
"Cieeee Qilla sama sersan Ryan, kalau mau lihat ya lihat aja kali gak usah saling lirik gitu mana tajam banget lirikannya," goda Rea.
Semua orang yang ada di sana menatap Ryan seolah meminta penjelasan dari perkataan Rea, "Maksudnya apa ini? sersan Ryan sama dokter Qilla? wah berita yang sangat mengejutkan saya kira sersan Ryan gak suka cewek," ucap gara.
"Awsh," rintih Gara karena Ryan yang memukul kepalanya.
"Cie dokter Qilla salah tingkah mana telinganya merah gitu," goda Raka.
"Apa sih, gak ya," ucap Qilla, yang terlihat jelas jika wajahnya sudah merah bahkan sampai ke telinga.
"Gaslah Yan, gue aja udah mau nikah masa lo jomblo terus dah besok langsung nikah sana," ucap Alvin.
"Yaudah nikah yuk dok," ajak Ryan.
"Sersan Ryan mah gak asik mana ada orang ngajak nikah kayak ngajak beli es teh di warung gitu, harusnya nih ya sersan Ryan siapin yang lebih romantis kayak dinner di salah satu restoran mewah atau dimana gitu pokoknya yang romantis terus pake bunga-bunga sama lilin dan pake cincin di masukin ke makanan gitu dan pas Qilla mau makan tiba-tiba dia kaget karena nemuin cincin di makanannya lalu sersan Ryan jongkok dan bilang ke Qilla. Will you marry me, ih so sweet sekali," ucap Nina.
"Itu mah maunya lo," ucap Rea.
"Ya emang, tapi romantis loh kayak gitu," ucap Nina.
"Yang lebih romantis itu kalau Ryan datang langsung ke rumahnya dokter Qilla dan meminta restu ke orangtuanya dokter Qilla," ucap Alvin.
"Wah, dah kalah gue kalau jawabannya kayak gitu," ucap Nina.
"Gimana sersan Ryan kapan mau ke rumahnya Qilla? nanti saya temenin deh," tanya Rea.
"Apaan sih Re, udah deh gak usah godain gue, gak lucu tahu," ucap Qilla.
"Siapa yang mau ngelucu gak ada yang mau ngelucu kali, La," ucap Rea.
"Nanti kita dapat traktiran dong kalau sersan Ryan jodoh sama Qilla," ucap Nina.
"Siap kalau itu mah gampang, yang penting mah sekarang dokter Qilla nya mau gak sama saya," ucap Ryan.
"Gaklah," ucap Qilla.
"Jangan judes-judes napa La sama calon suami sendiri juga," goda Rea.
"Apa sih Re, gak asik tahu lo. Jangan kayak gitulah gak suka tahu gue, udah deh kalau kayak gini gue pulang aja bye," ucap Qilla dan mengambil tasnya lalu pergi dari rumah tersebut.
"Lah tuh anak malah ngambek bentar gue susulin dulu," ucap Nina dan berlari menghampiri Qilla.
"La, udah deh jangan ngambek gitu, lo mau pulang sama siapa kan lo kesininya bareng gue?" tanya Nina.
"Gue bisa pulang sendiri," ucap Qilla.
"Yakin? mau naik apa?" tanya Nina.
Qilla pun terdiam karena ia tidak tahu angkutan umum di daerah sini dan kalau keluar pun Qilla sebenernya takut karena suasana komplek saat ini yang lumayan sepi, "Ish, tapi gue jangan digodain sama sersan Ryan terus dong, gue malu tahu gak sih. Rasanya gue pengen nangis aja daritadi," rengek Qilla.
__ADS_1
"Iya iya, udah ayo masuk lagi. Nanti gue bilangin ke Rea buat gak godain lo sama sersan Ryan," ucap Nina.
"Beneran ya," ucap Qilla dan dan diangguki Nina.
Akhirnya Qilla pun kembali masuk ke dalam rumah, "Kok dokter Qilla masuk lagi, lupa ya belum pamitan sama calon suami," ucap Gara.
"Shut, sersan Gara diam ya jangan buat Qilla ngambek lagi," ucap Nina dan menyenggol lengan Rea.
"Maaf ya La, tadi cuma bercanda kok," ucap Rea.
"Hem, jangan diulangi lagi," ucap Qilla.
"Siap, tapi kalau inget ya kalau gak inget ya maaf," ucap Rea.
"Sayang udah minum susunya belum?" tanya Alan, yang sudah segar dan menghampiri Rea.
"Udah kok tadi dibikinin Nina," ucap Rea dan diangguki Alan.
"Hari ini perutnya sakit atau ngerasa gak enak gitu?" tanya Alan dan mengusap lembut perut Rea.
"Kalau sakit sih ya kadang-kadang, tapi yang paling kerasa itu kaki yang kayak bengkak gitu sama payudaraku masih sakit padahal udah beli bra yang sesuai loh," ucap Rea.
Semua orang yang ada di sana terkejut terutama para pria saat tiba-tiba Rea memegang ***********, dengan cepat mereka langsung mengalihkan pandangannya kalau tidak bisa-bisa mereka akan di eksekusi saat ini juga oleh Alan apalagi saat ini Alan sudah menatap tajam semua anggotanya seolah memberi peringatan tanda bahaya.
"Sayang, gimana kalau besok kita periksa," ucap Alan dan menurunkan tangan Rea yang akhir-akhir ini sangat nakal bagi Alan.
"Bukannya udah periksa kok periksa lagi?" tanya Rea.
"Gak usah, kan normal kalau ibu hamil ngerasa sakit atau nyeri di kaki sama payudara, mungkin sekarang asi nya lagi proses lagian usia baby-nya kan udah 21 Minggu," ucap Rea.
"Beneran?" tanya Alan dan diangguki Rea.
"Memangnya usia 21 Minggu itu berapa dok?" taubat Kino.
"21 Minggu itu kira-kira 5 bulan," ucap Rea.
"Wah, udah 5 bulan aja kayaknya kapten Alan batu ngasih tahu usianya 1 bukan deh eh sekarang udah 5 bulan aja," ucap Raka.
"Dok, saya boleh pegang gak?" tanya Gara.
"Gak boleh," ucap Alan.
"Padahal saya pengen banget pegang loh," ucap Gara.
"Makanya punya istri terus suruh dia hamil buat bisa pegang sepuasnya," ucap Alan.
"Jangankan istri, yang deketin aja gak ada," ucap Gara.
"Cowok kok minat deketin ya kita lah yang ngedeketin," ucap Raka.
__ADS_1
"Hehehehe, bosen gue mah setiap hari ngedeketin cewek, tapi gak ada yang suka sama gue," ucap Gara.
"Nih sama Nina sahabat saya dia masih single katanya nunggu jodoh lewat, tapi gak lewat-lewat siapa tahu sersan Gara mau pungut dia jadi istri saya ikhlas kok," ucap Qilla.
"Maaf nih ya Re gue mah ogah dapet pasangan dari kalangan tentara," ucap Nina.
"Masa bukannya sekarang lagi deket sama yang tentara juga," goda Qilla.
"Lagian kalian juga percuma kalau menjalin hubungan karena gak akan bisa," ucap Rea.
"Lah kok gitu kenapa emangnya dokter Rea?" tanya Gara.
"Ya iyalah, orang sersan Gara itu bukan tipenya Nina. Nina itu suka sama cowok yang mancung terus agak gelap kulitnya, jadi sersan Gara bukan tipenya Nina," ucap Rea.
Semua orang terdiam dan menatap ke arah Rea setelah mendengar perkataan Rea, "Loh kok semuanya diem? astaga! aku salah ngomong ya maaf ya sersan Gara, Nina. Aku gak bermaksud buat bicara kayak tadi," ucap Rea.
"Gak kok, lo gak salah. Emang bener apa yang lo bilang," ucap Nina.
"Maaf ya sersan Gara," ucap Rea.
"Gapapa dokter Rea yang cantik, manis kesayangannya kapten Alan," ucap Gara dan tersenyum saat mendapat tatapan tajam dari Alan.
"Eh, nyokap gue udah chat gue nih katanya gue disuruh pulang," ucap Qilla.
"Yaudah ayo pulang, gue juga takut orangtua gue nyariin gue," ucap Nina.
"Kapan-kapan kesini lagi ya kita cerita yang banyak," ucap Rea.
"Siap, kalau gitu kita permisi," ucap Nina dan Qilla setelah itu mereka pun pergi meninggalkan rumah tersebut.
"Kalian pergi deh daripada ngerusuh di sini," ucap Alan.
"Gak boleh kayak gitu kapten Alan, ingat tamu adalah raja," ucap Ryan.
"Kalau kalian bukan raja, tapi pengemis," ucap Alan.
"Mana ada pengemis ganteng kayak kita," ucap Ryan.
"Mendingan kita makan aja deh daripada harus berantem gak jelas kayak gitu," ucap Rea.
"Siap dokter Rea!" pekik anggota Alan.
Memang anggota tidak ada akhlak giliran yang gratis saja semangat membara.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.