Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Sensi


__ADS_3

"Demi apa, Re. Tadi kapten alan khawatir sama lo, bahkan gue denger-denger kapten Alan sampe lari loh ke truk dan bawa lo ke sini terus dia jagain lo bahkan gak ngebolehin dokter lain buat jagain lo. Iiih kok gue yang baper sih sama sikapnya kapten Alan, fix ini mah kalau kapten Alan suka sama lo," ucap Nina.


"Jangan ngaco deh, udah sekarang gue mau istirahat kepala gue masih pusing nih terus denger suara lo makin pusing kepala gue," ucap Rea.


"Lo mah ya suara gue bagus-bagus kayak gini malah di bilang bikin kepala lo pusing, tapi yaudah deh lo istirahat aja," ucap Nina dan setelah itu pergi meninggalkan Rea.


Setelah Nina pergi Rea pun memikirkan perkataan Nina tadi mengenai kapten Alan yang khawatir padanya, "Gak mungkinkan ya. Masa sekelas kapten Alan khawatir sama gue sih, lagian gue juga udah punya suami walaupun gue gak tahu suami gue. Tapi, gue tetep setia sama dia, mau itu modelannya kayak kapten Alan," gumam Rea.


Malam harinya Rea merasa membaik dan ia memutuskan untuk kembali ke kamp karena banyak banyak relawan yang berjaga di sana tentunya dengan tentara lainnya juga. Batu saja Rea keluar dari ruangan tersebut tiba-tiba seseorang berhenti tepat di hadapannya dan memandang lekat kearah Rea.


"Dokter Rea udah sembuh? kalau masih sakit mendingan dokter Rea istirahat lagi aja atau dokter Rea butuh sesuatu biar saya yang ambilin?" tanya orang tersebut.


"Hem, anda siapa?" tanya Rea.


"Oh iya, lupa belum kenalan. Saya Gara anggota timnya kapten Alan, tadi kapten Alan suruh saya tanya ke dokter Rea mungkin saja dokter Rea butuh sesuatu," ucap Gara.


"Saya gak butuh apa-apa kok, saya cuma mau balik ke kamp," ucap Rea dan diangguki Gara.


"Mari saya antarkan dokter Rea ke kamp," ucap Gara.


"Gak perlu, saya bisa sendiri kok. Lagian jarak dari sini ke kamp juga gak jauh-jauh banget kok, jadi saya bisa sendiri," ucap Rea.


"Tapi, kan jalanan nya sepi kalua terjadi apa-apa bagaimana?" tanya Gara.


"Gak akan terjadi apa-apa kok, oh iya ngomong-ngomong apa pangkat anda masa saya harus manggil Gara aja kan kayak gimana gitu?" tanya Rea.


"Saya sersan sama seperti sersan Ryan, dokter Rea pasti tahu bukan sersan Ryan," ucap Gara dan diangguki Rea.


"Saya tahu kok, di sini yang pangkatnya kebanyakan semuanya sersan ya?" tanya Rea


"Iya, dari 33 anggota tim hanya kapten Alan yang berpangkat sebagai kapten lalu 19 anggota berpangkat sersan dan 13 kopral," ucap Gara.


"Banyak juga ya, tapi kenapa hanya kapten Alan yang pangkatnya kapten?" tanya Rea.


"Masa dalam tim harus ada dua kapten ya gak mungkin dong dok," ucap Gara.

__ADS_1


"Eh, iya juga ya. Hehehehe, yaudah ya saya pergi dulu sersan Gara," pamit Rea dan diangguki Gara.


"Hati-hati dokter Rea," ucap Gara.


Rea pun pergi dari tempat pengungsian dan menuju kamp militer, selama perjalanan Rea dapat melihat jalanan yang sepi. Sejujurnya Rea takut, tapi ia tidak enak jika harus merepotkan sersan Gara.


"Dokter Rea kenapa jalan sendirian?" tanya Marko, salah satu dokter dari rumah sakit Citra Lestari.


"Eh dokter Marko, iya saya tadi istirahat sebentar di pengungsian terus ini baru mau balik. Dokter Marko habis dari mana?" tanya Rea.


"Ini saya habis dari gudang buat ngambil beberapa obat yang udah habis," ucap Marko dan diangguki Rea.


"Oh, kalau gitu saya permisi dokter Marko. Dokter Marko bisa lanjutin tugas dokter Marko lagi," ucap Rea.


"Ayo, saya temani dokter Rea sampai di kamp," ucap Marko.


"Tidak perlu dokter, saya bisa sendiri kok," ucap Rea.


"Tapi, ini sudah malam dan juga jalanan nya sepi bahkan kurang penerangannya," ucap Marko.


"Tidak apa-apa saya berani kok, kalau begitu permisi," pamit Rea dan pergi meninggalkan Marko sendirian.


Rea saat ini sudah sampai di kamp militer dan melihat Nina yan sedang berada di luar kamp dengan membawa meminum teh hangat, "Loh, kok lo udah balik sih. Harusnya lo itu istirahat Re, nanti kalau lo sakit lagi gimana bisa-bisa kapten Alan marahin kota lagi," ucap Nina.


"Apa sih, gue itu udah mendingan makanya gue balik lagian gak ada sangkut pautnya kali sama kapten Alan dan gue juga minta sama lo jangan lagi lo goda gue sama kapten Alan karena gue sama kapten Alan gak ada apa-apa dan gak bakal ada apa-apa," ucap Rea.


"Gak ada yang tahu, Re. Siapa tahu nanti kapten Alan justru jodoh lo," ucap Nina.


"Gue gak bakal berjodoh sama kapten Alan karena gue udah punya jodoh sendiri," ucap Rea.


"Lo aja selama ini jomblo, mana tahu lo siapa jodoh lo," ucap Nina.


"Ya, gak tahu. Udah gue capek mau istirahat di kamp aja," ucap Rea dan masuk ke dalam kamp.


Rea dapat melihat Qilla yang tengah menggunakan masker di sana, "Kita ini jadi relawan, tapi lo masih sempat-sempatnya perawatan wajah," ucap Rea.

__ADS_1


"Loh harus itu, kita ini jadi relawan harus tetep cantik dan gak boleh kelihatan jelek apalagi di sini kita ketemu banyak cowok," ucap Qilla.


"Kalau mau cari cowok jangan ke tempat kayak gini, lo pergi aja ke tempat para jomblo biasanya pergi atau gak lo unduh aplikasi pencarian jodoh dijamin lo bakal capek cowok di sana," ucap Rea.


"Re," panggil Qilla dan Rea hanya menatap Qilla dan mengangkat alis kanannya.


"Lo kedatangan tamu bulanan ya?" tanya Qilla.


"Gak tuh, ke apa emangnya?" tanya Rea.


"Soalnya lo sensi banget jadi orang," ucap Qilla.


"Lo aja kali, orang gue biasa aja juga," ucap Rea.


"Bener kata Qilla lo hari ini sensi banget jadi orang," ucap Nina, yang baru saja masuk ke dalam kamp militer.


"Masa sih, tapi gue gak ngerasa tuh udah ah gue mau tidur," ucap Rea dan membaringkan tubuhnya di kasurnya.


"Beneran kan Rea hari ini sensi banget ke kita?" tanya Qilla, dengan berbisik dan tentunya diangguki Nina.


Disisi lain Alan yan baru saja menyelesaikan fasilitas untuk para pengungsi pun langsung menuju tempat Rea di rawat, tapi ia tidak melihat Rea di sana. Alan dengan cepat menghampiri Gara karena tadi ia sempat menitipkan Rea pada Gara.


"Sersan Gara," panggil Alan.


"Kapten, ada apa?" tanya Gara.


"Dokter kemana? kenapa dia tidak ada di ruangan?" tanya Alan.


"Oh soal itu, begini kapten tadi dokter Rea bilang ingin kembali ke kamp karena kondisinya yang mulai membaik ...," ucapan Gara terhenti karena Alan tiba-tiba menyela perkataannya.


"Kau tidak menemaninya?" tanya Alan, dengan suara yang cukup lantang bahkan terkesan membentak dan untung saja tidak ada yang sadar akan hal itu.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2