Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Satu tahun sudah berlalu dan saat ini adalah hari pernikahan Nando dan Nina, setelah perjalanan panjang kisah cinta mereka serta rintangan yang dihadapi keduanya apalagi karena Nando menjadi mualaf sehingga makin banyak hal yang harus mereka selesaikan terutama di jalur militer dan juga setelah keputusan tidak terduga yang terjadi meksipun begitu semuanya sudah terlewati sehingga akhirnya mereka menikah hari ini. Akad telah di laksanakan tadi pagi dan saat ini akan di lakukan resepsi di salah satu hotel di kota.


"Selamat ya aunty," ucap Rea, dengan menirukan suara anak kecil.


"Makasih ya cantiknya aunty," ucap Nina dan mengecup pipi anak kecil yang tak lain adalah baby Lea.


Baby Lea terus saja mengoceh tidak jelas di gendongan Rea, saat ini usia baby Lea sudah 1 tahun dan baby Lea semakin hari semakin aktif saja. "Anak lo kok gemesin gini si, Re," ucap Nina dan tak henti-hentinya mengecup pipi baby Lea.


"Iya dong, anak gue gituloh, jangan cium terus nanti nangis lagi anak gue," ucap Rea.


"Huh, dasar lo ya," ucap Nina.


"Qilla sama Sivia udah dateng belum?" tanya Rea.


"Kalau Sivia udah dateng tadi, kalau Qilla gak tahu kayaknya belum deh, mungkin lagi ngurus anaknya. Lo kan tau kalau anaknya masih kecil baru juga 2 bulan jadi agak susah di tinggal," ucap Nina dan diangguki Rea.


Ya, Ryan dan Qilla sudah memiliki anak yang baru berusia 2 bulan, anak mereka yang berjenis kelamin perempuan yang diberi nama Erika Miranda Rendra.


"Kalau gitu gue ke Sivia deh, sekali lagi selamat ya buat kalian berdua, setelah banyak rintangan yang kalian berdua hadapi akhirnya lo bisa bareng sama dokter Nando," ucap Rea.


"Makasih ya dokter Rea," ucap Nina.


Alan pun yang berbicara dengan Nando segera berpamitan setelah istrinya mengatakan akan ke Sivia, lagi pula masih banyak tamu yang ingin menyalami Nina dan Nando. Rea turun dari pelaminan tentunya dengan bantuan Alan, "Baby Lea nya biar aku yang gendong aja kalau kamu kesusahan," ucap Alan.


"Iya deh, kamu gendong aja. Baby Lea udah lumayan berat ya, aku sampe ngos-ngosan gendongnya," ucap Rea.


"Gitu tadi maksa buat gendong baby Lea, kan sekarang kamunya sendiri yang capek," ucap Alan.


"Hehehe, kan aku udah lama gak gendong baby Lea kalau keluar rumah kayaknya gak pernah deh makanya aku seneng banget tadi," ucap Rea.


Alan dan Rea pun menghampiri Sivia dan Alvin, "Loh kalian gak bawa Kyra?" tanya Rea.


"Gak, tadi dia nangis terus pas mau di awal eh ternyata dia malah tidur yaudah gak gue bawa, jadinya sama mama aja," ucap Sivia.

__ADS_1


Alvin dan Sivia juga sudah memiliki anak yang baru saat ini berusia 4 bulan yang bernama Kyra Natya Ardana, sebenarnya saat Rea hamil besar ternyata Sivia juga tengah hamil. Namun, sayang Sivia harus melahirkan anaknya secara prematur karena cairan infeksi ketuban, meskipun begitu anak mereka baik-baik saja sampai sekarang.


"Ryan belum dateng?" tanya Alvin.


"Belum, kayaknya anaknya lagi rewel deh," ucap Alan dan diangguki Alvin.


Beberapa saat kemudian, datanglah Ryan dan Qilla, "Kemana aja lo lama banget?" tanya Sivia.


"Sorry, tadi Erika rewel banget padahal udah gue susui, tapi tetep aja nangis terus," ucap Qilla.


"Sekarang Erika sama mamanya sersan Ryan?" tanya Rea.


"Iya, gue gak tega kalau mau bawa anak gue. Mana masih 2 bulan lagi," ucap Qilla.


"Lo udah ke Nina belum?" tanya Sivia.


"Udah dong, tadi gue ke sana kok," ucap Qilla.


"Eh iya, gimana sama adik lo? dia di Spanyol gak bikin masalah kan?" tanya Rea.


Ya, saat ini Jeffry berada di Spanyol itu melanjutkan sekolah sepakbola, sebenarnya Jeffry sudah di daftarkan untuk masuk ke sekolah militer, tapi sayang seribu sayang Jeffry menolak bahkan memohon pada Qilla karena ia ingin menjadi pemain sepakbola profesional lagipula Qilla sekarang Qilla sudah memiliki pasangan dan teringat bisa menjaga Qilla bukan, pikir Jeffry.


"Mas, mau jus jeruk dong, kayaknya enak deh," ucap Rea.


"Yaudah, kamu tunggu di sini ya," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Tumben lo suka jus jeruk?" tanya Qilla.


"Gak tau tiba-tiba pengen aja, mungkin karena warnanya yang menarik," ucap Rea.


Mereka pun larut dalam perayaan mewah pernikahan Nando dan Nina, bagaimana tidak hampir seluruh tamu adalah orang penting karena memang keluarga Nando dan juga keluarga Nina yang termasuk keluarga terpandang jadi tidak heran bukan kalau tamu mereka berkelas semuanya. Ngomong-ngomong untuk Nando sekarang ini dia sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan tugasnya di dunia kedokteran militer, ia lebih memilih untuk menjadi dokter di rumah sakit milik keluarganya dan nantinya akan menjadi miliknya yaitu Daiva General Hospital.


Awalnya Rea dan Qilla terkejut karena ternyata Nando adalah pewaris rumah sakit tersebut, bukan hanya mereka berdua, tapi juga Nina karena tidak menyangka akan menikah dengan pewaris rumah sakit yang ia tempati saat ini. Memang tidak ada yang tau siapa pemilik rumah sakit tersebut bahkan mereka sering mengira jika pemilik rumah sakit tersebut adalah profesor Darren. Namun, ternyata profesor Darren adalah keponakan dari ayah Nando.

__ADS_1


Baik Rea maupun Qilla merasa Nina sangat beruntung dari segi apapun mulai dari kebutuhan hidup yang selalu terpenuhi bahan keluarga yang harmonis. Mereka berdua tidak pernah melihat bagaimana susahnya hidup Nina karena memang hidup Nina tidak pernah susah karena ia berasal dari keluarga yang berkecukupan bahkan sangat berkecukupan dan ditambah ia menikah dengan anak tunggal kaya raya.


"Kapan gue kayak Nina, lihat banyak banget dah pengawalnya," ucap Qilla, saat melihat pelaminan dimana di sekeliling pelaminan berjajar para pengawal.


"Iya ya, Nina hidupnya enak banget. Kayaknya nian gak pernah ngerasain kehujanan deh," ucap Rea.


"Masa gak pernah, ya pasti pernah lah cuma kita aja yang gak tau," ucap Sivia.


"Kita ini ya kalau gosip kenceng bener," ucap Qilla dan membuat tawa Rea dan Sivia.


Saat hari semakin gelap, Alan dan Rea pun memutuskan untuk pulang karena baby Lea juga sudah terlelap di gendongan Rea tadi setelah menyusui, Alan dan Rea tentunya sudah pamit pada Nando dan Nina, saat ini mereka berdua baru saja keluar dari ballroom dan menuju lobby hotel tempat resepsi.


"Kamu tunggu di lobby ya, aku mau ambil mobil dulu," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Iya, jangan lama-lama ya," ucap Rea.


Setelah itu Rea pun menunggu Alan di lobby dengan duduk di sofa yang ada di sana dan tak lupa ia juga menimang-nimang baby Lea yang bergerak, hingga tiba-tiba ia mendengar suara seorang perempuan yang memanggilnya dan tentunya gak itu membuat Rea mendongak dan menatap orang tersebut.


"Dokter Rea," panggil orang tersebut. Rea yang melihat orang tersebut pun terkejut.


"Fafi," panggil Rea, dengan nada tidak percaya.


Lebih dari 1 tahun ia tidak bertemu dengan Fafi dan sekarang ia bertemu dengan Fafi di sini, ia tidak tau harus bagaimana karena berhadapan dengan Fafi saat ini. Setelah sekian lama tidak bertemu hal itu membuat keduanya canggung.


"Dokter Rea apa kabar?" tanya Fafi, dengan tersenyum manis.


"Baik, kamu sendiri gimana?" tanya Rea, ia mencoba untuk bersikap biasa saja walau sebenarnya ia sangat canggung. Begitupun dengan Fafi yang merasa di situasi canggung.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2