
"Kak Noah," panggil Lea.
"Kenapa?" tanya Noah.
Saat ini Lea dan Noah berada di ruang rawat inap Lea, untuk keluarga lainnya sudah pulang karena Noah yang memintanya dan juga Noah meminta untuk menjaga Vian karena ia tidak bisa meninggalkan Lea sendirian di rumah sakit dan Noah juga tidak bisa membiarkan Vian lama-lama di rumah sakit.
"Sakit ya kak," ucap Lea.
Noah pun mengerutkan keningnya dan menatap Lea, "Maksudnya?" tanya Noah.
Lea pun mengarahkan tangannya ke lengan Noah yang terkena tembak, "Pasti sakit ya kak, kenapa gak di obati," ucap Lea.
Karena panik melihat keadaan istrinya, Noah sampai tidak merasakan luka tembak yang ada di lengannya, "Gapapa kok ini, lagian kan pelurunya gak sampe masuk ke dalam. Ini cuma luka biasa kok," ucap Noah.
Luka tembak tersebut juga sudah kering karena itu tidak ada yang sadar jika Noah terluka.
"Sampe kering gini loh kak, biar Lea obati ya," ucap Lea dan berniat turun dari brankar.
"Gak sayang, kamu harus di sini dan gak boleh turun," ucap Noah.
"Tapi, luka kakak kalau gak diobati nanti bisa infeksi," ucap Lea.
"Gapapa sayang beneran," ucap Noah.
"Gak mau, pokoknya Lea mau obati luka kakak atau gak Lea panggil suster atau dokter ya buat obati kakak," ucap Lea.
"Yaudah, kalau gitu biar aku yang ambil obatnya terus kamu aja yang obati aku ya," ucap Noah dan diangguki Lea.
Beberapa saat kemudian, Noah pun kembali ke ruang rawat inap Lea dengan membawa obat serta alat-alat untuk mengobatinya.
"Sini kak Noah deketin biar Lea obati kak Noah nya gampang," ucap Lea.
Noah pun hanya menurut saja karena memang tidak mungkin Lea turun dari brankar hanya untuk mengobatinya.
"Pasti sakit banget ya kak," ucap Lea dan mengobati luka sang suami.
"Gak kok sayang," ucap Noah.
"Gak gimana orang kering kayak gini, pokoknya ini harus panggil dokter bait di jahit," ucap Lea.
"Gak usah sayang, aku beneran gapapa kok lagian luka kayak gini itu hal biasa buat aku," ucap Noah.
"Ya, tapi kan tetep aja kak Noah terluka gara-gara Lea," ucap Lea dan mulai berkaca-kaca.
"Aku ngelakuin itu karena emang tugas aku, aku punya tanggungjawab untuk ngelindugin kamu," ucap Noah.
"Iiih, makin cinta deh kalau kayak gini," ucap Lea.
"Apalagi aku, aku rasa aku udah jatuh sedalam-dalamnya sama pesona kamu," ucap Noah dan hal itu berhasil membuat pipi Lea bersemu merah.
"Kenapa nih pipinya kok merah?" tanya Noah dengan menggoda Lea.
"Ish, nyebelin, tapi aku suka," ucap Lea.
###
Beberapa bulan kemudian
Saat ini rumah ayah Alan cukup ramai karena memang seluruh kerabat ayah Alan dan bunda Rea tengah mengadakan pertemuan keluarga di sini dan jangan lupakan kehadiran sahabat ayah Alan dan bunda Rea.
"Ihhh, lucu banget sih kamu ini," ucap Dea.
"Iya dong aunty, kan Vian emang lucu," ucap Lea dengan menirukan suara anak kecil.
"Sayang," panggil Noah.
"Kenapa kak?" tanya Lea.
"Kamu belum makan kan dari tadi, sekarang makan ya ini udah aku ambilin makanan untuk kamu," ucap Noah dan menaruh makanan yang ia ambil untuk Lea di meja depan istrinya.
"Tapi, aku gak laper kak," ucap Lea.
"Kamu itu lagi menyusui, jadi harus makan yang banyak sayang," ucap Noah.
"Iya iya, ini Lea makan kok," ucap Lea.
"Kak Lea," panggil Laura.
Masih ingatkan dengan Laura, semoga masih ya, kalau udah lupa berarti kalian harus baca season 2 bab awal.
"Kenapa Ra?" tanya Lea.
"Kak Reyhan ngeselin masa marah-marah sih sama Laura padahal kan Laura gak sengaja hapus kontak di ponselnya," ucap Laura.
"Kamu sih sayang kan sekarang aku gak bisa komunikasi sama temen-temen jauh aku," ucap Reyhan.
__ADS_1
"Kak," rengek Laura.
"Kalian ini udah nikah, tapi masih kayak anak kecil aja," ucap bunda Rea.
Lea yang melihat hal itu hanya tersenyum karena menurutnya kepribadian Laura dan Reyhan berbanding terbalik, tapi mereka justru berjodoh dan menikah.
Lea merasa malu sendiri jika mengingat awal-awal ia kenal dengan Laura, dimana le mengira jika Laura merupakan pacar Noah bahkan saat Lea sudah menikah dengan Noah, Lea sering berpikir hal buruk mengenai Laura dan Ira kakak Laura.
"Kak, Maudy mau dong gendong Vian," ucap Maudy.
"Gak ya, kamu lagi hamil besar loh," ucap Nial.
"Ish, gapapa kak. Ini aku ngidam loh pengen gendong Vian," ucap Maudy.
"Tapi, Vian berat," ucap Lea.
"Gapapa kak, Maudy bisa kok," ucap Maudy.
"Gak, bunda gak ngasih izin buat kamu gendong Vian. Kamu ini lagi hamil 8 bulan loh sayang," ucap bunda Rea.
"Udah mendingan kamu duduk aja," ucap ayah Alan.
Maudy sendiri pun akhirnya mengalah dan memilih duduk di sebelah Lea yang tengah memakan cemilan, sedangkan Vian sendiri sudah di bawa pergi oleh mommy Emma dan kerabat lainnya.
Untuk keluarga Maudy yaitu pak Ruslan, Caca dan Bu Aini, mereka masih tinggal di daerah pelabuhan, tapi mereka sudah tidak tinggal di rumah yang dulu keluargaku tempati karena Nial sudah membelikan tanah dan juga sudah membangunkan rumah yang layak untuk keluarga sang istri.
Caca sendiri juga sudah meminta maaf karena selama ini sudah membenci Maudy padahal Maudy yang berusaha payah untuk kehidupan keluarganya.
"Sayang," panggil Noah.
"Kenapa kak?" tanya Lea.
"Mau makan gak?" tanya Noah.
"Kak, aku daritadi makan terus loh," ucap Lea.
"Kan daritadi kamu itu cuma makan cemilan doang sayang," ucap Noah.
"Gak ah, nanti aku tambah gemuk lagi," ucap Lea.
"Gapapa sayang, aku malah seneng kalau kamu gemuk karena itu artinya kamu bahagia sama aku," ucap Noah.
"Cie cie, baper nih Daisy yang denger gombalan mautnya kak Noah," ucap Daisy.
"Malu," cicit Lea dan Noah hanya tersenyum melihat sang istri.
"Gak usah malu sayang, lagian kamu di gombalin suami kamu sendiri kok," ucap bunda Rea.
"Gimana keadaan Riko?" tanya Qilla yang baru saja duduk di samping bunda Rea.
"Lah mana gue tau lagian ngapain juga gue ngurusin dia," ucap bunda Rea.
"Dia udah minta maaf belum sama lo?" tanya Qilla.
"Udah kok, beberapa bulan yang lalu sih dia minta maaf karena berniat buat deketin gue, tapi setelah itu gue gak ketemu lagi sama dia, jadi gue gak tau gimana keadaan dia dan tentunya gue gak penasaran sama kabar dia," ucap bunda Rea.
"Gue denger dia udah pindah ke luar negeri," ucap Qilla.
"Mana gue tau," ucap bunda Rea.
"Biarin aja sih sayang, mau dia pindah ke luar negeri atau ke planet lain juga gak masalah. Kamu lihat tuh pawangnya Rea udah mau mangsa kamu," ucap Ryan dan menunjuk ayah Alan menggunakan dagunya.
Qilla pun melihat ayah Alan dan benar saja sekarang ayah Alan sudah menatap tajam ke arahnya, "Hehehehe, maaf ya Lan. Gue bercanda," ucap Qilla.
"Gak usah bahas dia kalau di sini lagipula dia bukan keluarga di sini," ucap ayah Alan.
"Iya iya, gue tadi cuma penasaran aja," ucap Qilla.
"Aunty," rengek Kyra.
"Kenapa?" tanya Qilla.
"Ini loh Elvan ngeselin banget, masa katanya anaknya Kyra nanti kayak dia sih," ucap Kyra.
"Bagus dong kak, nanti anaknya kak Kyra ganteng kayak Elvan," ucap Elvan.
"Kalau anaknya Kyra gantengnya kayak kamu sih ya gak masalah, tapi kalau anaknya kakak punya kelakuan kayak kamu kakak gak mau," ucap Kyra.
"Kenapa kak Kyra gak mau kalau anak kak Kyra kayak Elvan?" tanya Maudy.
"Pokoknya jangan deh, yang ada nanti anak kakak cerewet dan jail kayak Elvan," ucap Kyra.
"Aunty setuju, aunty aja udah pusing sama Elvan," ucap Qilla.
"Mama jahat banget sama anak sendiri," ucap Elvan.
__ADS_1
Kyra sendiri saat ini memang tengah hamil, usia kandungannya memasuki 7 Minggu meskipun Kyra menikah terlebih dahulu daripada Maudy dan Daisy, tapi Kyra memang sengaja menunda kurang lebih selama 5 bulan karena ia sibuk dengan pendidikannya dan sang suami yang sibuk dengan pekerjaannya.
Nial dan mau saat ini berada di meja makan dimana Maudy tengah makan padahal satu jam sebelumnya Maudy sudah makan, tapi ia merasakan lapar kembali dan akhirnya Nial menyuruh Maudy untuk makan.
"Ini, kamu pengen kan," ucap Nial.
"Makasih," ucap Maudy dan tersenyum ke arah Nial.
"Iya, sama-sama sayang," ucap Nial.
"Bapak di luar kak?" tanya Maudy.
"Iya, bapak di luar sama uncle terus ibu lagi di kamar dan Caca lagi ngobrol sama Erika," ucap Nial.
"Makasih ya kak," ucap Maudy dan tersenyum.
"Makasih untuk apa sayang, kamu gak harus bilang makasih. Justru harusnya aku yang bilang makasih karena kamu mau sama aku bahkan sebentar lagi aku bakal jadi ayah," ucap Nial.
"Aku mau ngucapin makasih karena kakak baik banget sama aku, bapak, ibu terus juga sama Caca. Kak Nial selalu memenuhi kebutuhan Maudy dan keluarga Maudy bahkan kak Nial sampai membangun rumah untuk keluarga Maudy, Maudy gak tau harus bilang apa lagi selain makasih. Maudy juga gak tau harus ngasih apa ke kak Nial karena udah bantu banyak buat keluarga Maudy," ucap Maudy.
Nial yang mendengarnya perkataan sang istri pun tersenyum lalu mendekati Maudy dan mengecup kening sang istri.
"Itu sudah tanggungjawabku sayang, setelah kamu resmi menjadi istri aku itu artinya kamu resmi menjadi keluargaku dan begitu juga sebaliknya, aku udah jadi keluarga kamu dan itu artinya aku punya tanggungjawab untuk memenuhi segala kebutuhan kamu dan keluarga kamu paham," ucap Nial.
"Iya kak paham," ucap Maudy dan tersenyum.
"Cantik banget sih istri aku ini," ucap Nial.
.
Malam harinya rumah keluarga ayah Alan masih sangat ramai karena memang mereka memutuskan untuk menginap di rumah ayah Alan, lagipula rumah ayah Alan cukup luas dan mampu menampung kerabat yang akan menginap di sana.
"Kamu duduk aja ya," ucap Noah.
"Kalau aku duduk nanti gak ada yang manggang dagingnya dong," ucap Lea.
Ya, saat ini mereka tengah mengadakan barbeque di taman belakang rumah ayah Alan, "Biar aku aja kak yang manggang, kakak duduk aja ya," ucap Erika.
"Yaudah ini, yang enak ya manggang nya," ucap Lea.
"Siap kak," ucap Erika.
Noah pun menuntun Lea untuk duduk di kursi yang sudah di siapkan, "Vian mana kak kok Lea gak ketemu sih sama Vian anaknya Lea kak?" tanya Lea.
"Vian lagi sama mommy, kamu kayak gak tau aja para orangtua daritadi gak mau lepas dari Vian," ucap Noah.
Lea lun berdiri dan menghampiri para orangtua dan benar saja Vian memang tengah berada di tengah-tengah mereka lebih tepatnya berada di pangkuan bunda Rea.
"Bunda anak Lea kok di bawa terus sih sama bunda, masa Lea gak ketemu sama anak Lea," ucap Lea dan menggendong putranya.
"Habisnya Vian anteng sih sama bunda yaudah deh bunda gak kasih ke kamu," ucap bunda Rea.
"Iya bener kata bunda ku, mommy juga heran sendiri deh, Vian kok anteng banget ya padahal bayi seusia Vian biasanya itu aktifnya gak ketulungan, tapi kok Vian diem gitu, Vian itu nangis kalau haus sama ngantuk deh," ucap mommy Emma.
"Mommy gak usah heran kan ayahnya Vian aja orangnya kaku mana kayak kulkas berjalan lagi," ucap Lea.
"Sayang," ucap Noah karena mendengar sindiran dati sang istri.
Lea lun tertawa dan mengarahkan tangan Vian ke depan, "Maafin mommy ya daddy, mommy cuma bercanda kok tadi," ucap Lea dengan menirukan suara anak kecil.
"Kalian kalau mau mesra-mesraan pergi deh gak usah di sini," ucap bunda Rea.
"Kan ada ayah bun, bunda bisa mesra-mesraan sama ayah," ucap Lea.
Baru saja bunda Rea akan menjawab tiba-tiba mommy Emma menyelanya, "Ayo kita makan-makan aja," ucap mommy Emma dan menarik tangan daddy Albert begitupun dengan Lea dan Noah.
Saat ini ayah Alan dan bunda Rea hanya berdua di kursi panjang yang ada di pinggir gazebo taman, ayah Alan memegang pundak bunda Rea dan mengecup pipi bunda Rea.
"Aku gak nyangka ternyata anak-anak kita udah besar ya bahkan kita udah lainya cucu," ucap ayah Alan.
"Iya, aku juga gak nyangka, jadi keinget waktu kita nikah dulu," ucap bunda Rea.
"Kita nikahnya aneh ya, banyak yang bilang kok kita bisa nikah gitu," ucap ayah Alan.
"Ya, kayak di novel gitu kan," ucap bunda Rea.
"Makasih sayang, i love you bundanya anak-anaku. Kamu adalah wanita terbaik yang pernah aku temui, aku berharap kita akan bertemu kembali di surga bersama dengan anak-anak kita bahagia hidup di sana," ucap ayah Alan dan mengecup kening bunda Rea.
"I love you too ayah ya anak-anak aku," ucap bunda Rea.
Mereka berdua memang jauh dari kata sempurna, tapi mereka mencoba untuk saling melengkapi agar hubungan yang mereka jalani menjadi sempurna bagi keduanya. Begitupun dengan author yang tentunya tidak sempurna dalam menuangkan ide pada cerita mereka, tapi author berusaha yang terbaik untuk pembaca yang sudah memberikan semangat sehingga author memiliki semangat untuk menulis.
.......
.......
__ADS_1
.......
...# SELESAI #...