
Rea saat ini sudah berada di rumah setelah tadi ia membeli barang yang sejak kemarin ia butuhkan, Rea pun masuk ke dalam kamar mandi dan menggunakan barang tersebut hingga beberapa saat kemudian Rea keluar dari kamar mandi dengan mata sembab bahkan Rea masih menangis dan menghampiri baby Lea.
"Sayang," panggil Rea dan memeluk baby Lea.
Setelah itu, Rea pun pergi ke suatu tempat untuk memastikan apakah benar hasil dari benda tersebut.
Malam harinya Rea sudah menyiapkan makan malam dan menyiapkan kejutan untuk Alan, Rea terus menunggu Alan hingga beberapa saat kemudian Alan pun pulang dan masuk ke dalam rumah. Namun, saat masuk ke dalam rumah Alan mengerutkan keningnya karena lampu ruang tamu mati dan Alan pun menyalakannya dan ia cukup heran karena tidak ada sang istri dan sang anak yang biasanya menunggunya pulang.
"Sayang," panggil Alan, tapi tetap tidak ada jawaban.
"Sayang," panggil Alan lagi.
"Surprise!" teriak Rea dari belakang Alan dan dengan baby Lea yang berada di gendongannya tak lupa Rea juga membawa kue untuk Alan.
"Selamat ulangtahun suamiku tercinta," ucap Rea.
Bukannya menjawab Alan hanya menatap Rea, "Kenapa?" tanya Rea.
"Kamu bikin aku khawatir tau gak," ucap Alan.
"Hehehe, kan mau ngasih surprise buat mas Alan," ucap Rea dan menghampiri Alan.
Alan pun mengambil alih baby Lea dan meniup lilin yang ada di kue tersebut, "Mas sampe lupa kalau hari ini ulangtahun mas," ucap Alan.
"Kalau gitu mas bersih-bersih dulu ya terus makan malam," ucap Rea dan diangguki Alan.
Setelah Alan membersihkan dirinya mereka pun makan malam bersama dan setelah itu duduk di ruang tamu saling mengobrol, "Oh iya, aku ada hadiah untuk mas Alan," ucap Rea.
"Hadiah? kamu gak perlu ngasih hadiah loh. Dengan adanya kamu dan baby Lea di sini ada untuk aku pun itu udah hadiah terbesar dan terbaik untuk aku," ucap Alan.
"Iya aku tau, tapi ini emang hadiah yang harus aku kasih ke kamu," ucap Rea.
"Apa?" tanya Alan.
"Ini, kamu buka," ucap Rea dan memberikan sebuah kotak kecil pada Alan.
Alan pun membuka kotak tersebut dan betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang ada di dalam sana, "Sayang, ka-kamu hamil?" tanya Alan.
"Iya, aku hamil mas," ucap Rea, dengan antusias.
Benar sekali, Rea tadi pagi membeli testpack dan setelah melihat dua garis Rea pun ingin memastikannya secara langsung ke rumah sakit agar ia dapat memberikan kejutan ini pada Alan, "Kok bisa?" tanya Alan.
"Ya, bisa lah kan kita sering berhubungan," ucap Rea.
"Tapikan, mas selalu pake pengaman," ucap Alan.
"Ish, mas lupa yang terakhir kali mas gak pake pengaman," ucap Rea.
"Astaga mas lupa," ucap Alan.
__ADS_1
"Mas gak suka kalau Rea hamil lagi?" tanya Rea, karena tidak melihat raut bahagia dari Alan.
"Mas senang sangat senang bahkan mas sangat bersyukur karena Tuhan begitu baik memberikan mas keturunan lagi, tapi mas takut kamu kesakitan kayak dulu," ucap Alan.
"Mas gak perlu takut, kata mama kalau udah pernah lahir normal insyaallah lahiran keduanya bakal lancar," ucap Rea.
"Tapi, mas tetep takut sayang. Mas gak tega," ucap Alan.
"Terus ini baby-nya yang di perut gimana? mau di gugurin aja?" tanya Rea, ia tidak akan rela anak yang saat ini di kandungannya harus digugurkan, tapi ia hanya ingin melihat bagaimana respon Alan.
"Mas memang tidak berharap kamu hamil lagi, tapi karena sudah terlanjur, jadi kita harus tetap pertahankan dia dan memberikannya kasih sayang bukan. Mas tidak kan pernah mau menghilangkan nyawa yang tidak berdosa ini," ucap Alan dan mengusap lembut perut Rea.
"Jadi, mas mau terima baby-nya?" tanya Rea.
"Pasti sayang, dia kan juga anak mas, hasil benih mas juga, ucap Alan.
"Makasih mas," ucap Rea dan memeluk Alan, begitupun Alan yang membalas pelukan tersebut.
"Oh iya, berapa usia baby-nya?" tanya Alan.
"Usianya 7 Minggu," ucap Rea.
"Kalau begitu mulia sekarang aku harus kurangi pekerjaan kamu, apa kita tinggal di rumah mama atau bunda biar kamu gak kecapean?" tanya Alan.
"Gak sudah mas, aku di rumah ini aja. Lagian kan ada Bi Tia yang beres-beres rumah," ucap Rea dan diangguki Alan.
Bi Tia adalah asisten rumah tangga yang dipekerjakan Alan untuk membersihkan rumahnya setelah Alan dan Rea tinggal di rumah ini. Bi Tia tidak tinggal disana Bi Tia hanya datang saat pagi hari dan akan pulang sore hari.
"Alan!" teriak seseorang dari luar rumah.
Tanpa Alan buka pintunya, ia sudah tau siapa pelakunya, "Ngapain sih tuh orang ke sini ganggu orang bahagia aja," gumam Alan.
"Hush, gak boleh gitu. Bukain siapa tau Qilla ikut," ucap Rea.
Alan pun membuka pintu rumahnya dan benar bahkan orang yang datang mengganggunya tak lain adalah Ryan. Tenang ia tidak sendirian, dia bersama anggota lainnya, "Ngapain ke sini?" tanya Alan.
"Mau numpang makan, ayo kita masuk anggap aja rumah sendiri," ucap Ryan dan masuk bersama anggota lainnya dan meninggalkan Alan yang menatap tajam orang tersebut.
"Loh kok gak ada Qilla," ucap Rea, saat tidak melihat Qilla di rombongan Ryan.
"Qilla lagi ngurus Erika, dia rewel banget soalnya," ucap Ryan.
"Kayaknya anak rewel teru deh," ucap Gara.
"Banget, dia tuh gak bisa ditinggal barang sedetik pun," ucap Ryan.
"Namanya juga bayi," ucap Alan.
"Iya sih, tapi untung ada mama gue yang sabar mau nenangin Erika," ucap Ryan.
__ADS_1
"Alvin mana?" tanya Alan.
"Gak tau, dia lagi manja sama Sivia kali," ucap Ryan.
"Enak ya semuanya udah pada nikah, gue kapan nih," ucap Raka.
"Katanya lo udah ada calon dari orangtua," ucap Ryan.
"Iya, tapi takut gak cocok," ucap Raka.
"Coba aja, lihat saya sama Rea dijodohin dan cocok aja bukan," ucap Alan.
"Nantilah kapten Alan saya pikirin lagi," ucap Raka.
"Baby Lea makin gede makin cantik banget ya, nanti kalau udah umur 17 tahun nikahnya sama babang Gara yuk," ucap Gara dan mendapat pukulan di kepalanya.
Gara menatap orang yang berani memukul kepalanya dan niat awal yang ingin marah pun batal karena ternyata Alan yang memukul kepalanya, "Hehehehe, bercanda calon mertua eh kapten Alan maksudnya," ucap Gara.
"Saya juga milih-milih nanti anak saya mau saya nikahkan sama siapa, kalau sama kamu yang ada baru nikah terus dia jadi janda gara-gara suaminya meninggal duluan," ucap Alan.
"Sungguh teganya kapten Alan," ucap Gara, dengan dramatis.
"Tapi, tunggu deh kok pas banget ya anaknya kapten Alan, sersan Ryan sama sersan Alvin itu cewek semua," ucap Kino.
"Iya juga ya, kayak janjian gitu," ucap Rea.
"Mana gue tau, namanya juga takdir dan harus disyukuri," ucap Ryan.
"Ini apa?" tanya Ryan, saat tidak sengaja matanya melihat sebuah benda yang ada di kotak kecil.
"Testpack? dokter Rea hamil lagi?" tanya Ryan, yang tidak bisa santai.
"He'em." Bukan Rea yang menjawab melainkan Alan.
"Wah, beneran? selamat ya dokter Rea," ucap Ryan.
"Makasih," ucap Rea.
"Btw, lo hebat juga Lan, anak lo masih satu tahun lo udah jebol lagi aja," ucap Ryan.
"Gue gituloh," ucap Alan.
"Dulu aja katanya gak mau punya maka lagi, eh belum apa-apa udah hamil aja dokter Rea nya," ucap Ryan.
"B*cot," ucap Alan dan Ryan hanya terkekeh mendengarnya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.