
Tak terasa sudah sebulan lebih semenjak Rea pulang menjadi relawan dan selama itu juga kedua sahabatnya yaitu Qilla dan Nina masih berada di sana bahkan ada perpanjangan hingga satu bulan karena cukup banyak warga yang membutuhkan mereka.
Rea saat ini berada di lobby rumah sakit dengan beberapa dokter lainnya, "Direktur Bagas beneran mau nikah sama dokter Shinta ya?" tanya Dokter Putri.
"Katanya sih iya dok," ucap Fafi.
"Padahal dokter Andi Kasihan loh soalnya akhir-akhir ini dokter Andi kayak sedih gitu," ucap dokter Tata.
"Oh iya, kalian tahu gak katanya di tempat pengungsian itu banyak yang mengalami luka soalnya katanya ada penyusup gitu," ucap dokter Putri.
"Semoga semua orang di sana tidak kenapa-napa ya," ucap Fafi.
"Semoga saja," ucap dokter Tata.
Saat mereka sedang asik mengobrol tiba-tiba datang direktur Bagas, semenjak kejadian waktu itu Rea benar-benar tidak memiliki rasa hormat pada direktur Bagas bahkan Rea seiring mengabaikan panggilan atau ucapan direktur Bagas.
"Ikut saya," ucap direktur Bagas tepat di hadapan Rea.
Rea hanya menatap jengah pada direktur Bagas yang terus saja mengajak berbicara, "Apa yang direktur Bagas ingin katakan? lebih baik katakan sekarang saja," tanya Rea.
"Baik, kalau kamu mau saya katakan sekarang," ucap direktur Bagas.
"Nanti malam kamu akan berangkat dengan dua dokter dari rumah sakit Citra Lestari dan ruang sakit Ambarita," lanjut direktur Bagas.
Rea menatap tajam ke arah direktur Bagas, "Kenapa harus saya? saya gak mau ya lebih baik dokter Bagas cari dokter lain saja, apa rumah sakit kekurangan dokter sampai harus saya yang dipilih? oh atau direktur Bagas masih dendam sama saya karena saya menggagalkan rencana direktur Bagas sayang ingin melecehkan sahabat ya?" tanya Rea, dengan suara yang cukup lantang dan membuat semua orang yang ada di sana terkejut mendengar pernyataan Rea.
Setelah Rea mengatakan hal tersebut tentunya direktur Bagas menjadi perbincangan seluruh rumah sakit, bahkan banyak orang yang secara terang-terangan memandang rendah direktur Bagas. Rea tentunya tidak peduli bahkan Rea sangat suka karena banyak yang tidak suka dengan direktur Bagas.
"Tutup mulut kamu!" bentak direktur Bagas.
"Jadi benar karena itu, cih. Dasar pengecut," ucap Rea.
"Saat memilih dokter Rea karena memang anda salah satu dokter bedah terbaik dan di sana banyak yang membutuhkan dokter bedah, sebab itu dokter Andi merekomendasikan Anda dokter Rea," ucap direktur Bagas.
Malu, itulah yang Rea rasakan. Sudah terlanjur percaya diri, tapi justru percaya dirinya salah. Namun, dengan tetap percaya dirinya Rea menatap tajam direktur Bagas, "Saya tidak mau," ucap Rea.
"Oke, kalau memang dokter Rea tidak aku maka saya akan menolak surat pemindahan pasien dari dokter Andi dan akan mengganti dokter Rea sebagai dokter pribadinya," ucap direktur Bagas.
__ADS_1
Rea tentuanya tidak terima akan hal itu, dengan susah payah ia berhasil keluar dari drama mantan pasiennya itu, tapi apa ia justru harus kembali berhadapan dengan mantan pasiennya itu. Dengan berat hati akhirnya Rea pun mau untuk kembali ke tempat pengungsian.
"Iya iya saya mau, nanti malam kan kalau begitu saya permisi untuk siap-siap," ucap Rea.
Setelah izin, Rea pun memutuskan untuk pulang karena ia harus segera membereskan barang-barangnya untuk dibawa ke tempat pengungsian.
"Kamu mau kemana kok bawa koper gitu?" tanya Bunda Nara.
"Eh Bunda, ini Rea di suruh ikut jadi relawan lagi, jadi mau gak mau Rea harus ke sana," ucap Rea.
"Kapan kamu ke sananya?" tanya Bunda Nara.
"Nanti malam Bunda," ucap Rea.
"Loh, kok dadakan gitu," ucap Bunda Nara.
"Rea juga gak tahu Bunda, Rea aja batu di kabarin tadi siang," ucap Rea.
"Yaudah, kalau gitu kamu siap-siap aja dulu nanti biar Ayah kmu yang anterin," ucap Bunda Nara dan diangguki Rea.
Beberapa jam setelah Rea pun selesai bersiap dan segera masuk ke dalam mobil Ayah Argi, "Gak ada yang ketinggalan?" tanya Ayah Argi.
Ayah Argi pun mengendarai mobilnya menuju Daiva General Hospital karena memang kendaraan yang akan ia dan para relawan lain gunakan berada di Daiva General Hospital. Hingga beberapa saat kemudian, Rea pun sampai di Daiva General Hospital dan di sana sudah ada beberapa relawan dari rumah sakit Citra Lestari dan rumah sakit Ambarita.
"Loh, Fafi kamu kok ada di sini?" tanya Rea.
"Iya, dokter Rea. Tadi direktur Bagas juga nyuruh saya untuk ikut," ucap Fafi.
"Kapan direktur Bagas nyuruh kamu?" tanya Rea.
"Setelah dokter Rea keluar dari ruangan," ucap Fafi dan diangguki Rea.
Setelah menunggu 20 menit akhirnya Rea dan beberapa relawan lainnya pun masuk ke dalam mobil. Ya, untuk pemberangkatan kali ini mereka menggunakan mobil dan bukan bus karena para relawan yang sedikit.
"Ehm, dokter Rea. Yang dokter Rea bilang soal pelecahan direktur Bagas itu beneran ya?" tanya Fafi.
"Ya, gitu deh. Tapi, saya gak bisa bilang secara gamblang karena ini menyangkut nama baik seseorang," ucap Rea dan diangguki Fafi.
__ADS_1
"Saya gak nyangka kalau direktur Bagas kayak gitu, padahal direktur Bagas salah satu orang yang memiliki citra baik di rumah sakit loh," ucap Fafi.
Dalam perjalanan Rea tidak menyangka Jiak ia lama kembali ke tempat yang membuatnya tidak nyaman terutama karena kapten Alan, entahlah tiba-tiba Rea teringat kembali bagaimana sikap kapten Alan.
Untuk perjalanan kali ini Rea sedikit tidak bosan karena ada Fafi yang bisa ia ajak bicara hingga mereka berdua terlelap dan tanpa terasa perjalanan panjang yang mereka lalui pun selesai, saat ini mobil telah terparkir rapi di lapangan.
"Dokter Rea, bangun kita udah nyampe," ucap Fafi.
Rea pun membuka matanya, "Kita udah sampe?" tanya Rea dan diangguki Fafi.
Fafi pun keluar dari dalam mobil dan begitu dengan Rea, "Wah, bagus banget pemandangan di sini," ucap Fafi.
Baru saja Rea akan merespon perkataan Fafi tiba-tiba dua orang perempuan berteriak dan berlari menghampirinya, "Rea!" teriak dua perempuan tersebut.
Siapa lagi kalau bukan Qilla dan Nina, mereka berdua langsung memeluk Rea dan untungnya Rea bisa menyeimbangkan tubuhnya, "Kita kangen banget tahu gak sama lo," ucap Qilla.
"Lepas deh, gue gak bisa napas tahu," ucap Rea.
Qilla dan Nina pun melepas pelukan tersebut dan mereka beralih memeluk Fafi, "Kenapa lo makin cantik aja sih, Fi?" tanya Qilla.
"Makasih dokter," ucap Fafi.
"Yaudah, kalau gitu ayo kita ke kamp," ajak Nina.
Rea dan Fafi pun akhirnya menuju kamp tempat mereka akan tinggal, "Gue di sini lagi?" tanya Rea.
"Iya, soalnya gak ada yang mau pindah dari kampnya yaudah deh jadinya gue sama Nina doang yang di sini nah karena ada kalian berdua jadinya kalian bakal di kamp ini," ucap Qilla dan diangguki Rea.
Setelah membereskan barang-barangnya Rea memutuskan untuk menuju tempat pengungsian bersama Fafi dan Qilla. Sedangkan, Nina saat ini sudah berada di sana terlebih dahulu.
Sesampainya di sana hampir semua orang yang ada di sana memandang Rea dan juga Fafi dengan tatapan kagum dan terpesona, bagaimana tidak keduanya memiliki wajah yang rupawan bahkan di Daiva General Hospital mereka berdua termasuk ke dalam ratu kecantikan di rumah sakit tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.