Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Orang Galau?


__ADS_3

Maudy berjalan menuju rumah dinas yang ditempati Bu Nanda, "Selamat siang Bu Nanda," sapa Maudy.


"Ada apa?" tanya Bu Nanda, yang berada di depan rumah.


"Saya ingin mempertanyakan perihal maksud Bu Nanda yang mengusir keluarga saya dari rumah yang saya ini kami tempati," ucap Maudy.


"Oh itu, kenapa emangnya kamu gak terima?" tanya Bu Nanda.


"Iya Bu, saya tidak mengerti kenapa Bu Nanda Samapi seperti ini hanya karena saya dekat dengan sersan Nial," ucap Maudy.


"Ya, jelas lah. Sersan Nial itu calon menantu saya, saya gak mau ya sersan Nial dekat sama kamu, kamu sama sersan Nial itu berbeda dan gak cocok. Sersan Nial itu cocoknya sama Freya anak saya, dia seorang dokter dan kehidupannya juga menjanjikan," ucap Bu Nanda.


"Saya tidak ada hubungan apapun dengan sersan Nial bahkan saya sudah menjauhi sersan Nial. Apa Bu Nanda akan tetap mengusir keluarga saya?" tanya Maudy.


"Iya, saya tidak kan mengusir keluargamu jika kamu pergi dari sini, dengan adanya kamu di sini maka kamu masih bisa bertemu dengan sersan Nial bukan," ucap Bu Nanda.


"Baik, saya akan segera pergi dari sini, tapi tolong berikan beberapa waktu karena saya harus menyiapkan semuanya terlebih dahulu sebelum pergi," ucap Maudy.


"Silahkan," ucap Bu Nanda dan masuk ke dalam kamar.


Maudy sengaja mengatakan hal tersebut karen memang dalam waktu dekat ini, Maudy harus segera pergi dari sini bukan karena ia diterima bekerja di salah satu sekolah swasta terbaik di kota.


Maudy pun pergi dari tempat tersebut dan ia berpapasan dengan Nial dan tentara lainnya yang tadi ia temui di cafe. Maudy berusaha untuk tidak melihat mereka, takut naas Bian minat Maudy dan menyapanya alhasil Maudy pun ikut menatap mereka. Ingat! hanya menatap dengan menganggukkan kepalanya tanpa berbicara apapun setelah itu ia berjalan meninggalkan para tentara tersebut.


Tapi, lagi-lagi langkah Maudy terhenti karena Yudha yang menggodanya bersama Nial bahkan Yudha menghadang Maudy, "Lagi marahan sama Nial ya?" tanya Yudha.


"Maaf, sersan. Saya harus pergi," pamit Maudy dan berjalan melewati Yudha lalu ia berlari dari tempat terkutuk itu.


"Maudy kenapa?" tanya Bobby.


"Gak tau, btw lo beneran udah mastiin kalau dia gak marah sama lo?" tanya Bian.


"Hem," jawab Nial.


"Jawaban yang sangat singkat, padat dan jelas sekali," ucap Bian dan Nial hanya melirik Bian lalu pergi meninggalkan sahabatnya.


Maudy sampai di rumah dan langsung berhadapan dengan sang bapak, "Bagaimana? apa Bu Nanda masih ingin mengusir kita?" tanya Ruslan.


"Gak kok pak, Bu Nanda gak jadi ngusir kita," ucap Maudy.


"Syukurlah," ucap Ruslan.


"Terus apa yang buat Bu Nanda gak jadi ngusir kita?" tanya Caca.


"Maudy harus pergi dari sini dan dengan itu Bu Nanda bakal tetap biarin kita tinggal di sini," ucap Maudy.


Ruslan tentunya terkejut dengan hal itu, "Tapi, Maudy. bapak gak mau kamu pergi dari sini, ayah gak mau aku dari anak-anak bapak," ucap Ruslan.


Setelah kematian Chelsea, Ruslan memang menjadi sangat khawatir saat berjauhan dengan anaknya bahkan saat Maudy kuliah dulu hampir setiap malam Ruslan menelpon dan menanyakan keadaan Maudy.


"Gapapa kok pak, lagipula Maudy pergi juga bakal kerja kan," ucap Maudy.


"Maksud kamu?" tanya Ruslan.


"Ini pak, Maudy di terima di salah satu sekolah swasta terbaik di kota," ucap Maudy dan dengan bangganya menunjukkan sebuah gambar di ponselnya.


Dimana hasil dari tes yang Maudy lalui sehingga Maudy dinyatakan lolos, "Bapak bangga sama kamu Maudy, maafin bapak karena tadi nampar kamu. Bapak refleks karena bapak tidak punya apa-apa kalau harus pergi dari sini," ucap Ruslan.


"Iya, gapapa kok pak, Maudy maklumi itu, maafin Maudy juga karena Maudy semuanya kacau kayak gini," ucap Maudy.

__ADS_1


"Kapan kakak bakal perginya?" tanya Caca.


"Mungkin secepatnya karena Minggu depan kakak udah mulai masuk," ucap Maudy.


"Yaudah, kalua gitu besok aja," ucap Caca.


"Kalau besok bukannya terlalu mendadak," ucap Ruslan.


"Gak lah pak, malah lebih cepat lebih bagus," ucap Caca.


"Iya pak bener kata Caca. Maudy harus cepat pergi dari sini sebelum Bu Nanda berubah pikiran," ucap Maudy.


"Bapak hanya mampu mendoakan semoga kamu betah di tempat kerja kamu, kamu gak boleh kelelahan kalau ada apa-apa jangan lupa kabari bapak ya," ucap Ruslan.


"Iya pak," ucap Maudy.


#


Satu Minggu kemudian, Nial yang selesai berlatih pun menatap gerobak burger yang sangat ia kenal, Nial menghampiri gerobak tersebut.


"Eh, sersan Nial. Mau beli sersan? tanya Ruslan.


"A-ah, iya pak saya beli enam ya," ucap Nial dan diangguki Ruslan.


Ruslan pun mulai membuatkan pesanan Nial, "Oh iya, pak. Maudy lagi sibuk ya kok saya gak pernah ketemu sama Maudy lagi, biasanya kan kalau hari selasa itu dia yang jualan, tapi ini saya gak pernah ketemu lagi sama Maudy?" tanya Nial.


Ruslan pun menatap Nial dan tersenyum, "Maudy kerja sersan makanya dia gak bisa jualan lagi," ucap Ruslan.


"Kerja? kerja dimana?" tanya Nial.


"Ada lah sersan Nial, Maudy kerja di suatu tempat yang ia impikan sejak dulu, lagipula yang terpenting apa yang dikerjakan Maudy halal kok," ucap Ruslan.


"Sekitar satu Minggu sersan," ucap Ruslan.


"Lama ternyata," gumam Nial dan masih dapat di dengar Ruslan.


"Ini, sersan Nial silahkan," ucap Ruslan dan memberikan burger yang dipesan Nial.


"Terima kasih pak," ucap Nial dan pergi dari tempat tersebut.


Ruslan menatap punggung tegap Nial, "Beruntung sekali kamu Maudy," gumam Ruslan.


Nial pun menuju asrama karena memang hari ini latihannya selesai lebih cepat, "Nih," ucap Nial dan memberikan burger yang ia pesan tadi ke Bian.


"Buat gue?" tanya Bian.


"Hem, bagi-bagi sana," ucap Nial.


"Semuanya?" tanya Bian.


"Hem," jawab Nial.


"Kenapa gak lo makan aja?" tanya Bian.


"Gak pengen," ucap Nial.


"Terus kalau lo gak pengen kenapa beli coba? apa gara-gara Maudy? lo pasti ngiranya Maudy yang jualan kan?" tanya Bian.


"Gak," ucap Nial.

__ADS_1


"Kelihatan banget tau," ucap Bian.


Nial tidak merespon godaan Bian dan ia lebih memilih untuk tidur di kasurnya, entahlah kenapa dengannya uang jelas ia ingin bertemu dengan Maudy dan berbicara panjang lebar seperti dulu saat Maudy yang berbicara panjang lebar padanya.


Nial tidak bodoh, ia yakin ada sesuatu yang Maudy sembunyikan darinya. Bahkan Nial sempat berpikir jika Maudy diancam oleh seseorang agar menjauh dari Nial karena tidak mungkin Maudy tiba-tiba menjauhinya begitu saja tanpa sebab bahkan sebelumnya Maudy sangat berusaha untuk dekat dengan Nial.


'Hish, kenapa gue mikirin hal yang penting kayak gini sih,' ucap Nial dalam hati.


Sedangkan, Bian yang sejak tadi berada di sana pun menatap geli sahabatnya. Bagaimana tidak, Maudy dapat melihat secara langsung bagaimana Nial yang pusing karena perempuan dan hal itu membuat Bian harus menahan tawa.


"Kak Bian kenapa?" tanya Elvan yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut bersama dengan Bobby, Yudha dan Brandon.


"Oh ini lagi lihat orang galau," ucap Bian.


"Orang galau? siapa?" tanya Bobby.


"Tuh Nial," ucap Bian.


"Kenapa gue?" tanya Nial dan membuka matanya.


"Lah kan lo galau gara-gara gak ketemu sama Maudy," ucap Bian.


"Gak ya, gue gak galau gara-gara dia," ucap Nial.


"Ck, gitu aja gak mau ngaku," ucap Bian.


"Bukannya Maudy kerja di kota ya," ucap Yudha.


"Kerja di kota," ucap Nial.


"Iya, jadi gue denger-denger dia itu udah semingguan mungkin ya kerja di kota," ucap Yudha.


"Kerja apa?" tanya Bobby.


"Maudy kan jurusannya guru gitu sih, terus ya Maudy kerja jadi guru di sekolah swasta, tapi gue gak tau apa nama sekolahnya," ucap Yudha.


"Lo tau ini dari siapa?" tanya Nial.


"Oh gue dengernya waktu pak Ruslan bicara gitu sama Bu Nanda," ucap Yudha.


"Kenapa pak Ruslan bicara sama Bu Nanda?" tanya Elvan.


"Ya, wajar dong kan pak Ruslan juga bisa berjualan di sini karena izin dari Bu Nanda," ucap Yudha dan semua orang percaya akan hal itu.


"Kenapa lo?" tanya Brandon.


"Entahlah, gue kok masih ngerasa ada yang aneh gitu. Tapi, gue gak tau apa itu," ucap nial.


"Udah, kalau jodoh pasti ketemu kok, lo gak usah takut soal Maudy," ucap Bian.


"Apa sih gak jelas," ucap Nial.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2