Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Bed Rest


__ADS_3

"Gimana Ma, Mama udah kasih pelajaran sama orang itu?" tanya Dea, saat Mama Dira masuk ke dalam ruang tempat Rea di rawat.


"Udah dong, sebenarnya Mama kurang puas. Tapi, Mama masih inget ini di rumah sakit," ucap Mama Dira.


"Kalau begitu kita permisi dulu tante," pamit Qilla.


"Iya, terima kasih ya udah bantu tante tadi," ucap Mama Dira dan diangguki Qilla.


"Oh iya, tadi Mama udah kabarin bunda kamu," ucap mama Dira.


"Loh, Ma. Kok di kasih tahu padahal Rea pengennya bunda gak tahu buat gak khawatir," ucap Rea.


"Gapapa sayang, lain kali kalau ada masalah kayak gini kami harus kasih tahu sama keluarga kamu loh ya," ucap Mama Dira dan diangguki Rea.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan Bunda dan kak Inez, "Astaga, anak Bunda kenapa kok bisa kayak gini?" tanya Bunda Nara.


"Ada orang yang kurang kerjaan, tapi gak usah khawatir tadi aku udah kasih pelajaran sama orangnya," ucap Mama Dira.


"Huh, syukurlah. Gimana sama keadaan kamu baik-baik aja kan terus cucu Bunda gimana?" tanya Bunda Nara.


"Rea baik-baik aja kok, Bunda. Terus cucu Bunda juga baik-baik aja," ucap Rea.


"Terus kata dokter apa?" tanya Bunda Nara.


"Kata dokter tadi Rea harus bed rest," ucap Alan.


"Baguslah, kamu emang harus bed rest, apalagi di usia kehamilan kamu ini takutnya kalau kecapean justru bahaya," ucap Bunda Nara dan diangguki Rea.


"Tadi Mama udah bilang Papa kamu, tapi Papa kamu lagi ada meeting jadi gak bisa ke sini deh," ucap Mama Dira.


"Iya, gapapa kok, Ma. Mama sama Bunda udah ke sini aja Rea udah seneng," ucap Rea.


"Kalau gitu kamu istirahat lagi aja ya," ucap Bunda Nara.


***


Sudah dua hari Rea izin dan saat ini ia benar-benar bed rest di rumah, selama itu juga Rea tidak boleh melakukan apapun bahkan untuk turun dari kasur pun tidak boleh apapun yang di butuhkan oleh Rea, Alan selalu memenuhinya dan jika Alan tidak ada di rumah maka rumah akan kehadiran Dea dan Gia yang menjaganya. Seperti saat ini Rea berada di kamar dengan Dea dan Gia yang ada di sebelahnya.


"Kakak mau apel, tadi Mama bawa apel lo?" tanah Dea.


"Hem, boleh deh. Biar kakak aja deh yang ambil, kamu sama Gia di sini aja," ucap Rea.


"Eits, gak boleh kak nanti kak Alan marah dan gak ngasih uang lagi, pokonya kak Rea di kasur duduk dengan tenang oke. Biar Gia aja yang ambil apelnya," ucap Gia dan mengambil buah apel yang ada di luar dan setelah itu masuk ke dalam kamar dengan baik apel dan juga pisau.


"Kakak bisa sendiri padahal, ini udah dua hari kakak di kasur bahkan mau ke kamar mandi aja harus di gendong," ucap Rea.


"Udah kak Rea nurut aja sama kak Alan," ucap Gia.


"Oh iya, katanya kak Inez mau ke sini, tapi kok gak bareng sama kamu?" tanya Rea.


"Iya, kak Inez mau ke sini, tapi nanti sore mungkin soalnya kan kak Ray siang ini mau ke Jepang," ucap Gia.

__ADS_1


"Kak Ray mau ke Jepang? tanya Rea dan diangguki Gia.


"Iya, katanya ada urusan gitu," ucap Gia.


"Kak Rea pengen sesuatu gak?" tanya Dea.


"Gak, kenapa emangnya?" tanya Rea.


"Kok Gea pengen mayonaise ya," ucap Dea.


"Hah, kamu pengen mayonaise pake apa?" tanya Rea.


"Gak pake apa-apa kak cuma mayonaise aja," ucap Dea.


"Apa Dea ngidam ya kak," ucap Gia.


"Hush, ngawur kamu. Dea kok ngidam, Dea aja belum hamil," ucap Dea.


"Siapa tahu anaknya kak Rea yang pengen terus Dea nya yang ngidam," ucap Gia.


"Aneh kamu, orang yang hamil kakak kok bisa Dea yang ngidam. Gini ya yang ada harusnya kakak atau kak Alan yang ngidam bukan Dea," ucap Rea.


"Ya, kan siapa tahu," ucap Gia.


Saya mereka tenaga asik mengobrol tiba-tiba dari luar rumah terdengar suara riuh, "Ada apa ya kak kok rame banget?" tanya Gia.


"Mungkin itu anggota timnya kak Alan, dulu waktu dea beberapa kali ke sini juga kayak gitu rame," ucap Dea.


"Ayo," ucap Dea dan Gia.


Baru saja Rea akan turun dari kasur tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampilkan wajah taman suaminya, "Sayang, kamu mau kemana kok mau turun dari kasur?" tanya Alan.


Rea pun menghembuskan napasnya kasar, "Mas, aku itu gapapa. Aku udah dua hari loh dia kasur dan gak ngapa-ngapain, sampe bosen aku," ucap Rea.


"Gapapa sayang, kamu emang harus bed rest," ucap Alan.


"Ya, tapi gak kayak gin juga. Aku serasa jadi tahanan tahu gak," ucap Rea dan nyali berkaca-kaca.


"Huh, kamu beneran udah gapapa?" tanya Alan.


"Iya, aku udah gapapa bahkan aku udah baik-baik aja gak ada yang sakit, kalau aku di kasir terus kesannya aku kayak Rapunzel cuma beda tempat aja, kalau Rapunzel di menara kalau aku di kasur," ucap Rea.


"Yaudah, kamu boleh turun dari kasur," ucap Alan.


"Yes, makasih Mas," ucap Rea dan turun dari kasur lalu melompat bersama Dea dan Gia.


"Heh, jangan lompat-lompat kayak gitu aduh," ucap Alan dan menarik Rea lalu memeluknya dari belakang.


"Ish, gapapa Mas," ucap Rea.


"Gak boleh, kalau kamu gak nurut yaudah. Kamu gak boleh turun dari kasur," ucap Alan.

__ADS_1


"Eh, jangan dong. Iya ini aku udah nurut gak lompat lagi," ucap Rea.


"Kamu boleh turun dari kasur dan jalan lagi, tapi kami gak boleh ngelakuin yang berat-berat, pokoknya kamu harus kasih tahu aku atau yang lain kalau butuh apa-apa oke," ucap Alan.


"Iya, Mas Alan yang tampan," ucap Rea, yang mampu membuat Alan salah tingkah, tapi dengan sekuat tenaga Alan berhasil menyembunyikannya.


"Oh iya Mas, kenapa tadi di luar rame banget?" tanya Rea.


"Oh itu biasa anggotaku lagi latihan gitu," ucap Alan.


"Kenapa gak latihan di lapangan aja?" tanya Rea.


"Soalnya tadi ada urusan jadi belum sempat latihan dan pas sampe di sini mereka latihan sebentar kok," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Kak, kita berdua udah jaga kak Rea loh mana uangnya?" tanya Gia.


Rea benar-benar malu sekali dengan siap adiknya yang terlalu terus terang, "Aduh, Gia jangan malu-maluin kakak deh," ucap Rea.


"Loh, malu-maluin apa kak, orang Gia cuma minta janjinya kak Alan. Kan waktu itu kak Alan janji bakal ngasih Gia uang kalau Gia jagain kakak," ucap Gia.


"Kamu gak ikhlas jagain kakak?" tanya Rea.


"Eh, ikhlas song kak, tapi dompetnya Gia juga butuh pemasukan, masa pengeluaran sama pemasukan dompet Gia gak sama sih," ucap Gia.


"Ish, kamu itu bisa aja jawabnya," ucap Rea.


"Udah gapapa, ternyata sikap kami beda ya sama kakak kamu," ucap Alan dan memberikan uang pada Gia dan dengan senang hati Gia menerima uang tersebut.


"Iya dong kak, kalau kak Rea itu orangnya suka gak enak-an yang akhirnya malah dimanfaatin sama orang lain," ucap Gia.


"Sok tahu kamu," ucap Rea.


"Udah ya kak, sekarang Gia sama Dea mau pulang dulu ya soalnya Dea lagi pengen mayonaise, dadah," pamit Gia lalu menarik tangan Dea.


"Maaf ya adikku malu-maluin," ucap Rea.


"Benar kata Gia kalau kamu itu gak enak-an padahal aku biasa-biasa aja," ucap Alan.


"Oh iya nanti kak Inez sama Kaif mau ke sini," ucap Rea.


"Bagus dong, kamu kan dari kemarin bilang kalau kangen Kaif," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Iya, aku emang sering banget sama Kaif, tapi kemarin itu paling kangen banget pengen peluk," ucap Rea.


"Mungkin itu bawaan bayi," ucap Alan dan mengusap lembut perut Rea.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2