
"Tapi, kok aku tugasnya?" tanya Rea.
Alan yang mendengarnya pun terkejut, terus kenapa pipi Rea berubah menjadi merah kalau dia tidak tahu maksud Alan, "Kamu gak tahu kalau tanggungjawab ku sekarang kamu," ucap Alan.
"Kenapa aku tanggungjawab kamu?" tanya Rea.
"Karena kamu istriku," ucap Alan.
"Oh iya, lupa kalau aku sekarang udah punya suami," ucap Rea. Bukannya marah, Alan justru tersenyum mendengarnya.
Alan pikir dulu hubungannya dengan Rea akan kaku karena Alan memang orangnya cuek pada siapapun, tapi setelah bertemu dengan Rea, Alan merasakan perubahan pada dirinya. Alan yang biasanya sangat malas untuk berbicara panjang lebar, tapi jika bersama Rea, Alan rela berbicara panjang. Alan dapat pastikan jika orang-orang terdekatnya tahu akan hal itu, mereka pasti tidak menyangka jika ia bisa berubah.
"Aku bersih-bersih dulu di kamarnya Dea," ucap Rea.
"Ke apa harus ke kamarnya Dea? kamar kamu itu sekarang di sini," tanya Alan.
"Aku mau minta sabun cuci mukanya Dea. Ya, masa aku gak cuci muka sih," ucap Rea dan keluar dari kamar tersebut.
Alan lupa jika ia belum mengisi segala perlengkapan milik Rea karena ia tidak tahu jika Rea berada di rumahnya, jika saja Alan tahu pasti Alan akan siapkan sebelumnya.
Alan menunggu cukup lama di dalam kamar, tapi ia tidak mendapati Rea masuk ke dalam kamar, "Ini dia mau minta sabun cuci muka atau mau masak sih kok lama," gumam Alan dan beranjak dari kasurnya untuk pergi melihat istrinya itu.
Alan pun keluar dari kamar dan menuju kamar Dea, "Kamu mau kemana, Lan?" tanya Mama Dira.
"Mau ke kamarnya Dea Ma, soalnya tadi Rea bilang kalau dia mau ke kamar Dea minta sabun cuci muka, tapi akan tunggu lebih dari 20 menit belum balik ke kamar juga makanya ini Alan mau samperin," ucap Alan dan diangguki Mama Dira.
Alan pintu kamar Dea dan melihat kedua perempuan yang sangat berarti baginya tengah santai mengobrol dengan wajah yang penuh dengan masker, "Kak Alan!" panggil Dea dan melambaikan tangannya.
Rea sendiri yang tengah merebahkan tubuhnya di kasur pun mendongak dan menatap suaminya itu, "Kok belum mandi?" tanya Rea, saat melihat Alan mendekatinya.
"Aku nungguin kamu lama makanya aku ke sini," ucap Alan.
"Terus ke apa gak mandi?" tanya Rea.
"Kan aku nungguin kamu sayang, kamu mandi dulu baru aku gitu," ucap Alan.
__ADS_1
"Aku udah mandi kok," ucap Rea.
"Hah! udah mandi? dimana?" tanya Alan.
"Di kamar mandinya Dea," ucap Rea.
"Terus bajunya itu punya siapa?" tanya Alan, yang baru menyadari jika baju yang Rea gunakan berbeda dengan yang ia kenakan semalam.
"Oh, ini baju tadi di kasih Mama," ucap Rea.
"Terus kenapa gak ke kamar kalau udah mandi?" tanya Alan.
"Dea ngajak maskeran makanya aku gak ke kamar," ucap Rea.
"Masa pagi-pagi udah maskeran aja sih," ucap Alan.
"Biarin sih, kak. Lagian maskeran pagi-pagi itu enak loh iya gak kak Rea?" tanya Dea dan diangguki Rea.
"Terus aku tinggal mandi nih," ucap Alan.
"Yaudah, kalau gitu aku mandi dulu," ucap Alan dan keluar dari kamar Dea.
"Kakak tahu gak, kak Alan itu tadi cerewet banget loh gak kayak biasanya," ucap Dea.
"Gak kayak biasanya? memangnya kak Alan biasanya gimana kalau di rumah?" tanya Rea.
"Kak Alan itu cueknya minta ampun bahkan kak Alan kalau di pukul gak pernah ngeluh sakit padahal kalau di pukul pasti sakit kan kak," ucap Dea.
"Masa sih, tapi nih ya kakak malah jarang banget ngelihat sikap cueknya kak Alan makanya kakak itu cukup kaget pas kamu bilang kalau kak Alan itu cuek," ucap Rea.
"Kak Alan itu cuek banget, kakak tahu gak duku itu ada atasannya kak Alan yang jodohin kakak sama anaknya, pokoknya nih ya anak dari atasannya kak Alan itu model ternama bahkan dia pernah ikut kontes kecantikan dan masuk 3 besar, tapi kak Alan justru nolak dan mengatakan jika kak Alan itu gak tertarik dengan anak atasannya itu dan karena itu juga kak Alan di pindah tugaskan ke daerah perbatasan, kak Alan di kasih pilihan lagi mau sama anak atasannya itu atau pindah ke daerah perbatasan, tapi kak Alan tetap memilih menolak anak atasannya itu bahkan tawaran itu sampai 6 kali dan jawaban kak Alan tetap sama," ucap Dea.
Rea terkejut mendengar cerita Dea karena ia baru tahu jika Alan di tugaskan ke daerah perbatasan karena menolak anak dari atasannya, "Tapi, kok sekarang Alan bisa pindah ke pusat padahal dia kan udah pernah nolak anak atasannya?" tanya Rea.
"Soalnya atasannya itu udah gak ada, makanya kak Alan bisa pindah. Sebenarnya atasannya itu udah gak ada dari satu tahun yang lalu, tapi karena kak Alan betah di sana makanya kak Alan gak pindah dan barulah kak Alan memilih pindah karena udah nikah sama kak Rea. Kak Alan gak mau lepas tanggungjawabnya sebagai suami terus kak Alan juga gak mau mempersulit pekerjaan kak Rea yang jadi dokter," ucap Dea.
__ADS_1
"Dea terharu kak kalau nyeritain soal kak Alan," ucap Dea dan mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.
'Padahal harusnya gue yang nangis, lah ini malah Dea yang mau nangis,' ucap Rea, dalam hati. Namun, ia juga sama dengan Dea, Rea merasa terharu karena Alan rela pindah hanya karenanya.
"Kenapa kak Alan gak mau sama anak atasannya? padahal anak atasannya pasti cantik banget secara dia itu kan model dan juga pernah ikut kontes kecantikan?" tanya Rea.
"Kenapa kak Rea manggilnya kak Alan, harusnya kak Rea manggil kak Alan dengan nama panggilan lain?" tanya Dea.
"Hehehe, kakak lupa gara-gara kamu sih kakak kan jadi ngikutin kamu," ucap Rea.
"Sayang," panggil Mama Dira dan membuka pintu kamar tersebut.
"Ayo sarapan, tadi bibi udah nyiapin sarapan," ucap Mama Dira dan diangguki Rea serta Dea.
Rea dan Dea memutuskan untuk membersihkan wajahnya dan setelah itu mereka keluar dari kamar, "Loh, Alan belum datang ya, Ma?" tanya Rea.
"Belum, coba kamu samperin sayang bisa aja Alan tidur lagi," ucap Mama Dira dan diangguki Rea.
Rea pun naik ke kamar Alan dan membuka pintu kamar mandi, baru saja Rea membuka pintu kamar mandi. Tapi, Rea terkejut saat melihat pemandangan di depannya dan ia lun menunduk karena tidak ingin melihatnya, sedangkan Alan hanya diam dan terlihat sangat santai.
"Ta-tadi Mama nyuruh ka-kamu turun buat sarapan," ucap Rea, yang merasakan jantungnya berdetak dengan cepat.
"Kalau bicara itu lihat orangnya bukan malah lihat lantai," ucap Alan dan dapat Rea rasakan suara tersebut cukup dekat hingga beberapa saat kemudian Alan pun menarik lengan Rea hingga masuk sempurna ke dalam kamar tersebut.
"Kenapa hem?" tanya Alan dan menyudutkan Rea pada dinding kamarnya bahkan kedua tangannya saat ini sudah berada di sisi tubuh Rea hingga Rea tidak bisa pergi darinya.
Rea sendiri yang tadinya menunduk pun akhirnya membuang mukanya ke samping karena akan bahaya jika menunduk, "Gak dosa kok kalau mau lihat tubuh suami," bisik Alan tepat di telinga Rea.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1