
Saat ini Rea baru saja selesai menyusui putrinya, sejak tadi baby Lea terus menangis padahal saat ini sudah jam 1 dini hari. Untung saja Rea memiliki suami yang begitu perhatian padanya, saat baby Lea menangis dengan cekatan Alan menggendong baby Lea dan memberikannya pada Rea bahkan setelah tenang Alan pun menggendong baby Lea hingga baby Lea tidur dan barulah Alan menaruhnya di box bayi.
Sebenarnya Alan sendiri tadi memang terbangun karena tangisan kencang putrinya dan saat ia membuka matanya, ia justru melihat Rea yang akan turun dari ranjang untuk mengambil anaknya dan tentu saja hal itu membuat Alan terkejut, Alan dengan cepat langsung menghampiri putrinya dan membawanya ke Rea sehingga Rea tidak perlu turun.
"Baby-nya udah tidur, sekarang kamu tidur ya," ucap Alan.
"Maaf ya, jadi ganggu kamu tidur," ucap Rea.
"Gapapa sayang, itu udah kewajiban aku," ucap Alan.
Rea pun mulai memejamkan matanya dan Alan kembali ke sofa yang ada di ruang rawat inap tersebut lalu Alan pun mengistirahatkan tubuhnya. Ya, Alan tadi memang tidur di sofa karena Rea yang memaksa, Rea tidak mau suaminya itu sakit karena tidur dengan posisi duduk.
Pagi harinya, baby Lea sudah di mandi tentunya Rea yang memandikannya dan dengan bantuan mama Dira dan bunda Nara, selama di rumah sakit Rea benar-benar tidak diperbolehkan turun dari bangsal, tapi untung saja tadi dokter Karin datang dan mengatakan jika kondisi Rea sudah membaik dan sangat di sarankan untuk bergerak, tapi tidak terlalu aktif gerakannya. Karena ucapan dokter Karin tadi barulah Rea bisa turun dari bangsal dengan bantuan Alan tentunya bahkan selama memandikan baby Lea, Alan selalu berada di belakang Rea, ia takut tiba-rea tidak seimbang dan terjatuh. Lebay bukan, pikir Rea.
"Udah cantik ya cucu oma," ucap mama Dira.
"Kamu kapan mau pulang?" tanya papa Aldi.
"Mungkin besok bisa pulang, pa. Tadi dokter Karin juga udah bilang kalau Rea mulai membaik dan bisa pulang," ucap Alan dan diangguki papa Aldi.
"Kamu mau tinggal dimana setelah ini? gak mungkin kan kalau Rea tinggal di rumah kamu?" tanya mama Dira.
"Kayaknya Alan bakal tinggal di rumah bunda sama ayah, kan semingu lagi papa sama Mama bakal ke Norwegia kan buat bisnis," ucap Alan.
"Iya, papa setuju. Takutnya nanti kalau di rumah juga gak ada yang bantu Rea," ucap papa Aldi.
"Nanti Dea tinggal sama kita aja pa," ucap Rea.
"Apa gak ngerepotin? nanti biar papa titipkan Dea ke kerabat papa," tanya papa Aldi.
"Gak kok, pa. Rea malah seneng kalau di rumah banyak orang, sekalian bantu Rea," ucap Rea.
"Iya bener kata Rea, lagian saya tidak masalah jika rumah saya tambah orang," ucap ayah Argi.
"Masih sakit gak bawah kamu?" tanya mama Dira.
"Masih ma, tapi gak terlalu kok mungkin kurang nyaman aja," ucap Rea.
"Terus kalau *********** gimana?" tanya mama Dira.
"Masih, apalagi kalau lagi nyusui kadang nyeri gitu," ucap Rea.
"Iya, sampe kemarin malam Rea nangis karena nyusui baby-nya, gak tega Alan lihatnya," ucap Alan.
__ADS_1
"Sabar, Re. Kakak dulu juga gitu kok, nanti kamu kelamaan kalau udah biasa pasti mulai gak nyeri kok," ucap kak Inez dan diangguki Rea.
"Kaif mana kak kok Rea gak lihat dia?" tanya Rea.
"Kaif lagi diajak jalan-jalan sama Gia, soalnya daritadi nangis terus," ucap kak Inez.
"Kalau kak Ray kemana?" tanya Rea.
"Kak Ray lagi ada kerjaan dan hari ini gak ke sini," ucap kak Inez.
"Rea!" panggil Qilla, yang baru saja datang bersama Nina dan Sivia.
"Kalian kok ke sini? emang kalian gak ada kerjaan ya?" tanya Rea.
"Ada dong, tapi kita kan pengen ketemu sama baby Lea," ucap Nina.
"He'em bener, eh lo tahu berita yang lagi heboh gak?" tanya Qilla.
"Berita? berita apa?" tanya Rea.
"Nina bakal dilamar sama Nando Minggu depan," ucap Sivia.
"Hah! lo beneran sama dokter Nando?" tanya Rea dan diangguki Qilla.
"Makasih tante," ucap Nina.
"Papa kamu setuju sama pasangan kamu itu? setau om ayah kamu itu selektif milih pasangan buat kamu?" tanya ayah Argi.
"Papa udah setuju om, bahkan ternyata Nando jadi mualaf juga bantuan dari papa," ucap Nina.
"Baguslah kalau memang papa kamu setuju," ucap ayah Argi.
"Akhirnya ya tim kita udah ada pasangannya semuanya," ucap Qilla.
"Tau padahal dulu tante kenal kalian waktu kalian masih sekolah, eh sekarang udah punya pasangan masing-masing ternyata," ucap tante Qilla.
"Iya, tan. Tapi, untung kita nikahnya gak terlalu jauh waktunya," ucap Qilla.
"Gue pengen gendong baby Lea dong," ucap Sivia.
"Ini kamu gendong baby Lea nya," ucap mama Dira.
"Lucu kali ya kalau anak gue kayak baby Lea cantik banget," ucap Sivia.
__ADS_1
"Lucu lah," ucap Alvin, yang datang dan berada di samping Sivia.
"Nanti kalau anak gue cowok gue jodohin sama anak lo ya," ucap Sivia.
"Eh, gak bisa dong, anaknya Alan udah gue jodohin sama anak gue nanti," ucap Ryan.
"Apa sih, anak gue mau gue jodohin sama orang lain dan bukan anak-anak kalian," ucap Alan.
"Lo mah gitu," ucap Ryan.
"Oh iya, perlengkapan baby Lea udah disiapin di rumah," ucap bunda Nara dan diangguki Rea.
"Makasih ya bunda," ucap Rea.
"Iya, banyak yang ngasih hadiah buat baby Lea, sampe hampir penuh kamar kamu, hadiahnya belum bunda buka, nanti aja kamu buka sendiri," ucap bunda Nara.
Memang banyak kerabat Rea yang memberikan hadiah untuk kelahiran baby Lea, sampai di ruang rawat inap Rea penuh dan dibawa pulang oleh bunda Nara dan ayah Argi agar tidak mengganggu Rea.
Beberapa saat kemudian, semua orang pun sudah pergi dari ruang rawa inap dan saat ini hanya tinggal Rea, Alan dan jangan lupakan putri cantik mereka berdua yaitu baby Lea yang saat ini sudah tidur di box bayi.
"Sekarang kamu bisa cerita kenapa kamu bisa mengalami benturan di perut?" tanya Alan.
Setelah kurang lebih 3 hari di rawat, Alan batu menanyakannya karena tidak ingin menambah beban pikiran Rea. Namun, setelah melihat Rea yang semakin membaik barulah Alan bertanya hal tersebut pada Rea. Rea sendiri tentunya terkejut dengan pertanyaan Alan, ia kira Alan tidak akan menanyakannya karena sudah lebih dari 3 hari.
Rea yang ditatap pun nyalinya semakin menciut dan mulai menceritakan semuanya dimana saat ia tidak sengaja melewati polisi tidur dengan kecepatan tinggi dan tentunya selama bercerita Rea dapat melihat perubahan raut wajah Alan yang membuat Rea takut, "Maaf," lirih Rea, setelah menceritakan semuanya.
"Huh, lain kali kalau ada yang bicara jangan dipotong sembarangan ya, kan jadi kayak gini," ucap Alan, yang mencoba menahan amarahnya ada Rea.
"Iya, maaf," ucap Rea.
"Iya, aku maafin. Untung gak terjadi apa-apa sama kamu dan baby-nya, walaupun gitu aku tetep khawatir karena kecerobohan kamu sampe kayak gini," ucap Alan.
"Iya, aku salah, tapi akan aku sama baby gapapa," ucap Rea.
"Iya. Yaudah, sekarang kamu istirahat ya biar besok kita bisa pulang kan kamu mau pulang besok," ucap Alan.
"Iya, aku udah bosen di rumah sakit, kalau nunggu 2 hari gak bisa aku," ucap Rea dan diangguki Alan.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.