Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Saling Melirik


__ADS_3

"Nanti kita jadi ke rumah lo kan?" tanya Nina.


"Iya dong, nanti gue pulangnya bareng kalian aja ya soalnya kemarin gue udah bilang ke Mas Alan kalau kalian bakal ke rumah dan gue juga nyuruh Mas Alan buat gak jemput," ucap Rea.


"Siap," ucap Nina.


"Qilla masih ada pasien ya?" tanya Rea.


"Kayaknya sih iya, gak tahu lagi sih soalnya dari tadi gue gak ngeliat Qilla," ucap Nina.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan pun terbuka dan menampilkan Qilla yang membawa beberapa paper bag entahlah apa isinya, "Lo bawa apa, La?" tanya Nina.


"Oh ini bekal gue," ucap Qilla.


"Tumbenan lo bawa bekal biasanya aja makan di kantin," ucap Nina.


"Biasa ibu negara lagi masak banyak katanya nanti malam ada tamu," ucap Qilla.


"Di rumah lo ada tamu nanti malam?" tamat Nina dan diangguki Qilla.


"Terus nanti jadi gak ke rumahnya Rea?" tanya Nina.


"Jadi dong, gue mah ada hubungannya sama tamu nyokap gue," ucap Qilla.


"Tapi, nanti kita nunggu Nina dulu kan soalnya Nina nanti selesainya jam 4," ucap Rea.


"Pasti dong orang kita kan ke rumah lo pake mobilnya si Nina," ucap Qilla.


"Tadi lo naik taksi lagi?" tanya Nina.


"Pastilah, mobil gue masih di bengkel tau deh kapan beresnya," ucap Qilla.


"Dokter Rea," panggil Bima.


"Ada Bim?" tanya Rea.


"Tadi dokter Gabby ngasih ini data salah satu pasien dokter Rea yang ada di meja dokter Gabby," ucap Bima dan memberikan berkas tersebut pada Rea.


"Oh iya, tadi dokter Gabby udah bilang ke saya. Yaudah makasih Bim," ucap Rea dan diangguki Bima.


Bima pun keluar dari ruangan tersebut, "Lo gak kesusahan selama Bima gantiin Fafi?" tanya Qilla.


"Gak sih, lagian kan Bima dari dulu ikut gue, tapi mungkin karena semuanya Fafi yang handle jadi agak keteteran pas awal-awal," ucap Rea.


"Oh iya, gue dapet kabar nih ya katanya si Fafi itu lagi di Belanda," ucap Qilla.

__ADS_1


"Di Belanda kok bisa?" tanya Nina.


"Gue juga gak tahu, dia itu semacam melarikan diri ke Belanda, lo harus hati-hati Re siapa tahu nanti Fafi dateng dan balas dendam ke lo," ucap Qilla.


"Apa sih kalian ini masa ada orang balas dendam, kita itu harus berpikiran positif gak usah mikirin yang kayak gitu apalagi sekarang gue lagi hamil," ucap Rea.


.


Rea dan Qilla saat ini berada di lobby rumah sakit dan menunggu Nina yang bagus selesai dengan tugasnya dan saat ini tengah mengambil barang-barangnya di ruangannya, "Suami lo udah pulang belum jam segini?" tanya Qilla.


"Kayaknya sih belum deh soalnya kalau Senin sampe Rabu itu biasanya Mas Alan pulangnya telat," ucap Rea.


Beberapa saat kemudian, Nina pun datang dengan napas tersengal-sengal, "Aduh, gue gak telat kan ya hhhh," ucap Nina.


"Ya, telat lah gue sama Rea nunggu lebih dari 5 menit itu artinya lo telat," ucap Qilla.


"Bomat," ucap Nina dan berjalan menuju parkiran meninggalkan Rea dan Qilla.


"Untung kita ke rumah lo pake mobilnya tuh orang, kalau gak udah gue tinggal dari tadi," ucap Qilla.


"Udah gak usah ngomel terus ayo kita samperin Nina sebelum jalanan macet," ucap Rea.


Mereka bertiga pun akhirnya dalam perjalanan menuju rumah Rea, sesampainya di rumah ternyata benar kata Rea, Alan belum pulang sehingga rumah terlihat sepi, bukan hanya rumah Alan tadi juga daerah komplek rumah Alan karena bukan hanya Alan yang belum pulang, tapi juga anggota Alan.


"Dokter Nando itu yang dokter militer itu kan?" tanya Qilla dan diangguki Nina.


"Kenapa emangnya sama dokter Nando?" tanya Rea.


"Masa kemarin waktu gue ikut seminar gue ketemu sama dokter Nando. Gue sebenernya mau nyapa, tapi takut dibilang sok kenal soalnya tuh dokter Nando yang jadi narasumbernya yaudah akhirnya gue pura-pura gak kenal gitu kan gak lucu kalau gue nyapa, tapi dokter Nando malah gak kenal ke gue terus waktu gue mau balik tiba-tiba dokter Nando nyapa gue dan minta nomor gue dong karena gue baik hati ya gue kasih dong. Eh taunya pas gue sampe di rumah dokter Nando justru chat gue," ucap Nina.


"Dokter Nando keren loh, tapi dokter Nando udah gak di sana lagi ya," ucap Qilla.


"Apa karena kapten Alan sama anggotanya di pindah ke sini, jadinya dokter Nando juga ikut pindah?" tanya Nina.


"Masa kayak gitu?" tanya Rea.


"Mana gue tahu, kan gue cuma nebak," ucap Nina.


"Astaga, dokter Nando chat gue lagi!" pekik Nina.


Rea dan Qilla pun melihat isi dari chat tersebut, "Kayaknya dokter Nando deketin lo sebagai cewek deh apa jangan-jangan dokter Nando suka sama lo," ucap Qilla.


"Masa sih," ucap Nina.


"Lihat ini, dokter Nando malah ngajak lo ketemuan di salah satu cafe," ucap Qilla.

__ADS_1


"Aduh, gimana dong. Gue gak boleh baper gue harus tetep stay cool," ucap Nina.


"Stay cool apanya belum apa-apa lo udah baper gini padahal gue ngomongnya cuma ngasal," ucap Qilla.


"Tapi, kalau lo sama dokter Nando gue sih setuju-setuju aja soalnya gue pernah denger kalau dokter Nando itu kaya ya sama lah kayak lo," ucap Rea.


"Gue mah gak nyari yang kaya yang penting dia bertanggungjawab dan mau nafkahi gue," ucap Nina.


"Iya deh," ucap Qilla.


Mereka terus mengobrol satu sama lain hingga tak menyadari pintu rumah tersebut di ketuk dan di buat oleh seorang pria tampan yang tak lain adalah Alan, "Lagi cerita apa sih kok kayak seru banget sampe gak denger ada yang ketuk pintu?" tanya Alan dan menghampiri Rea lalu mengecupnya kening istrinya itu.


"Huh, gini banget sih jadi penduduk bumi," ucap Qilla.


"Kita pindah ke bulan aja yuk siapa tahu di sana ada alien ganteng yang single," ucap Nina.


"Sabar ya kalian para jomblo," ejek Rea.


"Mas, mandi dulu sana terus makan soalnya tadi aku udah siapin makanan kok," ucap Rea dan diangguki Alan, lalu ia pun masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Rea yang kembali mengobrol dengan sahabatnya.


"KAPTEN ALAN! DOKTER REA!" teriak orang dari luar dan membuat Rea, Qilla dan Nina menatap ke arah pintu karena tiba-tiba pintu rumah tersebut terbuka dan menampilkan beberapa orang yang sudah Rea kenal siapa lagi kalau bukan anggota dari suaminya itu.


"Eh, ada temennya dokter Rea," ucap Raka.


"Kalian ada perlu sama Mas Alan ya?" tanya Rea.


"Gak kok dokter, kita emang pengen mampir aja soalnya kita udah lama gak ke sini," ucap Raka dan diangguki Rea.


"Yaudah, kalau gitu kalian duduk aja atau kalau kalian haus kalian bisa ambil sendiri. Oh iya tadi aku juga masak cukup banyak, jadi kalau kalian laper kalian bisa ambil sendiri," ucap Rea.


"Siap dokter Rea," ucap Gara.


Rea kembali menghadap ke arah Qilla dan Nina, ia merasakan perubahan pada Qilla hingga ia tersadar akan sesuatu dengan cepat ia menatap Qilla dan Ryan secara bergantian dan ternyata mereka juga saling melirik satu sama lain. Rea pun menatap Nina dan menganggukkan kepalanya.


"Ehkm, cieeeee Qilla cieeee," goda Rea dan Nina.


"Apa nih cie cie ada apa dengan dokter Qilla cieeeeee?" tanya Gara yang akhirnya juga ikut menggoda Qilla padahal ia tidak tahu apa-apa bukan hanya gara, tapi juga anggota lainnya kecuali Ryan tentunya.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2