
Saat ini Alan sudah berada di lapangan dengan anggota timnya, ya sore ini Alan akan pergi meninggalkan tempat yang telah lama ia jaga bersama anggotanya, tapi saat ini hanya akan yang harus pergi.
"Jadi, di sini saya ingin mengatakan pada semuanya bahwa mulai saat ini saya sudah bukan lagi tentara yang ditugaskan di daerah perbatasan, saya adalah tentara yang di tugaskan di pangkalan kota. Karena itu, saya saat ini akan memilih pengganti saya untuk memimpin selama pemimpin baru sedang di pilih oleh pusat," ucap Alan.
"Saya sebagai kapten ini di tim ini akan memilih sersan Alvin Ardana sebagai pengganti saya," ucap Alan.
"Saya percaya jika sersan Alvin mampu untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, kalau begitu sekian dari saya," ucap Alan.
Setelah menyerahkan semua berkas dan beberapa tugas yang harus Alvin emban, Alan pun pergi menuju mobil yang akan ia gunakan menuju terminal. Ya, Alan menggunakan bus untuk sampai di kota tentunya pada jam seperti ini bus sudah tidak lagi beroperasi sebab itu Alan menaiki mobil yang di kemudian oleh Gara.
Alan saat ini berada di terminal dan tengah menunggu bus untuk berangkat, beberapa saat Alan menunggu akhirnya bus pun akan berangkat dan setelah itu barulah Alan memutuskan untuk masuk ke dalam bus. Alan memang sengaja menunggu bus akan berangkat karena jika ia sudah menunggu di dalam maka ia pastikan saat ini bajunya basah karena keringat, untuk masalah ramai sendiri Alan santai karena memang penumpang yang menuju kota bisa di bilang sangat sedikit. Selain itu, harganya pun lebih mahal daripada menuju daerah lain, sebab itu masyarakat sekitar lebih suka menggunakan mobil bak terbuka untuk pergi ke kota.
Alan sudah berada di bus, ia benar-benar lelah karena selama menjaga jarang sekali istirahat kalaupun istirahat hanya satu atau dua jam. Momen inilah yang akan tunggu, Alan pun menutup matanya dan terlelap karena bagaimanapun kota adalah jalur terakhir dari bus yang ia tumpangi.
Selama perjalanan Alan hanya tidur dan tanpa merasakan gangguan apapun, hingga tepukan di bahunya membuat Alan membuka matanya dan akhirnya terbangun dari tidurnya. "Ada apa, Pak?" tanya Alan.
"Bus sudah sampai di kota bahkan semuanya penumpang sudah turun mas nya mau tetap di sini atau gimana?" tanya orang tersebut.
Alan pun sadar sepenuhnya dan segera berdiri, "Ah, maaf Pak. Kalau begitu permisi," ucap Alan dan diangguki orang tersebut yang tak lain adalah supir bus tersebut.
Alan keluar dari bus dan akhirnya ia dapat menghirup udara kota, "Akhirnya bisa kembali ke kota tercinta," gumam Alan dan menaiki taksi yang ia berhentikan tadi di pinggir jalan.
Saat ini sudah pukul 10 malam, karena memang hari ini hari kerja sehingga di daerah perbatasan tadi cukup sepi makanya perjalanan yang di tempuh cukup singkat tidak seperti biasanya. Alan sampai di rumah keluarganya, "Wah, berasa satu tahun gak ke sini," ucap Alan.
Alan melihat jika ruang tamu rumahnya itu masih menyala yang artinya masih ada orang di sana, "Eh, Tuan Alan," ucap Pak Diki, penjaga di kediaman Dhananjaya.
"Selamat malam Pak Diki," sapa Alan.
"Selamat malam juga Tuan Alan, bapak kaget loh pas lihat Tuan Alan," ucap Pak Diki dan akan hanya tersenyum.
"Saya masuk dulu ya Pak, ucap Alan.
__ADS_1
"Iya tuan, silahkan," ucap Pak Diki.
Alan pun berjalan menuju rumahnya dan beberapa saat kemudian Alan membual pintu tersebut dan berjalan menuju ruang tamu yang ternyata di sana masih ada Papa Aldi dan Mama Dira, "Alan, kok kamu bisa di sini?" tanya Mama Dira.
"Ya, bisa dong, Ma. Kan Alan juga tinggal di sini," ucap Alan, dengan wajah datarnya dan terkesan cuek.
"Ya, tapi kenapa aku gak ngabarin Mama kalau kamu pulang?" tanya Mama Dira.
"Ya, biar surprise gitu," ucap Alan.
"Kamu mending bersih-bersih dulu deh terus turun makan, kamu pasti laper kan," ucap Mama Dira.
"Mama tahu aja," ucap Alan, yang tetap setia dengan wajah menyebalkan nya itu.
"Udah sana," ucap Mama Dira dan diangguki Alan.
Alan pun pergi menuju kamarnya dan setelah itu, ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang saat ini benar-benar lengket. Beberapa saat kemudian, Alan pun keluar dan menggunakan pakaian sehari-harinya yaitu kaos lengan pendek yang memperlihatkan seberapa kekar dirinya terutama pada lengannya lalu celana pendek sebatas lutut.
Alan terus melahapnya hingga tak terasa makanan pun habis, setelah habis Alan pun minum dan menuju ke meja makan di sana sudah ada Papa Aldi dan Mama Dira. Alan ke ruang tamu tidak sendiri, ia di temani segelas jus yang ia ambil dari kulkas tentunya
Alan pun duduk di salah satu sofa yang ada di sana, "Enak banget kayaknya," ucap Mama Dira, saat melihat Alan tengah meminum jusnya.
"Mama mau?" tanya Alan dan menyodorkan jus tersebut pada Mama Dira.
"Gak kok, Mama gak mau," ucap Mama Dira.
"Gimana sama Rea?" tanya Mama Dira.
"Gimana apanya, Ma?" tanya Alan.
"Rea tahu gak kalau kamu pulang?" tanya Mama Dira.
__ADS_1
"Gak tahu, Alan belum ngasih tahu. Alan dari kemarin coba buat chat Rea, tapi belum di balas," ucap Alan.
"Huh, kalian berdua ini ya kayak bukan sepasang suami istri. Kamu gak di kabarin Rea terus sekarang artinya Rea gak tahu kalau kamu udah pulang," ucap Mama Dira.
"Kamu niatkan menjalin hubungan berdua bersama dengan Rea, Lan?" tanya Papa Aldi.
"Kalau di tanya Alan niat atau gak ya pasti niat dan siap lah Pa, Papa ingat saat Alan mengucapkan janji sama Allah dan menjabat tangannya Ayah Argi. Di saat itulah Alan sepenuhnya niat dan siap mau tidak mau harus niat dan siap untuk menjalin hubungan bersama Rea, Pa," ucap Alan.
"Yaudah, kalau gitu kamu minta maaf sana sama Rea," ucap Papa Aldi.
"Nanti Yah, lagian ponsel Alan masih di kamar," ucap Alan.
"Gak perlu ponsel," ucap Mama Dira.
"Gak perlu ponsel? maksudnya?" tanya Alan.
"Rea sekarang ada di kamar adik kamu," ucap Mama Dira, uang tentunya membuat Alan terkejut bahkan Alan sampai tersedak jus yang sedang ia minum.
"Huk - huk maksud Mama, Rea di kamarnya Dea?" tanya Alan dan diangguki Mama Dira.
Alan berdiri dan menuju kamar Dea yang berada di lantai 1, Alan pun mengetuk pintu kamar tersebut dan keluarlah adik tercintanya, "Kak Alan, Dea kangen banget tahu sama kak Alan," ucap Dea, dengan suara pelannya dan memeluk Dea.
"Kakak juga kangen banget sama kamu, gimana nih kabar adik kakak ini?" tanya Alan, yang suara juga mengikuti suara Dea menjadi pelan.
"Kabar Dea baik-baik dong," ucap Dea, yang terkesan seperti berbisik.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.