
Malam harinya Nial menuju ke rumah Maudy sendirian, "Selamat malam pak," sapa Nial.
"Selamat malam sersan Nial, ada apa ya sersan Nial malam-malam ke sini?" tanya Ruslan.
"Saya ingin bertanya mengenai Maudy pak," ucap Nial.
"Sudahlah sersan Nial tidak usah lagi membahas Maudy, Maudy saat ini sedang bekerja," ucap Ruslan.
"Apa Maudy kerja di kota pak?" tanya Nial.
"Saya tidak dapat memberitahukannya pada sersan Nial, yang jelas Maudy sudah bekerja dan saya berharap untuk sersan Nial tidak membahas mengenai Maudy lagi," ucap Ruslan.
"Apa karena Bu Nanda?" tanya Nial.
Ruslan pun menatap Nial, ia cukup terkejut karena Nial membahas mengenai Bu Nanda saat ini Ruslan berpikir apa Nial tau mengenai masalahnya dengan Bu Nanda, "Semua tidak ada sangkut pautnya dengan Bu Nanda," ucap Ruslan.
"Saya tau mengenai ancaman Bu Nanda pada keluarga pak Ruslan dan karena itu Maudy pergi dari sini," ucap Nial.
"Walaupun Bu Nanda tidak mengancam keluarga saya, tapi Maudy memang harus pergi bukan karena dia diterima kerja," ucap Ruslan.
"Tapi, kenapa pak Ruslan terkesan menutupi semuanya?" tanya Nial.
"Saya tidak menutupinya pada orang lain, tapi maaf saya tidak bisa memberitahukannya pada sersan Nial," ucap Ruslan.
"Kenapa?" tanya Nial.
"Saya tidak dapat memberitahukannya, tapi uang jelas saya mohon pada sersan Nial untuk berhenti peduli dengan Maudy ataupun keluarga saya," ucap Ruslan.
"Tapi, apa salahnya saya peduli dengan Maudy atau keluarga bapak?" tanya Nial.
"Ya, jelas itu salah. Mungkin bagi sersan Nial itu tidak masalah, tapi bagi saya itu adakah masalah. Sudah jam setengah 9 saya dan keluarga saya butuh istirahat lagipula sersan Nial besok harus kembali bukan, kalau begitu anggap saja ini sebagai salam perpisahan dari saya," ucap Ruslan.
"Huh, baiklah kalau memang pak Ruslan inginnya begitu. Saya permisi," pamit Nial dan pergi dari rumah tersebut.
"Bapak kenapa kayak gitu ke sersan Nial?" tanya Caca.
"Bapak cuma gak mau keluarga kita terjerat sama keluarganya sersan Nial yang jelas berbeda dari kita. Kita harus sadar diri terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh," ucap Ruslan.
"Caca sih terserah bapak aja," ucap Caca.
Sedangkan, Nial pulang dengan hampa karena air tidak mendapatkan apa-apa dari kedatangannya ke rumah Maudy.
"Kenapa?" tanya Brandon.
"Gak kenapa-napa," ucap Nial.
"Gue udah kenal sama lo gak cuma satu atau dua tahun, gue tau kalau lo sekarang lagi galau, pasti gara-gara Maudy. Sesuka itu ya lo sama Maudy sampe lo galau kayak gini gara-gara ditinggal Maudy," ucap Brandon.
"Gue gak mau bahas ini," ucap Nial.
"Oke, kalau gitu lebih baik lo istirahat dan siapin buat besok," ucap Brandon.
.
Pagi harinya Nial dan rekan-rekannya pun sudah kembali ke kota dan saat ini mereka sudah sampai di kantor militer untuk pengecekan dan setelah itu mereka pun akan kembali ke rumah masing-masing dan libur beberapa hari setelah itu mereka kembali ke kantor dan bertugas seperti biasanya.
"Akhirnya gue bisa ketemu sama ayang gue," ucap Bian.
"Kok mau ya si ayang sama lo," ucap Bobby.
"Biasa lah ayang pasti di jampi-jampi sama tuh orang," ucap Yudha.
Sekedar info saja nama pacar Bian memang Rita dan dipanggil ayang bisa dibilang nama panggilan sejak kevil. Bian pun sudah biasa dan tidak masalah karena memang Rita kenal dengan rekan-rekannya terlebih dahulu dan setelah itu teman-teman Brian terutama Yudha yang menjodohkan Bian dan Rita lalu setelah beberapa Minggu mereka kenal barulah mereka meresmikan hubungan mereka.
"Tapi, dari kita semua yang paling seneng itu Nial," ucap Bobby.
"Kenapa gue?" tanya Nial.
"Ya lah karena lo bisa cari Maudy kan," ucap Bobby.
"Gak ada hubungannya ya, lagian buat apa gue cari Maudy?" tanya Nial.
"Siapa tau buat dilamar gitu," ucap Bobby.
"Aneh, jangan mikir yang gak-gak, gue SMA Maudy ga ada hubungan apa-apa," ucap Nial.
"Iya iya percaya kok," ucap Yudha.
"Kak Nial, Elvan bareng dong pulangnya," ucap Elvan, yang baru saja datang.
"Kenapa gak pulang sendiri?" tanya Nial.
"Gak kak, soalnya mama lagi di rumahnya uncle Alan," ucap Elvan.
__ADS_1
"Yaudah, ayo," ucap Nial.
"Okey kak," ucap Elvan.
"Gue duluan," pamit Nial.
"Iya, hati-hati," ucap Bobby.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di rumah ayah Alan, di sana bukan hanya ada keluarga Nial, tapi juga sahabat-sahabat ayah Alan dan bunda Rea ya siapa lagi jika bukan orangtua Elvan.
"Mama!" teriak Elvan yang baru saja masuk ke dalam rumah tersebut.
"Astaga anak Mama!" teriak Qilla yang tak kalah heboh dari anaknya.
"Ck, gak anak gak ibu sama aja," ucap bunda Rea.
"Biarin sih," ucap Qilla.
"Sayang," panggil bunda Rea dan memeluk Nial.
"Gimana keadaan bunda?" tanya Nial.
"Bunda baik dong," ucap bunda Rea.
"Daisy gak bikin ulah kan Bun?" tanya Nial.
"Gak ya, aku gak bikin ulah kayak kakak," ucap Daisy.
Ya, meskipun Nial dan Daisy kembar, tapi Daisy memanggil Nial dengan sebutan kakak karena ayah Alan yang mengajarkannya sejak kecil sehingga Daisy sudah terbiasa memanggil Nial dengan sebutan kakak, kalaupun Daisy memanggil nama saja itu artinya Daisy tengah marah dengan Nial. Tapi, tetap saja hal itu hanya beberapa saya karena Daisy sudah terbiasa memanggil Nial kakak.
"Daisy gak bikin ulah kok, kalaupun Daisy bikin ulah masih ada ayah kamu," ucap Nial.
"Bunda mah," ucap Daisy dan bunda Rea pun tersenyum melihatnya.
"Kak Lea, gimana keadaan kak Lea?" tanya Nial dan menghampiri Lea lalu memeluk kakaknya yang duduk di salah satu sofa single yang ada di ruang tamu.
"Kakak baik kok," ucap Lea.
"Kok kak Lea tambah gemuk sih?" tanya Nial.
"Jadi, kakak tambah gemuk ya," ucap Lea, dengan berkaca-kaca.
"Eh, gak gitu kak. Tapi, kak Lea tetep cantik kok," ucap Nial.
"Iya, kak Lea sedikit gemuk, tapi beneran cuma sedikit kok," ucap Nial.
"Iyalah kan kak Lea lagi hamil makanya tambah gemuk," ucap Daisy.
"Kak Lea hamil!" teriak Nial dan Elvan.
"Iya," ucap Lea.
"Kenapa gak ada yang ngasih tau Nial?" tanya Nial.
"Bukannya Daisy udah kirim pesan ke kak Nial ya, malahan gak di bales sama kak Nial," ucap Daisy.
"Gak ada pesan dari kamu," ucap Nial.
"Masa sih, Daisy udah chat kak Nial loh padahal," ucap Daisy.
"Coba sih kamu lihat lagi, siapa tau udah kamu baca, tapi kamu lupa kalau kamu udah baca," ucap bunda Rea.
Nial pun memeriksa pesona yang dimaksud Daisy, "Gak ada pesan apapun dari Daisy, terakhir juga pesannya saat Daisy minjam jaket Nial," ucap Nial.
"Mana sini Daisy lihat," ucap Daisy.
Nial pun menunjukkan pesan terakhirnya bersama Daisy, "Loh kok bisa, setau Daisy, Daisy udah kirim pesan ke kakak deh," ucap Daisy.
"Kamu coba cek dulu," ucap ayah Alan.
Daisy pun memeriksa pesannya, "Mampus!" teriak Daisy.
"Kenapa?" tanya Lea.
"Ternyata Daisy ngirimnya ke kak Noah," ucap Daisy.
"Ngapain kamu kasih tau ke Noah, orang Noah udah tau, hahahaha," ucap Ryan.
"Yaaaaah, berarti Daisy salah dong. Maaf ya kak Nial yang ganteng," ucap Daisy.
"Huh, untung kembaran sendiri," ucap Nial.
"Hehehe, maaf," ucap Daisy.
__ADS_1
"Terus kak Noah balas apa?" tanya Lea.
"Kak Noah gak balas apa-apa cuma di baca doang," ucap Daisy.
"Ya iyalah kak, ngapain juga kak Noah balas orang kak Noah udah tau, tapi emang Elvan baru sadar sih perutnya kak Lea buncit," ucap Elvan.
Nial pun baru sadar, ia sejak tadi hanya melihat tangan serta wajah Lea yang berisi, dan tidak terlihat perut Lea karena memang Lea juga menutup perutnya dengan bantal sehingga perutnya tidak terlihat.
"Lucu ya Van," ucap Lea.
"Iya, lucu kak," ucap Elvan.
"Erika aja yang ngelihat perutnya kak Lea gemes kok," ucap bunda Rea.
"Udah berapa bulan kak?" tanya Elvan.
"Udah 20 Minggu, Van," ucap Lea.
"20 Minggu itu berapa bulan kak?" tanya Elvan.
"Ya, kira-kira 5 bulan lah," ucap Lea.
"Berarti Nial doang nih yang gak tau kalau kak Lea hamil bahkan usia kehamilannya kak Lea udah 5 bulan," ucap Nial.
"Maaf ya kak, Daisy kurang teliti jadinya kak Nial gak tau deh," ucap Daisy.
"Iya, gapapa kok. Lagian kan sekarang kakak udah tau kalau kak Lea hamil, kalau kakak tau kak Lea hamil saat usia kehamilannya 9 bulan baru kakak marah dan gak mau ngomong sama kamu," ucap Nial dan diangguki Daisy.
"Kak Noah gimana kak? seneng gak bakal jadi orangtua?" tanya Nial.
"Seneng banget dong, malahan kak Noah setiap hari nelpon," ucap Lea.
"Bagus dong, itu artinya kak Noah gak mau ketinggalan perkembangannya baby-nya," ucap Nial.
"Ya, emang bagus, tapi masalahnya kak Noah nelpon nya hampir setiap jam loh dan untung aja ayah bilang ke kak Noah untuk nelpon kakak kalau sore aja," ucap Lea.
"Kenapa gitu? bukannya bagus kalau kak Noah nelpon kakak setiap jam?" tanya Nial.
"Gak dong sayang, nanti kakak kamu gak nyaman gimana apalagi kan kalau ibu hamil butuh istirahat yang lebih daripada biasanya, kalau setiap jam di teleponin kan kak Lea nya jadi gak nyaman istirahatnya," ucap bunda Rea .
"Nah bener itu," ucap Lea.
"Ribet ya Bun," ucap Nial.
"Nanti istri kamu juga bakal ngerasain kok gimana posesifnya kamu apalagi kalau istri kamu lagi hamil," ucap Qilla.
"Kayaknya bentar lagi aunty Rea sama uncle Alan bakal punya menantu lagi deh," ucap Elvan.
"Oh iya, Daisy kamu udah punya calon?" tanya bunda Rea.
"Belum lah bun, orang Daisy belum deket sama siapa-siapa," ucap Daisy.
"Gak gitu loh Van," ucap bunda Rea.
"Siapa yang bilang kak Daisy aunty," ucap Elvan.
"Terus kalau bukan Daisy siapa? Nial? Nial emang udah lainya calon buat dikenalin ke bunda sama ayah?" tanya bunda Rea.
"Gak ada kok Bun, Nial gak pengen kenalin siapa-siapa ke bunda sama ayah," ucap Nial.
"Tuh, anak-anak bunda gak ada yang mau dikenalin Van, gimana bunda mau punya menantu lagi coba?" tanya bunda Rea.
"Kak Nial bohong banget aunty, orang kak Nial lagi deket sama cewek cantik lagi bahkan sekarang kak Nial lagi cari ceweknya kerja di mana soalnya kak Nial ditinggal gitu aja," ucap Elvan dan mendapat tatapan tajam dari Nial.
"Beneran Nial?" tanya bunda Rea.
"Gak Bun, jangan percaya sama Elvan," ucap Nial.
"Aunty tau kan kalau selama ini Elvan selalu jujur sama aunty dan kali ini aunty bisa pegang ucapan Elvan kalau kak Nial itu lagi deket sama cewek pokoknya. Kalau ceweknya ketemu pasti kak Nial bakal ngenalin ke aunty sama uncle kok," ucap Elvan.
"Oh, gak sabar bunda, pokoknya kamu harus cari ya cewek itu terus kenalin ke bunda sama ayah," ucap bunda Rea.
"Bunda jangan gampang percaya sama Elvan, dia kan suka bicara sembarangan. Udah ya Nial ke kamar dulu pengen istirahat," ucap Nial dan pergi dari ruang tamu.
"Kelihatan banget kalau dia berusaha ngehindar," ucap ayah Alan.
"Iya, lucu lihatnya," ucap bunda Rea.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.