
"Tadi, saya sudah mengatakan akan menemani dokter Rea, tapi dokter Rea justru menolaknya dan mengatakan bisa kembali sendiri bahkan saya sudah memaksa, tapi tetap saja dokter Rea menolak dan karena itu jadi saya biarkan dokter Rea pulang sendiri," ucap Gara.
"Ck, kenapa tidak memanggilku?" tanya Alan.
"Maaf, kapten. Tadi saya lihat kapten sedang sibuk, tapi kapten tidak perlu khawatir karena petugas yang ada di sana mengatakan jika dokter Rea sudah sampai dengan selamat di kamp militer," ucap Gara.
"Untung saja dokter Rea baik-baik saja, yasudah kalau gitu lanjutkan tugasmu dan maaf tadi sempat membentak mu," ucap Alan.
"Tidak apa-apa kapten," ucap Gara.
Setelah berbicara dengan Gara, Alan pun kembali melakukan pekerjaannya semula, "Kapten Alan," panggil Raka.
Alan pun memberhentikan aktifitasnya dan menatap Raka, "Ada apa?" tanya Alan.
"Begini kapten, saya mendapat kabar jika ada warga yang terjebak di hutan dan saat ini membutuhkan bantuan medis karena kakinya terluka," ucap Raka.
"Kenapa tidak para tentara saja yang membawanya ke sini?" tanya Alan.
"Sangat sulit kapten, tadi semuanya sudah mencoba untuk membawanya, tapi ternyata sulit bahkan tali lun terputus," ucap Raka.
"Kalau begitu buat tenda sementara di sana, pasti nanti bakal butuh waktu lama buat memeriksa dan mengobati lukanya," ucap alam dan diangguki Raka.
"Baik, kapten," ucap Raka.
"Tapi, ada berapa warga yang terkenal dan terluka?" tanya Alan.
"Sekitar 4 orang yang terluka kapten," ucap Raka dan diangguki Alan.
"Kalau begitu suruh mereka melakukan apa yang tadi kukatakan dan biar aku yang bicara dengan dokter Danu mengenai dokter yang akan ke sana," ucap Alan dan Raka pun memilih pergi dari tempat tersebut.
Setelah Raka pergi Alan pun menuju dokter Danu selaku koordinator para relawan, "Dokter Danu," panggil Alan.
"Kapten Alan, ada apa? ada yan perlu saya bantu?" tanya dokter Danu.
"Begini dokter Danu, saya butuh dua atau tiga dokter untuk memeriksa warga yang terjebak di hutan," ucap Alan.
"Kalau begitu saya akan suruh dokter, Marko, dokter Ara sama dokter Dimas," ucap dokter Danu dan diangguki Alan.
"Apa mereka bisa melakukan repling?" tanya Alan.
"Saya rasa mereka bisa karena mereka salah satu dokter yang sering menjadi relawan," ucap dokter Danu dan diangguki Alan.
Beberapa saat kemudian, Alan dan ketiga dokter pun sudah sampai di hutan tempat para warga terjebak, di sana juga sudah ada anggota tim Alan.
__ADS_1
"Kalian periksa mereka," ucap Alan lalu memberikan peralatan untuk turun tebing atau repling.
Para dokter tersebut saling beradu pandang antara satu sama lain setelah Alan memberikan peralatan tersebut, "Kalian ke bawah dulu nanti saya yang terakhir," ucap Alan.
"Maksud kapten Alan kita ke bawah dengan tali ini?" tanya Ara.
"Iya," jawab Alan.
"Tapi, kita tidak tahu cara pake alat ini kapten," ucap Dimas.
Alan yang awalnya sedang memeriksa peralatan lainnya pun menghentikan aktifitasnya dan menatap ketiga dokter tersebut, "Kalian tidak ada yang tahu cara repling?' tanya Alan.
"Repling? repling itu apa kapten?" tanya Dimas.
"Bukannya kalian sering menjadi relawan, tapi ke apa kalian justru gak bisa bahkan hak tahu repling?" tanya Alan.
"Hem, itu karena kami memang tidak pernah melakukannya, kami hanya berada di tempat pengungsian," ucap Ara.
"Bukankah sebelum kalian mendaftar harus di tes mengenai ketangkasan kalian, tapi kenapa kalian justru tidak bisa?" tanya Alan, yang emosi setelah mendengar jika mereka tidak bisa melakukan hal dasar bagi seorang relawan terutama di daerah bencana.
"Maaf, kapten," ucap mereka secara serempak.
"Huh, Raka, kini ajari mereka menggunakannya," ucap Alan dan diangguki oleh Raka dan Kino.
Lebih dari 4 jam mereka mengobati para warga yang terjebak dan saat ini mereka memutuskan untuk beristirahat di sana karena tidak mungkin mereka naik dalam keadaan gelap. Hingga pagi harinya barulah para warga di bantu oleh para relawan lainnya untuk naik ke atas dan berhasil, mereka saat ini langsung di bawah ke tempat pengungsian.
"Hanya para warga dan untuk relawan ataupun tentara sejauh ini tidak ada yang terluka," ucap Alan.
"Kapten daerah perbatasan mengalami longsor," ucap Ryan, yang batu saja datang dan menghampiri Alan.
"Apa di sana hujan?" tanya Alan dan diangguki Ryan.
"Di sana hujan dari kemarin malam sampai dini hari karena itu daerah di sana mengalami longsor," ucap Ryan.
"Kalau begitu kita tutup semua akses jalan ke daerah itu dan juga kita lihat kondisi di sana parah atau tidak," ucap Alan.
"Baik, kapten," ucap Ryan.
Alan pun pergi dan meninggalkan tempat pengungsian lalu pergi menuju daerah perbatasan yang terkena longsor.
Disisi lain Rea yang baru saja sampai di tempat pengungsian melihat Alan dan beberapa tentara lainnya pergi dari tempat tersebut dengan terburu-buru, Rea pun menghampiri Nina yang sudah berada di sana sejak tadi pagi.
"Kenapa kok mereka kayak dikejar-kejar setan gitu?" tanya Qilla, yang datang bersama Rea.
__ADS_1
"Katanya di daerah perbatasan ada longsor makanya mereka semua mau ke sana buat ngecek gitu," ucap Nina.
"Hah! kok bisa terus ada korban gak?" tahap Rea.
"Ya, bisalah katanya di tempat itu dari kemarin hujan dan sampe longsor," ucap Nina.
"Semoga gak ada korban di sana," ucap Rea dan diangguki kedua sahabatnya.
"Oh iya, gue denger katanya kemarin ada korban yang terjebak di hutan ya, itu bener emangnya?" tanya Qilla.
"Gue juga gak tahu pasti sih, tapi pas tadi gue ke sini emang kapten Alan dan beberapa relawan juga datang sama beberapa warga," ucap Nina.
"Berapa orang yang terluka?" tanya Rea.
"Gak tahu juga gue belum tanya, tapi yang jelas lebih dari 3 kok," ucap Nina.
"Siapa aja dokter yang datang ke sana?" tanya Qilla.
"Ada dokter Marko, dokter Ara sama dokter Dimas," ucap Nina.
"Wah! semuanya yang udah berpengalaman jadi relawan yang di pilih," ucap Qilla.
"Iya, soalnya gue denger tempatnya itu di bawah tebing gitu," ucap Nina.
"Kok warga bisa di sana?" tanya Qilla.
"Ya, mana gue tahu, lo tanya aja sama mereka," ucap Nina.
Rea dan para relawan lainnya mulai kembali pada tugasnya seperti biasa, "Padahal kita di sini belum sampe seminggu, tapi gue udah betah banget loh di sini," ucap Qilla.
"Sama gue juga udah betah di sini, soalnya banyak cowok gantengnya," ucap Nina.
"Ck, lo mah selalu urusan cowok," ucap Rea.
"Kalau para warga udah mulai sembuh nanti kita bakal di pulangin ya?" tanya Qilla.
"Ya, kayaknya sih iya. Kita kan di sini juga buat bantu dokter Nando yang kekurangan tenaga medis dan kalau emang para warga banyak yang sembuh ya kita gak di butuhin lagi," ucap Nina, yang tiba-tiba suara berubah menjadi sendu.
"Kalian kenapa malah jadi mewek gini sih emangnya kita kapan di pulangin kok kayak mau pergi dari tempat ini gitu?" tanya Rea.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.