.


"Belum aja, nanti kalau kita udah nikah aku bakal buat kamu baper se-bapernya," ucap Ryan.


"Halah." Qilla hanya memutar bola matanya malas dengan perkataan Ryan.


"Tapi, aku seneng deh kamu ngakuin aku sebagai calon suami," ucap Ryan.


"Kan emang iya, yaudah kalau gitu aku gak anggap lagi," ucap Qilla.


"Eh, jangan dong padahal tadi udah seneng loh," ucap Ryan.


"Kamu gak pergi?" tanya Qilla.


"Kamu ngusir aku?" tanya Ryan.


"Ya gitu deh, aku itu cuma gak mau kamu di sini karena di sini cuma ada kita berdua," ucap Qilla.


"Yaudah, kalau gitu aku pulang dulu ya," ucap Ryan dan diangguki Qilla.


Setelah kepergian Ryan, Qilla pun masuk ke dalam kamarnya dan menatap foto yang terpajang indah di kamarnya, "Papa, Qilla sekarang udah punya pasangan. Dulu kata papa kalau Qilla mau nikah papa akan sidang dulu calonnya, sekarang papa dimana kok gak mau sidang calon suaminya Qilla sih, papa sayang hak sih sama Qilla sama Jeffry, harusnya papa juga bawa Qilla sama Jeffry. Sekarang pasti papa bahagia ya sama kak Satria. Papa tau gak, Qilla iri banget sama sahabat Qilla yang punya keluarga bahagia, Qilla juga pernah sih ngerasain gimana keluarga bahagia, tapi sekarang Qilla lupa gimana rasanya. Kalau Qilla boleh milih lebih baik Qilla lupa ingatan biar rasa sakitnya gak kayak gini, hiks ... hiks," gumam Qilla, yang akhirnya tidak dapat menahan tangisannya.


Setelah itu, Qilla pun memutuskan untuk membersihkan dirinya dan bersiap untuk ke rumah Nina karena memang Qilla sudah tidak tinggal di sini meskipun barang-barang Qilla ada di sini, beberapa saat kemudian Qilla pun selesai membersihkan dirinya dan ia keluar dari kamarnya lalu melihat Bi Arum yang merupakan asisten rumah tangga di rumah ini, Bi Arum sudah bekerja sejak Qilla kecil sehingga Qilla akrab dengan Bi Arum.


"Bi, Qilla pergi dulu ya," pamit Qilla.


"Hati-hati ya nak Qilla," ucap Bi Arum dan diangguki Qilla.


Qilla pun benar-benar pergi dari rumah yang memiliki kenangan bersama papa dan kakaknya dulu, "Semoga mama bisa jadi lebih baik, Qilla sayang banget sama mama," gumam Qilla dan pergi.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2