Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Cantik-cantik Gak?


__ADS_3

"Kalian mau apa sih daritadi perasaan ganggu terus?" tanya Rea.


"Mending kakak jawab yang jujur deh," ucapnya.


"Hush, kalian pengen tak masukin tempat sampah tahu gak, gini ya saya gak ngelakuin operasi dan kalau kalian mau operasi juga percuma udah sana pergi kalian harus belajar jangan main keluyuran aja," ucap Rea dan berjalan meninggalkan mereka.


Baru saja Rea melangkah tiba-tiba tangannya di tahan oleh salah satu dari remaja tersebut, "Kenapa lagi sih astaga pusing tahu gak saya?" tanya Rea.


"Nama kakak ganteng tadi siapa?" tanyanya.


"Gak tahu dan gak bakal saya kasih tahu!" ucap Rea.


"Sayang," panggil Alan dan menghampiri Rea.


"Eh, Mas udah selesai ya," ucap Rea dan melepaskan tangannya yang masih di tahan oleh remaja tersebut.


"Iya, kamu kenapa di luar?" tanya Alan.


"Gak kenapa-napa ini tadi mereka minta foto katanya aku cantik dan minta tips buat merawat kulit gitu," ucap Rea dan diangguki Alan.


"Yaudah, ayo kita pulang. Makanannya udah aku bayar dan ini tas kamu," ucap Alan dan memberikan tasnya pada Rea.


"Iya, ayo. Oh iya kalian inget ya tadi tipsnya, kalau begitu saya permisi," ucap Rea dan pergi meninggalkan para remaja putri yang tampak kesal itu.


"Kok bisa ya ada cowok seganteng tadi, bahkan si Andra cowok terganteng di sekolahan aja kalah jauh," ucap salah satu remaja putri tersebut.


Udah punya bini, kita mundur aja dah," ucapnya.


Disisi lain Alan dan Rea tengah berada di mobil dan menuju rumah Bratadikara dan tiba-tiba saja ponsel Rea berdering yang menandakan pesan masuk, Rea berusaha mengabaikannya. Tapi, ponsel tersebut terus berdering yang artinya banyak pesan masuk.


"Kok banyak banget gitu yang chat?" tanya Alan.


"Aku juga gak tahu, bentar aku cek setahuku yang grup udah aku silent deh," ucap Rea dan membuka ponselnya.


Kening Rea berkerut saat melihat ponselnya, "Kenapa?" tanya Alan.


"Gak tahu, ini ada yang ngirim pesan gak jelas," ucap Rea.


Beruntung saat ini mobil yang mereka kendarai tengah terjebak macet karena di depan kereta akan melintas sehingga Alan bisa mengambil ponsel Rea dan membaca pesan tersebut.


- Hai! Rea!


- Apa kabar?

__ADS_1


- Makin cantik aja ya.


- Kemarin pas bukannya Desti gue ketemu loh sama lo. Tapi, pas gue mau nyapa lo eh si Riko duluan yang datang.


- Btw lo masih inget gue gak?


- gue yang dulu pernah nembak lo.


- Kita dulu satu kelas


- Tapi, sayang dulu lo sukanya sama Riko, jadi lo gak ngeliat gue sama sekali.


Begitulah kira-kira isi chat dari ponsel Rea, "Kamu kenal?" tanya Alan.


"Kayaknya sih kenal soalnya yang pernah nembak aku pas SMA idan yang satu kelas cuma satu yaitu si Henry, tapi aku gak pernah tertarik ke dia sama sekali soalnya dia anaknya gak jelas terus aku pernah dapat kabar kalau dia itu kasar makanya gak aku ladenin," ucap Rea dan diangguki Alan.


"Kamu gak suka kan sama dia?" tanya Alan.


"Ya ampun, ya gaklah. Aku masih waras kali harus milih siapa diantara semua cowok yang pernah deketin aku," ucap Rea.


"Memangnya kamu bakal milih siapa?" tanya Alan.


"Ya, kamu lah masa gitu aja masih aja nanya sih," ucap Rea.


"Banyak kali, belum yang dari sekolah lain," ucap Rea, dengan sombong.


"Tapi, kenapa kamu gak terima salah satu dari mereka?" tanya Alan.


"Gak ada yang bikin aku tertarik yaudah gak aku ladenin terus aku pas SMA nih ya orangnya juga termasuk cuek soal hubungan," ucap Rea.


"Tapi, karena itu aku jadi cowok pertama," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Kalau kamu dulu pas sekolah banyak yang deketin gak?" tanya Rea.


"Ya, lumayanlah," ucap Alan.


Rea tiba-tiba merasa kesal karena Alan saya remaja banyak yang mendekati, Rea merasa tidak terima dan tidak ikhlas. "Pasti seneng banget tuh banyak yang ngedeketin," ucap Rea, dengan nada yang sangat kentara tidak suka.


"Ya gaklah, menurutku malah itu jadi beban tahu gak," ucap Alan.


"Kenapa jadi beban?" taubat Rea.


"Ya, karena kita jadi harus mikirin apa yang orang lain pikirkan soal kita kayak contoh saat kita ngelanggar peraturan sekolah nah karena kita yang bisa dibilang most wanted akhirnya ngebuat citra kita itu buruk dan itu sih beban yang aku rasain. Apalagi aku pengen masuk ke sekolah militer dan citra baik itu sangat penting buat aku," ucap Alan.

__ADS_1


"Di sekolah militer itu ada ceweknya gak?" tanya Rea.


Bukannya langsung menjawab Alan lun melajukan mobilnya karena kereta sudah lewat, Alan menatap Rea sekilas dan kembali mengendarai mobilnya. "Ada cuma gak sebanyak di sekolah umum," ucap Alan.


"Cantik-cantik gak?" tanya Rea.


"Ya, mereka cantik-cantik kok," ucap Alan.


Rea diam dan menatap ke arah depan, padahal Rea berharapnya jawaban Alan tidak seperti itu. Rea kita Alan akan menjawab b aja dan lebih cantikan Rea, tapi sayang seribu sayang Alan justru secara terang-terangan bahkan tidak merasa bersalah setelah mengatakan hal itu. Padahal Rea ingin Alan memujinya, tapi Alan justru memuji perempuan lain di depan Rea sendiri.


Alan sendiri yang melihat keterdiaman Rea pun ikut diam, ia tidak tahu mengapa Rea terlihat padanya padahal Alan merasa tidak ada kata-katanya yang menyinggung Rea.


Beberapa saat kemudian, mobil yang Alan kendarai pun sampai di kediaman Bratadikara, Rea sendiri langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dan hal itu tentunya tak luput dari pandangan Alan, "Apa aku melakukan kesalahan? gak kan ya? kayaknya aku daritadi gak ada salah deh? tapi ke apa aku kayak Salha gini ya?" tanya Alan pada dirinya sendiri lalu masuk ke dalam rumah tersebut.


"Rea mana Bunda?" tanya Alan, saat tidak mendapati istrinya di ruang tamu.


"Oh tadi Rea masuk ke dalam kamar katanya capek pengen tidur," ucap Bunda Nara dan diangguki Alan.


"Kalian gak lagi berantem kan?" tanya kak Ray.


"Gak kok kak," ucap Alan.


"Oh, kirain kok tumben aja masuknya gak bareng," ucap kak Ray.


"Yaudah, kalau gitu Alan mau ke kamar dulu ya," ucap Alan lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Rea.


Alan pun masuk ke dalam kamar dan mendapati Rea yang sudah membersihkan wajahnya lalu bersiap untuk masuk ke dalam kamar mandi tanpa melihat ke arah Alan sama sekali, "Udah gue yakin ini Rea marah udah pasti ini, tapi kenapa kayaknya aku gak ada salah deh sama dia? apa jangan-jangan Rea lagi kedatangan tamu bulanan?" tanya Alan.


Sembari menunggu Rea yang mandi ya cukup lama tentunya, Alan pun memilih untuk mendudukkan dirinya di sofa dan menyenderkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan matanya. Hingga beberapa saat kemudian, Rea pun membual pintu kamar mandi dan ia melihat Alan yang justru terlelap di sofa kamarnya.


"Huh, masih kesel banget tapi gak tega," ucap Rea.


Akhirnya Rea memutuskan untuk membangunkan Alan, "Mas bangun, Mas Alan mandi dulu," ucap Rea dan berhasil membangunkan Alan.


Alan pun berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi, Rea sendiri pun lantas menyiapkan baju Alan setelah itu ia keluar kamar.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2