
Rea mengerjapkan matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk terkena matanya, Rea lun berhasil membuka matanya secara sempurna dan ia menatap ke sekeliling ruangan yang tak asing bagi Rea. Rea menoleh saat tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah dua orang perempuan yang tak lain adalah sahabat Rea.
"Ada yang sakit gak?" tanya Nina.
"Gak kok, makasih ya kalian udah bantuan gue," ucap Rea.
"Hem," jawab Qilla.
"Gue kayaknya laper banget kali ya sampe gue pingsan," ucap Rea.
"Siapa Ayahnya?" tanya Qilla.
"Hah, ayah apa? ayah gue? ayah gue ya ayah Argi lah siapa lagi," tanya Rea.
"Kalau itu gue udah tahu, maksud gue ayah dari anak yang lo kandung?" tanya Qilla.
"Anak yang gue kandung? tunggu maksud lo gue lagi hamil?" tanya Rea.
"Hem," jawab Qilla.
"Hiks hiks, gue gak mimpikan kalau gue hamil?" tanya Rea.
"Gak Re, lo gak mimpi. Gue tahu ini pasti berat buat lo," ucap Nina.
"Ini," lanjut Nina dan memberikan sebuah surat padanya.
"Ini tadi Dokter Karin yang meriksa lo dan ngasih surat kehamilan ke lo," ucap Nina.
"Gue beneran hamil hiks hiks," ucap Rea.
Ia sangat bersyukur dengan apa yang dia rasakan saya ini, ia yakin Alan pasti senang mendapat kabar mengenai kehamilannya,
"Siapa ayahnya?" tanya Qilla.
Seketika Rea pun tersadar akan keberadaan Qilla dan Nina, 'Mungkin sekarang saat yang tepat buat gue bilang semuanya ke mereka,' ucap Rea, dalam hati.
__ADS_1
"Siapa, Re?" tanya Qilla.
"Gue minta maaf selama ini gue gak cerita ke kalian kalau sebenarnya gue udah ni-nikah," ucap Rea.
"APA!" pekik Qilla dan Nina.
"Gak lucu tahu, Re. Gak sudah bercanda deh sekarang jawab siap ayah anak lo?" tanya Qilla, dengan ketus.
"Iya, gue bicara jujur sebenarnya gue udah nikah dan anak ini anak dari gue sama suami gue," ucap Rea.
"Tega banget lo rahasiain semuanya dari kita, lo anggap kita sahabat gak sih," ucap Qilla.
"Maaf, gue gak bermaksud buat ngeharasiain semuanya, gue cuma belum siap aja," ucap Rea.
"Gue kecewa sama lo Re, gue sekarang tahu posisi gue dalam hidup lo itu gak penting," ucap Qilla.
"La, gak gitu. Lo sama Nina itu orang terpenting dalam hidup gue karena kalian berdua sahabat gue satu-satunya," ucap Rea, dengan suara yang mulai bergetar.
"Kalau gitu kenapa lo sembunyiin semuanya, Re? lo tahu waktu gue denger penjelasan dokter Karin kalau lo hamil gue sempet berpikir lo accident karena gue gak tahu lo deket sama siapa, tapi gue juga berharap lo ada suami karena gue takut lo tertekan nantinya dan gue bahagia karena lo udah bersuami, tapi gue sakit hati Re karena orang yang katanya sahabat gue gak ngasih tahu gue apa-apa bahkan gue tahu karena dia hamil," ucap Qilla, yang mulai meninggikan suaranya.
"Qilla, maafin gue hiks hiks," ucap Rea.
"Gue gak tahu mau gimana lagi yang jelas gue kecewa sama lo, ayo Na kita balik ke ruangan kita," ucap Qilla.
"Tapi, masa Rea sendirian di sini," ucap Nina.
"Biarin aja, dia juga bisa kan nyembunyiin semuanya sendirian berarti dia bisa di sini sendirian," ucap Qilla dan menarik tangan Nina.
Mereka berdua pun meninggalkan Rea sendirian di ruangan tersebut, Rea tidak bisa menahan air matanya untuk turun. Rea menangis karena membuat kedua sahabatnya terutama Qilla kecewa bahan marah padanya, "Maafin gue La, gue gak bermaksud nyembunyiin semuanya, tapi gue sadar apa yang gue lakuin emang salah," gumam Rea.
Rea merasa tubuhnya cukup sehat dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut dan menuju ruangannya yang tentunya ia satu ruangan dengan Qilla dan Nina. Saat masuk ke dalam ruangan tersebut ia melihat Qilla yang tengah sibuk dan tidak ada Nina, "La, maafin gue. Gue dijodohin karena itu gue gak berani bilang ke lo sama Nina," ucap Rea.
Tidak ada respon dari Qilla karena Qilla tetap fokus pada kesibukannya, Rea pun menahan tangan Qilla dan langsung di tepis oleh Qilla, "Gak usah deket-deket gue butuh waktu buat maafin lo yang udah keterlaluan tahu," ucap Qilla dan keluar dari ruangan tersebut.
Rea merasa sedih mungkin karena kehamilannya yang membuat Rea sangat mudah menangis bahkan Rea baru menyadari jika akhir-akhir ini ia mudah terbawa suasana dan juga makan dengan porsi yang cukup banyak bahkan ia sering menginginkan sesuatu secara tiba-tiba. Rea juga lupa kapan terakhir ia kedatangan tamu bulanan sebab itu Rea tidak berpikir jika ia saat ini tengah mengandung.
__ADS_1
"Nanti kita minta maaf sama aunty lagi ya," gumam Rea dan mengusap perut ratanya.
Rea pun pergi dari ruangan tersebut dan memilih berkeliling ruang sakit entahlah Rea merasa ingin saja berkeliling sekaligus untuk menghibur dirinya, "Dokter Rea," panggil Fafi.
"Iya, ada apa, Fi?" tanya Rea.
"Tadi dokter Qilla tiba-tiba batalin jadwal pemeriksaan yang harusnya dokter Rea lakukan bersama dokter Qilla," ucap Fafi.
Rea sudah dapat menebak jika Qilla akan membatalkannya, Rea tahu jik Qilla berusaha untuk menghindarinya. Rea dapat memaklumi hal itu sahabat mana yang tidak marah jika sahabatnya menyembunyikan hal sepenting ini, "Yaudah, gapapa kalau gitu nanti saya akan pulang cepet ya kan sudah gak ada lagi jadwal praktek," ucap Rea.
"Iya, dok nanti akan saya sampai pada dokter Qilla," ucap Fafi, lalu pergi meninggalkan Rea.
"Gue bakal lakuin apa aja asalkan lo maafin gue, La," gumam Rea.
"Nina!" panggil Rea, saya Nina melewati dirinya.
Namun, ada yang beda dari Nina dimana Nina tidak berhenti atau menoleh bahkan melirik Rea saja tidak, Nina seolah-olah menganggap tidak ada Rea di sana. Dengan cepat Rea menahan lengan Nina dan membalikkan tubuh Nina hingga menghadap kearahnya, "Lo marah sama gue?" tanya Rea.
"Hem, gue sebenarnya juga kecewa sama lo, tapi gue gak tega kalau harus marah dan ngehindar dari lo, Re. Tapi, Qilla bener-bener marah sama gue bahan dia daritadi gak mau negur gue dan dia bilang dia bakal negur gue kalau gue juga jauhin lo, gue bingung gue harus gimana kalian itu sahabat gue dan gak mungkin gue harus milih salah satu dari kalian," ucap Nina.
Rea pun tersenyum ke arah Nina, "Kalau gitu lo turutin apa yang dibilang Qilla aja, gue gapapa kok. Lagian gue juga berusaha buat minta maaf sama Qilla," ucap Rea.
"Beneran gapapa?" tanya Nina dan diangguki Rea.
"Tapi, kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin gue ya, gue udah mulai maafin lo kok Re. Gue tahu lo pasti lakuin ini semua karena ada alasannya kan," ucap Nina.
"Makasih Nin, karena lo udah mau ngertiin gue," ucap Rea.
"Iya, yaudah gue pergi dulu ya dah," pamit Nina lalu pergi meninggalkan Rea.
Rea menatap kepergian Nina dengan perasaan yang campur aduk, Rea bahagia karena ia tengah mengandung, tapi di sisi lain Rea merasa sedih karena sahabatnya marah dan menjauhinya, "Ternyata gini ya rasanya dijauhin sahabat, sakit banget," gumam Rea.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.