
Alan mengusap lembut punggung tangan Rea yang berada di pelukannya, "Saya lihat dulu ya," ucap Alan.
Bukannya melepaskan pelukan tersebut, Rea justru mengeratkan pelukannya, "Jangan pergi, takut nanti kalau ada hantu terus aku di bawa pergi gimana? mau jadi duda?" tanya Rea, dengan suara pelannya dan masih dapat Alan dengar.
Hati Alan menghangat saat Rea mengatakan hal tersebut, itu artinya Rea mulai menerima dirinya sebagai suaminya. Alan tak henti-hentinya bersyukur karena ia pikir Rea akan mendiaminya sampai nanti tugasnya selesai bahkan Alan juga takut jika Rea mengajukan perceraian atau mengajak lidah, tapi sepertinya Alan tidak perlu khawatir mengenai hal itu.
"Gak akan ada yang berani bawa istirnya kapten Alan, kalau ada mereka yang akan dapat hukumannya," ucap Alan dan kembali mengusap punggung tangan Rea.
Alan berusaha melepaskan pelukan tersebut, tapi usahanya gagal karena Rea memeluknya cukup erat, "Kalau gak di lepas gimana mau lihat putih-putihnya," ucap Alan.
"Gak usah di lihat," ucap Rea.
Alan tersenyum mendengar ucapan istrinya itu dan dengan cepat Alan membalikkan tubuhnya dan menghadap istrinya, "Ada saya, kamu gak perlu takut ya," ucap Alan.
"Gak aku, tetep takut," cicit Rea.
"kalua begitu mau ikut?" tanya Alan.
"Takut," cicit Rea.
Alan benar-benar gemas dengan istrinya ini, "Gemes banget sih istrinya kapten Alan ini," ucap Alan dan mencubit pelan hidung Rea.
"Ish, jangan di cubit nanti pesek lagi, kasihan anak-anakku nanti kalau akunya pesek," ucap Rea.
"Kan ada saya, jadi kamu tidak perlu khawatir soal itu," ucap Alan.
Rea hanya diam setelah mendengar perkataan Alan, ia lupa jika saat ini orang yang berhadapan dengannya salah suaminya sendiri, "Kalau begitu ayo, kamu mau di sini terus," ucap Alan.
Akhirnya Alan pun memeriksa putih-putih yang Rea maksud, tapi Alan tidak menemukan apa yang di maksud Rea, "Kamu yakin di sini tadi?" tanya Alan dan diangguki Rea.
__ADS_1
"Yaudah, karena udah gak ada, jadi sekarang kita balik aja. Sekarang waktunya kamu jaga kan," ucapakan dan diangguki Rea kembali.
Rea benar-benar membutuhkan oksigen karena saya ini Alan menggenggam tangannya dengan erat dan hal itu membuat Rea merasa canggung bahkan Rea merasa tubuhnya mulai panas dingin. Rea tidak tahu apa yang terjadi dengannya saat ini, Rea memang sudah memaafkan Alan karena bagaimanapun dia suaminya dan Rea juga yang salah karena tidak memiliki inisiatif untuk mengenal suaminya. Tapi, untuk saat ini pikiran Rea benar-benar kosong, ia tidak tahu harus berbuat apa saat berada di dekat suaminya.
Rea dan Alan saat ini sudah berada di tempat pengungsian, Rea juga sudah melepaskan pelukannya tadi saat tidak melihat putih-putih yang sempat ia lihat. Jujur saja Rea masih was-was takut putih-putih itu datang lagi, tapi Rea tidak mungkin menunjukkan ketakutannya di depan akan bukan, seperti yang tadi ia lakukan dan Rea baru menyadari jika sikapnya tadi sangat memalukan.
"Kemana aja sih, Re?" tanya Qilla.
"Tadi gue habis ke kamar mandi," ucap Rea.
"Kenapa gak bilang gue terus lo ke kamar mandinya sendiri? emangnya berani lo ke sana sendirian?" tanya Qilla.
"Tadi gue udah nyari lo, tapi kata dokter Panji lo lagi sama dokter Gabby. Ya, karena gue gak mungkin dong nyuruh lo nemenin gue yaudah gue ke kamar mandi sendiri, eh ternyata pas di jalan gue ketemu sama kapten Alan dan kapten Alan nawarin buat nemenin yaudah gue setuju aja daripada gue sendirian ke kamar mandinya. Lo tahu kan kalau gue itu anaknya Cemen kalau masalah kayak gitu," ucap Rea.
"Mana kapten Alan?" tanya Qilla.
"Tuh lagi bicara sama dokter Nando," ucap Rea dan menunjuk Alan menggunakan dagunya.
Rea yang mendapat pertanyaan itu pun tiba-tiba menjadi gugup, ia takut jika Qilla curiga dan tahu semuanya. Rea belum siap untuk memberitahukan kebenarannya pada sahabat-sahabatnya.
"Ga - gak tuh, ke - kenapa emangnya?" tanya Rea.
"Ya, gue kaget aja soalnya kapten Alan mau nemenin lo, lo tahu gak sih dulu pas lo udah pulang ke kota. Kan di sini tinggal beberapa dokter doang sih nah terus dokter Gina minta kapten Alan buat nemenin dia gitu soalnya kalau gak salah waktu itu beberapa dokter lagi sibuk dan emang dokter Gina nya aja sih yang gak sabaran. Dokter Gina itu minta kapten Alan buat nemenin dia ke mana gitu gue lupa pokoknya waktu itu juga pas malam hari sekitar jam 11 malam, tapi lo tahu gimana tanggapannya kapten Alan?' tamat Qilla, setelah penjelasan yang panjang lebar Qilla.
"Gimana?" tanya Rea.
"Kapten Alan justru manggil sersan Ryan buat nemenin guna padahal saat itu sersan Ryan lagi ada urusan dan akhirnya kapten Alan yang gantiin Ryan," ucap Qilla.
"Sampe segitunya, terus gimana sama dokter Gina? dia mau di temenin sama sersan Ryan?" tanya Rea.
__ADS_1
"Awalnya gak mau, tapi setelah bentakan dari kapten kan akhirnya mau gak mau dokter Gina lun mau di temenin sama sersan Ryan," ucap Qilla.
"Sampe bentak?" tanya Rea dan diangguki Qilla.
"Lo tahu, Re. Dengan perlakuan kapten Alan selama ini ke lo, gue yakin kalau ada salah satu di antara kalian yang mulai tumbuh perasaannya. Ya, walaupun gitu gue udah tahu sih siapa yang suka siapa," ucap Qilla.
"Siapa emangnya?" tanya Rea.
"Ya, antara lo atau gak kapten Alan, tapi kalau dari gerak gerik yang selama ini gue amati, yang suka duluan itu kapten Alan. Udah, Re, kalau kapten Alan nembak lo, gue adalah orang pertama yang ngasih saran buat lo terima," ucap Qilla.
"Sok tahu," ucap Rea.
"Biarin aja sih," ucap Qilla.
Alan yang melihat istrinya tertawa pun menarik sudut bibirnya, hanya sedikit sehingga tidak terlihat dengan jelas jika tadi Alan tersenyum. Namun, sayang ada satu orang yang berhasil melihat senyum tipis Alan yang menurutnya jika Alan saat ini telah berubah menjadi akan yang lebih hangat bahkan hidup Alan yang awalnya membosankan ia yakini akan berubah menjadi berwarna.
"Ke apa lo lihat Alan kayak gitu? jangan bilang kalau lo suka sama Alan, inget Vin lo udah punya pacar bahkan sebentar lagi mau nikah gitu," tanya Ryan.
Alvin menatap tajam Ryan seolah menyuruhnya untuk diam dan tidak mengeluarkan suaranya. Ryan yang mengerti tatapan Alvin pun lantas menutup mulutnya dan menggerakkan tangannya seolah mulutnya adalah resleting.
Beberapa saat kemudian, Alvin pun menghampiri Alan karena sejak tadi akan terus memperhatikan Rea yang tengah berbicara dengan sahabatnya, "Kalau lo suka sama dokter Rea cepetan lo tembak dia, jangan sampe lo ketinggalan. Nanti yang ada lo malah nyesel lagi gara-gara keduluan, inget dokter Rea itu cantik, jadi banyak yang mau sama dia salah satunya sahabat lo Ryan," ucap Alvin.
Bukannya menjawab Alan hanya mengangkat bahunya dengan acuh dan berlalu meninggalkan Alvin, "Astaga, padahal niat gue baik loh, untung aja Alan punyanya sahabat kaya gue yang baik dan gak sombong, kalau dia dapet orang lain. Dah kayaknya hidup Alan bakal kelar," gumam Alvin.
.
.
.
__ADS_1
Tbc