Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Tumpangan


__ADS_3

"Hari ini kamu mau ke nikahannya Ardi?" tanya bunda Rea.


"Iya Bun, kan Daisy diundang yaudah Daisy datang," ucap Daisy.


"Jangan nangis loh nanti kalau ketemu Ardi," ucap Nial.


"Gak ya, buat apa juga Daisy nangis," ucap Daisy.


"Ardi siapa?" tanya Maudy.


"Ardi itu mantannya Daisy, mereka pacarannya lumayan lama. Tapi, sayang Ardi di jodohin sama orangtuanya," ucap Nial.


"Oh gitu ya, yang sabar ya dek," ucap Maudy.


Ya, Maudy memutuskan untuk memanggil Daisy dengan panggil adek karena kemauan Daisy sendiri padahal Nial sendiri memanggil Daisy dengan nama saja tanpa embel-embel adek, tapi ya sudahlah Maudy menurut saja lagipula memang benar kan sekarang Maudy sudah menjadi kakak bagi Daisy.


"Iya kak, Daisy mah selalu sabar lagian nih ya Daisy udah gak ada rasa apapun sama Ardi, jadi ya Daisy b aja gitu," ucap Daisy.


"Kamu ke sana sama siapa?" tanya bunda Rea.


"Daisy sama temen-temen sih Bun," ucap Daisy.


"Mau dianterin?" tanya Nial.


"Gak usah kak, Daisy bawa mobil sendiri kok terus nanti bareng sama yang lain," ucap ucap Daisy.


Saat mereka tengah mengobrol tiba-tiba suara tangis bayi mengejutkan mereka, "Vian nangis," ucap bunda Rea dan berlari menuju kamar Lea yang diikuti lainnya.


"Ada apa sayang?" tanya Noah.


"Gak tau, tiba-tiba Vian nangis," ucap Lea.


"Sini biar bunda cek dulu baby Vian," ucap bunda Rea.


"Kamu udah susuin Vian?" tanya bunda Rea.


"Belum Bun, ini Lea baru keluar dari kamar mandi dan Vian langsung nangis," ucap Lea.


"Yaudah, kamu susuin Vian dulu ya kayaknya baby Vian haus deh," ucap bunda Rea dan diangguki Lea.


Setelah semua orang pergi kecuali bunda Rea dan Noah, Lea pun langsung menyusui putranya itu dan benar saja tangis Vian langsung berhenti.


"Yaudah, bunda tinggal ya, nanti kalau ada apa-apa ku panggil bunda," ucap bunda Rea.


"Iya Bun," ucap Lea dan Noah.


.


Malam harinya Daisy sudah cantik dengan dress birunya, "Cantik banget kamu," ucap Maudy.


"Iya dong kak, kan Daisy mau ke nikahannya mantan, jadi Daisy harus nunjukin ke dia kalau Daisy itu udah bahagia sama kehidupan Daisy yang sekarang dan kepergian dia itu gak ada pengaruh apa-apa bagi hidup Daisy," ucap Daisy.


"Wah, keren kamu. Kakak suka pemikiran kamu," ucap Maudy.


"Yaudah ya kak, Daisy pergi dulu dah," pamit Daisy.


"Iya, hati-hati," ucap Maudy.


Daisy pun pergi ke pesta pernikahan Ardi dan sesampainya di pesta tersebut ia bertemu dengan teman-teman kuliahnya yang juga diundang ke pest pernikahan Ardi.


"Sy, lo gapapa kan?" tanya Dandi, salah satu teman kuliah Daisy.


"Gapapa dong, emangnya gue kenapa?" tanya Daisy.


"Ya, siapa tau aja gitu lo meratapi nasib lo yang ditinggal nikah sama mantan," ucap Dandi.


"Maaf maaf nih ya, gue gak kayak gitu orangnya. Selama hubungan gue sama pasangan gue belum sampe ke tahap selanjutnya yakni nikah, dia boleh cari perempuan lain yang sesuai sama kriterianya dan gue gak akan marah, sedih atau benci dia. Tapi, kecewa ya wajarlah ya," ucap Daisy.


"Keren nih sahabat gue," ucap Mutia.


"Iya dong, gue gitu loh," ucap Daisy.


"Yaudah, ayo masuk," ucap Vera.


Mereka pun masuk ke pesta pernikahan tersebut, dapat Daisy lihat pesta pernikahan cukup meriah bahkan tamu yang diundang pun banyak.


"Langsung makan apa samperin pengantinnya nih?" tanya Vera.


"Gimana Daisy aja deh," ucap Dandi.


"Kok gue sih, ya si Adit aja deh kan dia ketuanya," ucap Daisy.


"Ke pengantinnya aja dulu terus makan biar nanti makannya santai," ucap Adit.


"Yaudah ayo," ajak Dandi.


Mereka pun menghampiri Ardi dan mengucapakan selamat, tibalah giliran Daisy yang berada tepat di hadapan Ardi.


Daisy tersenyum pada Ardi, "Selamat ya, semoga kalian langgeng sampai kakek nenek dan semoga cepet dikasih momongan," ucap Daisy.

__ADS_1


Istri Ardi pun tersenyum sedangkan Ardi hanya menatap Daisy dengan tatapan sendu, "Untuk hadiahnya udah gue taruh di meja sana," ucap Daisy.


"Makasih kak," ucap istri Ardi.


"Iya sama-sama," ucap Daisy dan pergi meninggalkan Ardi dan sang istri.


Daisy berjalan menghampiri kedua orang tua Ardi, "Nak Daisy," panggil ibu Ardi.


"Selamat ya Ma eh maksudnya tante," ucap Daisy.


"Panggil Mama aja gapapa kok," ucap ibu Ardi.


"Gak tan, mulai sekarang Daisy bakal panggil tante aja. Sekali lagi Daisy ucapin selamat buat tante sama om," ucap Daisy.


Ibu Ardi pun tersenyum dan memeluk Daisy, sedangkan ayah Ardi hanya diam dan menatap Daisy datar.


Daisy paham jika ayah Ardi memang tidak menyukainya, Daisy pun memutuskan untuk pergi dan menghampiri teman-temannya.


"Gimana?" tanya Mutia.


"Gimana apanya?" tanya Daisy.


"Ya, sama mantan gimana tadi?" tanya Mutia.


"Gak gimana-gimana," ucap Daisy.


"Lo gak sedih gitu padahal kan lo udah pacaran lama banget sama Ardi eh taunya Ardi malah nikah sama orang lain," ucap Dandi.


Gak tuh, gue mah orangnya gak berlebihan kayak gitu. Lagian gue kalau putus ya hari itu juga gue uda move on buat apa mikirin orang yang gak berjodoh ama kita," ucap Daisy.


"Makin hari Bu guru Daisy makin bener deh kata-katanya," ucap Vera.


"Iya dong, eh gue mabil minuman dulu ya di sana," ucap Daisy.


"Mau gue temenin?" tanya Mutia.


"Gak usah, gue bisa sendiri kok," ucap Daisy dan setelah itu ia pun pergi dari tempat tersebut.


Saya ia sudah berada di meja minuman Daisy pun terkejut saya tiba-tiba bajunya basah, Daisy langsung membalikkan tubuhnya dan menatap pria yang baru saja menumpahkan minuman ke arahnya.


"Maksud anda apa pake numpahin minumannya ke saya?" tanya Daisy.


"Maaf saya tidak sengaja, saya sedang ada urusan mendesak dan tidak melihat jalan jadi minuman saya kena anda," ucap pria tersebut.


"Terus sekarang gimana ini?" tanya Daisy dan menunjuk dress nya yang basah akibat pria tersebut.


"Maaf, ini anda bisa pakai jas saya, saya ada urusan jadi saya harus pergi sekarang," ucap pria tersebut dan pergi meninggalkan Daisy.


Daisy pun menghampiri teman-temannya setelah mengambil minuman, "Jas siapa tuh?" tanya Mutia.


"Gak tau," ucap Daisy.


"Kalau gak tau kenapa lo pake?" tanya Dandi.


"Jadi gini, tadi tuh gue mau ambil minuman kan nah terus ada cowok yang kayaknya sih buru-buru dan dia numpahin minumannya ke dress gue dan ya jadi kayak gini deh, katanya sih dia lagi ada urusan gitu dan nyuruh gue pakai jas nya gitu," ucap Daisy.


"Orang sibuk kali, gue denger-denger di sini tamunya orang penting semua," ucap Adit.


"Mana gue tau, lagian gue gak ngurusin soal itu," ucap Daisy.


.


Pagi harinya seorang perempuan yang tengah menunggu taksi online yang ia pesan, perempuan tersebut pun bergumam tidak jelas karena kesal dengan hari ini yang merupakan hari kesialan baginya. Perempuan tersebut adalah Daisy.


"Ish, ini kenapa sih kok hari ini gue sial terus," gumam Daisy.


Sudah setengah jam ia menunggu, tali tidak ada tanda-tanda taksi yang ia pesan datang.


Daisy saat ini berada di pinggir jalan sendirian karena mobil yang ia gunakan untuk berangkat mengajar mogok, padahal tadi Nial sudah menawarkan untuk mengantarkannya bersama dengan Maudy, tapi Daisy menolak dengan alasan ada urusan sebelum ke sekolah.


"Bete banget sumpah," gumam Daisy.


Beberapa saat kemudian, sebuah sepeda motor berhenti dan pria yang mengendarai motor tersebut pun turun lalu menghampiri Daisy.


'Tuhan, dia ini orang jahat apa gimana? kalau gue diapa-apain gimana? apa gue harus lari sekarang? atau gue harus ngelawan nih orang?' tanya Daisy dalam hati.


"Mobilnya kenapa?" tanya pria tersebut.


Daisy yang mendengar suara berat nan seksi baginya pun langsung mendongak dan menatap pria tersebut.


"Anda bukannya yang kemarin," ucap Daisy dan pria tersebut mengerutkan keningnya.


"Kemarin anda yang menumpahkan minuman ke dress saya, terus anda masih jas anda," ucap Daisy.


"Oh yang itu," gumam pria tersebut.


"Kenalin, nama saya Daisy, kalau anda?" tanya Daisy dan mengenalkan dirinya.


"Nama saya Vander," ucap Vander.

__ADS_1


"Bagus banget namanya kayak orangnya cakep," ucap Daisy.


"Terima kasih atas pujiannya," ucap Vander.


"Sama-sama," ucap Daisy.


"Kalau boleh tau mobilnya kenapa?" tanya Vander.


"Saya juga gak tau, takut tiba-tiba mobilnya mati," ucap Daisy.


"Udah berapa lama nunggu di sini?" tanya Vander.


"Lumayan lama sih ada setengah jam kali ya, soalnya dari tadi gak ada yang lewat dan saya juga udah pesen taksi online tapi gak datang-datang," ucap Daisy.


"Mau kerja?" tanya Vander.


"Iya, ini mau ngajar," ucap Daisy.


"Guru?" tanya Vander.


"Iya," ucap Daisy.


"Yaudah, kalau gitu ayo saya antarkan," ucap Vander.


"Terus mobil saya gimana?" tanya Daisy.


"Nanti saya hubungi teman saya buat meriksa mobil anda," ucap Vander dan diangguki Daisy.


Daisy pun mengambil barangnya dan menaiki motor Vander lalu menuju sekolah tempat Daisy mengajar. Untung saja Daisy datang telat waktu dan gerbang pun belum di tutup sehingga ia tidak terlambat masuk.


"Terima kasih atas tumpangannya," ucap Daisy dan diangguki Vander.


"Oh iya, ketik nomor anda nanti biar saya bisa kabarin anda soal mobilnya," ucap Vander dan memberikan ponselnya pada Daisy.


Daisy pun mengetikkan nomornya, "Ini," ucap Daisy dan memberikan kembali ponsel tersebut.


"Kalau begitu saya permisi," pamit Vander dan meninggalkan Daisy setelah memberikan tumpangan pada Daisy.


Setelah Vander pergi, Daisy pun masuk ke dalam sekolah dan tatapannya langsung tertuju pada seorang perempuan yang saat ini sudah menjadi bagian dari keluarganya.


"Kenapa?" tanya Daisy.


"Siapa?" bukannya menjawab pertanyaan Daisy, Maudy justru bertanya pada Daisy.


"Siapa apanya?" tanya Daisy yang pura-pura tidak tau maksud dari Maudy.


"Cowok yang nganter kamu tadi," ucap Maudy.


"Bukan siapa-siapa kok, tadi itu Daisy cum nebeng aja sama dia," ucap Daisy.


"Maksudnya?" tanya Maudy.


Daisy pun menceritakan semuanya pada Maudy, "Kenapa kamu gak ngabarin kakak sih?" tanya Maudy.


"Lupa kak," ucap Daisy.


"Terus taksi online yang kamu pesen gimana?" tanya Maudy.


"Udah Daisy batalin kok tadi sebelum sampe sini, lagian tenyata supirnya gak bisa soalnya dia lagi ada orderan offline," ucap Daisy dan diangguki Maudy.


"Terus mobil kamu gimana?" tanya Maudy.


"Tadi Daisy udah ngasih nomor Daisy kok terus katanya nanti bakal di kabarin lagi," ucap Daisy.


"Yaudah, lain kali kalau kak Nial nawarin ke kamu, kamu terima aja daripada kayak gini," ucap Maudy.


"Iya kakak iparku yang cantik dan baik hati," ucap Daisy.


"Ada-ada aja kamu ini, btw tadi cowok yang nganterin kamu keren deh kayaknya, kalau dilihat dari penampilannya loh ya," ucap Maudy.


"Hayoloh, Daisy bilang nih ke kak Nial," ucap Daisy.


"Eh, jangan dong. Kakak kan cuma bilang aja gitu soalnya penampilannya gak kayak orang biasanya," ucap Maudy.


"Iya sih kak, tapi kayaknya dia bukan dari kantoran deh," ucap Daisy.


"Kamu tau darimana?" tanya Maudy.


"Ya, gak tau juga sih, Daisy asal nebak aja. Tapi, bisa jadi apalagi kulitnya itu lumayan gelap kaya ayah gitu gara-gara sering terbakar matahari," ucap Daisy.


"Gak tau deh, kakak mau masuk dulu," ucap Maudy.


"Ya, gue ditinggalin," gumam Daisy.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2