Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Menghindar


__ADS_3

Seorang perempuan tengah menunggu jualannya di pinggir pelabuhan, ia berharap ada orang yang datang dan membelinya. Hari sudah siang, tapi burger yang ia jual hanya terjual 2 saja, sedangkan ia membawa cukup banyak burger. Ya, dia adalah Maudy.


Maudy sudah berjualan di sini kurang lebih selama 3 hari dimana sebelumnya Bu Nanda melarang Ruslan untuk berjualan di dekat asrama tempat biasanya Ruslan berjualan dengan alasan karena Maudy dekat dengan Nial.


Tidak masuk akal bukan alasannya, tapi ya karena tidak mau cari masalah maka Ruslan pun hanya diam dan pindah tempat berjualan.


"Kak Maudy," panggil seseorang.


Maudy pun menoleh dan melihat siapa yang telah memanggilnya, "Iya, ada apa ya?" tanya Maudy.


Maudy tidak kenal siapa orang tersebut, tapi dati cara pakaiannya Maudy tau pasti orang ini adalah tentara karena memakai seragam tentara.


"Kak Maudy tumben gak jualan di dekat asrama kak?" tanya orang tersebut.


"Oh itu, ehm pengen cari suasana baru aja," ucap Maudy.


"Oh iya kak kenalin aku Elvan," ucap Elvan.


"Oh iya, salam kenal, ehm aku panggilnya apa ya kira-kira?" tanya Maudy.


"Panggil Elvan aja kak soalnya aku masih baru kok di dunia tentara. Lagipula umurnya lebih tua-an kak Maudy kok," ucap Elvan dan diangguki Maudy.


"Kak Maudy dapat salam dari sersan Nial," ucap Elvan dan Maudy hanya tersenyum canggung.


Maudy sudah tidak ingin berurusan dengan Nial karena ia takut akan berdampak pada keluarganya.


"Kak Maudy mau nomornya kak Nial gak? Elvan punya nih nomornya kak Nial," tanya Elvan.


"Gak perlu, aku gak butuh nomornya sersan Nial kok," ucap Maudy.


"Elvan," panggil Nial, dari belakang Elvan.


"Eh ada kak Nial," ucap Elvan.


"Ayo, kita balik," ajak Nial.


"Iya bentar kak, ini Elvan aku beli burgernya dulu. Kak Maudy burger tiga ya," ucap Elvan.


"Iya," ucap Maudy dan mulai membuatkan burger pesanan Elvan.


"Ini," ucap Maudy dan memberikan burger tersebut pada Elvan lalu Elvan pun membayarnya.


"Kak Nial gak beli?" tanya Elvan.


"Gak," jawab Nial.


"Kak Maudy gak mau nyapa kak Nial," ucap Elvan.


Maudy pun menatap Elvan dan bergantian menatap Nial lalu menganggukkan kepalanya.


Maudy benar-benar mengacuhkan Nial bahkan Maudy menganggap jika saat ini tidak ada Nial, ia harus bisa menjauh dari Nial agar keluarganya tidak terkena masalah. Cukup waktu itu saja ia dekat dengan Nial dan berakhir ayahnya tidak boleh berdagang di dekat asrama.


"Kalau begitu saya permisi," ucap Maudy dan pergi begitu saja tanpa menatap Nial.


Nial yang di acuhkan oleh Maudy pun bertanya-tanya ada apa dengan Maudy karena yang ia tau Maudy adalah salah satu perempuan yang sangat ramah padanya bahkan Maudy terkesan mendekati Nial, tapi kenapa sekarang Maudy seolah-olah tidak mengenal Nial.


Apa jika punya salah pada Maudy, tapi apa. Seingat Nial, ia tidak berbuat apapun pada Maudy. Itukah yang dipikirkan Nial saat ini karena mendapatkan sikap kurang mengenakkan dari Maudy.


"Kak Nial marahan ya sama kak Maudy?" tanya Elvan.


Nial menatap Elvan, "Gak, bahkan kakak aja udah lama gak ketemu sama dia," ucap Nial.


"Tapi, kok kak Maudy kayak ngehindar gitu ya dari kakak," ucap Elvan.


"Mana kakak tau, mungkin dia udah sadar kali," ucap Nial.

__ADS_1


"Halah, kakak aja kelihatan gak suka sama sikap kak Maudy tadi sama kakak," ucap Elvan.


"Sok tau kamu," ucap Nial.


"Tenang aja kak nanti Elvan bantuin buat deketin kak Maudy kok," ucap Elvan.


Nial sendiri hanya menatap malas Elvan dan berlalu pergi begitu saja, "Dasar gengsian!" teriak Elvan.


.


Hari berganti saat ini Maudy berada di salah satu cafe yang ada di dekat pusat pelabuhan untuk melihat apakah dia di terima di salah satu sekolah yang ia lamar. Maudy sendiri berada di cafe ini udah satu jam lebih karena memang sinyal terbaik berada di cafe ini.


"Semoga lolos," gumam Maudy.


Beberapa saat kemudian, Maudy pun meneteskan air mata saya melihat hasil yang tertera pada laptopnya dimana namanya lolos di salah satu sekolah swasta yang ia lamar, "Alhamdulillah! Maudy lolos, terima kasih Tuhan, hiks hiks," gumam Maudy.


Maudy segera menghapus air matanya agar orang-orang di sekitarnya tidak melihatnya yang tengah menangis bahagia.


"Loh Maudy kenapa? di sakitin Nial ya," tanya Bian.


"Eh, sersan Bian. Gak kok sersan," ucap Maudy.


"Kenapa Maudy? bilang aja kenapa ya gak Nial?" tanya Yudha.


Maudy menatap Nial yang saat ini juga menatapnya dan dengan cepat Maudy mengalihkan pandangannya ke arah Yudha. Ya, di sana bukan hanya ada Bian dan Yudha saja, tapi juga ada Nial dan Bobby.


"Saya gapapa kok sersan Yudha," ucap Maudy.


"Beneran?" tanya Yudha dan diangguki Maudy.


"Yaudah, kita duduk di sini aja nemenin Maudy. Lagian minuman kita juga masih di buatkan kan," ucap Bian.


Mereka berempat pun duduk di tempat yang sama seperti yang Maudy tempati, "Kalau begitu saya permisi dulu ya," pamit Maudy dan mengambil laptop serta tasnya lalu berjalan menjauh dari tempat tersebut.


"Lo ngerasa gak sih kalau Maudy itu kayak ngehindar dari kita?" tanya Bian.


"Dia bukan ngehindar dari lo pada," ucap Bobby.


"Terus?" tanya Bian.


"Tapi, dia menghindar dari nih orang," ucap Bobby, dengan menunjuk Nial menggunakan dagunya.


"Kenapa gue?" tanya Nial.


"Ya iyalah, Maudy itu menghindar dari lo. Gue denger kemarin dari Elvan kalau Maudy kemarin juga sikapnya cuek gitu bahkan terkesan menjauh dari lo, terus ini tadi terbukti bukan Maudy langsung pergi gitu," ucap Bobby.


"Tapi, gue gak ngelakuin apa-apa terus letak kesalahan gue dimana?" tanya Nial.


"Nah itu yang harus lo cari tau," ucap Bobby.


"Bentar," ucap Nial dan berlari keluar cafe.


Nial keluar untuk mengejar Maudy, ia tau Maudy masih belum jauh dari cafe dan benar saj tebakannya Maudy memang belum jauh dari cafe.


Nial berlari ke arah Maudy dan memegang lengan Maudy lalu membalikkan tubuh Maudy hingga saat ini Maudy berhadapan dengan dirinya.


"Sersan Nial," ucap Maudy, ia benar-benar terkejut melihat Nial saat ini.


Maudy menatap tangan Nial yang masih memegang lengannya dan otomatis Nial langsung melepaskan tangannya. Setelah itu, Suasana sangat canggung bagi keduanya.


"Ada apa ya sersan Nial?" tanya Maudy.


"Harusnya saya yang tanya ada apa," ucap Nial.


Maudy mengerutkan keningnya dan menatap Nial seolah-olah bertanya-tanya, "Maksud sersan Nial?" tanya Maudy.

__ADS_1


"Apa aku punya salah?" tanya Nial.


"Sama siapa?" tanya Maudy.


"Sama kau lah," ucap Nial.


"Saya rasa sersan Nial gak punya salah sama saya," ucap Maudy.


"Terus kenapa kau menghindar dari saya?" tanya Nial.


"Sa-saya tidak menghindar dari sersan Nial," ucap Maudy.


"Kau sangat tidak bisa akting, kenapa kau menghindar?" tanya Nial lagi.


"Tapi, saya memang tidak menghindar dari sersan Nial, mungkin sersan Nial yang salah. Kalau begitu saya permisi, saya masih ada beberapa urusan," pamit Maudy dan ia benar-benar meninggalkan Nial.


"Apa iya ya ini cuma perasaanku aja kalau dia menghindar dariku," gumam Nial.


.


Maudy sekarang sampai di rumah, ia sudah tidak sabar memberikan kabar gembira pada ayahnya jika ia diterima kerja di salah satu sekolah swasta terbaik di kota.


Maudy masuk ke dalam dan minat Ruslan bersama Caca, "Bapak," panggil Maudy.


Ruslan tidak menanggapi panggilan Maudy dan ia menghampiri Maudy. Maudy pikir bapaknya akan memeluk Maudy, tapi ia salah ternyata Ruslan menghampirinya dan menampar kuat pipi Maudy hingga bekas tamparan tersebut terlihat dengan jelas di pipi mulus Maudy.


PLAK


Maudy menatap Ruslan gak percaya karena ini adalah pertama kalinya Ruslan menampar Maudy.


"Bapak," lirih Maudy.


"Berapa kali bapak harus bilang ke kamu Maudy untuk tidak dekat dengan sersan Nial, tapi kamu justru gak dengerin omongan bapak dan terus deket sama sersan Nial!" bentak Ruslan.


"Maudy gak deket sama sersan Nial pak, Maudy udah ngejauh dari sersan Nial," ucap Maudy.


"Halah, tadi caca lihat sendiri kalau kak Maudy bicara berduaan sama sersan Nial kok," ucap Caca.


"Tapi, itu cuma sebentar dan gak ada hal penting yang Maudy bicarakan sama sersan Nial," ucap Maudy.


"Bapak kecewa sama kamu Maudy, kamu tau akibat perbuatan kamu keluarga kita di usir dari rumah ini," ucap Ruslan.


"Maksud bapak apa?' tanya Maudy.


"Gara-gara kamu deketin sersan Nial, kita di usir dari rumah ini. Kamu tau kan kalau rumah kita ini sewa sama komandan Ade dan tadi sebelum kamu pulang Bu Nanda istri komandan Ade meminta untuk bapak segera mengemasi barang-barang bapak," ucap Ruslan.


Maudy tentunya terkejut dengan apa yang dikatakan Ruslan, "Bapak bercanda kan? terus kita mau tinggal dimana pak?" tanya Maudy.


"Bapak gak tau, semua ini salah kamu. Bapak udah peringatkan sama kamu untuk tidak dekat dengan sersan Nial," ucap Ruslan.


"Maafin Maudy pak, Maudy gak tau bakal kayak gini, tapi demi tuhan pak Maudy gak deketin sersan Nial bahkan Maudy udah berusaha menjauh dari sersan Nial," ucap Maudy.


"Bapak gak peduli lagi, sekarang kita harus segera pergi dari sini," ucap Ruslan.


"Gak pak, Maudy akan bicara sama Bu Nanda. Siapa tau Bu Nanda mau memaafkan Maudy," ucap Maudy.


"Bapak tunggu, lebih baik sekarang kamu ke Bu Nanda sekarang," ucap Ruslan.


"Iya pak," ucap Maudy dan keluar dari rumah menuju rumah dinas.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2