
Disisi lain Qilla saat ini berada di sekolah Jeffry adiknya, hari ini Qilla dipanggil lagi oleh pihak sekolah karena Jeffry kembali berantem dengan orang yang sama seperti sebelum-sebelumnya padahal luka yang terakhir kali belum kering, "Saya tidak tahu lagi harus gimana menghadapi kenakalan Jeffry, dengan terpaksa saya akan menghukum Jeffry kali ini dan hukuman itu adalah skors selama satu minggu," ucap sang kepala sekolah.
"Apa tidak ada hukuman lain pak seperti membersihkan halaman atau hormat pada bendera?" tanya Qilla.
"Maaf tidak bisa Bu, sekolah menghukum Jeffry juga karena kelakuan Jeffry itu sendiri, Bu Qilla juga sudah tahu bukan sekali atau dua kali Jeffry melanggar peraturan sekolah dan berantem. Sekolah sudah tidak dapat lagi mentolerir kelakuan nakal Jeffry," ucap kepala sekolah dan diangguki Qilla.
"Terima kasih pak, kalau begitu saya dan Jeffry ulang terlebih dahulu," ucap Qilla.
"Iya, silahkan. Saya harap dengan hukuman ini kamu bisa merenungkan semua kelakuan kamu dan berubah menjadi lebih baik," ucap sang kepala sekolah pada Jeffry.
Bukannya mendengarkan ucapan sang kepala sekolah, Jeffry justru pergi meninggalkan kepala sekolah dan Qilla bahkan Jeffry tidak mengucapkan apapun saat keluar. Qilla benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Jeffry yang terlalu santai itu padahal ia baru saja mendapat hukuman skors.
"Maaf pak atas ketidak sopanan adik saya," ucap Qilla.
"Iya, tidak apa-apa saya sudah terbiasa dengan sikap Jeffry yang seenaknya begitu," ucap kepala sekolah.
Setelah itu Qilla pun keluar dari ruangan kepala sekolah dan mencari keberadaan Jeffry yang ia yakini berada di rooftop sekolah, Qilla sudah hafal tempat yang akan dituju Jeffry karena kejadian seperti ini bukan hanya terjadi hari ini saja.
"Kenapa hem? kalau dulu alasannya karena Adi ledekin temen-temen sekarang alasannya apa? apa alasannya masih sama?" tanya Qilla, yang berdiri di samping Jeffry.
"Tuhan jahat ya kak," ucap Jeffry.
"Kamu kok ngomong kayak gitu, Tuhan itu gak jahat," ucap Qilla.
"Kalau Tuhan gak jahat kenapa hidup Jeffry kayak gini!" pekik Jeffry.
"Jeffry! jaga nada bicaramu," ucap Qilla.
"Jeffry bosen kak kalau kayak gini terus," ucap Jeffry dan meninggalkan Qilla.
"Bosen, .... oh tuhan jangan sampe dia ngelukain yang gak-gak," gumam Qilla dan berlari mengikuti Jeffry.
Namun, langkah dari Qilla kalah dengan langkah Jeffry, saat ini Jeffry sudah mengendarai motornya meninggalkan sekolahan dan Qilla pun tentunya mengikuti kemanapun Jeffry pergi dan sepertinya Jeffry tidak tahu jika saat ini Qilla mengikutinya. Beberapa saat kemudian, Jeffry sampai di sebuah gang yang tidak terlalu besar yang entahlah Qilla tidak tahu dimana itu yang jelas jalanan itu tampak menyeramkan.
Qilla berjalan karena ia tidak ingin kehilangan jejak Jeffry. Namun, lagi-lagi ia harus kehilangan Jeffry, "Kemana dia kok gak ada ya? mana ini sepi kayak gini lagi," gumam Qilla.
"Eh, ada cewek cantik nih, kesasar ya neng," ucap seorang pria, dengan pakaian acak-acakan, sebut saja pria pertama.
"Bukan urusan lo," ucap Qilla dan berniat pergi dari tempat tersebut karena akan sudah kehilangan jejak sang adik.
__ADS_1
"Mau kemana sayang, kan belum ngasih layanan ke kita," ucap pria kedua, yang pakaiannya tidak jauh berbeda dari pria pertama.
"Ngasih layanan apaan coba gak jelas, ish jangan pegang-pegang ya gue potong juga tuh tangan," ucap Qilla.
"Wih, ternyata mangsa kali ini lumayan agresif ya, pasti bakal lebih menantang deh," ucap pria kedua.
"Kalau mau menantang tuh terjun dari lantai 100 sana biar lebih menantang," ucap Qilla.
"Banyak bac*t nih cewek," ucap pria ketiga, yang tubuhnya kurus.
"Udah jangan halangin gue lagi kalau lo gak mau gue bac*t di sini," ucap Qilla.
"Gak bisa dong, karena lo udah berani masuk ke kawasan kita itu artinya lo harus ngasih sesuatu ke kita yaitu tubuh lo," ucap pria keempat.
"Gila lo pada! gue punya uang nih gue bakal kasih ke jalan semua kok, tapi jangan ganggu gue dan biarin gue pergi," ucap Qilla.
Bohong jika Qilla tidak takut, sejujurnya ia sudah panas dingin karena ia sendirian dan pria itu berempat tak lupa juga dengan jalanan yang sepi padahal masih siang harusnya banyak orang yang lalu lalang, tapi ini tidak ada sama sekali.
"Gue lebih butuh lo daripada uang lo," ucap pria keempat dan semakin mendekat ke arah Qilla.
"Jangan ganggu gue mohon, gue bakal ngasih uang kalian berapapun, tapi biarin gue pergi," ucap Qilla.
"Ja-jangan hiks ... hiks, to-tolong," ucap Qilla. Dasar Qilla belum apa-apa sudah menangis terlebih dahulu.
"Percuma lo minta tolong karena gak akan ada yang berani nolongin lo kalaupun ada, itu artinya mereka siap-siap jadi santapan hewan buas," ucap pria tersebut.
Pria tersebut benar-benar mendekat ke arah Qilla, Qilla ingin menghindari pria tersebut, tapi tidak bisa karena saat ini posisinya sangat berbahaya bahkan bisa di bilang Qilla berada di kungkungan pria tersebut dan akhirnya dengan keberanian Qilla mendorong tubuh pria itu, "Jangan macem-macem ya lo hiks ... hiks!" peringat Qilla. Namun, di hiraukan oleh pria itu.
Pria itu justru menarik tangan Qilla yang tadi sempat menunjuknya bahkan pria itu mengecup punggung tangan Qilla, "Gila lo!" teriak Qilla, dengan sesenggukan.
Pria itu hanya mengeluarkan smirknya dan menarik tubuh Qilla hingga mendekat padanya dan Qilla tentunya memberontak, tapi sayang tenaganya benar-benar tidak sebanding dengan pria tersebut. Saat ia pasrah dengan keadaan tiba-tiba seseorang memukul pria tersebut serta ketiga pria lainnya dan terjadilah baku hantam antara orang yang membantu Qilla dan keempat pria yang melecehkannya itu.
Mereka terus baku hantam hingga akhirnya orang yang membantu Qilla berhasil mengalahkan keempat pria yang tadi mengganggu Qilla, disisi lain orang yang tadi membantu Qilla pun ingin mendekati Qilla, tapi sayang sekali karena orang lain muncul dan membuat orang tersebut menghentikan langkahnya, "Kakak gapapa?" tanya Jeffry, yang baru saja datang dengan nafas tersengal-sengal.
"Kakak gappaa kok, kamu sendiri gapapa?" tanya Qilla dan diangguki Jeffry.
"Kakak kenapa harus ngikutin Jeffry sih kan jadi kayak gini?" tanya Jeffry.
"Kakak takut kamu ngelakuin yang gak-gak," ucap Qilla.
__ADS_1
"Gak, Jeffry masih banyak dosa, jadi gak mungkin juga Jeffry bakal bunuh diri," ucap Jeffry.
"Syukurlah," ucap Qilla dan tiba-tiba saja ia tersadar dengan orang yang membantunya.
"Terima kasih karena sudah membantu saya," ucap Qilla dan menatap orang tersebut yang tengah menggunakan topi dan masker lalu beberapa saat kemudian orang itupun membuka topi dan maskernya dan alangkah terkejutnya Qilla saat melihat orang yang tadi membantunya.
"Sersan Ryan," gumam Qilla.
"Dokter Qilla," ucap Ryan. Ryan tidak habis pikir mengenai kebetulan yang terjadi saat ini.
"Kok sersan Ryan ada di sini?" tanya Qilla.
"Iya, soalnya rumah orangtua saya lewat jalan sini," ucap Ryan.
"Terima kasih karena sersan Ryan sudah mau membantu saya. Saya tidak tahu lagi kalau tidak ada sersan Ryan," ucap Qilla.
"Iya sama, lagian tadi saya tidak sengaja bertemu dokter Qilla dan membantu," ucap Ryan dan diangguki Qilla.
"Kakak kenal sama kakak itu?" tanya Jeffry.
"Oh ini, temennya suaminya kak Rea," ucap Qilla.
"Oh berarti tentara dong," ucap Jeffry.
"Ya begitulah," ucap Ryan.
"Kamu di sini dulu ya kakak mau ambil obat dulu," ucap Qilla dan diangguki Jeffry.
"Wah! akhirnya Jeffry bisa ketemu sama tentara asli, Kalla tahu gak kalau Jeffry itu pengen banget jadi tentara biar bisa ngelindungin kak Qilla," ucap Jeffry, setelah Qilla pergi menuju mobilnya.
"Ngelindungin kak Qilla?" tanya Ryan.
"Iya, dari dulu Jeffry selalu lihat kak Qilla yang di pukul sama mama bahkan apapun mama yang ngurus kehidupan kak Qilla dan Jeffry mau lepasin kak Qilla dari belenggunya mama," ucap Jeffry dan diangguki Ryan. Ryan tentunya terkejut karena mendengar Jiak Qilla mendapati kekerasan dalam rumah tangga oleh ibu kandungnya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.